"Ups, santai." Arga mengangkat kedua tangannya ke udara dengan ekspresi menyebalkan. "Aku bukan ingin mencampuri urusan kalian berdua. Aku hanya mengingatkan Marwa pada sumpahnya dulu." Tatapannya beralih ke arah Marwa, tajam dan dalam. "Kamu dulu selalu bilang bahwa kamu akan kembali ke Jakarta untuk menguak semua tabir ketidakadilan yang menimpa keluargamu. Ingat tidak?" Arga melangkah maju, mendekati Marwa hingga jarak di antara mereka hanya tinggal sejengkal. "Kamu juga bersumpah tidak akan memaafkan siapa pun yang terlibat dalam tragedi itu. Sepanjang aku bersamamu, satu-satunya yang ada di kepalamu hanya dendam. Sampai-sampai hubungan kita pun tak pernah terasa seperti hubungan dua orang kekasih," desis Arga berapi-api. Ia berusaha menyegarkan kembali ingatan Marwa. "Kenapa kam

