Belati

888 Kata
"Pak ikuti mobil itu," ucap Alea pada supir taxi. Segera supirpun mengkuti mobil pajero hitam milik Ardan. "Pacar neng ya?" tanya supir taxi kepo. "ayah saya pak," jawab Alea tanpa ekspresi. Alea meremas ujung bajunya, sebentar lagi dia akan tau. Apa yang ayahnya sembunyikan. "Ya Allah, kuatkan hati Lea," gumamnya. Mobil ayahnya melaju menyusuri jalanan ibukota yang sedang lenggang. Hingga 30menit berlalu, mobil Ardan berhenti di sebuah Sekolah Menengah Atas yang cukup besar. Taxi yang Alea tumpangipun ikut berhenti, Alea masih mengamati dari dalam. Untuk apa ayahnya pergi ke Sekolahan itu? tanyanya dalam hati. Alea melihat sang ayah turun dari mobilnya, lalu gadis berseragam SMA menyambut Ayahnya dengan penuh senyuman. Gadis yang Alea perkirakan seusia dirinya itupun memeluk ayahnya. Seketika hati Alea hancur, saat sang Ayahpun terlihat mencium kening gadis itu. "siapa dia?" dengan bergetar Alea berucap. Lalu beberapa detik kemudian dia menangkap wajah dengan kedua tangannya. Alea menangis. "Ya Allah, bangunkan Lea dari mimpi buruk ini!" serunya. Supir taxi yang melihatnya pun bingung, "Ya ampun neng ko nangis, itu ayah neng pacaran sama anak SMA yah?" supir taxi keceplosan, dia membekap mulutnya sendiri. "idih amit-amit, emang bapak-bapak sekarang, ko tega, padahal seumuran itu sama anaknya," gerutu supir taxi pelan. Sedangkan Alea tak menjawab apapun, dia masih tak percaya apa yang ia lihat. Dia berharap semuanya hanya mimpi. Tapi Alea tak bisa memungkiri ini semua memang nyata. Ayahnya telah menghianati. Apa gara-gara gadis itu ayahnya tega membohongi dia dan bundanya. Apa gara-gara gadis itu, ayahnya rela melukai hatinya? Alea ingin turun dari mobil, dan menghajar gadis itu beserta ayahnya. Rasa cinta pada sang ayah seketika memudar, Sakit hati Alea, berubah menjadi amarah. Dia sudah memegang pintu taxi bersiap untuk turun. Tapi bayangan sang bunda muncul dipikirannya. "Bunda sedang sakit, jika bunda tau apa yang ayah lakukan. Lea takut kondisi bunda semakin parah. Lea harus bagaimana ya Allah," - Sedangkan sang bunda di rumah khawatir saat mengetahui putrinya itu ternyata berbohong. Ya Beka, Lembayung, dan Anita datang ke rumah Alea, karena hari ini Sahabatnya itu tak masuk sekolah. Sinta tentu kaget, kemana putrinya itu? dia bilang menginap di rumah Anita. Nyatanya tidak. Alea tidak mengatakan apapun pada sahabat-sahabatnya, dia tak cukup berani untuk memberitahu yang terjadi pada ayahnya. Apa kata mereka, jika ayah yang selama ini Alea banggakan dan agungkan sebagai sosok ayah idaman justru kini menancapkan luka dihatinya. "Yaudah bun, Anita sama teman-teman pulang dulu yah," "iya bun, kalau ada kabar dari Lele eh Lea, nanti kita hubungin bunda," timpal Beka. "iya Nak, makasih yah udah temenin bunda sampai malam begini," "enggak papa bun, iya bun sama-sama, kita pamit yah," Ketiga sahabat Aleapun pulang, kini Sinta sedang ketar-ketir di rumah menunggu kabar dari putrinya. Berulangkali dia menelepon suaminya, tapi siapa yang tau suaminya itu sedang asik dengan perempuan lain. Sinta juga tak tau kini putrinya sedang merasakan sakit hati yang diberikan oleh Ardan_suaminya. Hujan deras, mengguyur tubuh Alea. Dia berjalan menuju rumahnya dengan langkah gontai. Dia tak menyangka, sungguh tak menyangka. Ayah yang nampak sempurna dimatanya, kini bagai belati yang melukai hati. Sulit dipercaya, rasa sesak dan sakit ini ia dapatkan dari ayah yang begitu ia cintai. Apa Ardan tidak menyadari? jika dia menghianati sang istri, dia juga menyakiti hati anaknya. Ingin sekali, Alea menumpahkan amarah, memaki dan menghujat kedua insan yang ia tau sedang bermain api dan merusak keluarganya. Tapi, dia tak ingin setelah itu ayahnya bisa hidup bahagia dengan gundiknya. Alea meredam segala rasa yang bergejolak dihati. Di usianya yang masih remaja, dia cukup dewasa tak bertindak gegabah. Dia tak hanya memikirkan amarahnya, tapi yang paling penting adalah menjaga perasaan bundanya. Walau dia tau, bundanya akan menerima segala kebohongan demi kebohongan dari ayahnya. Tapi kondisi Sinta yang tak baik, membuat Alea harus memedam ini semua. Lea janji bun, Lea akan membuat ayah menyesal dengan cara yang elegan. "Lea ...," teriak Sinta saat melihat putrinya sudah basah kuyup. Sinta segera mengambil payung, menyusul sang putri. "Kamu kemana aja nak? kenapa hujan-hujanan begini?" Lea menatap wajah bundanya, airmata yang mengalir dipipinya menyatu dengan buliran airhujan yang membuat Sinta tak menyadari anaknya itu menangis. "Maafin Lea ya bun," "iya sayang, tapi Lea harus cerita sama bunda yah. Lea masih marah sama ayah karena ayah lupa ucapin selamat ke Lea? ayah kan lagi sibuk kerja sayang, Lea kan janji, katanya mau ngertiin ayah," Lea diam, dia memeluk bundanya erat. Ternyata lebih sakit, saat melihat wajah sang bunda yang dengan sabarnya selalu menasehati dirinya untuk mengerti ayahnya. Yang pada kenyataannya Alea kini tau, bahwa sang ayah berkhianat. "Lea sayang sama bunda," ucap gadis cantik itu lalu memeluk Sinta erat. "iya sayang, bunda juga sayang banget sama Lea. Kita masuk yah nak," "bun, bunda sayang sama ayah?" tanya Alea dengan suara bergetar. Sinta tersenyum, "ya pasti sayang, kamu teh mau ledekin bundanya? biar bunda enggak marahin kamu, karena udah bohongin bunda. Pokoknya bunda tetap mau penjelasan dari Lea, kenapa bilangnya nginep di rumah Anita." Alea meraih tangan sang bunda, "lalu, bunda percaya sama ayah?" Sinta kali ini diam, dia menatap wajah ayu putrinya. "Lea ko tiba-tiba bilang gitu?" "Lea cuma mau tau aja bun," Alea harus menahan sesak didada. Dia menarik nafas panjang, menahan bulir airmata yang berontak ingin keluar. "Udah yuk, dingin, Lea harus ganti baju. Nanti masuk angin," Sinta merangkul tubuh putrinya, tapi Lea masih saja mematung. "Ayo nak," "Bun, ayo kita pindah ke jakarta?" Follow IG ku yah @emaknyahaechan94
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN