Part 5

2823 Kata
“Sya gimana? Udah kelar semua? Modelnya udah oke semua kan?” tanya Arumi kepada Tasya, ini adalah hari dimana fashion show untuk brand miliknya diselenggarakan, Arumi yang menyukai pekerjaannya itu seketika menjadi orang yang paling sibuk saat itu juga mempersiapkan semuanya harus sesuai dengan apa yang sudah ia rencanakan.   “Sudah Bu, semuanya udah ready, sesuai dengan meeting kita kemaren” ucap Tasya memberikan semua laporan yang diminta Arumi.   “Oke aku cek lagi ya, aku deg-deg an banget” ucap Arumi, meski itu bukan kali pertamanya menghadiri acara seperti itu namun ia selalu saja merasa begitu antusias dan bangga dengan apa yang sudah ia capai sampai dititik itu.   “Bu, acara sudah harus dimulai, ibu harus duduk disana” ucap Tasya menunjukkan tempat duduk VIP untuk Arumi yang memang disediakan khusus untuk pemilik brand.   “Okey, tolong kamu pastikan lagi ya” ucap Arumi, Tasya tersenyum dan mengangguk, meskipun ia sedikit kesal namun ia berusaha menahan semuanya, ia sudah terbiasa dengan situasi bahkan sikap Arumi yang begitu antusias.   Arumi menghela nafas, ia pun merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, ia lalu berjalan dan duduk di kursi yang telah diberi nama, ia melihat sekeliling begitu ramai namun belum banyak yang duduk ditempat seperti dirinya.   Disebrang tempat duduk Arumi terlihat pria muda, tampan dan begitu sukses yang hadir diacara milik perusahaannya tersebut, pria itu begitu memperhatikan Arumi sejak ia tak sengaja melihat Arumi di parkiran dan kini ia melihat Arumi kembali, ia pun tersenyum melihat wajah Arumi yang begitu nyaman dipandang.   “Cari tahu tentang wanita itu” ucap pria itu kepada sekretarisnya.   “Baik pak” ucap sekretaris itu.   Pria bernama Reyhan yang berprofesi sebagai sekretaris itu pun langsung mencari tahu tentang tamu undangan di acara hari itu, ia pun mendapatkan semua informasi tentang Arumi yang memang sudah dikenal cukup luas di social media.   “Saya sudah mendapatkannya, ini” ucap Rehan menyerahkan tab nya kepada Immanuel, seorang CEO disebuah perusahaan saham yang begitu terkenal di dunia bisnis. Immanuel mengambil tab yang diberikan oleh Reyhan, ia cukup kagum melihat semua data yang diberikan oleh Rehan, sesekali ia menatap Arumi yang sedang mengobrol dengan rekannya yang lain.   Immanuel tersenyum, ia langsung kagum dengan wanita seperti Arumi “Cantik, Anggun, Desaigner Terkenal, Menjadikan Fashion sebagai Hoby dan juga Pekerjaan, 28 Tahun, Single” ucap Immanuel dalam hati saat membaca bio di sebuah akun social media milik Arumi.   “Simpan ini” ucap Immanuel menyerahkan tab itu pada Reyhan.   Acara pun segera dibuka, Arumi sedikit merasa lega saat melihat dari kejauhan Tasya memberikan acungan jempol, Arumi hanya tersenyum, ia begitu bangga mempunyai karyawan yang begitu semangat bekerja dengannya.   Beberapa jam acara itu digelar akhirnya pun selesai dengan hasil yang sangat memuaskan untuk Arumi, ia pun kembali menemui Tasya dan para modelnya untuk mengucapkan banyak terima kasih karena sudah bekerja sama dengan bagitu baik.   “Bu, tadi ada yang minta janji ketemu dengan Bu Arumi” ucap Tasya, Arumi pun kaget, ia berfikir orang itu adalah seorang yang ingin menanyakan tentang butiknya.   “Siapa?” tanya Arumi.   “Sayaa” ucap Immanuel menghampiri Arumi, Arumi pun langsung berbalik dan melihat Immanuel berdiri begitu gagah dihadapannya.   “Bisa kalian tinggalkan kami berdua?” ucap Immanuel, Tasya dan Reyhan pun langsung mengerti dan pergi menjauh dari mereka, Arumi sedikit bingung dengan keadaan itu.   “Maaf ada apa Pak?” tanya Arumi.   “Saya Immanuel” ucap Immanuel mengulurkan tangannya, Arumi yang merasa gugup pun langsung membalas uluran tangan tersebut, jantungnya seketika berdetak begitu kencang saat ia menggenggam tangan pria itu. Immanuel tersenyum saat merasakan tangan Arumi begitu mungil digenggamannya namun terasa begitu lembut.   “Saya Arumi.” ucap Arumi tersenyum.   “Maaf kalau kamu bingung, saya begitu tertarik dengan semua karya kamu tadi, terlebih saat saya melihat kamu berjalan di catwalk yang sepertinya sudah terbiasa dengan acara seperti ini” ucap Immanuel, Arumi merasa tersanjung dipuji seperti itu, belum pernah seorang pria memuji karyanya, biasanya pasti wanita yang memuji hasil kerja kerasnya itu.   “Ohh itu, terima kasih banyak, saya merasa terharu dipuji seperti itu oleh Pak Immanuel” ucap Arumi.   “Panggil saja Nuel, saya tidak ingin terlalu formal” ucap Immanuel tersenyum.   “Baiklah Nuel” ucap Arumi.   “Ehmm sepertinya saya tidak punya banyak waktu saat ini, ini kartu nama saya, saya harap kita bisa bertemu dan ngobrol dengan santai, saya juga sangat berharap kamu menghubungi saya” ucap Immanuel tersenyum, Arumi mengambil kartu nama yang diberikan oleh Immanuel tersebut.   “Baik, terima kasih banyak” ucap Arumi, Immanuel tersenyum untuk terakhir kali dan pergi meninggalkan Arumi, hatinya menghangat meski hanya sebentar mengobrol dengan wanita itu.   “Dia pemilik perusahan saham yang mengadakan acara ini” ucap Tasya membuat Arumi kaget.   “Seriusan? Saya ga tau kalau ternyata” ucap Arumi kaget.   “Ahh iya saya lupa belum baca data yang kamu kirim waktu itu tentang sponsor acara ini” ucap Arumi merutuki kebodohannya.   “Kirain ibu udah tau, soalnya tadi waktu acara berlangsung, aku perhatiin dia natap Bu Arumi terus, dan ga lama dari itu sekretarisnya tadi menghampiri aku untuk minta waktu setelah selesai acara buat ketemu” ucap Tasya, Arumi pun mengerti.   “Btw, dia masih single lohhh” ucap Tasya menggoda, Arumi menghela nafas dan mengerti dengan maksud Tasya.   “Syaa apaan coba” ucap Arumi, Tasya tertawa setiap kali ada pria yang ingin mengenal Arumi namun wanita itu selalu bersikap dingin.   “Haha, maaf bu, habisnya saya seneng lihat Pak Immanuel, ganteng banget” ucap Tasya sembari membereskan barang-barang mereka yang akan dibawa kembali ke butik.   “Dasarr kamu, ganteng aja untuk apa kalau tidak bisa bertanggung jawab” ucap Arumi.   “Pasti dia orang yang sudah ganteng, baik,  bertanggung jawab, sukses, perfect kan” ucap Tasya, Arumi tertawa melihat Tasya bicara seperti itu.   “Hahaha, kamu mah, ada-ada aja” ucap Arumi.   Arumi kembali memikirkan obrolan singkatnya tadi dengan Immanuel, meskipun hanya beberapa menit namun obrolan itu meninggalkan kesan bagi mereka berdua, Arumi menyimpan kartu nama itu ke dalam tas nya, ia akan menelfon pria itu nanti setelah semua urusannya selesai.   ***   “Penjualan kita meningkat sejak acara fashion show 2 minggu lalu, ini datanya” ucap Tasya menyerahkan berkas kepada Arumi.   “Waaww, Amazing, bener-bener surprise banget, padahal kita udah beberapa kali ikut acara seperti itu, tapi kali ini bener-bener beda banget hasilnya dari yang dulu” ucap Arumi senang.   “Okey, kamu bisa tinggalin berkasnya disini” ucap Arumi, Tasya tersenyum dan pergi meninggalkannya.   “Halo” ucap Arumi mengangkat telfonnya yang berdering.   “Halo Rum, kamu dimana?” tanya Helena.   “Kamu Len, aku di butik, ada apa?” tanya Arumi.   “Makan siang yuk, ada yang ingin aku omongin juga ke kamu, aku di resto Odysseia nih, ga jauh juga kan dari butik kamu” ucap Helena, Arumi melihat jam tangannya menunjukkan pukul 11:40.   “Oke, aku kesana nih, byeee” ucap Arumi, ia pun menutup telfonnya dan merapikan mejanya.   “Sya, aku mau keluar makan siang ya, siapa tau ada yang mau ketemu aku telfon aja ya, aku kayanya agak lama” ucap Arumi.   “Baik Bu” ucap Tasya, Arumi pun pergi dengan mobilnya.   Helena memesan beberapa makan siangnya untuk dirinya dan juga Arumi, iya tau apa yang disukai oleh Arumi dan apa yang tidak disukainya, pandangannya pun teralihkan seketika ke pintu masuk saat melihat 2 orang yang tidak asing dimatanya masuk ke restoran itu juga, ia pun langsung berdiri dan tersenyum.   “Pakk” ucap Helena tersenyum, pria itu pun membalas senyuman Helena hanya sekedarnya, Helena hanya menghela nafas sejenak, ia tidak enak jika bertemu dengan atasannya diluar kantor pura-pura tidak melihat.   “Helenaaaa” panggil Arumi, Helena mengalihkan pandangannya dan melihat Arumi berjalan kearahnya, ia sedikit melihat Arumi berbeda dari biasanya.   “Kenapa ngeliatin aku seperti itu?” tanya Arumi.   “Kaya ada yang beda aja dari kamu, lebih cerah dari biasanya” ucap Helena, Arumi tersenyum, ia memang merasakan hal itu, terlebih suasana hatinya memang sedang membaik akhir-akhir ini.   Dari kejauhan Immanuel melihat Arumi datang menyapa seorang karyawannya di perusahaan miliknya, ia pun kaget ternyata karyawannya mengenal Arumi, ia pun ingat dengan kartu nama yang ia berikan kepada Arumi namun wanita itu belum menghubunginya sampai sekarang.   “Kamu tau siapa wanita yang menyapa kita tadi?” tanya Immanuel, ia sendiri tidak hapa dengan nama karyawannya.   “Itu Helena, dari depatment keuangan di kantor kita” ucap Reyhan, Immanuel masih memperhatikan mereka berbincang begitu asik.   “Cerita dong, kayanya kamu lagi seneng banget” ucap Helena sembari menikmati makanannya.   “Iya aku akhir-akhir ini seneng banget, tau kan acara fashion yang waktu itu kamu bilang, sejak saat itu penjualan butik aku meningkat drastis banget, aku jadi lebih sibuk dari biasanya, entah kenapa aku seneng banget kalo sibuk, jadi fikiran aku ga kemana-mana deh” ucap Arumi senang, Helena pun ikut senang mendengarnya, ia tau fashion adalah bagian dari hidup Arumi sejak kecil.   “Ohh ya, kamu bilang acara itu diselenggarakan oleh perusahaan kamu sebagian besarnya, kalau gitu kamu kenal dong dengan Immanuel?” tanya Arumi, Helena pun tersedak ketika mendengar Arumi menyebutkan nama itu.   “Len kamu ga apa-apa? Minum dulu” ucap Arumi memberikan minuman untuknya.   “Serius kamu kenal dia? Gimana ceritanya?” tanya Helena kaget.   “Jadi selesai acara kemaren dia sempat minta waktu ke Tasya untuk nemuin aku, dan yah pada akhir acara dia nemuin aku dan kasih aku kartu namanya dan minta untuk dihubungi, tapi aku lupa ngeletakin kartu nama itu, jadi aku belum bisa hubungi dia sampe sekarang” ucap Arumi, Helena benar-benar tak menyangka bahwa hal itu terjadi.   “Sumpah aku bener-bener ga percaya Pak Immanuel ngelakuin hal itu” ucap Helena membuat Arumi bingung.   “Memangnya kenapa?” tanya Arumi heran.   “Rum, dia itu cowok yang pernah aku ceritain ke kamu waktu itu, CEO di perusahaan aku” ucap Helena, kini giliran Arumi yang tersedak karena kaget, ia tidak tahu bahwa Immanuel adalah orang yang dimaksud oleh Helena.   “Tuhh kan sekarang malah kamu yang kesedak, minum dulu” ucap Helena memberikan minuman kepada Arumi.   “Huuhhhh, kamu serius Len?” tanya Arumi masih tidak percaya.   “Ya serius lah, lagian dia juga ada disini tadi” ucap Helena semakin membuat Arumi kaget, ia pun langsung melihat sekitarnya untuk mencari kebenaran Helena, dan seketika saja matanya bertatapan langsung dengan Immanuel yang sejak tadi memperhatikan dirinya. Arumi langsung menelan ludah saat melihat Immanuel berdiri dan berjalan kearahnya atau bahkan ingin menghampirinya.   Helena merasa seseorang berdiri disampingnya setelah ia mendengar suara langkah sepatu berhenti tepat disampingnya, ia pun melirikkan matanya dan melihat Immanuel berdiri begitu gagah dan menatap lembut kearah Arumi.   “Hai, Arumi, lama tidak bertemu” ucap Immanuel, Arumi pun menjadi salah tingkah.   “Hai, Nuel” ucap Arumi tersenyum gugup.   “Nuellllll?” ucap Helena dalam hati, ia kaget Arumi memanggil nama atasannya dengan sebutan nama panggilan seperti itu.   “Ehemmmm” dehem Immanuel, Helena pun mengerti maksudnya, ia langsung berdiri dan sedikit menjauh dari mereka, Immanuel pun duduk di kursi milik Helena tadi dan tersenyum kepada Arumi.   “Maaf mengganggu makan kamu, silahkan dilanjut” ucap Immanuel.   “Ohh ini, aku udah selesai kok, ada apa ya? Maaf aku lagi ngobrol dengan Helena” ucap Arumi.   “Ohh, maaf aku ga tau” ucap Immanuel salah tingkah.   “Dia teman kamu?” tanya Immanuel.   “Dia sahabat saya sejak kecil” ucap Arumi, Immanuel pun mengangguk mengerti.   “Hmm begitu ternyata, saya hanya ingin tau kenapa kamu tidak menghubungi saya” ucap Immanuel.   “Ohh itu, maaf saya menghilangkan kartu nama itu” ucap Arumi.   “Hmm, mana Handphone kamu?” tanya Immanuel, Arumi pun dengan ragu mengeluarkan HP miliknya.   “Untuk apa?” tanya Arumi, Immanuel pun langsung menyimpan nomornya di HP Arumi dan menekan panggilan agar nomor Arumi masuk ke HP nya.   “Saya sudah menyimpan nomor saya, jadi jangan lagi ada alasan untuk tidak menghubungi saya” ucap Immanuel, Arumi pun kaget dan melihat kearah Helena yang hanya diam tak mengerti.   Arumi tersenyum salah tingkah dengan perlakuan Immanuel yang secara tiba-tiba seperti itu “Baiklah, akan saya hubungi” ucap Arumi.   “Baiklah kalau begitu, maaf sudah mengganggu makan siang kalian, saya permisi” ucap Immanuel yang sejenak melihat kearah Helena dan tersenyum, Helena membalas senyuman itu dengan gugup.   “Baik” ucap Arumi berdiri dari tempat duduknya, Immanuel pun pergi meninggalkan mereka berdua dengan senyuman diwajahnya.   Helena langsung duduk ditempatnya tadi, lututnya terasa begitu lemas, ia baru saja seperti menonton pertunjukkan horror “Bener-bener hal yang ga bisa aku percaya” ucap Helena, Arumi hanya tertawa melihat sahabatnya seperti itu.   “Kamu kenapa?” tanya Arumi.   “Bisa-bisanya kamu santai setelah apa yang aku lihat tadi” ucap Helena.   “Memangnya aku harus seperti apa Len?” tanya Arumi, ia pun melanjutkan makan yang belum sempat membuatnya kenyang.   “Yah seneng kek, kaget, loncat-loncat kegirangan, atau apalah” ucap Helena, Arumi hanya menggelengkan kepalanya.   “Iya aku tadi kaget karena waktu kamu bilang dia disini dan aku langsung mencarinya, terus tiba-tiba aku ngeliat dia, dia juga ngeliat aku bahkan langsung nyamperin, tapi setelah dia pergi yah biasa aja” ucap Arumi.   “Huuuhhh, udah 7 tahun aku kerja di perusahaan itu Rum, baru kali ini aku lihat dia begitu santai bahkan lembut ngomong sama cewek, bahkan dia senyum sama ku, padahal di kantor dia ga pernah senyum sama karyawannya selembut itu, aaaaaaaaaaaaa, hatiku meleleh” ucap Helena.   “Dasarrr” ucap Arumi.   “Aku juga kaget waktu kamu manggil nama dia seperti itu” ucap Helena.   “Ohh itu, waktu itu aku manggil dia Pak Immanuel, tapi dia nyuruh aku manggil Nuel aja ke dia, aku juga ga tau kenapa, yah aku turuti aja” ucap Arumi.   “Tau ah, pusing pala gue mikirinnya” ucap Helena, ia pun kembali menlanjutkan makanannya yang tertunda karena mereka.   “Kayanya dia suka sama kamu” ucap Helena.   “Tau dari mana kamu?” tanya Arumi.   “Yah kamu lihat aja nanti, pasti dia bakalan ngejar-ngejar kamu” ucap Helena, Arumi sejenak berfikir apakah yang dikatakn oleh Helena benar atau tidak, meskipun seperti itu ia merasakan hal berbeda ketika bersama dengan Immanuel, perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.   “Makasih banyak yah, padahal aku jalan kaki juga bisa loh” ucap Helena turun dari mobil Arumi.   “Ga apa-apa, lagian aku juga lewat sini, panas juga lagi kalau kamu mau jalan kaki” ucap Arumi, Helena tersenyum.   “Yasudah, hati-hati ya, byeee” ucap Helena.   “Byeeee” ucap Arumi, ia pun pergi meninggalkan tempat itu. *** Arumi merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya, ia merasa tubuhnya begitu penat akibat pekerjaannya yang semakin menumpuk, ia pun kaget mendengar HP yang berada di tasnya berdering, ia segera mengambil HP nya dan melihat nama di layar itu.   “Nuel” ucap Arumi.   “Haloo” ucap Arumi mengangkat telfon itu.   “Haiii” ucap Immanuel.   “Hai” ucap Arumi tersenyum, ia pun bingung ingin mengatakan apa.   “Sudah pulang dari butik?” tanya Immanuel.   “Sudah, baru aja pulang, kamu?” tanya Arumi.   “Aku masih di kantor, lembur” ucap Immanuel.   “Ohh gitu, semangat yah” ucap Arumi salah tingkah, ia melihat pipinya yang memerah saat mengatakan hal itu.   “Makasih, kamu mau istirahat? Maaf kalau aku ganggu” ucap Immanuel.   “Eehmmm, aku masih rebahan aja sih tadi, belum beres-beres” ucap Arumi.   “Boleh aku tau alamat rumah kamu?” tanya Immanuel, Arumi kaget plus bingung.   “Uuu..nn..tukk apa?” tanya Arumi, Immanuel hanya tertawa.   “Hanya ingin mengunjungi kamu sesekali, tapi tidak apa-apa jika kamu tidak ingin” ucap Immanuel.   “Ehmmm, aku tanya kakak aku dulu ya, boleh atau engga” ucap Arumi, Immanuel kembali tertawa.   “Kenapa ketawa? Ada yang aneh ya?” tanya Arumi.   “Huuhhhh, iya aneh saja, ternyata jaman sekarang masih ada seorang wanita yang harus bertanya dulu ke kakaknya hanya karena seorang pria bertanya alamat rumanya” ucap Immanuel.   “Ohh  itu karena udah kebiasaan aja sih, jadi kakak aku memang begitu menjaga adik-adiknya, jadi kalau aku dan adik perempuan aku kenal dengan seorang pria, keluargaku harus tahu, maaf kalau itu aneh untuk kamu” ucap Arumi.   “Tidak, tidak, justru aku kagum, ternyata keluarga kamu begitu baik mendidik anak-anaknya, bahkan kakak kamu yang sepertinya begitu sayang ke kamu” ucap Immanuel.   “Yahh gitu dehh, ohh ya udah dulu ya, sebentar lagi jam makan malem, entar Papa marah kalau anaknya hilang 1” ucap Arumi tertawa, Immanuel pun tertawa kembali, hatinya benar-benar bahagia hari itu.   “Haha, baiklah, see youu” ucap Immanuel lembut.   “See youu” ucap Arumi, telfon itu pun mati, namun senyum Arumi masih saja mengembang diwajahnya, entah mengapa hatinya begitu berbunga hari itu. Immanuel menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya, ia menatap keluar gedung dan melihat keindahan malam itu oleh cahaya lampu dari setiap rumah yang menyala, senyuman diwajahnya pun tak pernah pudar sejak hari itu, ia merasa bahwa wanita itu begitu special untuknya, ia sudah meyakini hatinya untuk melakukan apapun agar bisa mendapatkan wanita itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN