“Kakak udah telfon ke rumah kalo kita pulang malem?” tanya Arumi kepada Danu saat mereka sampai disebuah restaurant.
“Udah, tadi siang Papa ke kantor, kakak udah bilang kok” ucap Danu, mereka pun berjalan masuk ke dalam restaurant itu, Danu merangkul bahu Arumi saat ia melihat beberapa pria yang menatap Arumi begitu intens, Arumi pun bingung dengan perlakuan Danu tersebut.
“Ka, kenapa?” tanya Arumi.
“Arah jam 11” ucap Danu, Arumi langsung melihat kearah yang dimaksud oleh Danu, seorang pria yang begitu lekat memperhatikannya, Arumi pun merasa risih saat tau pria tersebut menatapnya seperti itu.
“Geli aku lihatnya” ucap Arumi, Danu tertawa pelan.
“Siapa suruh kamu lihat” ucap Danu.
“Yah lagian kakak tiba-tiba aja ngerangkul aku, aku kan kaget” ucap Arumi.
“Haha, yaudah duduklah” ucap Danu, Arumi pun duduk dimeja yang telah dipilih oleh Danu di lantai 2 restaurant tersebut, Arumi pun bisa melihat pemandangan keluar yang begitu nyaman dilihatnya.
“Kamu mau pesen apa?” tanya Danu.
“Ehmm samain aja deh kaya kakak, aku lagi ga tau pengen makan apa” ucap Arumi tersenyum, Danu pun memesan steak kesukaan Arumi dan dessert serta minuman yang juga disukai oleh Arumi, ia selalu tahu apa yang disukai oleh adik-adiknya.
Arumi tiba-tiba memikirkan Immanuel, sejak siang tadi pria itu tak menghubunginya bahkan sekedar mengirim pesan, ia pun lantas melihat kearah Danu, ia harus memberitahu Danu perihal kedekatannya dengan Immanuel.
“Sebenernya ada yang ingin kakak bilang ke kamu” ucap Danu, ia pun sudah memikirkan tentang masalah yang menimpa dirinya.
“Kakak mau bilang apa?” tanya Arumi sedikit takut, ia takut kalau ternyata Danu sudah mengetahui kedekatannya dengan Immanuel.
“Selamat malam om” ucap Danu ketika melihat seorang pria paruh baya itu datang.
“Malam Danu, maaf saya terlambat, macet sekali jalanan hari ini” ucap Mahendra ayah Sasya.
“Tak apa, saya juga baru saja sampai” ucap Danu.
“Ehmm baiklah, sepertinya ada hal serius yang ingin kamu bahas dengan saya” ucap Mahendra.
“Sepertinya Om sudah pandai menebak saya” ucap Dau tersenyum, Mahendra hanya tertawa.
“Karena saat ini kita sudah lumayan dekat, ini juga berkat Sasya yang mau menerima perjodohan itu, saya bersyukur karena berkat kamu juga dia mempunyai niat untuk pulang kesini” ucap Mahendra.
“Lalu, untuk tanggal pernikahan kami bagaimana Om?” tanya Danu.
“Loh kok nanya lagi, bukankah sudah jelas pernikahannya akhir bulan ini, saya juga belum nelfon Sasya untuk memastikan kembali kapan dia sampai disini” ucap Mahendra, Danu sedikit kaget, ternyata Mahendra tidak tahu apapun soal Sasya disana.
“Hmmm” Danu menghela nafas kasar, ia benar-benar tak lagi bisa menahan apa yang begitu mengganjal dihatinya.
“Saya minta maaf sebelumnya kepada Om Mahendra, tapi tadi pagi saya nelfon Sasya, dan dia bilang kalau dia tidak bisa pulang bulan ini, dia minta pernikahan kami ditunda untuk beberapa bulan kedepan, dan ini sudah 2 kali penundaan yang dilakukan olehnya, dia juga bilang kalau keputusan yang ia buat itu sudah mendapat izin dari Om” ucap Danu, Mahendra tampak kaget dengan apa yang dikatakan oleh Danu, selama ini ia tidak pernah tahu akan hal itu.
“Benarkah Sasya bilang seperti itu ke kamu? Saya benar-benar tidak tahu apapun soal itu” ucap Mahendra, ia langsung mengambil HP nya dan menelfon Sasya untuk memastikan apa yang dikatakan oleh Danu benar adanya, Danu hanya menunduk, rasa amarah dihatinya benar-benar tak lagi bisa ia diamkan.
“Halo Sya” ucap Mahendra, ia pun menghidupkan speaker HP nya.
“Papa, ada apa?” tanya Sasya dengan nada suara seperti baru bangun tidur.
“Kapan kamu akan pulang ke Indonesia? Pernikahan kamu bulan ini, Papa sudah mengurus semuanya” ucap Mahendra, Danu hanya mendengarkan semua percakapan mereka.
“Beberapa hari yang lalu Danu nelfon aku dan bilang kalau pernikahan kami harus diundur untuk beberapa bulan, Danu bilang dia akan izin ke Papa, aku juga mikir dia udah ngomong ke Papa ternyata belum ya?” ucap Sasya, Danu pun kaget dengan apa yang diucapkan oleh Sasya yang tak sesuai dengan kenyataannya, Danu melihat HP nya muncul notif email, ia pun membukanya dan kaget saat melihat email dari orang suruhannya yang berada didekat Sasya, ia melihat foto Sasya hari ini bersama seorang pria di kamar apartment tanpa busana sedikit pun, hatinya semakin memanas melihat semua hal itu.
“Benarkah Danu melakukan hal itu?” ucap Mahendra, ia pun sudah mengira bahwa anaknya berulah kembali, karena selama ini ia sudah lelah menghadapi semua sikap putrinya itu.
“Iya Pa, makanya Sasya masih disini, ga mungkin Sasya bohong ke Papa” ucap Sasya merengek, Danu menggebrak meja makan karena sudah tak tahan dengan amarahnya, Mahendra kaget, Danu memutar kembali percakapannya dengan Sasya tadi pagi disamping HP Mahendra yang masih menampilkan panggilan dengan Sasya.
Mahendra begitu kaget mendengar semua percakapan dari rekaman itu, Sasya pun langsung mematikan telfonnya begitu mendengarkan rekaman itu, Mahendra menatap Danu, ia benar-benar tak menyangka bahwa anaknya yang ia fikir telah berubah malah semakin menyakiti hatinya dengan kebohongannya.
“Saya benar-benar ga ngerti dengan semua yang dilakukan oleh Sasya, selama ini saya diam, saya hanya berharap dia ingin berubah seperti permintaan Om kepada saya, saya fikir selama ini saya mencintai seorang wanita yang tepat untuk saya, tapi saya salah, maafkan saya Om, saya harus membatalkan pernikahan ini, saya ga bisa melakukannya, ini bukti semua kecurangan Sasya kepada saya selama ini, dia telah salah bermain-main dengan saya, saya menghargai keluarga Om tapi maaf saya tak lagi bisa menahan rasa kecewa saya terhadap anak Om” ucap Danu sembari menyerahkan amplop coklat yang berisikan semua foto-foto Sasya dengan pria lain.
“Saya permisi” ucap Danu, ia pun pergi meninggalkan ruangan itu dengan semua rasa kecewanya, ia benar-benar marah dengan apa yang telah dilakukan oleh Sasya kepadanya, meskipun seperti itu ia tidak akan membalasnya, ia hanya ingin membatalkan pernikahan itu, hatinya benar-benar telah tertutup untuk wanita itu.
Mahendra membuka amplop coklat yang diberikan oleh Danu, hatinya begitu teriris melihat semua foto-foto Sasya tersebut, ia tak menyangka anaknya yang selama ini begitu ia sayang melakukan hal tak senonoh seperti itu, ia pun paham mengapa Danu begitu marah.
“Kakak membatalkan pernikahan kakak dengan Sasya” ucap Danu, Arumi kaget.
“Sumpah? Taa..tapi kenapa? Aku fikir selama ini semuanya baik-baik aja” ucap Arumi, Danu menghela nafas sejenak, ia mulai menceritakan semua masalahnya dengan Sasya dari awal sampai pada akhirnya Sasya mengkhianati dirinya.
Arumi merasakan sesak dihatinya saat mengetahui semua masalah yang menimpa Danu, ia tahu bagaimana rasanya dikhianati, ia pun tau kenapa akhir-akhir ini Danu selalu murung dan sering pergi sendirian, ternyata ia menyimpan masalahnya sendiri.
“Kenapa kakak baru ngomong sekarang? Papa tau soal ini?” tanya Arumi.
“Kakak cerita karena kakak ingin menyelesaikan semuanya dulu, dan kakak belum bilang ke Papa, dia pasti akan mengerti kenapa kakak lakuin hal ini” ucap Danu, Arumi merasa kasihan dengan apa yang dialami oleh Danu, ternyata dirinya tak jauh beda dengan Danu.
“Kamu tidak perlu merasa kasihan dengan kakak, kakak sudah tidak apa-apa kok, lagian kakak ga pernah cinta sama Sasya, kakak memang pernah membuka hati untuknya namun itu tidak membekas untuk kakak, hanya saja kakak kecewa dengannya, terlebih karena dia berbohong kepada ayahnya sendiri soal apa yang telah ia lakukan” ucap Danu tersenyum.
“Yahh aku tau, kakak belum pernah bucin sama cewek” ucap Arumi, ia pun menikmati makanannya.
“Haha, dasar kamu” ucap Danu mengusap lembut kepala Arumi, ia bersyukur mempunyai adik seperti Arumi, mereka pun menikmati makanannya sembari saling mengobrol.
“Ehmm enak dessertnya” ucap Arumi menikmati makanan terakhirnya, Danu tersenyum.
“Boleh kakak tanya sesuatu?” tanya Danu.
“Boleh” ucap Arumi.
“Kamu lagi deket sama seseorang kan?” ucap Danu membuat Arumi kaget.
“Kakak tau darimana?” tanya Arumi.
“Memangnya kamu bisa negbohongi kakak?” ucap Danu, Arumi menghela nafas.
“Sebenernya tadi aku juga mau cerita, tapi denger cerita kakak aku sedih, bukannya ga mau cerita, maaf” ucap Arumi cemberut, Danu tertawa pelan.
“Kakak tuh tau adik-adik kakak seperti apa, dari awal sih kakak udah nebak, terlebih kakak sempet denger kamu di kamar waktu itu telfonan ketawa sampe kenceng banget, apalagi kalo bukan karena lagi deket, iyakan?” ucap Danu, Arumi pun mengingat kembali percakapannya waktu itu dengan Immanuel saat malam, ia memang menyadari tertawa sangat kencang karena membahas hal lucu dengan pria itu.
“Ohh itu, hehe” ucap Arumi salah tingkah.
“Siapa dia?” tanya Danu, Arumi pun kini menceritakan kepada Danu tentang perkenalan singkatnya dengan Immanuel hingga mereka semakin dekat seperti saat ini, meskipun Arumi belum membuka pintu hatinya untuk pria itu, namun semakin hari ia semakin mengenal pria yang kini sedikit ia kagumi itu.
“Kayanya kakak pernah dengar nama itu, sepertinya cukup terkenal di perusahaan-perusahaan saham, yah kakak tau orangnya” ucap Danu meyakini ingatannya.
“Serius?” ucap Arumi.
“Sepertinya, sebentar kakak cari dulu, kalo engga salah Helena juga bekerja di perusahaan itu, kakak pernah ketemu Helena waktu itu saat meeting di luar dia juga hadir disana” ucap Danu.
“Nah ini ketemu social medianya, ini bukan orangnya?” ucap Danu memperlihatkan halaman social media sebuah perusahaan dan di sebagian foto itu terdapat beberapa foto Immanuel bersama kolega kerjanya.
“Naaahhh iya, kakak bener-bener ya” ucap Arumi kaget, Danu pun tertawa.
“Sepertinya kamu baru menyadari kelebihan kakakmu ini” ucap Danu.
“Hmm dasar” ucap Arumi.
“Kakak ga banyak tau tentang dia, kakak hanya tau tentang kinerja perusahaannya” ucap Danu, Arumi mengangguk mengerti.
“Jadi udah sejauh mana hubungan kalian?” tanya Danu.
“Masih saling mengenal satu sama lain kok, belum sampe ngomongin soal perasaan masing-masing, Arumi juga ga semudah itu membuka hati Arumi kembali, Arumi hanya perlu tahu bahwa seberapa bisa dia menjaga kepercayaan Arumi” ucap Arumi tersenyum.
“Tapi kakak lihat akhir-akhir ini kamu ceria banget, pasti seneng dong kenal dia” ucap Danu.
“Iya aku seneng kenal dia, nyambung aja ngobrol sama dia, tapi untuk urusan perasaan, kami belum ada membahas itu, kakak tenang aja, Arumi akan jaga diri kok, yang penting sekarang kakak udah tau kan?” ucap Arumi, Danu tersenyum, ia merasa senang bisa berbagi cerita dengan keluarganya sendiri sehingga tidak ada yang akan mengkhianati kepercayaannya.
“Kakak percaya sama kamu, jadi, kapan kamu akan mengenalkannya ke rumah?” tanya Danu.
“Ke rumah?” ucap Arumi, ia pun mengingat kembali bahwa Immanuel memang pernah meminta alamat rumahnya.
“Iya kerumah” ucap Danu.
“Boleh?” ucap Arumi.
“Ya boleh lah, kakak juga ingin tau orangnya seeperti apa, kakak khawatir aja kalau sampai kamu pergi dengannya tapi kakak sendiri belum mengenalnya, apalagi Papa, kalau terjadi sesuatu pasti kakak yang akan dianggap tidak becus menjaga adik-adik kakak” ucap Danu, Arumi terharu mendengar hal itu.
“Hmm baiklah, nanti aku akan mengenalkannya” ucap Arumi tersenyum, mereka pun menyelesaikan makan malam itu dan kembali pulang ke rumah, Arumi merasa lega hari itu setelah menceritakan semuanya kepada sang kakak.
Arumi merebahkan tubuhnya setelah selesai membersihkan tubuhnya, ia melihat jam dindingnya menunjukkan pukul 10 malam, ia pun melihat HP nya dan terlihat panggilan tak terjawab dari Immanuel beberapa menit yang lalu, ia pun langsung menelfon kembali pria itu.
“Halo” ucap Immanuel.
“Hai, sorry aku tadi lagi dijalan, ga denger telfon dari kamu” ucap Arumi.
“Ohh itu, ga apa-apa kok, aku fikir kamu sudah tidur” ucap Immanuel.
“Belum, aku baru aja pulang, tadi ngobrol banyak sama kak Danu di resto” ucap Arumi.
“Kayanya seru ngobrol sama kakak kamu” ucap Immanuel.
“Yahh begitulah, aku juga cerita tentang kamu ke dia, dan ternyata dia tau banyak soal perusahaan kamu” ucap Arumi, Immanuel tersenyum.
“Benarkah” ucap Immanuel.
“Iya, dia malah nunjukin ke aku akun social media perusahaan kamu, disana juga ada foto kamu, aku sendiri malah ga pernah tau” ucap Arumi, Immanuel pun tertawa, ia berfikir selama ini setiap kali ada wanita yang ingin mencoba mendekatinya, semuanya selalu mencari dirinya dari media social, namun Arumi berbeda.
“Ternyata kakak kamu cukup hebat dalam hal stalking” ucap Immanuel tertawa.
“Haha, mungkinlah, dia hanya ingin menjaga adik-adiknya dengan baik, tadi dia juga bilang kalo dia pengen ketemu kamu” ucap Arumi.
“Ohh ya, kapan?” tanya Immanuel.
“Kamu mau?” tanya Arumi.
“Aku kan udah pernah tanya alamat rumah kamu” ucap Immanuel.
“Iya sih, baiklah, nanti akan aku kirimkan alamat aku” ucap Arumi.
“Baiklah, besok malam aku akan kerumah kamu” ucap Immanuel, Arumi pun kaget.
“Besokkkk???” ucap Arumi.
“Iyah besok, memangnya kenapa?” tanya Immanuel.
“Engga kenapa-kenapa sih, aku cuma kaget aja” ucap Arumi, ia merasakan jantungnya berdetak begitu kencang.
“Ga apa-apa kan kalau besok aku datang?” tanya immanuel.
“Ohh okey, entar aku bilang ke kak Danu” ucap Arumi.
“Baiklah, kamu istirahat ya” ucap Immanuel.
“Yah baiklah, kamu juga” ucap Arumi.
“Good night” ucap Immanuel.
“Good night too” ucap Arumi tersenyum, Arumi kembali memikirkan perkataan Immanuel, ia benar-benar gugup jika besok Immanuel benar-benar akan datang ke rumahnya.
***
“Seriusan Rummm??” ucap Helena kaget, Arumi hanya menganggukkan kepalanya.
“Jadi entar malem Immanuel dateng ke rumah kamu?” ucap Helena masih tidak percaya.
“Iya Len, harus berapa kali aku bilang ke kamu coba?” ucap Arumi.
“Terus kak Danu? Papa kamu? Gimana?” tanya Helena.
“Mereka udah tau kok, aku udah bilang ke Papa tadi pagi, yah Papa bilang bagus kalau ada yang ingin mengenalku dan datang ke rumah” ucap Arumi.
“Ga nyangka kalian jadi sedekat ini” ucap Helena, Arumi hanya tersenyum.
“Lagian masih sekedar deket aja kok Len, emangnya salah ya? Kamu juga tau kan kak Danu gimana kalo tau aku deket sama cowok, pasti mereka ingin tau setidaknya aku deket sama orang baik” ucap Arumi.
“Iya sih, tapi aku ga nyangka aja Pak Immanuel yang selama ini terkenal dingin banget di perusahaan malah sama kamu tuh kaya enjoy banget gitu” ucap Helena.
“Setiap orang itu kan punya sikapnya masing-masing, mungkin karena tidak ada yang berteman atau dekat sama dia jadinya mikir kalau dia itu ga bisa dideketin, padahal kalau tau dia seperti apa bakalan nyambung aja kalo lagi ngobrol” ucap Arumi.
“Tapi boleh ga aku nginep dirumah kamu malem ini? Aku pengen tau banget dia tuh aslinya kaya gimana, plisssssss” ucap Helena, Arumi tertawa melihat tingkah sahabatnya seperti itu.
“Memangnya selama ini kalo kamu mau nginep disini pernah izin sam aku? Kadang juga tiba-tiba kamu nongol dari kamar Ziva” ucap Arumi, ia sudah tidak heran dengan Helena yang memang sudah dianggap seperti keluarga mereka sendiri.
“Hehehe, kamu bisa aja” ucap Helena.
Tok…tok…tok…
“Ehh elo” ucap pria tersebut saat melihat Immanuel berdiri dihadapannya.
“Huhhh kayanya gue harus ngecek CCTV deh” ucap Nugraha berjalan masuk ke rumahnya, Immanuel mengikuti pria itu masuk.
“Buat apa?” tanya Immanuel.
“Yah buat lihat kapan terakhir kali elo dateng ke rumah gue” ucap Nugraha, Immanuel tertawa lepas, ia pun sudah lupa kapan terakhir kali berkunjung ke rumah sahabatnya itu, ia terlalu sibuk dengan semua pekerjaannya.
“Bisa aja lo” ucap Immanuel.
“Ohh ya, udah makan lo? Gue masak ini, mau coba?” tanya Nugraha, ia pun menyiapkan dua piring untuk mereka berdua, selain hobi dengan otomotif pria bernama Nugraha itu juga menggemari dunia memasak.
“Gue juga lupa kapan terakhir kali makan masakan elu” ucap Immanuel, ia pun duduk di meja makan bersama Nugraha, Nugraha hanya tertawa sinis.
“Apa yang bawa lo kesini?” tanya Nugraha tanpa basa-basi.
“Pengen lihat sahabat gue masih hidup atau engga” ucap Immanuel membuat Nugraha tertawa.
“Basi lo” ucap Nugraha.
“Entar malem ada acara?” tanya Immanuel.
“Paling ngumpul sama anak-anak di bengkel, kenapa?” tanya Nugraha.
“Temenin gue ke rumah seseorang” ucap Immanuel.
“Siapa lagi kali ini?” ucap Nugraha, ia sudah mengerti Immanuel akan mengajaknya kemana.
“Emangnya sudah berapa banyak yang elo tau, hmmm?” ucap Immanuel.
“Ga ada sih” ucap Nugraha tertawa.
“Pakailah pakaian yang rapi, gue ga akan sebutin namanya, nanti lo akan tahu sendiri bahkan elo akan menyukainya, tapi sebelum lo melakukan hal itu, lo harus berhadapan dengan gue terlebih dahulu” ucap Immanuel menyeringai membuat Nugraha kesal meskipun mereka melakukan hal itu sebagai candaan.
“Huuhhh, okey, kita lihat aja entar seberapa cantik cewek itu, gue yakin dan akan pastiin sekarang juga ga akan suksa sama tu cewek, paling modelan kaya yang dulu lagi” ucap Nugraha, Immanuel hanya tertawa pelan, ia akan memegang ucapan Nugraha itu.
Immanuel dan Nugraha pun tiba di alamat rumah yang telah diberikan oleh Arumi, ia melihat rumah modern 3 lantai yang begitu mewah dengan warna nude yang sangat bagus menurutnya, Nugraha pun kaget saat melihat rumah itu begitu mewah.
“Gile bagus banget rumahnya, lebih mewah dari rumah elu, hahaha” ucap Nugraha tertawa, Immanuel menatapnya dengan tajam membuat pria itu terdiam.
“Biasa aja dong, gue kan jujur” ucap Nugraha, Immanuel pun berjalan dan memencet bel rumah tersebut, ia kembali merapikan pakaiannya. Tak lama kemudian pintu itu terbuka, Arumi tersenyum melihat siapa yang dihadapannya kini, Immanuel pun membalas senyuman itu.
“Hai” ucap Immanuel.
“Hai” ucap Arumi tersenyum, Nugraha terdiam melihat wanita dihadapannya itu, ia tak menyangka wanita yang ia sepelekan tadi adalah seorang wanita yang begitu cantik.
“Masuk yuk, yang lain udah nunggu di dalam” ucap Arumi, Immanuel melihat malam itu Arumi begitu cantik dengan dress berwarna baby blue, rambut Arumi yang panjang terurai begitu saja, membuat Immanuel semakin terpesona dengan kecantikan Arumi.
“Ehh tunggu, gimana pakaian gue, udah rapi belum?” tanya Nugraha, Immanuel pun tertawa melihat Nugraha kini termakan dengan ucapannya sendiri.
“Rasain lu” ucap Immanuel meledek Nugraha.
“Yahh sialan lu, lagian lu ga bilang dia secantik itu, gila banget lo bisa nemuin cewek kaya gitu” ucap Nugraha.
“Diem lo atau gue sumpel mulut elo” ucap Immanuel, Nugraha merasa kesal karena ia merasa Immanuel telah membohonginya, ia melihat penampilannya yang apa adanya, ia pun merutuki kesalahannya sendiri.
Arumi membawa Immanuel dan Nugraha ke taman rumahnya, mereka telah menyiapkan makan malam bersama disana, keluarga Arumi pun menyambut baik kedatangan Immanuel dan juga Nugraha, Helena yang melihat itu pun benar-benar tak menyangka dengan sikap Immanuel yang begitu jauh ketika di kantor, ia melihat sisi Immanuel yang begitu lembut dan juga humble.
“Saya sudah dengar dari Danu dan juga Arumi tentang kamu, senang bisa bertemu dengan kamu langsung, yahh padahal dulu saya pernah mencoba untuk bekerja sama dengan perusahaan kamu tapi saya kalah oleh orang lain” ucap Andra tertawa, mereka pun malah asik membahas soal bisnis dan mengobrol dengan begitu santai, sedangkan Arumi mengobrol dengan Helena, tak salah ia mengizinkan Helena malam itu untuk menginap dirumahnya, karena jika tidak, ia hanya akan diam dan melihat para pria yang mengobrol tentang dunia pekerjaan mereka yang tidak Arumi mengerti.
“Oh ya perkenalkan ini sahabat saya, Nugraha” ucap Immanuel mengenalkan Nugraha setelah sekian lama mereka asik mengobrol, Nugraha pun kesal dan berjanji pada dirinya sendiri untuk membalas Immanuel.
Nugraha hanya tersenyum dan ikut mengobrol seadanya dengan Danu, sesekali ia memperhatikan Arumi yang tertawa bersama Helena dan juga Ziva, ia benar-benar terpesona dengan Arumi, tak hanya soal penampilan tapi juga tutur katanya yang begitu anggun.
Malam semakin larut, Immanuel pun pamit untuk undur diri, ia begitu senang karena keluarga Arumi memperlakukannya dengan begitu baik, bahkan begitu nyambung saat mengobrol dengannya.
“Terima kasih untuk makan malamnya yang enak ini, saya berjanji lain kali saya akan gantian mengundang Om Andra dan keluarga ke rumah saya sebagai bentuk rasa terima kasih saya untuk malam ini” ucap Immanuel.
“Jangan sungkan, saya pun berterima kasih kamu berteman baik dengan putri saya” ucap Andra, Immanuel dan Arumi pun tersenyum, Arumi pun izin untuk mengantarkan Immanuel dan juga Nugraha ke halaman depan rumahnya.
“Gue mau ngomong berdua sama Arumi, lu tunggu di mobil” bisik Immanuel saat mereka sampai dihalaman depan, Nugraha pun pergi meninggalkan mereka berdua.
“Awas lo, gue bales” ucap Nugraha.
“Maafin temen aku, dia agak sedikit sakit” ucap Immanuel, Arumi pun tertawa, ia juga sempat mengobrol dengan Nugraha sebentar dan ia merasa pria itu juga begitu asik untuk diajak berteman.
“Ga apa-apa, aku juga seneng tadi ngobrol sama dia, orangnya asik” ucap Arumi.
“Aku yang sedih karena ga ngobrol sama sekali dengan kamu tadi, kakak dan Papa kamu benar-benar menyenangkan saat ngobrol sampai lupa kalau aku ga ngobrol sama kamu” ucap Immanuel.
“Kita sudah sering ngobrol di telfon, sekarang juga ngobrol” ucap Arumi tertawa membuat Immanuel semakin salah tingkah.
“Hmm, terima kasih banyak untuk malam ini, aku janji akan ngundang keluarga kamu nantinya untuk ke rumah aku” ucap Immanuel, Arumi mengangguk mengerti.
“Baiklah, sudah larut juga, kamu hati-hati dijalan ya” ucap Arumi, Immanuel tak hentinya tersenyum kepada Arumi.
“Yahh, kamu juga istirahat, good night” ucap Immanuel.
“Good night too” ucap Arumi tersenyum, Immanuel pun pergi dengan berat hati, ingin rasanya ia berlama disana dan mengobrol dengan Arumi, namun ia juga melihat waktu yang sudah larut.
“Byeeeee” ucap Arumi melambaikan tangannya kepada Immanuel.