8. Perdebatan

1642 Kata
Rahang Noah mengeras, matanya menatap tajam pada pria yang masih belum melepaskan tangannya di tangan Caitlin. "Lepas" geram Noah. Bukan takut, pria itu malah memberikan tatapan menantang kepada Noah. "Sepertinya kau memang tidak ingin hidup lama. Lepas!" bentak Noah, demi Tuhan, dia bukan orang yang bisa sabar, walaupun hanya sebentar. "Tidak akan. Memangnya kau siapa? Aku pemilik tempat ini. Aku berhak menjaga pegawaiku!" Tegas Kim. Pemilik cafe, saat sore, dia datang ke cafe, dia dibuat terkejut dengan tamu yang membludak datang ke cafenya. Alasannya, jelas karena Caitlin! Wanita cantik yang sangat masuk kedalam kriterianya. Wanita yang dia tekankan untuk menjadi miliknya hari itu juga. Caitlin benar-benar sebuah aset berharga untuknya. "Nyali mu besar juga" sinis Noah Kim tersenyum miring "tentu. Tidak seperti kau yang harus memakai pengawal" tatapan meremehkan Kim berikan kepada Haiden dan pengawal lain yang ada di belakang Noah. Melepaskan genggaman tangannya dengan Caitlin. Dengan gerak cepat Noah melayangkan tinjuan ke wajah Kim. Membuat Kim langsung tersungkur dan bibirnya berdarah. "Bangun dan lawan aku! Kita buktikan, apa kau masih bersikap sombong" tantang Noah, dia menggulung lengan bajunya hingga siku. Kim bangun, langsung melayangkan tinjuan yang dengan mudah di tangkas oleh Noah. Memberi kesempatan untuk Noah menendangnya hingga kembali tersungkur. "Pecundang" Noah tersenyum sinis. Para pengunjung cafe dan pegawai hanya bisa menonton tanpa ada niat membantu. Begitupun dengan Caitlin. Melihat pertengkaran, bukan hal aneh baginya. Bahkan dia sering melihat pertengkaran lebih buas saat di hutan. Kim meludah, dengan cepat kembali bangkit dan mencoba menyerang Noah. Sial untuknya! Serangannya bisa di tangkas, bahkan tangannya langsung di tekuk oleh Noah hingga dia meringis karena merasa tulangnya ingin patah. "Pecundang dan pembual. Lihat, betapa terlihat bodohnya dirimu" Noah mendorong Kim hingga tersungkur. Kakinya langsung menginjak d**a Kim hingga pria itu meringis kesakitan. "Saat ada yang melawan perintahku. Maka dia tidak akan baik-baik saja dan kau-" Noah menekan lebih kencang kakinya di d**a Kim "terlalu banyak melawan. Jadi lihat setelah ini, apa yang akan kau dapatkan" Noah mengangkat kakinya. Membuat Kim langsung meraup napas sebanyak mungkin. "Pulang Cait" Noah menarik tangan Caitlin. "Jangan dulu!" Tolak Caitlin sambil menghempaskan tangan Noah. Noah menatap tidak percaya, sedangkan Kim yang perlahan bangun langsung tersenyum sinis. Merasa menang. "Aku belum dibayar Noah. Kita pulang setelah aku mendapat uangku dulu. Aku tidak mau rugi" ucap Caitlin dengan polosnya membuat Noah dan Kim menatapnya tidak percaya. "Serius Cait?! Aku bahkan bisa memberimu banyak uang. Ayo kita pulang" Caitlin menggeleng "sebentar" Caitlin langsung melangkah menuju Crist yang langsung menelan ludah karena gugup saat Noah menatap ke arahnya, mengikuti pergerakan Caitlin. Jujur saja, dia tahu pria yang memukul bos nya adalah seorang Noah Alrico. Jika cafe ini sudah ditandai olehnya, sepertinya dia harus mulai mencari pekerjaan baru. Cafe ini tidak akan memiliki umur panjang lagi. "Aku mau gajiku hari ini" Caitlin mengadahkan tangannya kehadapan Crist. "Baik. Sebentar" Crist langsung pergi, dengan cepat mengambil uang di laci kasir. Jantungnya berdegup kencang, salah sedikit, tamatlah dia. "Terima kasih" Caitlin mengambil uang yang diberikan Crist dengan wajah bahagia. "Ayo kita pulang!!" Riang Caitlin sambil memeluk lengan Noah. "Kenapa? Kau ingin tetap disini? Aku ingin pulang" Caitlin menatap Noah yang masih diam. "This woman!" Noah menggelengkan kepalanya lalu melangkah keluar bersama Caitlin di sebelahnya dan Haiden serta pengawal di belakangnya. "Lihat! Uangku banyak!" Pamer Caitlin saat mereka sudah di dalam mobil. Noah menggelengkan kepalanya, sedangkan Haiden menahan tawa. "Aku pintar bukan?. Aku bisa dapat uang!" "Iya, kau pintar tapi juga bodoh juga" sahut Noah. Caitlin langsung memukul lengan Noah "kau ingin di cakar ya?! Aku tidak bodoh!" bentak Caitlin. Noah mengangguk "iya, tidak bodoh, hanya polos. Tapi, polos dan bodoh terkadang memiliki arti yang sama" Caitlin berdecak, mengalihkan pandangannya dari Noah dan kembali tersenyum lebar saat melihat uang hasil kerjanya. *** Noah mengerutkan keningnya saat Caitlin masuk kedalam kamarnya sambil membawa sebuah amlop cokelat, dia juga terus tersenyum sambil melangkah menuju tempat tidur. Seperti biasa, Caitlin akan tidur bersama Noah. "Kau kenapa? Gila?" tanya Noah. "Kau ingin aku cakar ya?!" Caitlin menatap kesal Noah sambil naik ke tempat tidur. "Lalu kenapa terus tersenyum?" Caitlin langsung mengacungkan amplop coklatnya "aku punya uang sekarang!" Pamernya lagi. Entah sudah keberapa kali Caitlin memamerkan itu. Noah menghela napas lalu menggelengkan kepala. "Dengar, harga sepatu yang kau pakai, bahkan lebih mahal dari uang yang kau punya" Caitlin menatap terkejut kepada Noah. "Benarkah? Wow! Itu artinya kau punya banyak uang. Apa sebanyak ini?" Caitlin merentangkan kedua tangannya. "Lebih banyak lagi" jawab Noah. "Wow! Keren! Aku juga ingin punya banyak uang!" "Aku bisa memberikannya" Caitlin menggeleng "Ethan bekerja. Grace juga bilang, jika manusia harus bekerja. Aku menyusahkanmu" Noah berdecak "konyol! Tapi tidak bekerja di cafe tadi!" "Iya. Kau bilang, harga sepatu yang aku pakai lebih mahal dari gaji ku. Aku tidak mau kesana lagi. Aku ingin yang gajinya lebih banyak lagi. Kau tahu dimana?" "Bagaimana dengan menjadi asistenku?" Tanya Noah. Jujur saja, setelah Caitlin menghilang hari ini, dia tidak ingin hal yang sama terjadi lagi. Dia ingin Caitlin ada dalam pandangannya selalu. Posesif? Iya. Apa karena cinta? Mungkin bukan. Karen akan begitu konyol jika mengaku cinta disaat pertemuan mereka belum satu bulan, tidak, belum satu minggu! "Apa uang yang kau berikan banyak?" tanya Caitlin lagi. "Tentu" "Baiklah. Aku mau!" sahut Caitlin penuh semangat. "Bagus. Kalau begitu sekarang kau tidur" "Kau tidak tidur? Aku kan tidak bisa tidur sendirian" "Baiklah. Ayo tidur" Noah menarik Caitlin kedalam pelukannya. Tadinya, dia akan memeriksa email terlebih dahulu, tapi entah kenapa, ucapan Caitlin sulit untuk dia tolak. Gila! Sepertinya dia memang gila karena dalam hidupnya, selain orang tuanya, dia mau melakukan perintah orang lain. *** "Hari ini aku tidak mau belajar. Aku sudah pintar, aku bosan" pinta Caitlin sambil mengunyah makanannya. Seperti biasa, sarapan Caitlin adalah daging sapi setengah matang. Dua piring. Catat! dua. Piring! "Apa Grace melakukan hal buruk?" tanya Noah setelah meletakkan cangkir berisi kopi miliknya yang baru saja diseruput. Caitlin menggeleng "tidak, hanya saja dia sering marah" "Kalau begitu, hari ini kau ikut aku. Anggap saja latihan sebelum mulai bekerja menjadi asistenku" "Aku pintar tahu. Tanpa latihan, aku juga bisa" sombong Caitlin. "Betul, kau memang pintar. Tapi ingat, kau itu polos. Tingkat kepolosan mu cenderung sama dengan bodoh" "Noah, kau benar-benar ingin aku terkam ya?!" kesal Caitlin. Noah mengangkat bahunya "aku tidak masalah jika diterkam diatas kasur" Caitlin memang pintar, Noah akui itu. Tapi bagaimanapun, Caitlin belum lama menjadi manusia, belum banyak pengalaman. Masih polos tidak berpengalaman. Sepintar apapun orang, jika masuk ke dunia baru, pasti gagap juga, hingga nanti terbiasa. "Oke. Lihat saja nanti malam!" Ancam Caitlin dengan wajah kesalnya. Ingatkan dia untuk mencakar wajah Noah yang pagi ini begitu menyebalkan. Selesai sarapan, Noah langsung menuju perkebunan anggur. Caitlin