“Mbak cappucinonya satu yah” ucap Arumi kepada kasir yang ada disebuah cafe tersebut sembari menunggu minumannya selesai ia pun membuka HP nya.
“Baik Mbak, ditunggu sebentar ya” ucap kasir wanita tersebut, Arumi melihat sebuah pesan masuk dari Immanuel dan panggilan tak terjawab dari Immanuel, ia pun sadar sejak pagi tadi tidak ada membuka HP nya karena pekerjaanya begitu banyak.
“Ini pesanannya Mbak” ucap kasir tersebut menyerahkan minuman yang dipesan Arumi.
“Okey, ini uangnya” ucap Arumi memberi uang pecahan seratus ribu kepada kasir tersebut.
“Arumiii” Arumi menoleh kesamping dan melihat seorang pria tersenyum padanya.
“Heii Nuga” ucap Arumi, Arumi menerima kembalian uang dari kasir tersebut, mereka pun duduk di café tersebut untuk mengobrol sejenak, meskipun tadinya Arumi ingin kembali ke butiknya.
“Ga nyangka ketemu kamu disini, kamu sendiri?” tanya Nugraha setelah ia mengambil pesanannya.
“Ia aku sendiri, cuma beli ini aja sih, buat ngatasin ngantuk” ucap Arumi tertawa, Nugraha terpesona dengan tawa Arumi tersebut.
“Hmm gitu, hati-hati loh, jangan keseringan minum kopi, entar asam lambung kamu naik” ucap Nugraha.
“Ohh ya? Aku baru tahu minum ini bisa seperti itu” ucap Arumi.
“Yah kalau berlebihan, kalau sekedarnya saja tidak apa” ucap Nugraha, Arumi mengangguk mengerti.
“Ohh ya, kamu sedang apa disekitar sini?” tanya Arumi.
“Sama kaya kamu, beli ini” ucap Nugraha menunjuk minumannya.
“Bengkel aku disekitar sini, disebrang jalan sana” ucap Nugraha menunjukkan sebuah bengkel mobil yang lumayan besar, Arumi mengangguk paham, ia baru tahu kalau bengkel itu milik Nugraha padahal ia sering kesana bersama Danu.
“Ohh itu bengkel kamu, aku baru tahu, aku sering loh kesana sama kak Danu, tapi ga pernah liat kamu” ucap Arumi.
“Aku bekerja dilantai dua, dilantai satu hanya karyawanku saja yang bekerja” ucap Nugraha.
“Ohh itu bengkel milik kamu?” ucap Arumi, Nugraha mengangguk.
“Hemm pantesan aja, kalo gitu kita deketan dong selama ini, butik aku disamping café ini” ucap Arumi, Nugraha pun juga kaget mendengar hal itu, ia tidak tahu bahwa butik yang selama ini begitu ramai dengan pengunjung itu adalah milik Arumi.
“Aku juga baru tahu ternyata kita sedekat itu selama ini” ucap Nugraha tertawa, Arumi pun juga ikut tertawa menyadari bahwa mereka sangat dekat.
“Boleh dong kapan-kapan kita makan siang bareng, atau aku berkunjung ke butik kamu” ucap Nugraha.
“Boleh dong, lagian aku sama Helena juga sering makan siang bareng di dekat sini, jadi lain kali kita bisa gabung” ucap Arumi tersenyum.
“Baiklah, aku masuk dulu ya ke butik, masih banyak kerjaan aku yang belum selesai” ucap Arumi sat mereka berjalan bersama keluar dari café tersebut.
“Okey, semangat yah, aku pergi dulu kalau gitu” ucap Nugraha.
“Byee” ucap Arumi.
“Byee” ucap Nugraha memperhatikan Arumi berjalan masuk ke butiknya, ia pun memperhatikan butik itu yang ia tahu cukup terkenal, ia juga menyadari bahwa butik itu cukup mewah dan berkelas.
“Haloo” ucap Arumi mengangkat telfon dari Immanuel.
“Hai Rum, kamu dari mana saja? Pesan aku juga ga kamu bales, lagi sibuk banget ya” ucap Immanuel.
“Iya nih, aku ga ada pegang HP, tadi aku keluar beli coffe terus lihat pesan kamu, pas aku mau bales, aku ketemu sama Nuga, terus ngobrol sebentar, akunya lupa kabarin kamu, sorry ya” ucap Arumi.
“Ketemu Nugraha?” tanya Immanuel.
“Iya, ternyata bengkel dia deket loh sama butik aku, dia juga baru tahu kalo butik aku disini” ucap Arumi, Immanuel pun baru menyadari dan mengingat kembali letak bengkel milik Nugraha yang memang dekat dengan butik milik Arumi.
“Ohh gitu, aku juga ga sadar” ucap Immanuel, Arumi tertawa pelan.
“Yah ga apa-apa kok, aku seneng juga punya temen, dia juga tadi ngajakin makan siang bareng lain kali” ucap Arumi.
“Ngobrol apa aja tadi?” tanya Immanuel penasaran.
“Ehmm, ga banyak sih, soalnya kerjaan aku hari ini emang lumayan banyak banget, ini juga sambil kerja, hehe” ucap Arumi.
“Hmm sorry yah ganggu kamu, aku cuma kepikiran aja” ucap Immanuel membuat Arumi tersenyum.
“Makasih ya udah mikirin aku” ucap Arumi, Immanuel tertawa.
“Kamu makan siang dimana nanti?” tanya Immanuel.
“Di butik, Helena mau kesini katanya, dia udah bawain bekal dari rumah, btw masakan Mamahnya enak banget loh” ucap Arumi, Immanuel mengangguk mengerti, ia berfikir apakah harus melakukan hal yang waktu itu pernah ia lakuin juga ke Helena.
“Ohh gitu” ucap Immanuel.
“Ohh ya kamu gimana? Makan siang dimana?” tanya Arumi.
“Jangan bilang kamu jarang makan siang ya?” ucap Arumi kembali.
“Engga kok, aku selalu jaga pola makan aku, tenang aja” ucap Immanuel.
“Ehmm bagus dehh” ucap Arumi.
“Yasudah kamu lanjut kerja gih” ucap Immanuel.
“Okay, entar kalo senggang aku telfon kamu” ucap Arumi.
“Oke, Byeee” ucap Immanuel.
“Byee” ucap Arumi, ia pun meletakkan HP nya dimeja kerjanya.
Helena merapikan meja kerjanya saat ia melihat jam sudah menunjukkan waktu istirahat siangnya, namun belum sempat ia merapikan seluruhnya ia dikagetkan dengan Immanuel yang berdiri tepat didepannya dengan menatapnya tajam.
“Astaga, ya ampunnnnn, Pak Imm kenapa sih ga bilang ada disitu” ucap Helana mengusap dadanya karena kaget, Immanuel menghela nafas sejenak memperhatikan sekitarnya.
“Kamu mau pergi?” tanya Immanuel.
“Pliss dehh jangan lagi, saya capek loh bangun pagi nyiapin bekal” ucap Helena, ia tak ingin lagi Immanuel merusak rencana makan siangnya dengan Arumi.
“Ehmm kali ini saya ga akan gagalin makan siang kamu dengan Arumi” ucap Immanuel dengan gaya yang cool seperti biasanya.
“Lalu?” tanya Helena.
“Saya ikut kamu ke butik Arumi, makan bareng, gimana?” ucap Immanuel.
“Tapi pak, kalau Arumi ga nyaman gimana tiba-tiba kita nongol di butiknya, lagian ga enak juga diliat sama orang kantor” ucap Helena.
“Saya akan ajak Nugraha” ucap Immanuel tanpa basa-basi, Helena pun terdiam, Immanuel tau bahwa Helena sedikit tertarik dengan sahabatnya itu sejak pertemuan mereka dirumah Arumi waktu itu.
“Okey” ucap Helena tanpa alasan apapun, Immanuel tertawa sinis, ia berhasil menakhlukkan apa yang ia inginkan meskipun sejujurya ia malas membawa Nugraha, tapi hanya itu alasan agar ia bisa bertemu dengan Arumi.
“Tapi inget satu hal, kamu harus bilang ke Arumi kalau kamu yang ngajak aku makan bareng ke butiknya, okey” ucap Immanuel mengancam Helena, Helena pun menuruti apa kata Immanuel hanya karena ia akan mengajak Nugraha.
“Hmmm” ucap Helena.
Mereka pun pergi berdua dengan menggunakan mobil Immanuel, tak lama diperjalanan, Immanuel pun memarkirkan mobilnya disebuah bengkel otomotif yang cukup luas, Helena pun takjub begitu ikut turun dari mobil itu, banyak bergbagai mobil sport menjadi pajangan disana, ia pun melihat Nugraha keluar dari sebuah ruangan menghampiri Immanuel.
“Ngapain lo? Tumben kesini?” ucap Nugraha yang sempat melirik kearah Helena.
“Helena ngajakin makan siang bareng ke butik Arumi, yuk” ucap Immanuel mengajak Nugraha tanpa persetujuan darinya.
“Gue ga bilang iya” ucap Nugraha.
“Udah ayok, bawel banget lo, ga akan lari bengkel lo ini” ucap Immanuel menarik lengan Nugraha, mereka bertiga pun duduk didalam mobil itu menuju butik Arumi yang berada disebrang jalan, Helena merasa senang ketika melihat Nugraha dengan gaya yang begitu ia sukai.
Mereka pun sampai, Helena masuk terlebih dahulu, Immanuel dan Nugraha berjalan dibelakang Helena “Selamat datang silahkan” ucap Tasya.
“Hai Sya” ucap Helena tersenyum.
“Ehh Mbak Helena, mau ke ruangan Bu Arumi ya?” tanya Tasya, Helena mengangguk, Immanuel dan Nugraha melihat isi butik itu dengan wajah yang begitu takjub seperti belum pernah masuk ke tempat seperti itu, Tasya memperhatikan dua orang pria yang kelihatannya begitu memperhatikan isi butik itu.
“Permisi Pak, ada yang bisa saya bantu?” ucap Tasya.
“Ehm Sya, mereka ikut bareng saya” ucap Helena sedikit malu.
“Pak Imm, ayoooo” ucap Helena, Immanuel pun sadar dan tersenyum pada Tasya, ia menarik tangan Nugraha untuk mengikuti Helena, Tasya pun sedikit heran melihat mereka bertiga.
“Maaf ya Sya” ucap Helena tersenyum malu, Tasya pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya setelah mereka pergi.
“Bagus banget ternyata isi butiknya, ga salah penampilannya elegant banget, fashionnya aja begini” ucap Nugraha.
“Calon istri gue, ya iyalah” ucap Immanuel menyombongkan dirinya.
“Hai Rummmm” ucap Helena ketika masuk ke ruangan Arumi.
“Heii Len, haduhh jam berapa ini” ucap Arumi kaget melihat Helena masuk, ia pun melihat jam dindingnya menunjukkan pukul 12 siang, ia kembali melihat Helena namun kali ini ia begitu kaget saat melihat Immanuel dan Nugraha berada dibelakang Helena.
“Kalian, kenapa disini?” tanya Arumi, Immanuel tersenyum.
“Hai, Helena yang maksa aku ikut kesini” ucap Immanuel tersenyum, Arumi menatap Helena yang tersenyum terpaksa sedangkan Nugraha hanya tertawa sinis, ia tahu bahwa ini semua rencana Immanuel.
“Sorry ga bilang, tadi kebetulan ketemu Pak Imm jadinya aku ajak aja” ucap Helena.
“Haha, yasudah tidak apa-apa, mari duduk, maaf ya berantakan” ucap Arumi tersenyum, mereka bertiga pun duduk di sofa yang ada diruangan tersebut, Nugraha sejenak mengagumi ruang kerja Arumi yang bernuansa hijau pastel dengan begitu banyak model pakaian yang terpajang disana dan kain yang sedikit berantakan di sebuah meja panjang.
“Ohh ya, silahkan dimakan, maaf ya ga banyak, soalnya tadi niatnya cuma untuk berdua sama Arumi” ucap Helena.
“Ga apa-apa Len, aku udah bilang ke Tasya untuk memesankan makanan” ucap Arumi, ia mendengar telfon butik berbunyi.
“Ehmm aku angkat sebentar ya” ucap Arumi, ia pun pamit menuju meja kerjanya dan mengangkat beberapa telfon penting, saat itu juga Tasya masuk membawakan beberapa makanan untuk mereka.
“Baik, sama-sama” ucap Arumi menyudahi telfon itu karena merasa tidak enak dengan mereka yang sudah menunggunya untuk makan.
“Makin banyak yah?” tanya Helena, ia biasanya tidak melihat Arumi sesibuk itu bahkan jam makan siang pun masih ada saja yang menelfonnya.
“Yah begitulah, silahkan dimakan” ucap Arumi, mereka pun makan bersama siang itu dengan obrolan seadanya karena masih merasa canggung.
“Hemmm enak ini, masakah kamu ya?” ucap Nugraha saat mencoba makanan yang dibawa Helena, Helena merasa tersipu ketika Nugraha memuji masakannya itu.
“Itu masakan ibunya, enak banget kan?” ucap Arumi, Helena terdiam sejenak, padahal ia ingin mengatakan bahwa itu masakannya meskipun berbohong.
“Oh ya, kayanya kapan-kapan aku harus belajar sama ibu kamu” ucap Nugraha.
“Kenapa?” tanya Arumi dan Helena.
“Iya dong, aku suka banget masak, jadi aku banyak belajar masak dari youtube bahkan pernah les private memasak dan yahh, masakanku semakin meningkat setiap harinya” ucap Nugraha, Arumi pun kagum dengan pria yang pandai memasak.
“Ohh ya, hebat dong, kalo gitu kamu harus kerumah aku, Mamah aku juga paling seneng masak” ucap Helena.
“Bener tuhh, aku juga kalo kangen masakan Mamah perginya ke rumah Helena, aku ikut ya kalo kamu mau kesana, kapan?” ucap Arumi antusias, Immanuel pun merasa dirinya seperti tiada, ia sedikit menyesal telah mempertemukan mereka dengan Nugraha.
“Wahh asik nih, hari minggu gimana?” ucap Nugraha, ia pun melirik kearah Immanuel yang sepertinya sedikit memanas.
“Boleh” ucap Arumi dan Helena begitu antusias.
“Ehmm kalau gitu kita harus sering-sering dong makan siang seperti ini bawa masakan masing-masing, gimana? Seru kayanya” ucap Arumi.
“Setujuuuuuu” ucap Nugraha dan Helena, mereka bertiga pun mengobrol dengan begitu asik saat itu.
“Eheeemmmmm” Immanuel pun seolah membuat dirinya batuk agar mereka berhenti untuk tidak menjutekinya.
“Ini minum, pelan-pelan dong makannya” ucap Arumi memberikan minuman kepada Immanuel, Nugraha tertawa kecil saat itu, ia tahu apa yang membuat Immanuel seperti itu, Immanuel mengambil minuman itu dari tangan Arumi dan ingin mengajaknya mengobrol, namun belum semoat ia mengeluarkan suaranya, Arumi kembali mengobrol dengan Nugraha.
Mereka bertiga pun pamit untuk pergi karena jam makan siang itu akan segera berakhir, Arumi tak menyangka bahwa makan siang hari itu begitu menyenangkan.
“Makasih banyak ya, ga nyangka banget makan siang hari ini begitu menyenangkan, kita harus sering-sering kaya gini” ucap Arumi.
“Pasti dong, kapan-kapan aku akan masakin buat kalian, pasti bakalan ketagihan sama masakan aku” ucap Nugraha.
“Harus dong, oh ya jangan lupa hari minggu yahhh” ucap Arumi, Nugraha mengacungkan jempolnya kepada Arumi. Immanuel pun memberi kode kepada Helena untuk keluar terlebih dahulu bersama Nugraha.
“Aku pamit ya Rum, makasih juga makanan tambahannya, byeee” ucap Helena.
“Okey, byeee” ucap Arumi, Nugraha menatap tajam Immanuel.
“Hmm aku pamit yah” ucap Immanuel tersenyum, Arumi membalas senyuman itu.
“Sorry yah tadi aku asik sendiri ngobrol sama mereka sampe nyuekin kamu” ucap Arumi.
“Ga apa-apa kok, yang penting kamu havef fun” ucap Immanuel.
“Yah tetep aja aku ngerasa bersalah” ucap Arumi.
“Kalo gitu aku boleh minta sesuatu untuk menebus rasa bersalah kamu?” ucap Immanuel memanfaatkan kesempatan itu.
“Boleh, apa itu?” tanya Arumi.
“Aku suka ruangan kerja kamu, gima kalo setelah aku balik ke kantor, aku video call kamu, aku pengen lihat kamu kerja, boleh?” ucap Immanuel, Arumi sejenak berfikir, ia tak menyangka Immanuel meminta hal itu yang menurutnya hanyalah hal yang biasa.
“Ehmm boleh, tapi aku ga bisa banyak ngomong ga apa?” ucap Arumi.
“Ga apa-apa kok, aku Cuma pengen lihat kamu kerja” ucap Immanuel.
“Oke deh, kamu hati-hati dijalan yahh” ucap Arumi tersenyum, Immanuel merasa senang seakan perasaan kesalnya tadi terbayarkan dengan keinginannya, ia pun pergi dengan senyum diwajahnya.
Nugraha begitu memperhatikan percakapan Immanuel dengan Arumi yang sepertinya begitu menyenangkan bahkan senyum diwajah mereka tak pernah pudar ketika mengobrol, Helena pun memperhatikan Nugraha saat menatap Arumi dan Immanuel, ia merasa bahwa Nugraha juga mulai menyukai Arumi.
“Saatnya kita kembali bekerja” ucap Immanuel saat masuk ke dalam mobilnya dengan perasaan senang.
“Ngobrolin apa lo sama Arumi?” tanya Nugraha.
“Rahasia negara” ucap Immanuel, Helena merasa hawa didalam mobil saat itu begitu panas.
“Udah ga kesel lo dicuekin?” ucap Nugraha.
“Ngapain juga harus kesel” ucap Immanuel.
“Ehmm kayanya ga perlu ribut dehhh, disini ada gue” ucap Helena.
“DIAMMM!!!” ucap Immanuel dan Nugraha, Helena terdiam melihat kelakuan mereka berdua yang seperti anak-anak sedang bertengkar. Helena hanya memilih diam dan terus mendengarkan percakapan mereka meskipun diakhirnya mereka tertawa bersama membuat Helena bingung.
“Kami memang seperti itu, kelihatannya seeprti sedang bertengkar, tapi nyatanya semua hanya bercanda, maaf ya” ucap Immanuel setelah ia hanya berdua dengan Helena.
“Ohh gitu ya” ucap Helena bingung, lagi-lagi ia memilih diam daripada harus pusing memikirkan mereka berdua.