Arumi berjalan keluar rumahnya, ia tersenyum saat melihat Immanuel sudah menunggunya dengan mengobrol bersama sang ayah, mereka sudah merencanakan untuk pergi berdua hari ini dan sudah mendapat izin dari Danu dan juga sang ayah.
Immanuel tersenyum saat melihat Arumi keluar dari rumahnya, ia melihat Arumi yang begitu cantik pagi itu, dengan stelan celana jeans navy, inner putih dan outer berwarna nude, rambut yang digerai menjadi favorite untuk Immanuel.
“Yukkk” ucap Arumi mengahampiri Immanuel dan juga sang ayah.
“Om, kami pergi dulu ya” ucap Immanuel, Andra tersenyum melihat mereka berdua.
“Baiklah, hati-hati dijalan yah, jangan terlalu larut pulangnya” ucap Andra.
“Baik Pah, Arumi pergi dulu ya” ucap Arumi mencium pipi Andra, mereka pun pergi setelah pamit dengan mobil Immanuel.
“Ngobrolin apa sama Papa tadi?” tanya Arumi.
“Hemm banyaklah, soal perusahaan” ucap Immanuel, Arumi tertawa.
“Obrolan pria memang selalu seperti itu ya” ucap Arumi.
“Yah memang seperti itu, selalu banyak yang menarik dari sebuah perusahaan” ucap Immanuel, Arumi hanya mengangguk.
“Kak Danu kemana?” tanya Immanuel.
“Tadi pagi pergi, paling ke tempat gym, atau nongkrong bareng temen-temennya” ucap Arumi.
“Pantesan aku ga lihat” ucap Immanuel.
“Yah emang seperti itu kalau lagi libur, pasti nyempetin diri buat ngumpul sama temennya” ucap Arumi.
“Kalo kamu, libur biasanya kemana?” tanya Immanuel.
“Dirumaha aja, istirahat bareng Ziva, terkadang Papa ngajakin main ke mall atau nonton gitu” ucap Arumi.
“Nonton? Papa kamu suka nonton?” tanya Immanuel.
“He’emm, suka banget malah, apalagi kalo ada film baru keluar, dia tuh paling antusias untuk ngajak nonton, dan yang heran tuh Papa ga mau nonton sendiri, harus ada anaknya yang nemenin meskipun hanya satu” ucap Arumi, Immanuel tertawa, ia merasakan begitu bahagianya mempunyai keluarga yang begitu harmonis.
“Papa kamu memang asik banget sih, ngobrol sama aku aja emang nyambung terus, ga pernah sekalipun kehabisan kata-kata” ucap Immanuel.
“Haha, Papa emang begitu, bahkan aku yang kadang bosen kalo Papa ngajakin ngobrol ga selesai-selesai” ucap Arumi tertawa, hati Immanuel tiba-tiba tersentuh melihat tawa Arumi.
“Seneng banget ya punya keluarga seperti itu” ucap Immanuel, Arumi pun terheran.
“Memangnya keluarga kamu gimana?” tanya Arumi, Immanuel hanya tertawa sejenak mengingat betapa berantakannya keluarganya.
“Yang pasti tidak sebahagia keluarga kamu, tidak layak untuk diceritakan” ucap Immanuel tersenyum, Arumi pun menghilangkan tawanya seketika saat mendengar hal itu, ia paham dengan apa yang dikatakan oleh Immanuel.
“Maaf ya, aku ga tau” ucap Arumi.
“Ga apa-apa kok, itu dulu, tapi sekarang aku udah hidup sendiri dan merasa hidupku saat ini begitu tenang” ucap Immanuel.
“Memangnya orangtua kamu kemana?” tanya Arumi.
“Sudah meninggal” ucap Immanuel tersenyum, Arumi merasa bersalah bertanya seperti itu.
“Maaf ya” ucap Arumi.
“Ga apa-apa kok, santai aja” ucap Immanuel.
“Papa kamu juga cerita banyak soal ibu kamu, dan juga kamu” ucap Immanuel.
“Oh ya?” ucap Arumi, ia tidak pernah ingin tahu soal apa yang dibicarakan sang ayah dengan Immanuel.
“Iya begitulah, ternyata kamu hebat, kamu mewujudkan impian ibu kamu meski beliau tidak sempat melihat apa yang telah kamu lakukan” ucap Immanuel kagum, Arumi begitu terharu jika menceritakan tentang ibunya yang begitu ia sayangi.
“Aku cuma pengen ngasih hadiah ke Mamah yang dulu ga sempat Mamah wujudkan, ia lebih milih mengubur semua keinginannya itu demi anak-anaknya” ucap Arumi.
“Jangan sedih dong, sorry ya kalo itu buat kamu sedih” ucap Immanuel menggenggam tangan Arumi lembut, Arumi menatap Immanuel tersenyum.
“Ga apa-apa kok, aku emang lemah banget kalo udah cerita tentang Mamah” ucap Arumi menghapus air matanya yang sempat menetes.
“Maaf ya, aku jadi mellow” ucap Arumi tertawa.
“Aku tetep kagum sama kamu” ucap Immanuel tersenyum.
“So, temen yang kamu bawa malem itu, temen kamu sejak kapan?” tanya Arumi, Immanuel mengingat Nugraha.
“Lo bisa kenal cewek seperfect gitu dari mana sih? Heran gue, sekalinya move on dapetin yang kaya bidadari lagi” ucap Nugraha ketika mereka dalam perjalan pulang dari rumah Arumi.
“Kenapa? Sekarang lo sadar kan kenapa gue suruh pake pakaian yang sopan, liat lo sekarang, malah kaya amang bakso lagi” ucap Immanuel memperhatikan pakaian Nugraha.
“Yee namanya anak bengkel, ya begini lah” ucap Nugraha yang tidak merasa ada yang salah dengan pakaiannya.
“Awas aja kalo alu sampe suka sama Arumi” ucap Immanuel.
“Udah” ucap Nugraha membuat Immanuel kesal, ia pun memukul lengan Nugraha.
“Hahahaha” tawa Nugraha.
“Ga tau kenapa dia membuat hidup gue lebih berwarna lagi, dia segalanya buat gue saat ini” ucap Immanuel, Nugraha tersenyum, ia memang udah lama sekali tidak melihat Immanuel seceria saat ini.
“Okey, gue ga bakal ambil Arumi dari elu, karena gue juga udah pastiin dia ga bakalan mau sama gue, tapi inget pesan gue, jangan sesekali elo nyakitin dia atau gue beneran akan ambil dia dari elo, lo lihat dia tadi, hidupnya begitu sempurna, punya keluarga yang begitu humble, kakak yang begitu peduli sama adek-adeknya, kalo sampe elo berani nyakitin dia, beneran keterlaluan elo” ucap Nugraha mengancam Immanuel.
“Kok jadi elu yang ngancem gue, ya ga akan lah gue nyakitin dia, gila aja gue” ucap Immanuel.
“Gue pegang ucapan elo” ucap Nugraha.
“Ohh itu Nugraha, dia sahabat aku dari SMP” ucap Immanuel.
“Hmm gitu, aku fikir Reyhan yang akan kamu bawa saat kamu bilang ke aku kalo kamu bakalan bawa temen” ucap Arumi.
“Reyhan hanya orang kepercayaan aku untuk perusahaan” ucap Immanuel, Arumi mengangguk mengerti.
“Kenapa tiba-tiba ngomongin Nugraha?” tanya Immanuel.
“Ohh iya, waktu malem itu aku sempet ngobrol sebentar sama dia, dia juga nyuruh aku panggil Nuga aja, asik juga sih ngobrol sama dia, dan gayanya yang kaya pria-pria tengil gitu, aku suka aja lihatnya” ucap Arumi tertawa, Immanuel seketika terdiam, padahal malam itu dia mengejek penampilan Nugraha yang seperti amang bakso.
“Jadi maksud kamu penampilannya bagus gitu?” tanya Immanuel penasaran.
“Haha, aku ga bilang bagus, aku cuma suka aja terkadang lihat penampilan seperti itu, aku kan suka fashion jadi ngerti lah kalo penampilan seperti itu juga bagian dari fashion, aku denger juga dia suka sama otomotif jadi sesuai lah dengan gayanya” ucap Arumi, Immanuel hanya mengangguk heran, ia sadar bahwa dunia fashion saat ini memang selalu ada yang sedikit aneh dimatanya yang selalu berpenampilan rapi.
“Hmm begitu ternyata, aku ga terlalu tau soal dunia fashion” ucap Immanuel, Arumi tertawa.
“Tapi kamu juga punya fashion yang sesuai dengan gaya kamu, cool, maskulin, elegant, bagus kok, setidaknya kamu tau mana yang bagus untuk membuat kamu nyaman” ucap Arumi tersenyum, Immanuel berbunga ketika Arumi memuji penampilannya yang sesuai dengannya.
“Hahaha, kamu lucu” ucap Arumi tertawa, Immanuel semakin terpesona dengan wanita disampingnya itu.
Immanuel menepikan mobilnya di area parkiran pantai yang mereka tuju, Arumi menikmati pemandangan yang begitu bagus saat itu, pantai yang tidak terlalu ramai membuat suasana saat itu begitu nyaman.
“Kita sudah sampai” ucap Immanuel membukakan pintu mobil untuk Arumi, Arumi turun dan langsung berlari menuju pantai itu, tak lupa ia melepaskan sepatunya, Immanuel mengikuti Arumi dari belakang dengan senyuman yang tak pernah pudar dari wajahnya.
Mereka menikmati sejenak bermain di pantai itu sampai pada akhirnya mencari tempat untuk duduk dan bersantai merasakan suasana saat itu.
“Boleh aku tanya sesuatu?” tanya Immanuel.
“Boleh, soal apa?” tanya Arumi.
“Mungkin, aku sudah banyak tau tentang kamu, teman kamu, pekerjaan kamu, hobby kamu, kesukaan kamu, tapi aku ga tau tentang kisah cinta kamu” ucap Immanuel, Arumi sejenak terdiam, ia memang belum pernah membahas soal itu dengan Immanuel, sama seperti dirinya yang tidak pernah tau tentang kisah cinta Immanuel dulu seperti apa.
“Maaf kalau aku lancang untuk mengetahui semua tentang kamu, kalau kamu keberatan juga tak apa” ucap Immanuel.
“Dulu saat SMA, aku beberapa kali pindah sekolah karena pekerjaan Papa yang memang mengharuskan untuk berpindah, dan terakhir kali aku pindah saat kelas 3 SMA, aku ketemu seseorang yang mampu membuat duniaku yang sebelumnya hanya tentang fashion dan Mamah menjadi lebih indah, namanya Rizky” ucap Arumi tersenyum, Immanuel merasakan sedikit rasa cemburu saat Arumi menyebutkan nama pria lain selain dirinya.
“Kami pacaran sejak beberapa bulan sebelum kelulusan, sampai kami kuliah di univ yang sama dengan jurusan kami masing-masing, dan semuanya berjalan indah selama 6 tahun sampai aku memutuskan untk memgambil sebuah kursus dari Singapura selama 6 bulan, aku ingin lebih mengembangkan fashionku saat itu, dan aku pun pergi selama 6 bulan, kami LDR”
“Awalnya begitu berat untuk berpisah dengannya meski hanya 6 bulan, tapi aku terus meyakinkan diriku bahwa kami bisa melewati semuanya selama 6 tahun masa iya kalah dengan 6 bulan, tapi ternyata 6 bulan itu mengancurkan segalanya” ucap Arumi tertawa sejenak mengingat masa itu.
“Aku engga pernah tau siapa yang salah diantara kami selama 6 bulan LDR, aku terus menerima fotonya yang selalu bersama wanita lain, tapi aku abaikan begitu saja selagi aku belum melihatnya langsung, aku tak peduli dengan anggapan orang-orang. Aku pulang saat hari anniversary kami yang ke 6 tahun dan aku melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri” Arumi menghela nafas sejenak.
“Tidak usah kamu lanjutkan kalau kamu tidak kuat” ucap Immanuel, Arumi tersenyum.
“Hal yang tidak pernah ku sangka akan ia lakukan padaku” Arumi melihat luka ditangannya yang masih membekas karena luka yang dilakukan oleh Rizky dahulu, Immanuel pun ikut melihat tangan Arumi yang terdapat bekas luka yang sepertinya tidak akan bisa hilang.
“Sejak saat itu, aku berpisah dengannya dan sejak saat itu pula kak Danu selalu posesive denganku, dia selalu menjagaku dengan begitu baik, siapapun yang dekat denganku dia harus tahu, bahkan wanita sekalipun, Papa menyuruhnya bertanggung jawab penuh atas adik-adiknya” ucap Arumi tersenyum.
“Yahh begitulah, makanya sampai sekarang aku masih trauma dengan sebuah percintaan, tapi bukan berarti aku tidak ingin berteman dengan seorang pria, hanya saja tidak mudah bagiku untuk percaya lagi kepada seorang pria” ucap Arumi, Immanuel pun mengerti bahwa rasa trauma Arumi begitu mendalam.
“Maaf ya, aku jadi curhat soal itu” ucap Arumi tersenyum.
“Aku mengerti, jadi sudah berapa lama kamu sendiri?” tanya Immanuel.
“Eehmmm kurang lebih 4 tahun” ucap Arumi tersenyum.
“Jadi selama 4 tahun itu kamu tidak pernah dekat dengan siapapun?” tanya Immanuel.
“Pernah beberapa kali aku coba mengenal pria, bahkan ada yang dijodohkan, tapi emang aku belum bisa, pada akhirnya mereka mundur dengan sendirinya, karena dari awal pun aku tidak pernah memberi harapan apapun” ucap Arumi.
“Lalu, bagaimana denganku?” tanya Immanuel, Arumi sejenak terdiam, ia memang tidak pernah selama 4 tahun dekat dengan seorang pria lebih dari 2 bulan.
“Entahlah, mungkin untuk saat ini aku senang berteman dengan kamu” ucap Arumi.
“Untuk kedepannya?” tanya Immanuel.
“Tidak ada yang tau takdir akan seperti apa, aku hanya menjalani apa yang saat ini memang harus aku jalani, aku sudah pernah merasakan bagaimana bahagianya bersama orang yang aku cintai, aku juga sudah pernah merasakan bagaimana rasanya sendiri, jadi apapun yang akan terjadi, aku hanya harus menikmatinya” ucap Arumi.
“Aku ingin serius dengan kamu” ucap Immanuel, Arumi lagi-lagi terdiam, ia tidak tahu apakah ia harus percaya dengan perkataan Immanuel.
“Bagaimana dengan masalalu kamu?” tanya Arumi, ia belum ingin memastikan hatinya saat ini.
“Aku pernah tunangan, 2 tahun yang lalu, karena perjodohan” ucap Immanuel tersenyum, seketika hati Arumi sedikit sesak mendengarkan hal itu.
“Awalnya aku menerima semuanya, selama 1 tahun berjalan begitu lancar, aku sudah komitment dengannya, aku adalah orang yang begitu suka dengan sebuah tanggung jawab, kepercayaan, janji, tapi dia kecewakan semua itu begitu saja” ucap Immanuel.
“Contohnya?” tanya Arumi.
“Dia selalu melakukan semuanya keinginannya semau dirinya, dan rasa tanggungjawab yang sebelumnya kami sudah sepakati ia kecewakan begitu saja, aku ga bisa bilang untuk masalah itu, mungkin aku yang salah atau dia yang salah, intinya aku merasa kecewa dan aku memilih menghentikan semuanya 6 bulan lalu” ucap Immanuel, Arumi merasa tidak puas dengan jawaban Immanuel, namun ia harus menghargai privasinya karena ia tahu setiap orang punya batas privasinya masing-masing, lagi pula ia belum merasakan perasaan apapun kepada Immanuel.
“Hmm baiklah” ucap Arumi, ia pun berdiri dan berjalan menuju bibir pantai, ia menikmati setiap sentuhan ombak kecil di kakinya yang membuatnya tenang, Immanuel tersenyum melihat Arumi, ia sadar bahwa jawabannya tidak membuat Arumi paham semuanya, namun ia selalu ingin masalah pribadinya hanya dia yang tau dan sampai pada waktunya ia memberitahukan semuanya pada Arumi.
Mereka pun memutuskan untuk pulang setelah senja dan menikmati liburan hari itu, Arumi merasa tenang namun fikirannya masih ingin tahu tentang semua masalalu Immanuel yang menurutnya begitu banyak yang disembunyikan, tapi lagi-lagi ia ingin membuang semua hal itu karena menurutnya hubungannya dengan Immanuel hanyalah sebatas pertemanan biasa meskipun Immanuel sempat mengatakan ingin serius dengannya, tapi Arumu tidak terlalu menanggapi hal itu karena ia sendiri masih bingung dengan perasaannya.
"Kita makan dulu ya" ucap Immanuel.
"Berapa menit kita sampai rumah aku?" tanya Arumi.
"Sekitar 30 menit, kenapa?" tanya Immanuel.
Arumi melihat jam tangannya menunjukkan pukul 18:30, ia pun melihat pesan masuk Danu yang menanyakan keberadaannya saat ini.
"Kita makan dirumah aku aja ya, barusan kak Danu chat aku nanyain udah dimana, dia tunggu kita dirumah untuk makan bareng" ucap Arumi, Immanuel pun mengangguk.
"Okey" ucap Immanuel mengerti, meskipun ia belum mendapat jawaban dari Arumi tentang ajakannya untuk serius, namun ia senang bisa terus dekat dengan Arumi bahkan keluarganya.
"Kamu bahagia punya kakak seperti kak Danu?" tanya Immanuel.
"Bahagia bangetlah, meskipun dia selalu memantau aku dimana pun aku berada tapi aku sadar dia lakuin hal itu karena sayang sama aku, karena sejak Mamah ga ada, Papa berpesan pada kak Danu untuk menjaga aku dan Ziva dengan baik, karena saat itu Papa masih kerja keluar kota dan sering ninggalin kami.
Immanuel mengerti saat ini meskipun tadinya ia sempat sedikit risih dengan Danu yang begitu overprotektif kepada Arumi, tapi saat ini ia paham bahwa Arumi memang layak untuk dijaga dengab baik.
"Bagaimana jika Danu menikah?" tanya Immanuel, Arumi menghela nafas sejenak.
"Dia pernah bilang akan tetap seperti ini, lagi pula dia juga bilang dia ingin menikah jika adik-adiknya sudah menikah terlebih dahulu, dia sudah gagal menikah, jadi hal seperti itu sudah tak dihiraukannya lagi, meskipun aku sedih dengan pemikirannya seperti itu" ucap Arumi.
"Gagal menikah?" ucap Immanuel.
"Yah, seharusnya bulan ini dia menikah, tapi semuanya batal, dia dikhianati oleh tunangannya" ucap Arumi tersenyum meski rasanya ia begitu sedih, Immanuel hanya menghela nafas, kini satu persatu tentang keluarga Arumi ia tahu, ternyata selain mereka keluarga yang harmonis, mereka selalu punya masalah pribadi yang begitu menyedihkan.