Part 3

2414 Kata
“Arumii” Arumi menoleh saat mendengar seseorang memanggilnya.   “Haii Dayna, apa kabar? Udah lama banget ga kesini” ucap Arumi, ia senang melihat wanita yang sudah lama dikenalnya itu sebagai pelanggan setia di butiknya, bisa dikatakan mereka sudah berteman sejak lama.   “Iya aku sibuk, baru aja pulang dari Thailand, maklumlah banyak banget kerjaan aku” ucap Dayna.   “Hmm pantesan, masuk yuk, atau kamu mau cari sesuatu?” ucap Arumi.   “Masuk dulu deh, udah lama ga ngobrol sama kamu” ucap Dayna, Arumi tersenyum.   “Yukk” ucap Arumi mengajak Dayna masuk ke ruangannya, ia meminta Tasya untuk membawakan minuman dan cemilan ke dalam ruangannya.   “Masih ga berubah ya ruangan ini” ucap Dayna.   “Aku kalau sudah nyaman dengan sesuatu, sulit untuk mengubahnya” ucap Arumi, Dayna pun tertawa.   “Yah begitulah wanita, kalau udah nyaman susah ya” ucap Dayna.   “Haha, kamu bisa saja” ucap Arumi.   “Oh ya aku denger kamu buka cabang butik, dimana?” tanya Dayna.   “Oh iya, di daerah Tanggerang, aku masih harus bolak balik juga kesana” ucap Arumi.   “Kamu sudah harus cari sekretaris dong untuk ngurusin ini semua, memangnya kamu ga capek ngurus ini sendiri, yah meskipun karyawan kamu udah banyak” ucap Dayna.   “Aku juga sudah memikirkan hal itu” ucap Arumi tersenyum.   “Silahkan diminum” ucap Tasya meletakkan minuman dan cemilan di meja.   “Makasih ya” ucap Dayna.   “Kayanya dia cocok jadi sekretaris kamu, udah lama banget kan dia kerja disini, aku masih inget loh” ucap Dayna.   “Iya kamu benar, aku juga lagi memantau sih, haha” ucap Arumi, mereka pun mengobrol dengan begitu asik.   “Oh ya kamu punya sesuatu yang baru ga? Bulan depan aku mau pergi ke suatu tempat, mungkin untuk waktu yang lama” ucap Dayna.   “Kemana? Bentar aku cari, kayanya ada di meja aku” ucap Arumi mengambil katalog terbarunya di meja kerjanya.   “Ke suatu tempat, pengen nenangin diri” ucap Dayna.   “Lagi ada masalah ya?” tanya Arumi sembari menyerahkan katalog butiknya kepada Dayna.   “Yah begitulah, pengen ngilang sejenak” ucap Dayna tersenyum, Arumi hanya diam, ia tak ingin lebih mencampuri urusan pribadi orang lain.   “Makin bagus aja design kamu Mi” ucap Dayna.   “Iya dong, kita juga harus ngikutin perkembangan jaman kan, lagian aku punya satu karyawan yang memang aku pekerjakan khusus untuk design, dan hasilnya lumayan, tinggal di asah aja” ucap Arumi.   “Jangan terlalu ini deh sama karyawan, bisa jadi entar kalau dia udah paham di dunia bisnis, malah kamu yang akan di kalahin” ucap Dayna.   “Aku paham kok, cuma menurut aku, rezeki itu kan sudah diatur, jadi aku fine aja untuk masalah seperti itu” ucap Arumi, Dayna hanya tersenyum.   “Kamu baik banget sih jadi manusia” ucap Dayna, Arumi tertawa.   “Memangnya kamu bukan manusia?” ucap Arumi.   “Setengah sih, hahaha” ucap Dayna tertawa.   “Oh ya ini semua udah ada produknya? Aku pengen lihat” ucap Dayna.   “Itu akan launching tanggal 1 nanti, tapi semua produknya udah ada kok disini” ucap Arumi.   “Boleh lihat ga? Plissss” ucap Dayna, Arumi sejenak berfikir.   “Boleh kok, tapi untuk pembelian di tanggal 1 dibuka, gimana? Khusus untuk kamu bisa langsung pesan kok, tapi tetep ya tanggal 1 kami akan antar” ucap Arumi.   “Aaaahhh kamu baik bangett, thank youu” ucap Dayna, Arumi hanya tersenyum, ia pun mengajak Dayna untuk melihat semua design yang ada di katalognya yang sudah selesai dikerjakan.   “Makasih banyak ya” ucap Dayna saat menerima data pembeliannya yang sudah selesai. “Sama-sama, kami akan mengirim pesanan Mbak Dayna ke alamat yang tertera di tanggal 1, jadi mohon ditunggu” ucap Tasya, Dayna tersenyum.   “Okey” ucap Dayna.   “Kamu tinggal di hotel?” tanya Arumi saat melihat alamat Dayna untuk pengiriman pesanannya.   “Untuk sementara ini, lagian tanggal 1 kan beberapa hari lagi, setelah itu aku akan pergi, ga tau juga berapa lama, yang pasti sampe situasi tenang” ucap Dayna tersenyum, Arumi merasa masalah yang dihadapi Dayna begitu besar sampai ia harus pergi ke suatu tempat hanya untuk menenangkan diri.   “Hmm baiklah” ucap Arumi.   “Arumi makasih banyak ya, aku balik dulu” ucap Dayna.   “Sama-sama, hati-hati dijalan” ucap Arumi.   “Pasti, byeee” ucap Dayna.   “Byeee” ucap Arumi, ia pun menghela nafas dan masuk ke dalam ruangannya.     ***   “Halo, kak Danu dimana? Aku udah di depan nih” ucap Arumi.   “Kamu tunggu di lobi aja ya, kakak masih ada kerjaan dikit lagi, maaf ya” ucap Danu, ia tak menyangka Arumi begitu cepat sampai di kantornya.   “Ehmm oke deh, jangan lama ya” ucap Arumi.   “Iyaaa bawell” ucap Danu.   “Hhuuffff” Arumi menghela nafas, ia pun memarkirkan mobilnya dan menunggu Danu sembari melihat HP nya untuk mengusir rasa bosan.   Arumi memperhatikan sekitar tempat parkir itu, ia melihat beberapa orang lalu lalang, namun ada satu orang yang menarik perhatiannya, dari kejauhan ia paham dari cara jalan pria tersebut “Rizkyy” ucap Arumi, ia pun menundukkan kepala dan tubuhnya agar tidak terlihat.   Danu menghentikan langkahnya saat bertatapan dengan seseorang yang membuat hatinya sedikit panas, ia melihat kearah mobil Arumi dan tak melihat wajah Arumi di dalam mobil tersebut, meskipun mereka sama-sama profesional saat meeting tadi bukan berarti ia berdamai dengan masalalu adiknya tersebut.   Tok…tok…tok…   Arumi kaget dan melihat Danu mengetok kaca mobilnya, ia pun segera membuka kaca mobilnya “Kakak kirain kamu ga ada di dalem” ucap Danu, Arumi pun tersenyum, ia pun keluar untuk berganti tempat duduk dengan Danu.   Rizky memperhatikan kedua orang itu dengan seksama, sudah lama ia tidak melihat Arumi secara langsung, ternyata benar yang dikatakan oleh Irfan, Arumi semakin cantik dari yang dulu ia kenal, “Serius amat merhatiinnya” ucap Irfan, Rizky pun langsung mengalihkan pandangannya.   “Apaan sih” ucap Rizky kesal.   “Haha, tapi aku salut lihat Danu, tetep profesional meski ia dendam banget sama kamu, tapi kamu lihat kan tadi waktu meeting, dia santai banget kaya ga pernah kenal kamu sebelumnya” ucap Irfan, Rizky hanya diam mendengarkan.   “Maaf kakak lama, tadi masih meeting” ucap Danu.   “Ga apa-apa kok” ucap Arumi.   “Mobil kakak tadi pagi tiba-tiba mogok di tengah jalan, masih di bengkel sekarang” ucap Danu.   “Yasudah, Arumi juga ga keberatan kok jemput kakak” ucap Arumi.   “Kamu sempet lihat mereka tadi? Makanya nunduk” Tanya Danu.   “Gitu deh” ucap Arumi, ia tak ingin membahas hal itu lagi.   “Hmmm” ucap Danu, ia pun merasa bersalah.   “Ga perlu ngerasa bersalah, Arumi ga apa-apa kok” ucap Arumi tersenyum.   “Baiklah adikku” ucap Danu mengusap lembut kepala Arumi.   “Gimana butik kamu?” tanya Danu.   “Lancar seperti biasa” ucap Arumi.   “Baguslah” ucap Danu.   “Gimana rencana pernikahan kakak dengan kak Sasya?” tanya Arumi.   “Masih rencana aja, dia juga masih di Kanada, belum bisa balik, jadi kayanya ditunda dari rencana awal”  ucap Danu.   “Tapi ga ada masalah kan kak?” tanya Arumi khawatir.   “Engga ada kok, kamu tenang aja” ucap Danu tersenyum, ia belum ingin menceritakan semua masalah hubungannya dengan Arumi, ia tak ingin membuat adiknya khawatir dan mengingat kembali trauma akan masalalunya.   “Ini bukti yang saya dapat dari Kanada” ucap seseorang kepercayaan Danu menyerahkan sebuah berkas yang dijadikan satu dalam sebuah amplop coklat. Danu membuka amlop tersebut dan betapa kagetnya ia melihat semua foto-foto sang kekasih dengan seorang pria begitu mesra. Hatinya memanas melihat semua foto tersebut, susah payah ia membuka hati untuk seseorang namun dikhianati begitu saja rasa kepercayaannya.   Danu mengambil Hp nya dan menelfon Sasya, ia tak ingin menanyakan tentang foto itu, ia hanya ingin memastikan apakah Sasya akan jujur padanya atau tidak, “Halo sayang” ucap Danu tenang, ia menyuruh pria dihadapannya untuk keluar.   “Sayang, kamu apa kabar?” tanya Sasya.   “Aku baik, kamu sendiri gimana? Sedang apa sekarang?” tanya Danu.   “Aku lagi mau berangkat kerja nih” ucap Sasya.   “Gimana soal rencana kamu untuk balik? Pernikahan kita gimana?” tanya Danu sembari melihat satu per satu foto yang ada ditangannya.   “Aduhh, itu yang pengen aku sampein ke kamu dari kemarin, tapi aku sibuk banget sama kerjaan aku” ucap Sasya.   “Kenapa?” tanya Danu.   “Aku belum bisa balik Dan, atasan aku minta aku jangan resign dulu sebelum mereka punya penggantiku, aku juga udah bilang ke Mamah Papa, mereka juga tidak bisa memaksaku, kamu gimana? Aku juga bingung” ucap Sasya, Danu tertawa sinis mendengar semua alasan Sasya seakan wanita itu benar-benar mempermainkan dan menganggapnya remeh.   “Kamu masih jaga kepercayaan aku kan Sya?” ucap Danu.   “Dan, kok kamu ngomong kaya gitu sih, aku udah jujur ke kamu, kerjaan aku disini ga semudah kaya disana, kalo kamu keberatan aku bisa minta Papa ngomong ke kamu” ucap Sasya.   “Ga perlu, aku percaya kok sama kamu” ucap Danu.   “Dan, tunggu beberapa bulan lagi ya, aku pasti balik kok” ucap Sasya.   “Okey, tapi kamu tau kan siapa aku, jangan pernah khianati kepercayaan aku” ucap Danu.   “Iya Sayang, aku pasti akan segera pulang dan kita menikah, okey” ucap Sasya.   “Okey” ucap Danu, seketika tangannya terhenti saat melihat foto Sasya sedang mengenakanpakaian seksi dan wajah yang saling menyatu begitu mesra dengan seorang pria, ia mengepalkan tangannya dengan begitu keras, bisa-bisanya ada yang ingin bermain api dengan dirinya.   “Halo Om, ini saya Danu” ucap Danu saat menelfon Ayah Sasya.   “Oh Danu, ada apa Dan?” tanya pria itu.   “Bisa kita bertemu? Ada yang ingin saya bahas” ucap Danu.   “Boleh, kapan?” tanya pria itu.   “Malam ini” ucap Danu.   “Baik, saya tunggu ya” ucap pria tersebut, Danu mematikan telfon itu, ia hanya ingin memastikan bahwa ayah dan anak tersebut bersekongkol atau tidak. Danu memasukkan kembali semua foto itu ke dalam amlop coklat dan menyimpannya dengan begitu rapat, ia harus benar-benar membongkar semuanya diwaktu yang tepat.   “Kak mampir ke market itu bentar dong, aku mau beli sesuatu” ucap Arumi.   “Okey” ucap danu, ia memarkirkan mobilnya di depan market tersebut dan menunggu Arumi, Danu melihat laci mobil Arumi yang terbuka, ia pun melihat sebuah undangan pernikahan.   “Kak, maaf ya lama” ucap Arumi saat kembali masuk ke dalam mobilnya, ia pun seketika terdiam begitu melihat Danu memegang sebuah undangan.   “Kak itu undangan klien aku” ucap Arumi.   “Hmm, ini Irfan yang sama bukan?” ucap Danu, Arumi pun tak bisa lagi menyembunyikan hal itu, padahal ia sendiri sudah memutuskan untuk tidak hadir.   “Iya, itu Irfan sahabatnya Rizky, tapi Bella yang undang, karena dia yang pesan gaun di butik aku, aku juga ga tau kalau Bella itu calon istrinya Irfan” ucap Arumi.   “Aku juga udah mutusin ga dateng kok, kakak ga perlu khawatir kalo aku harus ketemu mereka nantinya” ucap Arumi kembali, Danu hanya diam, ia hanya tak ingin sang adik terlibat lagi dengan masalalunya, ia ingin sang adik menemukan kebahagiaannya suatu saat nanti.   “Ky, sebenernya ada yang ingin gue bilang ke elo” ucap Irfan.   “Apa?” tanya Rizky sembari menyetir mobilnya.   “Sebenrnya Bella mesen gaun pernikahan di butik milik Arumi, aku juga kaget kemarin saat fitting, karena selama ini aku emang nyerahin semuanya sama Bella” ucap Irfan, Rizky hanya diam mendengarkan.   “Aku juga sempat bertemu dengan Arumi, dan Bella memaksaku untuk memberikan undangan pernikahanku kepada Arumi” ucap Irfan, Rizky hanya menghela nafas sejenak.   “Maaf kalau itu mengganggu elu, tapi gue yakin Arumi ga bakalan dateng kok, dia pasti ga mau ketemu sama elu” ucap Irfan.   “Baguslah kalo gitu, dia juga ga perlu repot-repot menghindar nantinya, atau kalo elu mau dia dateng, biar gue yang ga perlu dateng” ucap Rizky, Irfan hanya diam melihat sikap sahabatnya itu.   “Apaan sih lo, awas aja sampe elu ga dateng ke acara pernikahan gue” ucap Irfan kesal, Rizky pun tertawa.   “Cobalah berdamai dengan masalalu, ga capek apa saling dendam tapi hati masih ga rela” ucap Irfan.   “Gimana caranya berdamai dengan masalalu? Sementara masalalu itu yang ngebuat lu hancur sehancur hancurnya” ucap Rizky.   “Yah ikhlasin lah Ky, gue tau elu yang salah, tapi paling engga elu menyesal pernah nyakitin Arumi, elu berubah, temuin wanita yang bisa bikin hati lo jatuh cinta lagi” ucap Irfan.   “Ga semudah itu Fan” ucap Rizky.   “Lu ga capek tiap hari bareng cewek yang berbeda, apa ga bisa elu coba cintai mereka gitu” ucap Irfan.   “Ga pernah ada yang bisa balikin hati gue kaya dulu lagi” ucap Rizky, Irfan hanya menghela nafas ia tak tau lagi bagaimana harus menasehati Rizky agar mau berubah.   “Hmm serah eluu dah” ucap Irfan. Rizky merasa hatinya sudah mati untuk siapapun, rasa penyesalan yang tidak pernah bisa ia tebus, rasa bersalah yang tidak pernah bisa ia hilangkan, rasa maaf yang mungkin sudah tidak mampu membuat Arumi meluluhkan hatinya kembali, ia sudah sering mencoba menjalani hubungan dengan wanita namun ia hanya akan menyakiti wanita tersebut karena dirinya tak lagi merasakan cinta seperti dulu. Arumi berjalan menikmati senja sore itu, melihat kakinya tersapu ombak yang tidak terlalu kuat, hatinya begitu tenang saat itu, bahagia selalu ia rasakan bersama seseorang yang begitu ia cintai, ia berbalik dan melihat Rizky berjalan mengikutinya, dengan wajah yang tersenyum lembut membuat ketampanan pria itu semakin bertambah.   “Kamu ga pernah ajak aku kesini dari dulu, padahal tempatnya bagus banget” ucap Arumi menyandarkan kepalanya dibahu pria itu.   “Mungkin ini hari yang tepat untuk bawa kamu kesini, aku yakin moment ini ga akan pernah kamu lupain seumur hidup kamu” ucap Rizky.   “Memangnya kenapa?” tanya Arumi, Rizky berjalan sedikit menjauh dari Arumi, ia pun berlutut dan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.   “Will you marry me?” ucap Rizky membuka kotak cincin tersebut dihadapan Arumi, Arumi kaget melihat apa yang dilakukan oleh Rizky, Arumi juga kaget melihat lampu hias disekitar pantai yang tiba-tiba hidup, membuat suasana itu semakin romantis.   “Yes, I will” ucap Arumi, airmatanya pun menetes, ia bahagia merasakan hal yang belum pernah terjadi dalam hidupnya, Rizky memakaikan cincin berlian itu kepada Arumi, Arumi langsung memeluknya begitu erat.   “Makasih Sayangggg” ucap Rizky, ia begitu bersyukur bahwa Arumi menerima lamarannya yang sudah lama ia persiapkan.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN