6. Pembelajaran

1621 Kata
Caitlin terus bergerak diatas tempat tidurnya. Dia tidak bisa tidur. Menghadap kanan, menghadap kiri. Tapi tetap saja tidak membuatnya mengantuk. Setelah makan malam, Noah menyuruhnya untuk segera tidur. Awalnya Caitlin kira akan mudah, tapi memejamkan mata dan masuk ke alam mimpi ternyata sangat susah. Menghela napas, Caitlin bangun dari posisi berbaring. Lalu duduk bersandar di kepala tempat tidur. Selimut menutupi kakinya. Matanya bergerak kesetiap sudut kamar untuk mencari objek yang bisa membuatnya tertarik. Hingga dia kembali menghela napas saat tidak ada satupun yang menarik. Menyampirkan selimut. Caitlin turun dari kasur. Dengan baju tidurnya yang lucu -yang dipilih Caitlin saat mereka melewati toko baju anak-anak- Caitlin keluar kamar. Melihat ke arah kanan, lalu ke arah kiri. Hingga dia putuskan untuk melangkah ke arah kiri, kamar Noah. Tanpa mengetuk, Caitlin masuk kedalam kamar Noah. Noah yang sudah terbiasa tidak tidur nyenyak otomatis langsung bangun. Melihat siapa yang lancang masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu, tanpa Noah persilahkan. "Cait?" Noah mengerutkan keningnya saat sosok kurang ajar itu ternyata Caitlin. Well, untuk Caitlin, dia punya pengecualian. "Aku tidak bisa tidur!" Adu Caitlin dengan bibir cemberut. "Aku mau tidur disini" lanjutnya lagi. Noah menghela napas, lalu mengangguk. Dia menepuk sisi disebelahnya sebagai tanda memanggil Caitlin untuk naik. Caitlin patuh, dia menaiki tempat tidur dan langsung berbaring di samping Noah yang tengah duduk. "Aku tidak suka sendirian. Aku benci" adu Caitlin lalu melingkarkan tangannya di perut Noah. Noah menelan ludahnya, lalu mengubah posisinya menjadi berbaring. Dengan tangan Caitlin di perut dan dia duduk, adalah sebuah ancaman bagi juniornya. Bisa-bisa Cailin menyenggolnya dan membuat dia bangun. Siaal! Sejak awal, Caitlin benar-benar menjadi makhluk paling menggoda di hadapan Noah. "Aku selalu bersama keluargaku, aku tidak pernah sendirian, termasuk saat aku tidur"lagi, aduan keluar dari mulut Caitlin sambil mencari posisi nyaman. Menenggelamkan wajahnya di d**a Noah dengan tangan yang melingkar di pinggang Noah. Hangat. Itu yang dia rasa. Noah hanya diam, tapi tangannya bergerak untuk mengusap punggung Caitlin. Dia sudah membaca beberapa fakta tentang hewan cheetah, selain hewan tercepat, cheetah juga adalah hewan sosial, artinya hewan yang berkelompok. Tidak seperti harimau, dimana jenis kucing besar itu lebih suka sendiri. Untuk sisi manis Caitlin, Noah juga bisa melihatnya di bentuk hewannya langsung. Dimana cheetah tidak mengaum seperti hatimau yang akan begitu terlihat menakutkan dan keren. Cheetah malah seperti kucing kecil ketika dia bersuara, akan terlihat lucu bagi Noah. "Ceritakan tentang kemampuanmu yang luar biasa, kau memiliki pendengaran yang sangat tajam" Caitlin mengangguk "tentu saja. Kami tidak memiliki rumah seperti manusia untuk berlindung, kami hanya memiliki hutan yang tidak memiliki sekat. Kami memiliki pendengaran dan sensitifitas yang tinggi untuk merasakan kehadiran musuh atau mangsa. " Noah mengangguk, tangannya tidak berheti mengusap punggung Caitlin. "Apa hidup di hutan sangat sulit?" "Aku pikir, hidup dimanapun pasti sulit. Kau juga pasti memiliki atau melewati hidup yang sulit. Tapi untuk di hutan ku, tempat tinggal kami ajaib dan luar biasa, jadi tidak banyak kesulitan, kami memiliki makanan yang sangat cukup dan yang paling beruntung jika dibandingkan dengan hutan biasa lain adalah kami tidak tersentuh manusia. Mereka makhluk serakah, mengambil tanah, bahkan memburu juga. Menyebalkan!!" Jelas Caitlin. "Sekarang, kau juga manusia" "Tapi tentu saja aku tidak akan serakah! Tidak akan merusak apa yang Tuhan berikan. Kau juga jangan! Aku akan pergi jika kau nakal!" Noah tertawa pelan lalu menarik Caitlin agar lebih menempel ke tubuhnya "iya. Aku tidak akan seperti itu" Noah tahu, Caitlin juga bisa menyeramkan, selucu dan semanis apapun hewan liar, mereka akan tetap hewan liar, buas. Tidak ada yang bisa menghilangkan sisi itu. Tapi, bukan berati dia patuh karena itu permintaan Caitlin, pada dasarnya, Noah memang tidak masuk dalam kategori serakah menurut Caitlin. Dia tidak memburu atau merusak hutan. Mungkin karena selama dia lebih memilih berburu wanita? "Aku mengatuk" Caitlin menguap, majahnya masih betah menempel dengan d**a Noah. Mendengar detak jantung Noah rasanya membuat dia tenang dan mengantuk. "Kalau begitu, tidurlah" "hmm" Saat hembusan napas Caitlin menerpa dadanya secara teratur, Noah juga merasakan kantuk, rasanya seperti ada beban yang perlahan semakin banyak dan menumpuk di kedua kelopak matanya hingga Noah tidak bisa menahannya lagi dan kedua mata itu terpejam sempurna. *** "Hari ini akan ada guru yang datang untuk mengajarimu banyak hal. Bersikap baik, turuti semua perintah dan ucapannya. Mengerti?" Caitlin mengangguk "mengerti" jawab Caitlin setelah mengunyah sarapan paginya. "Bagus. Hari ini aku akan bekerja. Aku sibuk dan mungkin akan pulang malam" ucap Noah lagi setelah menyeruput kopi dalam cangkir. Menu sarapannya adalah roti dan kopi, sedangkan Caitlin, dua porsi steak sapi. Saat dia terbangun di pagi hari, dia merasakan tubuhnya begitu segar, tubuhnya benar-benar seperti sudah diisi daya. Mungkin karena tidurnya yang nyenyak dan masuk dalam kategori tidur berkualitas. Ini yang pertama untuknya setelah kedua orang tuanya meninggal. "Semalam, kau sangat berisik" protes Caitlin. "Berisik?" Ulang Noah. Caitlin mengangguk "mulut mu mengeluarkan bunyi seperti ini - khookkk...khookkk. Benar-benar berisik" Haiden yang sejak awal memang berdiri di belakang kursi Noah langsung menggigit bibir dalamnya untuk menahan agar dia tidak tersenyum mendengar pernyataan Caitlin tentang tuan besarnya yang mendengkur. Noah dibuat diam beberapa detik karena cukup terkejut. Mendengkur? Apa Caitlin bercanda? Pria sepertinya mana pernah mendengkur?! "Mungkin kau salah dengar. Aku tidak mungkin mengeluarkan suara seperti itu" Noah berkilah. Caitlin langsung menatap tajam Noah "kau meragukan pendengaranku ya? Apa aku perlu membuktikannya lagi?" "Atau mungkin, kau hanya sedang bermimpi. Aku?-" Noah membuang napas sambil tersenyum sombong "tidak mungkin mendengkur" lanjutnya. Caitlin mengangguk "jadi itu namanya mendengkur. Aku tidak bemimpi, kau benar-benar mendengkur. Akui saja, daripada terus berbohong" Haiden yang mendengar perdebatan tersebut sangat beusaha kuat menahan bibirnya agar tidak tersenyum. Kapan dia melihat perdebatan lucu seperti ini? Biasanya, tuan besarnya hanya akan diam jika perempuan yang dia kencani dalam waktu semalam tengah berbicara. Itupun yang dibicarakan bukan hal ringan. Hal berbau s*x seolah tengah menggoda tuan besarnya lagi atau tentang koleksi barang mahal yang terbaru. "Terserah kau saja, yang pasti aku tidak merasa jika aku mendengkur" "Kau memang tidak merasakannya. Tidurmu sangat pulas! Tapi aku mendengarnya sangat jelas. Telingaku benar-benar sakit. Kau sungguh menyebalkan!" "Tidak ada yang memintamu untuk datang dan tidur dikamarku" Noah mengangkat bahunya. "Baiklah, nanti malam aku akan ke kamar Haiden saja. Aku kan tidak mau tidur sendiri" "No! Tidak boleh!" Larang Noah langsung. "Tidak mau! Tidurmu berisik!" "Haiden! Akan kupotong jarimu jika menerima Caitlin di kamarmu!" Ancam Noah. "Kau mau aku cakar ya, mengancam orang!" *** Grace, pengajar yang dipilih Haiden tengah mengamati muridnya -Caitlin. Wanita yang terpaksa dia akui sangat cantik, belum lagi bentuk tubuhnya yang tinggi, dan langsing. Benar-benar seperti dewi, dan yang lebih menyebalkan lagi adalah wanita ini tinggal bersama Noah. Pria incarannya. Awalnya, dia sangat senang saat dihubungi untuk datang ke mansion Noah. Pria hot itu tidak memiliki anak atau sepupu kecil untuk dia ajarkan, jadi Grace mengira, bahwa perintah 'mengajarkan' hanyalah bungkus untuk menutupi, ajakan yang lain. Tapi sialnya, pikirannya harus dia buang, bayangan-bayangan e****s yang dia bayangkan bersama Noah juga langsung menghilang. Sialll!!! Ternyata dia benar-benar datang untuk mengajari seseorang!. "Apa kita hanya akan terus diam hingga Noah datang?" Tanya Caitlin yang bosan dengan situasi. Grace menghela napas "tidak. Kita bisa segera mulai. Tapi, kapan Mr. Noah akan pulang?" Caitlin mengangkat bahunya "tidak tahu, dia hanya bilang akan pulang terlambat karena banyak pekerjaan" Grace mengangguk. "Baiklah, ayo kita mulai" "Akhirnya, hampir saja aku pergi karena bosan" Grace langsung menatap tajam pada Caitlin yang dengan polosnya berbicara seperti itu sambil membuka buku catatannya. "Apa kau marah?" Tiba-tiba Caitlin menatap Grace. Ada aura kemarahan yang dia rasakan. Membuat rasa waspadanya tiba-tiba meningkat. Grace langsung menggeleng "tidak. Ayo kita mulai" ucap Grace mencoba tenang. Pelajaran dimulai, Grace langsung mengenalkan semua huruf yang langsung di hapal oleh Caitlin. Lanjut ke pelajaran membaca dan dengan sekali penjelasan, Caitlin juga langsung bisa, begitupun dalam hal menghitung, pembagian, pengurangan, penambahan hingga perkalian bisa dengan mudah Caitlin lakukan. Hingga Grace merasa jika Caitlin tengah mengerjainya. Dalam kepalanya, untuk apa dia mengajari orang yang sudah bisa segalanya?! Menyebalkan. "Kau bisa semua, lalu untuk apa aku mengajarimu?" "Benarkah? Tapi semua ini memang mudah, aku bisa mengingatnya dengan sangat cepat" jawab Caitlin. "Kita belajar yang lain. Table manner" Grace langsung menghubungi pelayan, meminta mereka membawakan beberapa hal yang dibutuhkan. "Silahkan kau makan" suruh Grace. Dia ingin tahu, kemampuan awal yang dimiliki muridnya itu. Hingga Caitlin mulai makan dan Grace menatap tidak percaya, Caitlin benar-benar makan dengan anggun, sangat berkelas. "Bagus. Hal seperti ini tidak perlu aku ajarkan, kau melakukamnya dengan baik" ucap Grace. "Baguslah. Aku melihatnya di layar besar" "Sekarang, tunjukan aku bagaimana kau berjalan" suruh Grace. "Bagaimana dengan makanannya. Apa boleh aku menghabiskannya terlebih dahulu?" "Nanti saja." Jawab Grace. Caitlin menghela napas. Kalau tidak ingat dengan ucapan Noah yang menyuruhnya untuk patuh kepada guru. Caitlin pasti akan memilih untuk menghabiskan makanannya dulu. Sesuai permintaan Grace. Caitlin mulai berjalan, dan lagi-lagi dalam hati Grace dibuat kagum. Cara Caitlin berjalan benar-benar indah, lenggak-lenggok sepergi model papan atas yang memiliki banyak jam terbang di dunia catwalk. "Apa aku akan terus berjalan seperti ini? Hanya bolak-balik?" Tanya Caitlin yang mulai kesal. "Kau bisa kembali duduk" ucap Grace. Caitlin langsung duduk. Menelan ludah melihat makanan yang ada di hadapannya. "Sudah sangat banyak yang kau bisa-" Grace melihat jam yang melingkar di tangannya "waktu untuk mengajarku juga sudah habis. Kumpulkan semua yang ingin kau tanyakan, besok kau bisa menanyakannya langsung. Besok kita hanya akan melakukan tanya jawab" lanjut Grace. Materi beberapa pertemuan bisa selesai dalam satu pertemuan. Jika muridnya masih kecil, dia akan merasa kagum. Tapi melihat sosok muridnya sekarang, jujur saja, ada rasa jengkel. Seolah dia tengah di kerjai. Mengajarkan orang yang sudah sangat pandai. Tapi Grace juga tidak ingin kedatangannya ke mansion Noah hanya untuk satu kali, apalagi dia belum bertemu pemilik mansion. Harus ada kunjungan kedua dan seterusnya. Lebih sering, lebih baik. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN