“Serius?” tanya Edi, setelah mendnegar apa yang disampaikan Danang padanya. Edi tak habis pikir temannya itu nekat mencari dukun sakti yang pernah mereka ketahui dari seorang teman yang tinggal di lereng gunung nan jauh di sana. “Seribu rius aing mah,” jawab Danang, “aing mau desa kita ini aman, tentram.” “Tapi kan jauh, Nang. Belum tentu sampai di sana kita bisa ketemu itu dukunnya.” Edi sebenarnya malas mengikuti kemauan Danang, tetapi sebagai teman, dia tak mungkin menolak mentah-mentah, apalagi selama ini Edi sudah banyak berutang budi pada asisten Pak RT itu. “Halah, dulu kita sering berpetualang jauh-jauh kamu gak pernah ngeluh, sekarang mau nemuin dukun di lereng gunung aja malas,” kata Danang, “mau gak nih nemenin?” Edi benar-benar bingung, dia ingin menemani Danang pergi tetap

