“Oh, jadi ini lukisan Elizabeth Piererrs. Cantik ya.” Molly melihat lukisan Elizabeth Piererrs dari layar laptopku. Semua data foto-foto dari kamera mirorrless sudah aku pindahkan ke laptop. “Aku baru tahu kalau insting wanita itu tajam. Benar-benar tajam. Buktinya, Vanessa tahu kalau novel itu beneran kisah nyata penulisnya.” Aku melirik ke arah Molly, tidak berselera. Entah kenapa pembicaraan tentang Elizabeth Piererrs terasa hambar. Aku sama sekali tidak antusias untuk membicarakannya. “Wow! Enak ya jalan-jalan ke Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Aku kapan ya bisa ke sana?” Aku juga tidak berselera membicarakan Candi Borobudur ataupun Prambanan. Padahal aku sangat mengaggumi kedua bangunan indah itu. Apa ini karena aku sudah benar-benar terjatuh? Terjatuh sedalam-dalamnya pada Dio