ikut bersamanya, begitupun Haiden, pria itu sudah seperti bagian dari Noah, seperti lintah yang terus menempel. Haiden itu adalah anak dari asisten ayahnya. Tapi pertemuan dengan Noah bukan karena orang tua mereka saling mengenal. Pertemuan mereka terjadi saat Noah membantu Haiden yang tengah di keroyok. Noah tidak tahu jika Haiden adalah anak asisten ayahnya. Hingga akhirnya, setelah dia menolong Haiden dan Haiden ikut dengannya, Noah membawa Haiden ikut pulang bersamanya. Singkatnya, ternyata Haiden kabur dari rumah selama empat tahun, dia hidup dijalanan. Dia bukan akan baik hingga orang tuanya angkat tangan, mereka selalu bertengkar dan Haiden keluar dari rumah. Lalu kini, saat ayahnya Haiden pensiun karena orang tuanya Noah sudah tiada, Haiden menjadi asisten Noah. Bagi Haiden, Noah bukan hanya penolong saat dia tengah dikeroyok, tapi juga guru yang mengajarkan bahwa jangan terlalu egois apalagi sampai mengecewakan orang tua. Banyak pelajaran hidup yang dia dapat dari Noah meskipun pembawaan Noah jauh dari kata ramah. "Haid- apakah kau suka bekerja dengan Noah?" Tanya Caitlin saat mobil tengah melaju keluar mansion. "Iya nona, saya suka" jawab Haiden. Seperti biasa, dia duduk didepan, disamping sopir. Caitlin mengangguk "jadi Noah memberimu banyak uang?" "Berhenti bertanya hal bodoh Cait" sahut Noah. Caitlin langsung menatap tajam Noah "aku tidak bodoh!" Protesnya lalu memukul perut Noah. "Hey! Aku tidak bilang kau bodoh!" "Bilang! Kau bilang aku bodoh, Noah!" bentak Caitlin. "Tidak. Kau salah dengar" "Kau meragukan pendengaranku ya?!" "Tidak" "Iya" "Iya, Noah" "Tidak" "Iya. Iya. Iya!" Teriak Caitlin. Noah menghela napas "Terserah kau saja Cait. Kau bebas! Terserah. Terserah" Haiden yang mendengar perdebatan itu tersenyum dalam diam. Kehadiran Caitlin benar-benar membawa warna baru untuk Noah. Pria itu memang tidak akan sadar, tapi Haiden jelas sadar jika Noah perlahan bisa bersikap manusiawi, lebih hangat walaupun kadarnya hanya setetes. Hingga akhirnya mobil memasuki jalanan dengan pemandangan kebun anggur yang begitu luas. "Apa ini milikmu?" Tanya Caitlin sambil menatap Noah. "Tentu saja" jawab Noah. "Kau benar-benar memiliki banyak uang! Hebat! Apakah ada sebutan untuk orang yang memiliki banyak uang? Haiden, kau tahu?" Caitlin beralih menatap Haiden yang duduk didepan. "Kaya. Sebutan orang yang memiliki banyak uang" "Terima kasih, Haid. Kau pintar" puji Caitlin. "Noah, kamu kaya!" "Tentu" Caitlin berdecak "kau sedang sombong ya?" "Tidak." "Tapi aku merasa jika kau tengah sombong" "Terserah kau saja Cait. Terserah" Mobil berhenti, Haiden keluar terlebih dahulu. Membuka pintu untuk Noah sedangkan sopir membuka pintu untuk Caitlin. Diikuti Haiden di belakang dan juga pengawal, Noah melangkah untuk melihat perkebunan miliknya. Beberapa pegawai memberi salam sambil menunduk. "Kenapa kau tidak membalas salam mereka?" "Aku membalasnya" jawab Noah asal, tidak ingin memancing perdebatan. "Kapan? Aku tidak mendengarnya" "Dalam hati. Aku menjawabnya dalam hati" jawab Noah. Caitlin hanya mengangguk. Lalu tetap mengikuti langkah Noah. "Pastikan tidak ada lagi penyusup yang masuk." "Baik tuan" jawab Haiden. "Lalu bagaimana dengan orang kemarin? Dia sudah mau berbicara?" "Tidak tuan, dia masih memilih bungkam" "Beri siksaan yang lebih keras, tapi jangan sampai mati. Kita butuh dia untuk mendapat informasi, meskipun sedikit" suruh Noah. Noah sadar betul, hidupnya dikelilingi oleh musuh, tapi dia selalu ingin tahu, siapa saja yang mengusiknya, karena Noah juga harus memberi apresiasi bukan? Meskipun sering gagal, tetap saja Noah akan berbaik hati memberi hadiah. "Baik tuan" Noah kembali melihat sekitar, mereka ada di gudang tempat anggur-anggur yang baru di petik. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN