7. Hilang

2017 Kata
"Apa yang kau baca?" Tanya Caitlin setelah menelan makanan dimulutnya. Noah pulang saat jam makan malam. Lebih cepat dari perkiraannya, atau sengaja dipercepat karena merasa ada yang menunggunya di mansion. "Laporan. Ingin tambah lagi?" Tanya Noah saat melihat piring kedua Caitlin sudah kosong. Caitlin menggeleng "tidak. Aku sudah cukup kenyang" Noah mengangguk, "laporan keuangan restoran sedikit ganjil. Periksa lagi" suruh Noah kepada Haiden yang berdiri dibelakang kursinya. Dia sudah selesai makan, lalu menunggu Caitlin menghabiskan isi piring keduanya sambil membaca laporan. "Kapan kau makan? Aku tidak pernah melihatmu makan. Apa kau tidak lapar? Kau bisa mati jika tidak makan!" Cecar Caitlin dengan cepat kepada Haiden. "Aku sudah makan terlebih dahulu nona" jawab Haiden. Caitlin mengerutkan keningnya "nona? Apa itu?" "Sebuah panggilan, seperti dia yang memanggilku Tuan Noah" sahut Noah. Caitlin mengangguk "aku mengerti, kalau begitu aku juga akan memanggilmu dengan nona" Noah langsung membulatkan matanya dan Haiden kembali menahan tawa. "No! Kamu tidak bisa memanggilku dengan sebutan nona. Itu hanya untuk perempuan" "Oh baiklah. Aku kira, bisa untuk siapapun." Noah mengangguk "bagaimana dengan belajarmu hari ini?" "Lancar. Aku bisa membaca, menghitung. Bisa semua" jelas Caitlin penuh semangat. Noah menatap Caitlin dengan satu alis terangkat "coba baca ini" suruh Noah sambil menyodorkan tab miliknya ke hadapan Caitlin. "Noah Alrico, pria dewasa penuh pesona" Caitlin membaca judul berita tentang Noah di salah satu majalah online. "Good! Kau benar-benar sudah bisa membaca" ucap Noah. "Nona, anda luar biasa" Haiden mengacungkan jempol nya ke Caitlin. "Tentu saja. Aku memang hebat" sombong Caitlin. "Jangan lupa untuk memberikan hadiah kepada guru yang mengajar Cait" suruh Noah. "Baik tuan. Akan saya lakukan saat besok dia kembali datang" Noah mengangguk. "Aku akan pergi ke kamar. Aku belum menyusun semua mangsaku dengan rapih" Caitlin bangun dari kursi. Mangsa yang Caitlin maksud adalah boneka rusa yang dia beli bersama Noah. Boneka itu masih ada di dalam kardus. Caitlin bilang, dia ingin kamar yang ditempatinya seperti hutan, penuh dengan binatang. Meskipun setiap malam, saat dia akan tidur, dia akan pergi ke kamar Noah. Ingat! Caitlin tidak bisa tidur sendiri. "Jangan lupa gosok gigi mu" "Baik. Aku ingat" jawab Caitlin lalu melangkah pergi. Meninggalkan Noah dan Haiden. "Nona Cait benar-benar luar biasa. Ajaib. Dia bisa membaca dalam waktu satu hari, benar-benar tidak masuk akal" ucap Haiden yang masih kagum dengan Caitlin. "Jangan berlebihan. Kau tahu jika Caitlin makhluk seperti apa. Itupun tidak masuk akal. Jadi saat dia memiliki kemampuan lain. Itu normal untuk makhluk sepertinya" jelas Noah. "Jangan membicarakan aku!" Noah dan Haiden langsung tersentak saat mendengar teriakan Caitlin. Suaranya memang terdengar jauh, tapi cukup membuat mereka terkejut. "Aku lupa jika pendengarannya sangat tajam" ucap Noah. "Noah! Aku mendengarnya!" Lagi, teriakan Caitlin kembali terdengar. *** Grace tersenyum senang saat bertemu Noah. Pria terpanas ada di hadapannya! Sebuah kejutan bahagia saat dia masuk kedalam mansion, Noah ada dan belum berangkat kerja. "Haiden, jangan lupa hadiah untuk miss Grace" "Baik Tuan" "Cait, aku harus berangkat sekarang. Jangan nakal" Noah mengusap kepala Caitlin, membuat Grace yang melihatnya mencoba menahan diri. Noah benat-benar terlihat lembut dan manis kepada Caitlin. Jauh berbeda dengan berita yang dia dengar dari wanita yang sudah di kencani Noah. Meskipun hanya semalam, menghabiskan waktu bersama Noah, adalah sebuah kebanggaan bagi para wanita itu. Termasuk Grace, dia akan dengan rela melebarkan pahanya untuk tempat menyelam Noah. "Tuan Noah-" panggil Grace. Noah langsung menatapnya dengan satu alis terangkat. "Jika anda punya waktu luang, saya ingin berbicara" lanjut Grace dengan suara pelan. Jantungnya terasa ingin lepas saat mata Noah menatapnya. Luar biasa! Noah hanya mengangguk singkat, lalu kembali menatap Caitlin. "Aku berangkat" ucapnya lalu melangakah menjauhi Caitlin dan Grace. Ada rapat penting yang harus dia hadiri pagi ini. Selain itu, dia juga harus mengurus masalah yang dibuat oleh Allard, paman sampahh nya. Sosok Noah sudah hilang dari pandangan Caitlin dan Grace. Grace langsung mengajak Caitlin pergi ke ruang belajar mereka. "Jadi. Apa kau sudah melakukan apa yang aku suruh kemarin? Menyiapkan pertanyaan" Caitlin mengangguk "tidak banyak." Jawab Caitlin. Baru saat Grace akan membuka mulutnya. Ponselnya berbunyi. Mengabaikan Caitlin, Grace memilih mengangkat teleponnya. "Aku sedang bekerja. Akan aku bayar semua tagihannya. Tenang saja" ucapan terakhir Grace sebelum menutup panggilan teleponnya. Caitlin dapat dengan mudah mengetahui jika ibu dari Grace yang menghubungi. Topik pembicaraannya pun dapat Caitlin dengar. "Grace, apa semua orang harus bekerja? Untuk apa manusia bekerja?" Tanya Caitlin. Dia lupa bertanya hal itu kepada Noah. "Tentu saja untuk bertahan hidup. Untuk mendapatkan uang dan membeli apa yang kau inginkan" jawab Grace. "Noah sangat rajin bekerja, sepertinya dia memiliki banyak uang" Grace langsung mengangguk. Kekayaan Noah, semua orang juga tahu sebanyak apa itu "tentu saja. Bagaimana denganmu? Apa yang kau lakukan? Kau tidak bisa hanya berdiam diri disini. Jika kau manusia, seharusnya kau bekerja. Jangan menjadi beban untuk Noah" jelas Grace. Jujur saja, dia sangat cemburu. Hingga kini, dia belum tahu siapa sebenarnya Caitlin dan hubungan yang dimilikinya dengan Noah. Wanita itu bisa dengan bebas bertemu Noah dan tinggal di tempat yang luar biasa. Dia cemburu, itu wajar bukan. Selain itu, berbanding terbalik dengan ucapannya, jika dia berhasil mendapatkan Noah, dia tidak akan mau bekerja. Bekerja itu lelah! Dia rela berdiam didalam mansion. Diam di kurung emas!. Caitlin langsung membulatkan matanya, teringat ucapan Ethan, sahabatnya. Ethan juga bekerja, dan dia bilang, itu cara bertahan hidup sebagai manusia. "Grace, bolehkah saat kau pulang nanti, aku ikut bersmamu keluar?" Grace mengerutkan kening "untuk apa?" "Ada yang ingin aku lakukan" Grace mengangguk "baiklah. Mari kita mulai sesi tanya jawab. Apa yang ingin kau tanyakan?" "Kapan ini selesai. Sejujurnya, aku sudah malas belajar" ucap Caitlin yang membuat Grace langsung membulatkan matanya. Pertanyaan macam apa itu?!!! Oh my gosh! darah tingginya! *** "Apa kita akan pergi ke kantor Noah?" Tanya Grace sambil menatap jalanan. Caitlin benar-benar ikut keluar mansion bersamanya. "Tidak. Aku juga tidak tahu dimana Noah berada" jawab Caitlin yang juga sambil menatap keluar mobil. Grace mengeratkan genggamannya di setir mobil. "Kau marah ya?" Caitlin langsung menatap Grace. Dia merasakan aura Grace yang marah. "Tidak, hanya kesal. Hal wajar bukan?" Caitlin mengangguk "tapi kau kesal karena apa?" Tanya Caitlin dengan polosnya. Grace menghela napas "lupakan. Jadi, kau akan turun dimana? Tidak mungkin aku akan membawamu kemana aku pergi" Caitlin menggaruk kepalanya "sejujurnya, aku tidak tahu akan kemana dan harus berhenti dimana" Grace menghela napas, mencoba menahan amarah "aku akan menurunkan mu di perempatan. Dari sana, kau bebas mau kemana. Mengerti?" Caitlin mengangguk "iya" jawabnya. Caitlin memang tidak memiliki tujuan, dia hanya teringat lalu termotivasi untuk mencati pekerjaan. Dia sudah menjadi manusia sekarang, jadi dia akan mengikuti manusia lain, untuk bekerja dan bertahan hidup. Grace menghentikan mobil "silahkan kau turun" ucapnya. Caitlin mengangguk "terima kasih" ucapnya lalu membuka pintu mobil dan keluar, kemudian menutup pintunya lagi. Setelah diluar, dia tidak langsung pergi, dia menunggu hingga Grace pergi, baru dia melangkah, melanjutkan perjalanan. Melewati jajaran toko-toko dengan jalan yang cukup ramai dilewati pejalan kaki, Caitlin terus bergerak, mencari sesuatu yang bisa dia kerjakan. Jujur saja, Caitlin tidak tahu caranya mencari pekerjaan, dia hanya mengikuti nalurinya. Anggap saja dia tengah berburu mangsa. Matanya terus membaca poster atau selembaran, hingga dia tersenyum lebar saat salah satu cafe mengumumkan jika mereka tengah mencari pegawai. Tanpa pikir panjang, Caitlin langsung masuk kedalam. Tersenyum ramah saat pegawai menyambut kedatangannya "aku ingin bekerja" ucap Caitlin langsung. Pegawai itu langsung menatap Caitlin dari atas kepala hingga ujung kaki. Semua yang melekat di tubuh cantik itu adalah barang-barang mahal. Wajahnya cantik, tubuhnya seperti model, sulit dipercaya tengah mencari pekerjaan. "Aku ingin bekerja disini" ulang Caitlin. "Anda serius, nona?" Caitlin mengangguk "aku serius!" Jawab Caitlin dengan yakin. "Baik, kalau begitu, saya antar ke ruang atasan saya" Caitlin tersenyum lebar "terima kasih" ucapnya lalu mengikuti pegawai laki-laki itu ke salah satu bagian cafe. Tempat yang hanya di izinkan untuk staff. Sama seperti pegawai laki-laki yang menyambut kedatangan Caitlin. Manajer cafe tersebut juga merasa heran, dari tampilan dan wajah, Caitlin benar-benar menggambarkan wanita dari kalangan kaya. Tapi bukan Caitlin jika menyerah begitu saja. Dia meyakinkan mereka jika dia memang ingin bekerja, juga bisa melakukan pekerjaan dengan baik. Caitlin bahkan bersedia untuk tidak dibayar di hari pertamanya sebagai jaminan. Hingga akhirnya sang manajer setuju menerima Caitlin, dia juga akan tetap membayar Caitlin di hari pertamanya. Karena sistem gaji di cafe tersebut adalah gaji harian. Toh kalau dipikir lagi, mereka tidak akan rugi menerima Caitlin bekerja, Caitlin seperti memiliki daya tarik yang bisa saja menarik pelanggan untuk datang. Caitlin sangat senang, dia langsung berkenalan dengan rekan kerjanya dengan ramah. Senyumnya juga melebar saat dia diberikan apron dengan logo cafe. Dia juga mendengar penjelasan tentang apa saja yang perlu dia lakukan. "Sudah mengerti? Ada yang ingin kau tanyakan?" Tanya Crist, manajer cafe. Caitlin menggeleng "tidak. Aku mengerti" Crist mengangguk "baik, silahkan mulai bekerja" Caitlin tersenyum "okay" jawabnya penuh semangat, membuat Crist langsung tersenyum. *** "Tuan, ada laporan, jika nona Caitlin tidak ada dirumah. Sejak siang dia pergi dan belum pulang hingga sekarang" lapor Haiden. Noah langsung melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah pukul sembilan malam. Hari ini dia pulang terlambat karena cukup banyak yang harus dia urus. "Kenapa dia bisa keluar? Suruh mereka mencarinya" Haiden mengangguk, lalu menyampaikan perintah Noah. "Kita ikut mencari. Jangan langsung ke mansion" lanjut Noah. "Baik tuan" Sopir langsung menurunkan kecepatan, mempermudah mereka untuk mencari keberadaan Caitlin. Hingga satu jam berkeliling, mereka belum juga menemukan keberadaan Caitlin "s**t! Apa yang mereka kerjakan hingga belum bisa menemukan Cait?" Kesal Noah. "Tuan, saya masih berusaha menghubungi nona Grace, menurut penjaga, nona Caitlin ikut bersama nona Grace pergi, sayangnya ponsel nona Grace hingga kini tidak aktif" "s**t!" Noah kembali memaki. "Kita datangi dia!" Tegasnya. "Baik tuan" Haiden langsung memberikan arahan kepada sopir tentang tujuan mereka selanjutnya. Lima belas menit, mereka tiba di depan pintu apartemen milik Grace. Perempuan itu langsung terkejut sekaligus bahagia saat melihat kedatangan Noah. "Silahkan masuk" Grace membuka pintu dengan lebar. "Langsung saja. Dimana Caitlin?" Tanya Noah dengan suara dingin dan penuh intimidasi. Grace menelan ludahnya "aku tidak tahu" jawabnya. "Bicara yang jujur atau kau mati!" Suara Noah meninggi, membuat Grace begitu ketakutan. Rona bahagia diawal, lenyap tidak tersisa. "Aku benar-benar tidak tahu! Demi Tuhan. Aku tidak berbohong!" "Maaf nona, tapi mereka bilang jika nona Caitlin ikut dengan anda" ucap Haiden Grace mengangguk, rasanya dia ingin menangis saat merasakan tatapan tajam Noah. "Dia memang ikut bersamaku. Tapi dia meminta di turunkan di jalan. Lalu aku pergi. Aku tidak tahu dia dimana" "Dimana anda menurunkan nona Caitlin?" Grace langsung menyebutkan nama jalan dimana dia menurunkan Caitlin, tubuhnya semakin bergetar karena takut. Noah benar-benar menyeramkan. "Jika aku tidak menemukan Caitlin. Maka kau juga tidak akan ditemukan oleh siapapun" ancam Noah sebelum mereka melangkah pergi. Tubuh Grace langsung luruh dilantai. Dia tidak bodoh untuk mengartikan jika itu sebuah ancaman kematian. Haiden langsung memberi informasi kepada para pengawal untuk mencari Caitlin di sekitar jalan yang Grace sebutkan. Sedangkan dia dan Noah tengah menuju kesana. Noah tetap ingin mencari Caitlin langsung. "Berhenti" perintah Noah. Sopir menghentikan mobil. Mereka sudah tiba di jalan dimana Caitlin di turunkan. Noah keluar mobil, disusul Haiden. Dia langsung melangkah menyusuri jalanaan yang ramai. Menajamkan penglihatan untuk mencari Caitlin. Lima belas menit berjalan kaki, Haiden mendapat informasi jiak Caitlin terlihat disalah satu cafe yang cukup ramai. Setelah menyampaikan kepada Noah, mereka langsung pergi ke cafe itu sambil setengah berlari. "Cafe sangat ramai, jika ingin masuk, kita masuk ke waiting list. Tidak boleh masuk jika bukan giliran kita. Saya sudah coba, tapi mereka tetap melarang dan mengancam akan melaporkan kepada polisi" lapor pengawal saat Noah dan Haiden tiba di depan cafe. Noah melihat ke dalam cafe, sangat ramai dan kebanyakan pengunjungnya adalah laki-laki muda. Caitlin ada disana. Sebagai pelayan! Dengan tangan mengepal, Noah melangkah menuju pintu masuk. Haiden segera mengikuti, begitupun pengawal yang lain. "Maaf, anda harus menung-" ucapan pegawai itu tidak terselesaikan saat Noah memilih mengabaikan dan tetap melangkah masuk. "Cait!" Geram Noah sambil menarik sebelah tangan Caitlin. "Noahhh!" Sapa Caitlin dengan senang, berbeda dengan wajah Noah yang menahan marah. "Ayo kita pulang!" Tegas Noah. "Tidak bisa! Anda siapa? Berani sekali mengganggu pegawai kami?" Noah langsung menatap tajam laki-laki yang datang dan meraih sebelah tangan Caitlin yang lain. "s**t! Singkirkan tanganmu atau aku patahkan!" Ancam Noah. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN