Kapal pesiar mewah bernama The Obsidian itu membelah ombak Laut Mediterania dengan kecepatan tinggi, meninggalkan garis pantai Prancis yang kini hanya tinggal kenangan pahit. Di atas dek, angin laut yang dingin menerpa wajah Keisha. Ia berdiri tegak, mengenakan jubah sutra hitam yang berkibar tertiup angin, matanya menatap cakrawala dengan tatapan seorang ratu yang baru saja kehilangan kerajaannya namun siap membangun imperium baru. Di dalam kabin utama yang kedap suara dan dilengkapi dengan teknologi enkripsi tingkat tinggi, Widya duduk terdiam. Di depannya bukan lagi kanvas putih yang bersih, melainkan sebuah tablet grafis yang diberikan Keisha. Widya mencoba menggambar, namun tangannya masih terasa berat oleh sisa getaran saat menarik pelatuk senjata di bunker semalam. "Widya, kemaril

