Part 4

2238 Kata
“Udah lama ya?” tanya Helena, sahabat Arumi sejak kecil, mereka pun sama-sama belum menikah.   “Baru 30 menit” ucap Arumi.   “Haduhhh ga enak gue bikin wanita karier menunggu 30 menit” ucap Helena dengan gaya centil, Arumi hanya tertawa melihatnya.   “Kayanya kamu yang wanita karier, makin lama makin susah banget diajak ketemuan” ucap Arumi.   “Yahh maklum lah, aku kan bukan pengusaha seperti kamuuuuuuu” ucap Helena.   “Haha, dasar centil” ucap Arumi, Helena hanya tertawa.   “Ohh ya gimana butik kamu? Lancar dong yah” ucap Helena.   “Yah begitulah” ucap Arumi tersenyum.   “Oh ya aku liat daftar saham di perusahaan aku, mereka invest untuk acara fashion show, aku juga lihat brand kamu masuk di daftar itu, benarkah? Kamu terima?” ucap Helena.   “Iya aku terima, acaranya bulan depan” ucap Arumi.   “Seriussss? Aaaaa kaget aku, aku fikir kamu ga ambil, soalnya itu penting juga buat kemajuan butik kamu, biar makin dikenal luas kualitasnya” ucap Helena.   “Serius dong, aku juga ga mau lah stay disitu aja, aku pengen lebih ngembangin lagi” ucap Arumi.   “Huuuuuu aku merinding kalau lihat pengusaha yang semakin menggila” ucap Helena, Arumi tertawa.   “Aku bukan menggila, tapi lebih tepatnya memanfaatkan peluang, so, ga ada yang salah dengan itu, hidup itu terus maju, jadi kita ga boleh hanya diem ditempat, iya ga?” ucap Arumi, saat ini fikirannya hanya ingin semakin sukses.   “Iya iya iya, kamu bener, tapi jangan lupa juga untuk memikirkan pasangan hidup” ucap Helena, Arumi menghela nafas, ia bahkan tidak memikirkan hal itu untuk saat ini.   “Emangnya kamu sendiri udah mikirin pasangan hidup?” tanya Arumi, Helena tersedak mendengar pertanyaan itu, seakan ucapannya tadi kembali menusuk dirinya.   “Hahaha, tuh rasain, kamu juga belum mikirin pasangan hidup, malah ngomongin aku” ucap Arumi.   “Yahh setidaknya kamu lebih cuek terhadap banyak laki-laki yang coba deketin kamu, sedangkan aku, aku terus yang ngejer-ngejer cowok, pusing dehh” ucap Helena, Arumi hanya menggelengkan kepalanya.   “Ehh btw aku inget seseorang, kayanya mirip deh dengan prinsip hidup kamu” ucap Helena.   “Siapa?” tanya Arumi.   “Ahh iya, boss aku, dia CEO di perusahaan aku, perusahaan itu milik keluarganya, kaya raya, dan sifatnya mirip banget sama kamu, dia juga belum nikah setau aku, mau ga aku jodohin?” ucap Helena menggoda.   “Hmmmm, ujung-ujungnya malah ga enak” ucap Arumi.   “Haha, ayo dong, kamu cocok loh sama dia, kayanya dia itu tipe kamu loh, tinggi, ganteng, dewasa, bijaksana, perfect deh pokoknya, aku aja pengen banget dapetin dia” ucap Helena mengkhayalkan pria itu.   “Yeeee dasar, kenapa ga kamu aja yang berusaha dapetin dia” ucap Arumi.   “Hmm susah digapai, ga sepadan, kalau kamu kan sepadan dengan dia, aku yakin pasti cocok lah” ucap Helena, Arumi hanya diam, ia tidak tahu apakah hatinya sudah siap untuk hal seperti itu atau belum.   “Kenapa? Kamu masih belum bisa buka hati kamu?” tanya Helena.   “Entahlah, aku belum ingin memulai hubungan” ucap Arumi.   “Mau sampe kapan Rum? Udah 4 tahun loh, aku rasa itu udah cukup untuk nyembuhin hati kamu, kamu juga udah berhenti kan ke psikiater? Aku yakin kamu udah sembuh” ucap Helena.   “Berdamailah dengan masalalu kamu, emang kamu ga kesepian apa? Yah aku tau keluarga kamu selalu ada buat kamu, mereka selalu buat kamu bahagia, apalagi kak Danu, tapi kalian kan punya kehidupan masing-masing juga, memangnya kamu ga pengen bahagia bareng pasangan kamu apa” ucap Helena.   “Aku udah pernah ngerasain itu semua, aku ga tau bagian mana lagi yang aku belum rasain” ucap Arumi.   “Menikah, punya anak, bahagia, punya keluarga lengkap, kamu udah ngerasain itu?” tanya Helena.   “Aku fikir tidak semudah itu, apakah hanya dengan menikah setiap orang bahagia? Apakah dengan menikah lantas kehidupan orang itu berhenti sampai disitu? Engga kan? Untuk apa diciptakan pengadilan agama? Untuk apa ada kata perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, hak asuh anak, harta gono gini, karena semuanya ga semudah itu Len, aku belum mikir sampe sejauh itu” ucap Arumi, Helena hanya menghela nafas.   “Iyah apa yang kamu katakan benar, aku memang ga bisa memaksa seseorang harus memiliki pemikiran yang sama denganku, aku juga ga mikir sejauh pemikiran kamu bahwa pernikahan harus berujung dengan perceraian, aku hanya berfikir bagaimana caranya aku mencari seseorang lalu menikah dan menciptakan kebahagiaan tanpa harus memikirkan sebuah perceraian, kamu yang memilih jalan itu harus kearah mana bukan kamu yang menciptakan jalan itu” ucap Helena membuat Arumi terdiam, ia memang tak pernah memikirkan kebahagiaan, ia selalu memikirkan sebuah kesakitan jika ingin memulai kembali suatu hubungan.   “Ga semua orang sama seperti yang ada didalam pikiran kamu Rum, aku ngerti bahkan paham dengan apa yang kamu alami selama ini, aku ngerti gimana sakitnya kamu dulu setelah berpisah dengan Rizky, tapi kamu juga harus ingat hidup itu terus berjalan, kalau pemikiran kamu selalu seperti itu kapan kamu akan bahagia? Yah aku tau kamu sudah bahagia dengan keluarga kamu, lantas apakah kamu tidak ingin bahagia bersama orang yang kamu cintai? Aku yakin kamu ingin Rum” ucap Helena, ia sangat menyayangi sahabatnya tersebut, ia juga ingin melihat Arumi bahagia bersama seseorang yang tulus mencintainya.   “Aku juga pengen seperti yang kamu katakan Len, tapi ga tau kenapa setiap kali ingin memulai, hatiku udah tertutup lebih dahulu, sampai pada akhirnya aku tidak merasakan rasa apapun, haha, lucu ya” ucap Arumi tertawa, Helena malah heran melihatnya seperti itu.   “Sepertinya kamu udah ga waras Rum” ucap Helena, Arumi hanya tertawa, ia sendiri bingung dengan perasaannya saat ini.   “Haha, lagian nih ya, bulan lalu aku sempet kenalan sama cowo, dikenalin sama Gea, temen suaminya, waktu masih chatingan tuh seneng akunya, cakep sih, dia manager di sebuah bank, tapi pas ketemu, ga ada yang special, kaya mati rasa aja gitu, yah setelah pertemuan itu aku sama dia sama-sama ga pernah kontekan lagi sampe sekarang, kalo pun dia suka sama aku pasti dia hubungi aku dong, tapi nyatanya engga, yaudah aku bairin aja, aneh kan?” ucap Arumi.   “Huhhhh tau ah, pusing gue” ucap Helena, Arumi tertawa melihat raut wajah Helena yang pusing dengan dirinya.   “Kamu aja pusing apalagi aku” ucap Arumi.   “Gini deh Rum, kali aja cowok itu minder sama kamu, karena kamu sukses, wanita karir, pengusaha, mungkin dia tuh berharap kamu chat dia duluan agar dia tau bahwa kamu menerima dia apa adanya, dan kalau kamu ga hubungi dia mungkin aja kan dia merasa bahwa dia ga cocok sama kamu, atau dia merasa kamu pengennya cowok yang lebih dari dirinya, simple sih buat mastiin bahwa kalian coock” ucap Helena.   “Masa sih ada cowok kaya gitu?” tanya Arumi bingung.   “Yaa Ampun, mati deh gue” ucap Helena kesal, ia menepuk dahinya dengan telapak tangannya, ia pun benar-benar pusing melihat Arumi.   “Aku ga tau loh beneran, aku fikir dia ga hubungi aku karena emang dia ga suka sama aku, jadi aku juga biarin gitu aja” ucap Arumi.   “Hmm tau deh” ucap Helena, ia sudah tak ingin lagi berdebat dengan Arumi.   ***   “Haii Ky, gimana kabar lo?” tanya seorang wanita menghampiri Rizky yang sedang duduk sendirian, ia ingin pergi dari keramaian itu, namun ia tak mungkin pergi dihari pernikahan sahabatnya itu, jika karena bukan Irfan yang sudah banyak membantunya ia mungkin hanya sekdar datang lalu pergi.   “Hai, Za, aku baik kok, kamu gimana?” tanya Rizky melihat wanita itu duduk disampingnya, acara pernikahan yang digelar begitu mewah dengan tema outdoor itu membuat suasana begitu nyaman sekalipun begitu ramai.   “Yah begini lah aku, baik” ucap Liza.   “Kamu belum merid kan?” tanya Liza.   “Belum” ucap Rizky tersenyum.   “Ohh aku fikir sudah, aku juga belum” ucap Liza tersenyum, mereka sudah lama tidak bertemu sejak kelulusan SMA, Liza pun sempat mempunyai rasa kepada Rizky namun pria itu begitu dingin.   “Pacar kamu yang dulu kemana? Aku lihat di story, dulu kalian begitu mesra bahkan aku tau kamu sempat melamarnya di Bali, benarkan? Aku masih ingat saja story itu padahal aku sudah menghapus akun beberapa tahun yang lalu” ucap Liza tersenyum, ia melihat wajah Rizky yang langsung berubah seakan pertanyaannya adalah sebuah kesalahan, padahal ia sudah tahu bahwa mereka sudah lama berpisah meskipun ia tak tahu sebabnya.   “Kamu pasti sudah tahu kenapa harus bertanya” ucap Rizky, Liza langsung merasa gugup.   “Ehm maaf, aku fikir kalian kembali lagi” ucap Liza.   “Sudah 4 tahun yang lalu, dan hal itu tidak akan pernah terjadi” ucap Rizky.   “Hmm, maaf kalau aku salah ngomong” ucap Liza.   “It’s okay, semua orang punya jalan hidupnya masing-masing, namun ada baiknya kita tidak perlu ikut campur dengan masalah orang lain, meski hanya sekedar ingin tahu” ucap Rizky,ia pun pergi meninggalkan wanita itu. Liza merasa kesal dan menyesal dengan pertanyaannya, Rizky masih saja tidak berubah, bahkan sikapnya semakin susah untuk diluluhkan.   “Rizky masih aja ga berubah ya” ucap Bella, mereka sejenak menyaksikan sikap Rizky tadi.   “Sudah mendarah daging sikapnya yang seperti itu, sudah ratusan cewek yang dekat dengannya, namun hanya Arumi yang mampu meluluhkan hati dan sikapnya yang dinginnya melebihi kutub utara” ucap Irfan.   “Padahal cewek itu cantik loh, itu temen kamu kan?” ucap Bella.   “Namanya Liza, teman satu kelas waktu SMA, aku tau dia juga sempat menyukai Rizky sewaktu SMA, namun Rizky tak pernah merespon” ucap Irfan.   “Sayang banget kan, cewek secantik itu disia-siain” ucap Irfan, Bella pun langsung memukul lengannya.   “Aduhh sakit Bel, kenapa sih?” ucap Irfan.   “Kenapa  kenapa, aku ini istri kamu, enak aja bilang cewek lain cantik, dasar mata keranjang” ucap Bella cemberut, Irfan pun tertawa.   “Haha, maaf ya sayangkuu, becanda doang” ucap Irfan.   “Huuhhh dasarr” ucap Bella.   “Kayanya Arumi ga bakalan dateng” ucap Irfan.   “Bagus deh kalau engga dateng, aku malah sedih kalau dia sampe dateng, pasti susah payah dia ngelupain Rizky, terus dengan enteng dia dateng dan ketemu dengan Rizky, bakal keinget lagi rasa sakitnya dulu, kok ada ya yang berani menyakiti wanita secantik dan sebaik Arumi” ucap Bella, Irfan pun jadi heran dengan Bella yang kini begitu membela Arumi seakan ia merasakan sakitnya.   “Kenapa ngeliatin aku kaya gitu?” tanya Bella.   “Ehm engga, aku heran aja, kamu ngomong kaya gitu seakan kamu juga merasakan apa yang Arumi rasakan” ucap Irfan.   “Semua perasaan wanita itu sama, pasti ngerti lah gimana sakitnya dikhianati” ucap Bella.   “Kalau aku jadi Arumi, aku bahkan rela bunuh orang yang udah berani nyakitin aku” ucap Bella, Irfan merasa takut dengan ucapan Bella tersebut.   “Udah ah, kamu serem banget” ucap Irfan, Bella hanya tersenyum. “Kamu yakin ga dateng ke nikahan mereka?” tanya Danu menghampiri Arumi yang sedang bersantai didekat kolam renang.   “Engga kak, aku udah minta tolong ke Tasya kok untuk ngirim kado ke mereka, mereka pasti udah taulah kenapa aku ga dateng” ucap Arumi santai.   “Hmm baguslah, kalau emang kamu mau datang, kakak bisa temenin kamu” ucap Danu.   “Arumi ga mau kak, udah ahh jangan bahas terus” ucap Arumi, Danu tertawa melihat Arumi kesal, ia pun pergi meninggalkannya, Arumi kembali melihat HP nya, ia melihat postingan teman-teman SMA nya yang sedang reunian di pernikahan Irfan, ia pun ingin hadir dan bertemu dengan teman-temannya dulu, namun ia tak ingin melakukan hal itu, bukan karena ia takut untuk bertemu dengan pria itu, namun ia takut semakin tidak bisa menghilangkan rasa sakitnya. “Halo” ucap Arumi saat menerima telfon dari nomor yang tidak ia kenal.   “Halo, Arumi, ini aku Sinta temen SMA kamu dulu” ucap wanita itu.   “Ohh iya, ada apa?” tanya Arumi.   “Kok ada apa sih, kamu ga dateng ke nikahan Irfan? Padahal acaranya sekalian reunian loh, semuanya pada dateng loh, aku dapet nomor kamu dari istrinya Irfan, katanya mereka pesen gaun rancangan kamu” ucap Sinta.   “Ohh itu, aku lagi di luar kota, makanya ga bisa dateng, maaf ya” ucap Arumi.   “Yahh sedih dong, padahal aku kangen banget ngumpul, Rizky juga ada disini loh, aku tadi ketemu dia, kalian masih bareng kan?” ucap Sinta.   “Ehm itu, udah dulu ya Sin, aku lagi sibuk soalnya, maaf banget ya ga bisa hadir” ucap Arumi.   “Ohh oke deh, byee” ucap Sinta.   “Gimana? Arumi dateng ga?” tanya seseorang kepada Sinta.   “Engga, katanya dia lagi di luar kota, sombong banget mentang-mentang udah sukses” ucap Sinta kesal.   “Hmm kayanya nih ya, dia ga mau dateng karena ga mau lihat Rizky, mereka kan udah lama banget putus” ucap wanita itu.   “Iya gue tau, tadinya gue pura-pura ga tau karena pengen tahu lebih dalam dari Arumi, ehh ternyata dianya malah matiin telfon gue, ngeselin banget, kan seru kalo kita jodoh-jodohin mereka lagi” ucap Sinta tertawa.   “Kamu jail banget, tuh lihat si Liza juga dateng kan, pasti seru kalo Arumi dateng” ucap wanita itu yang semakin membuat suasana itu panas.   “Haha bener banget, sayang banget Arumi ga dateng” ucap Sinta.   Arumi bernafas lega, ia bersyukur tidak datang, apalagi harus menghadapi wanita seperti Sinta yang selalu ingin tahu dengan kehidupan orang lain, bahkan ia rela berpura-pura menjadi teman dekat hanya untuk mencari informasi lebih dalam hanya untuk menjadi bahan pembicaraan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN