Aku sempat ragu mengetuk pintu ruangan Ibu Amarta. Aku menatap Dion, tatapanku seperti meminta kekuatan pada Dion. Dia menganggukan kepalanya pelan. Seolah berkata, “Jangan takut.” Dengan segenap kekuatan aku mengetuk pintu dan meraih tangkai pintunya. Menyembullah wajahku dibalik pintu. Aku melihat Ibu Amarta yang sedang duduk menatapku dengan keterkejutan. Dion dan sahabat-sahabatku menunggu di luar ruangan. Ada Sam yang duduk di depan Ibu Amarta dengan kaki menyilang. Aku sempat tercengang melihat Sam ada di ruangan Ibu Amarta. “Mau apa lagi?” tanya Ibu Amarta dingin. Tanpa disuruh aku mendekat ke arahnya. Lalu aku menceritakan semuanya. Tentang awal perjumpaanku dengan Sam. Tentang janji yang kubuat sendiri dalam hati untuk menjaga dan melindungi Sam. Dan kejadian terakhir yang aku

