Wajah Ibu Amarta tampak angker. Aku duduk di depannya. Menunduk tidak berani menatap wajah angkernya. Miss Alya meninggalkan aku dan Ibu Amarta. Sekilas aku menatap Miss Alya. Ia juga menatapku dengan iba. Dia sudah melaksanakan tugasnya, mengantarkanku ke ruangan Ibu Amarta. “Aku dengar kamu baru saja menjenguk nenekmu di Yogyakarta?” Ibu Amarta memulai perbincangan dengan dingin. Aku mengangkat wajah kusutku. “Iya, Bu.” kataku berbohong untuk kesekian kalinya, jawaban atas pertanyaan dari beberapa orang yang berbeda. Tatapan mata Ibu Amarta begitu tajam hingga aku merasa diintimidasi. “Apa itu yang ada di tanganmu?” tanyanya, aku terkejut. Aku masih menggenggam kalungnya. “Ka-lung.” jawabku terbata. Ya Tuhan tamatlah riwayatku sebagai seorang mahasiswi. Aku pasti akan dikeluarkan. A

