Kena Mental

890 Kata
Mendengar penuturan sang putri yang ingin pindah ke Jakarta, membuat Ardan kalang kabut. Di hari kerjanya dia sempatkan untuk pulang ke Bandung. Biasanya saat melihat sang ayah, Alea begitu antusias. Tapi kini melihat wajah sang ayah membuat luka hatinya semakin melebar. Mengingat bayangan ayahnya bersama gadis seusianya itu, membuat dia ingin sekali menyiramkan kotoran ke wajah sang ayah. Alea tak habis pikir! "Sayang," ucap Ardan membuka kedua tangannya untuk mendapatkan pelukan hangat dari sang putri. Memeluk tubuh ayahnya, kini seakan memeluk duri. Sakit, menerima kenyataan bukan hanya dia dan bundanya yang mendapatkan pelukan ini! "Lea ... Lea enggak beneran kan mau pindah ke Jakarta?" "Hmmm," Alea menyunggingkan senyum, mimik wajah yang tak biasanya ia perlihatkan pada sang ayah. "Apa ayah jauh-jauh dari KALIMANTAN hanya untuk memastikan hal ini?" Alea menekankan kata kalimantan, untuk membuat ayahnya sedikit kena mental. "Ah, ya-ya enggak lah sayang." Ardan mengucapkan dengan terbata-bata. "Ayah buru-buru pulang karena mau ucapin selamat ulangtahun sama kamu. Terus ayah mau kasih kado juga," "Enggak perlu ko yah, toh ultah Lea udah lewat. Lea juga enggak mau apa-apa, Lea cuma mau pindah ke Jakarta." "Yaampun sayang, ngapain pindah? kan di sini Lea udah banyak teman. Lagian di jakarta Lea harus adapatasi ulang, kan enggak sampai satu tahun Lea lulus SMA. Nanggung sayang," "Lea udah mikir matang-matang yah, Lea mau pindah. Seharusnya ayah senang atuh, Kita jadi dekat, tak perlu menunggu seminggu sekali, bahkan sebulan sekali untuk bertemu?" "Iya, tapi kan---" "Kenapa yah? ayah enggak suka kalau Lea dan bunda dekat sama ayah?" "enggak sayang bukan gitu. Oke-oke, kita pindah." Alea masuk ke dalam kamar, dia melihat sekeliling tempat ternyaman baginya. Sebentar lagi, dia akan meninggalkan tempat ini. Beka, Lembayung dan Anita. Aleapun terpaksa harus berpisah dengan mereka. "Lele, kenapa harus pindah Le, huaaaa." Tangis Beka pecah, "Tau Le, kenapa dadakan si Le?" disambut tangisan Lembayung. "Lea," ucap Anita, dengan mata yang berkaca-kaca. Keempat sahabat itu saling berpelukan. Dan menangis bersama. "Kamu jangan pernah lupain kita ya Le, kalau ada teman sekelas yang ganteng kamu kasih tau aku dulu ya," ucap Beka sembari sesegukan. "cowo mulu pikiran kamu Bek," protes Lembayung. "Kan jarak Bandung-Jakarta enggak begitu jauh kaya wajahku dan prilly," Alea mencoba terlihat baik-baik saja. Gadis itu tersenyum, walau hatinya amat sakit harus berpisah dengan mereka. Tidak hanya ketiga Sahabatnya itu yang menangisi perpisahan ini. Tapi teman-teman sekelas Alea yang lainnyapun merasa kehilangan. Begitupun dengan para tetangga, yang mengetahui kepindahan Keluarga Ardan secara mendadak. Di perjalanan menuju ke Ibukota. Alea hanya memandangi arah luar dari jendela mobil. Ayah dan ibunya yang duduk di kursi depan, tak mengetahui betapa hancur hati anaknya. Terlebih ini karena ulah Ayahnya sendiri yang tanpa disadari. Alea harus menahan segala perasaan yang berkecambuk dihatinya. Termasuk berpisah dengan mereka yang Alea sayangi. Airmata seakan meronta ingin keluar, tapi melihat wajah sang bunda membuat dia harus kuat menghadapi semua ini. - 3 jam berlalu, akhirnya mereka sampai di kediaman yang Ardan tempati saat di Jakarta. "kalau di Bandung rumahnya kan lebar, Alea harus terbiasa yah sama rumah yang kecil di sini," ucap Ardan, saat turun dari mobil. Alea masuk ke dalam rumah menatap ke sekeliling, beberapa kali dia sudah pernah ke sini ketika libur sekolah datang. Tapi baru sehari saja, Alea tidak betah. Dan kini, dia harus berusaha mengalahkan pergejolakan batinnya. Setelah merapikan barang-barang. Sinta menyiapkan makan, dan Lea seakan tak punya nafsu makan saat melihat wajah ayahnya. "Besok, ayah cariin kamu sekolahan yang dekat-dekat sini yah?" ujar Ardan sembari menyendok nasi dan lauk pauk ke mulutnya. "Ayah enggak perlu repot-repot pilihin sekolah buat Lea, Lea udah punya pilihan sekolah sendiri," jawab Lea, yang memilih duduk menjauh dari sang ayah. "loh, ko Lea belum bilang sama bunda? Lea punya kenalan di Jakarta?" Sintapun bingung, karena putrinya tak mengatakan apapun sebelumnya. "Di mana sayang?" tanya Ardan, yang sedang memegang segelas air. "Di SMK CERDAS BANGSA," "uhukkk, uhukk, uhukkk," Ardan yang tengah minum, seketika tersedak. "Ayah, pelan-pelan," ucap Sinta, sembari mengelus lembut pundak suaminya. Sedangkan Lea, lagi-lagi menyunggingkan senyum. Tentu dia paham bentul, ayahnya sudah pasti kaget. "Jangan di situ lah Lea, ayah enggak setuju?!" Tegas Ardan sembari menampakan wajah piasnya. "memang kenapa yah? ada apa dengan sekolah itu? atau ayah kenal dengan seseorang yang ada di sekolahan itu? kayanya ayah begitu kaget, saat mendengar Lea mengucapkan nama sekolahnya?" "Mmmm-mmm, ya enggak, sekolahan itu kurang bagus. Lagipula jauh dari sini," "jauh? atau jaraknya kaya dari sini ke Bandung yah? enggak kan? lagipula Lea punya teman di situ," "teman? siapa nak? Lea enggak pernah cerita sama bunda dan ayah?" timpal Sinta. "Iya bun, ini teman lama Lea. Dulu musuh Lea, karena dia ngerebut kebahagiaan Lea bun." Refleks Ardan menatap wajah putrinya serius. Sedangkan Alea, menampakan wajah santainya. "Ngerebut kebahagiaan gimana nak? jangan becanda terus sayang." Ucap Sinta mendekat ke arah putrinya. "Maksud Lea, teman Lea itu dulu ngerebut makanan Lea bun." Lea tersenyum ke arah sang bunda. "Kamu itu ...," Sinta mencubit hidung putrinya. "Yaudah yah, enggak papa biar Alea sekolah di tempat yang Lea sebut tadi. Lagipula Kan Lea udah punya teman di situ." Ardan diam, tentu dia takut. Bagaimana kalau putrinya itu bertemu dengan .... "Yah, kenapa? ada yang ayah pikirkan, ko wajah ayah pucat begitu?" Lea kembali melontarkan pertanyaan yang membuat Ardan semakin bingung. Berpura-pura tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi itu sakit yah! Dan aku, akan membuat ayah dan gadis yang ayah kencani merasakan sakit yang aku rasakan!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN