“Selamat Pagiiiiiiiii” ucap Arumi begitu turun dari kamarnya, ia mencium pipi Danu, Ziva dan juga sang ayah, mereka pun tampak bingung dengan sikap Arumi yang tak seperti biasanya, wajahnya yang lebih ceria dari biasanya, senyum yang terus merekah dari wajahnya, mereka bertiga hanya bisa saling melihat.
“Huhhhh enak kayanya sarapan pagi ini” ucap Arumi mengambil sarapannya.
“Kalian ga makan?” tanya Arumi saat melihat mereka bengong.
“Eheemmm” dehem Andra, ia pun ikut tersenyum melihat Arumi seperti itu.
“Kelihatannya anak Papa ada yang lagi bahagia banget, tapi ga mau bagi-bagi” ucap Andra membuat Danu dan Ziva tertawa.
“Papa ngomongin Arumi ya?” ucap Arumi saat melihat Danu dan Ziva tertawa.
“Memangnya siapa lagi disini yang sedang sangat bahagia” ucap Andra.
Arumi tersenyum, ia sendiri tidak tahu pasti apa yang membuatnya begitu bahagia saat itu “Ehmm Arumi seneng aja Pah, soalnya berkat acara fashion waktu itu, penjualan butik Arumi meningkat tajam, Arumi seneng kalo sibuk bekerja” ucap Arumi.
“Benarkah?” tanya Andra.
“He’em, Arumi bener-bener ga nyangka banget” ucap Arumi sembari menikmati sarapannya.
“Hmm gitu ternyata, selamat yaahhh sayang, tapi jangan sibuk bangetlah, kamu juga harus istirahat yang cukup, makan yang teratur, jaga kesehatan” ucap Andra.
“Passtiiii dong, Papa tenang aja, Arumi akan jaga kesehatan Arumi dengan baik” ucap Arumi semangat, Danu hanya tersenyum melihat Arumi seperti itu, ia bersyukur melihat Arumi kembali ceria seperti dulu lagi, namun ia juga sedikit curiga bahwa ada sesuatu lain yang membuat Arumi bahagia, karena ia tahu bahwa butik Arumi memang selalu meningkat semakin hari.
“Rum kamu hari ini balik jam berapa?” tanya Danu saat mereka akan pergi bekerja.
“Ehmmm belum tau sih, kenapa?” tanya Arumi.
“Kakak mau ajak kamu pulang bareng sekalian makan diluar, gimana? Bisa?” tanya Danu, Arumi seperti tampak berfikir.
“Boleh deh, tapi anterin aku ya ke butik, masa entar kita pulang bareng mobil aku ditinggal di butik, lagian mobil butik ada kok, entar kalau mau kemana-mana aku pake mobil butik aja” ucap Arumi.
“Okey, yuk” ucap Danu, Arumi tersenyum dan masuk ke dalam mobil Danu, mereka pun pergi meninggalkan rumah itu.
“Akhir-akhir ini aku lihat kakak sering keluar malem” ucap Arumi memulai obrolan.
“Ohh itu, temen kakak sering ngajak kumpul, sesekali sih” ucap Danu, Arumi mengangguk mengerti.
“Kenapa?” tanya Danu.
“Ga apa-apa kok, biasanya kan kakak lebih seneng dirumah, kakak juga tampak kurusan sekarang, kakak lagi ada masalah?” ucap Arumi.
“Masalah dari mana? Itu kan perasaan kamu aja, kakak lagi sibuk sama kerjaan aja belakangan ini, jadi suka telat makan” ucap Danu, ia masih belum ingin menceritakan semua masalahnya yang sedang ia hadapi saat ini sebelum semuanya selesai.
“Kakak inget kan tadi Papa ngomong apa, meskipun kita sibuk tapi kita tetep harus utamain kesehatan, jangan sampe telat makan hanya karena pekerjaan” ucap Arumi, Danu mengusap lembut kepala Arumi.
“Iya adikku tersayanggggg” ucap Danu, ia tidak ingin berdebat dengan Arumi karena ia tahu kalau Arumi sudah membuka mulut, semua perkataannya tak pernah bisa ia hentikan.
“Jangan iya-iya aja, kakak tuh kalau dibilangin ga pernah mau nurut, gimana mau jagain adik-adik kakak kalo kakak sendiri ga jaga diri kakak, gimana mau bahagiain adik kakak, kalo kakak sendiri ga bahagia” ucap Arumi, Danu sudah mulai merasakan telinganya sedikit memanas.
“Stop cerewetin kakak, oke????” ucap Danu, Arumi pun cemberut.
“Pokoknya aku ga mau lihat berat badan kakak turun, kakak harus jaga pola makan, awas aja ya” ucap Arumi.
“Hhmmmm” ucap Danu pasrah.
“Makasih ya, kakak hati-hati” ucap Arumi saat sampai di butiknya.
“Iya, nanti kakak telfon ke rumah bilang kalo kita makan malem diluar” ucap Danu.
“Oke” ucap Arumi.
“Kamu entar makan siang gimana?” tanya Danu.
“Kan aku udah bilang ada mobil butik, kalau engga entar aku telfon Helena aja untuk makan siang bareng” ucap Arumi, Danu mengangguk mengerti.
“Oke deh, kakak jalan ya, byeee” ucap Danu.
“Byeeee” ucap Arumi tersenyum dan melambaikan tangannya.
“Pagi Tasyaaa” ucap Arumi ketika masuk ke butiknya.
“Pagi Bu Arumi” ucap Tasya heran, biasaya dia yang menyapa duluan, tapi belum sempat ia menyapa Arumi sudah menyapanya terlebih dahulu.
Arumi merasa semangatnya hari ini begitu membara, ia kembali mengerjakan desain terbaru yang ia ingin segera terselesaikan untuk edisi bulan depannya, “Ini laporan minggu ini” ucap Tasya memberikan berkas itu kepada Arumi, ia melihat senyum Arumi setiba di butik masih saja merekah diwajahnya.
“Oke terima kasih” ucap Arumi mengambil berkas itu.
“Bu Arumi baik-baik aja?” tanya Tasya heran, Arumi pun heran dengan pertanyaan Tasya seperti itu.
“Memangnya kenapa? Makeup aku tipis banget ya?” tanya Arumi, ia pun mengambil cermin di tas nya dan melihat wajahnya, ia berfikir tidak ada yang salah dengan riasannya hari ini.
“Engga, bukan soal makeup sih, tapi daritadi aku lihat, Bu Arumi senyum-senyum terus” ucap Tasya tertawa malu.
“Hmm dasar, jadi kamu fikir aku gila?” ucap Arumi, Tasya hanya menahan tawanya.
“Hehe, maaf, soalnya jarang-jarang lihat Bu Arumi ceria seperti ini” ucap Tasya.
“Haha, ga apa-apa kok, ga cuma kamu aja yang ngomong kaya gitu, Papa aku juga heran, padahal aku ngerasa biasa aja sih” ucap Arumi.
“Baiklah, aku seneng lihat Bu Arumi seperti ini” ucap Tasya.
‘Makasih yaa” ucap Arumi tersenyum, Tasya pun pergi meninggalkan ruangan itu.
Arumi kembali mengerjakan pekerjaannya saat itu “Halo” ucap Arumi saat melihat HP nya berdering.
“Selamat Pagi” ucap Immanuel.
“Pagi” ucap Arumi tersenyum.
“Kamu sudah di butik ya?” tanya Immanuel.
“Iya aku udah di butik 30 menit yang lalu, kamu?” ucap Arumi.
“Aku masih di rumah, hari ini ga ada meeting, jadi aku stay dirumah aja” ucap Immanuel.
“Ohh gitu” ucap Arumi.
“Ohh ya, entar kamu makan siang bareng Helena lagi?” tanya Immanuel.
“Ehhmm belum ada rencana sih, tapi biasanya iya, dia kadang tiba-tiba aja dateng atau ngajakin, aku juga hari ini ga bawa mobil, jadi yahh, pasti Helena dateng ke butik aku” ucap Arumi.
“Memangnya mobil kamu kenapa?” tanya Immanuel.
“Engga apa-apa, tadi aku bareng kak Danu berangkat, dia mau ngajakin aku makan malem entar sepulang kerja” ucap Arumi, Immanuel memandang tab ditangannya yang menunjukkan foto Arumi dengan seorang pria didepan butik Arumi pagi tadi, ia pun merasa lega karena sedikit penasaran dengan pria itu dan ternyata kini ia tahu kebenarannya.
“Jadi nama kakak kamu Danu?” tanya Immanuel.
“Ohh iya, namanya kak Danu, kenapa?” ucap Arumi.
“Engga apa-apa, aku fikir kakak kamu perempuan, ternyata laki-laki, pantesan aja dia peduli banget sama adik-adiknya” ucap Immanuel.
“Ohh itu, iya maaf aku ga kasih tau kamu” ucap Arumi.
“Ga apa-apa kok” ucap Immanuel tersenyum, ia kini percaya bahwa Arumi wanita baik-baik.
“Ehmm aku mau lanjutin pekerjaan aku dulu ya” ucap Arumi.
“Ohh baiklah, maaf sudah mengganggu kamu, aku hanya ingin tahu kabar kamu hari ini” ucap Immanuel.
“Engga ngeganggu kok, cuma, aku emang ga pernah pegang HP kalo lagi kerja” ucap Arumi.
“Okey, semangat yahh” ucap Immanuel.
“Oke, byeee” ucap Arumi, ia pun tersenyum memandangi layar HP nya, ia meletakkan HP itu di meja dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Arumi melihat jam tangannya menunjukkan pukul 12 siang, ia kaget karena sejak tadi begitu sibuk di butik, ia pun berjalan menuju ruangannya dan melihat HP, ia melihat begitu banyak panggilan masuk dan juga pesan masuk.
“Halo Len, sorry aku tadi lagi sibuk banget ga tau kamu telfon” ucap Arumi.
“Iya aku juga tau kamu pasti sibuk, kamu makan siang dimana hari ini, aku tadi mau bilang hari ini temen kantor aku ngajakin makan siang bareng karena ada karyawan baru, jadi kaya penyambutan gitu deh, sorry ya ga bisa bareng hari ini” ucap Helena, Arumi pun menghela nafas.
“Ohh gitu, yaudah deh, aku makan disekitar sini aja” ucap Arumi.
“Oke deh, byeee Rumm” ucap Helena.
“Byeee” ucap Arumi, ia pun mengambil tas nya, ia sudah merasakan perutnya begitu lapar.
“Sya, kunci mobil sama kamu? Aku mau pake” ucap Arumi.
“Ada kok, ini” ucap Tasya memberikan kunci mobil itu.
Tinn…tinn…
Arumi kaget saat mendengar suara klakson mobil di dekatnya, ia pun melihat sebuah mobil putih diparkiran butiknya, ia pun melihat seorang pria keluar dari mobil itu yang membuatnya kaget.
“Immanuel” ucap Arumi kaget.
“Haiii” ucap Immanuel, Arumi pun sah tingkah.
“Haii” ucap Arumi tersenyum bingung.
“Kamu mau makan siang kan? Bareng yuk, kebetulan aku lewat jadi mampir, kamu mau pergi dengan Helena ya?” tanya Immanuel.
“Ehmm engga, aku mau pergi sendiri, Helena lagi ada acara makan bareng temen kantornya, jadi aku mau pergi sendiri” ucap Arumi.
“Kamu bilang ga bawa mobil” ucap Immanuel.
“Ohh ini mobil butik aku, emang biasanya tinggal disini untuk nganterin pesenan klien aku” ucap Arumi.
“Ohh gitu, bareng aku aja yuk, aku sendiri kok hari ini, gimana?” ucap Immanuel, Arumi tampak berfikir sejenak.
“Arumii” panggil Immanuel pelan.
“Ehh iya, maaf, baiklah” ucap Arumi tersenyum, ia sebenarnya ingin menolak, namun ia merasa tidak enak kepada Immanuel. Immanuel membukakan pintu mobil untuk Arumi, Arumi pun tersenyum melihat dirinya diperlakukan seperti itu.
“Makasih” ucap Arumi, Immanuel tersenyum senang.
“Huuuuhhhhh, Pak Imm ngeselin banget, pake nyuruh gue bohong lagi ke Arumi, padahal gue udah capek-capek nyiapin bekal untuk makan bareng Arumi di butik” ucap Helena melihat beberapa kotak bekal di meja kerjanya yang sengaja ia bawa dari rumah untuk dimkan bersama Arumi.
“Sini buat aku aja” ucap salah seorang teman Helena.
“Nihhh” ucap Helena menyerahkan satu kotak bekal kepada temannya.
“Emangnya Pak Imm kenapa?” tanya teman Helena tersebut.
“Hmm tau ah, laper gue” ucap Helena kesal, ia membawa satu kotak bekal menuju pantri yang ada di kantornya dan makan siang sendiri disana.
“Maaf ya aku ga ngabarin dateng ke butik kamu” ucap Immanuel tersenyum.
“Ga apa-apa kok, aku kaget aja lihat kamu tadi” ucap Arumi.
“Emangnya kamu mau kemana, sampe lewat butik aku?” tanya Arumi.
“Ehmm aku ada urusan sama temen aku, kebetulan lewat di jam makan siang, jadi aku mampir” ucap Immanuel.
“Kamu juga tau kalau itu butik aku?” ucap Arumi, Immanuel sedikit kaget karena pertanyaan Arumi seakan mencurigai dirinya.
“Ohh itu, aku ga sengaja lihat nama butik kamu, aku sempat ngecek juga di data fashion kemarin untuk mastiin bahwa itu benar butik kamu, dan ternyata benar” ucap Immanuel.
“Jadi kamu uda rencanain dong kalau mau ke butik aku” ucap Arumi.
“Salah ya?” tanya Immanuel, ia tahu bahwa saat ini Arumi sedang mengintrogasi dirinya.
“Engga sih, cuma kaget aja, sorry” ucap Arumi salah tingkah, ia memang sedikit bingung kenapa Immanuel datang.
“Aku bakal sering dateng biar kamu ga kaget lagi” ucap Immanuel tersenyum, Arumi semakin merasa bingung dengan perasaannya, ia sedikit senang dengan kehadiran Immanuel, namun ia juga masih canggung untuk bertemu langsung dengannya.
“Aku becanda kok, jangan tegang gitu dong, aku ga akan nyulik kamu juga” ucap Immanuel tertawa, Arumi pun ikut tertawa untuk sedikit menenangkan dirinya yang begitu gugup saat itu.
Immanuel menghentikan mobilnya disebuah rumah makan yang tidak terlau mewah dipinggir jalan, Arumi memperhatikan tempat itu yang lumayan ramai oleh pengunjung dan bertuliskan warung soto.
“Ayo” ucap Immanuel membukakan pintu mobil untuk Arumi, Arumi pun tersenyum dan turun dri mobil, ia mengikuti Immanuel masuk ke dalam warung soto tersebut, ternyata saat masuk ruangan itu cukup luas dan ramai oleh pengunjung.
“Hai Pak Muli” ucap Immanuel kepada seorang pria paruh baya bernama Muli tersebut, ia adalah pemilik warung soto tersebut.
“Eehhh kamu Le, sudah lama sekali tidak kesini, haduhhh sekalinya kesini bawa cewek lagi” ucap pria bernama Muli tersebut.
“Iya nih, saya lagi sibuk, makanya baru ada waktu saat ini terus kangen makan disini” ucap Immanuel, Arumi hanya memperhatikan mereka berdua yang sepertinya sudah begitu dekat.
“Oh ya silahkan-silahkan” ucap Pak Muli melayani mereka berdua.
“Pak seperti biasa saja ya, untuk kami berdua” ucap Immanuel setelah mereka memilih tempat duduk yang sedikit jauh dari pembeli lainnya.
“Oke shiiaaapppp” ucap Pak Muli, Immanuel menghela nafas, ia sudah lama sekali tidak mampir ke warung favoritnya itu.
“Maaf ya kalau aku bawa kamu kesini, sebenarnya ini tempat yang ingin aku tuju, yang aku bilang ke kamu tadi” ucap Immanuel tersenyum.
“Ga apa-apa kok, aku suka tempatnya” ucap Arumi.
“Tadi itu siapa?” tanya Arumi.
“Itu Pak Muli, dia dulu supir keluarga aku, jadi dia pensiun terus buka tempat ini dan anaknya sekarang gantiin posisi dia, Reyhan itu anaknya, makanya dia anggep aku udah kaya anaknya sendiri” ucap Immanuel, Arumi pun tiba-tiba merasa kagum dengan pria itu, meskipun ia tahu bahwa Immanuel kaya raya, namun ia tidak malu makan ditempat seperti itu dan ramah kepada orang lain.
“Ohh gitu” ucap Arumi tersenyum.
“Disini juga masakannya enak banget, kamu pasti ketagihan makan disini” ucap Immanuel.
“Oh ya?” ucap Arumi.
“Kita lihat aja nanti” ucap Immanuel, tak lama kemudian Pak Muli datang membawakan soto special untuk mereka berdua dan minuman dingin.
“Silahkan dinikmati” ucap Pak Muli.
“Makasih banyak Pak” ucap Immanuel tersenyum.
“Sama-sama Le, kali ini cocok banget” ucap Pak Muli, Immanuel tersenyum malu dengan ucapan Pak Muli, ia memang sudah pernah membawa seseorang ke tempat itu, namun itu hanyalah masalalunya yang sudah lama ia lupakan.
“Kali ini?” ucap Arumi dalam hati, “Berarti Immanuel pernah membawa seorang wanita selain dirinya ke tempat itu” ucapnya kembali di dalam hati.
“Maaf untuk ucapan Pak Muli tadi, dia memang seperti itu” ucap Immanuel, Arumi tersenyum, ia tak ingin terlalu terburu-buru ingin tahu tentang semua kehidupan Immanuel, ia hanya ingin semuanya berjalan sesuai waktunya.
“Enak banget” ucap Arumi saat menikmati makanannya, Immanuel tersenyum.
“Bener kan yang aku katakan tadi, ini enak banget” ucap Immanuel, mereka pun menikmati makanan itu dengan santai sembari sesekali mengobrol untuk saling mengenal, Arumi pun baru mengetahui bahwa Immanuel adalah sosok yang humble dan bisa menyatu dengan keadaan apapun.
Immanuel mengantar kembali Arumi ke butiknya, ia begitu senang bisa bertemu kembali dengan Arumi meskipun ia sedikit sedih berpisah dengannya saat itu, “Makasih banyak yah untuk makan siangnya, itu makan siang terenak yang pernah aku coba” ucap Arumi tersenyum.
“Aku senang kamu menyukai semuanya, makasih juga udah nemenin aku” ucap Immanuel, Arumi tersenyum.
“Sama-sama, lain kali aku akan ajak Helena kesana, dia pasti suka banget” ucap Arumi, Immanuel tersenyum melihat Arumi yang sudah santai saat mengobrol dengannya.
“Kamu boleh kesana kapan aja, aku udah sampein ke Pak Muli buat layanin yang terbaik untuk kamu” ucap Immanuel.
“Haha, kamu bisa aja, lagian ga perlu seperti itu juga” ucap Arumi.
“Ohh ya entar sore kamu pulang jam berapa?” tanya Immanuel.
“Ehhmm biasanya aku pulang jam 6 sih, tapi ga tau nanti soalnya kak Danu yang jemput aku sekalian dia mau ajak makan malem berdua diluar” ucap Arumi.
“Ohh iya aku lupa” ucap Immanuel tersenyum.
“Yaudah aku masuk dulu ya” ucap Arumi.
“Okeyy, selamat bekerja” ucap Immanuel tersenyum.
“Kamu hati-hati dijalan yah, byeee” ucap Arumi.
“Pasti, byeee” ucap Immanuel.
Arumi masuk ke butiknya dengan senyum yang masih merekah, ia merasakan perasan yang telah lama hilang dari dirinya kini kembali lagi, ia melihat dari kaca, mobil Immanuel sudah pergi meninggalkan butiknya, ia pun masuk ke dalam ruangannya.
Hari semakin sore, Arumi pun menyenderkan sejenak tubuhnya di kursi kerja miliknya, ia melihat keluar jendela yang menampakkan langit sore itu begitu indah, ruangannya yang terletak di lantai 2 butik itu semakin membuat dirinya nyaman bisa menikmati indahnya pemandangan itu, ia melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 17:30.
“Arumi” panggil Danu saat masuk ke ruangan Arumi.
“Ehh kak Danu, aku fikir ga jadi jemput aku” ucap Arumi.
“Masa iya kakak tega biarin kamu pulang sendiri” ucap Danu.
“Bentar yah, aku beresin ini dulu” ucap Arumi.
“Cantik banget langitnya diliat dari sini” ucap Danu.
“Iya dong, pilihan adikmu ini ga pernah mengecewakan” ucap Arumi.
“Hmm iyadehhhhhh” ucap Danu tersenyum, ia melihat Arumi sibuk membereskan semua barang-barang hasil pekerjaannya dan merapikan meja kerjanya.