BAB 10

1923 Kata

Sesampainya di rumah cucu Elizabeth. Aku memandang setiap inchi bangunan rumah yang terbuat dari kayu. Aku terkesan dengan arsitektur rumah ini. Seperti rumah khas adat Yogya lainnya. Sederhana dan asri dengan banyaknya pohon dan tanaman yang mengelilingi rumah. Bagian atap rumahnya menjulang tinggi seperti bentuk gunung yang sering aku gambar saat masih SD.  Aku berdiri di depan pintu bersama Dion. Suara teriakan di dalam rumah membuat aku tersentak dan menarik tangan yang hampir menyentuh bel pintu. Wajahku panik sekaligus khawatir. “Kamu yakin ini alamatnya?” tanyaku panik. Aku curiga kalau kami salah alamat. Sebelum Dion menjawab pertanyaanku, suara teriakan itu kembali menggema. “Ampuuunn!!” dibarengi dengan suara beberapa barang yang seperti dibanting. Jangan-jangan ada yang lagi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN