5. Belajar

1905 Kata
Hans menghela napas kesal saat melihat mobil yang membawa cucunya berhenti tepat di hadapannya. Dia memang sengaja berdiri di depan pintu mansion karena ingin segera menjewer telinga sang cucu yang membuatnya menunggu cukup lama, ditambah lagi, sendirian. Benar-benar menyebalkan dan membosankan. Pintu mobil bagian belakang terbuka, muncul Noah. Saat Hans akan melangkah dan ingin mengeksekusi rencananya, langkahnya langsung terhenti saat melihat sosok lain keluar dari mobil. Seingat Hans, Noah tidak akan pernah membawa seorang wanita ke villa dan Hans yakin, dari villa, Noah langsung pergi ke mansion, tidak mampir dulu, jadi tidak mungkin wanita yang keluar dari mobil itu Noah bawa karena dijemput saat perjalanan pulang. "Suatu kehormatan jika tuan rumah di sambut oleh tamu" ucap Noah setelah berhadapan dengan Hans. Hans langsung berdecak "cucu kurang ajar" Noah hanya mengangkat bahunya. Lalu menatap ke belakang saat dia merasakan Caitlin tidak mengikutinya. "Siapa dia?" Tanya Hans sambil menunjuk Caitlin dengan dagu. "Cait" Noah memanggil Caitlin yang tengah seru melihat sekeliling mansion "Cait" ulang Noah memanggil Caitlin. "Iya. Iya. Aku dengar! Kau mengganggu saja" ketus Caitlin lalu menghampiri Noah, wajahnya cemberut. "Ini kakek ku" ucap Noah memberitahu siapa Hans kepada Caitlin. "Halo kakek. Aku Caitlin" sapa Caitlin ramah sambil tersenyum lebar juga melambaikan tangan. Hans mengangkat sebelah alisnya. Perkenalan yang lucu, kapan terakhir dia bertemu wanita yang mengenalkan dirinya dengan ramah dan riang sambil melambaikan tangan?. Entah, yang pasti sudah sangat lama, saat dia masih muda, mungkin. "Jadi, apa yang membuat kakek datang kesini?" Tanya Noah. Hans menghela napas "dasar cucu tidak sopan. Ini masih diluar. Bicaranya kalau sudah di dalam" kesal Hans lalu membalikan tubuh, melangkah masuk. "Ayo" ajak Noah pada Caitlin lalu melangkah mengikuti Hans. Dibelakang mereka berdua, Haiden juga mengikuti. "Kau bawa Cait ke kamar yang ada di sebelah kamarku" suruh Noah pada Haiden. Hans sudah duduk di sofa yang dekat dengan perapian. Lalu Noah ikut bergabung sedangkan Haiden membawa Caitlin ke kamar. "Sepertinya wanita itu spesial" ucap Hans. Dia tahu jika sudah banyak wanita yang datang ke mansion ini untuk memenuhi hasrat cucunya. Tapi dari sekian banyak wanita itu, tidak ada satupun yang cucunya izinkan untuk tidur di kamar yang ada di lantai dua. Mereka hanya akan mengisi kamar di lantai satu dan baru kali ini ada yang cucunya izinkan, bahkan tidur disebelah kamar cucunya. "Langsung saja ke inti. Cait pasti tidak ada sangkut pautnya, jadi jangan bahas dia" Hans langsung tertawa "baiklah. Cucu ku sudah besar" Noah mendelik "bicara sekarang atau aku pergi" Hans kembali tertawa "dasar tidak sabaran oke-" Hans berdehem, lalu mengubah posisi duduknya agar lebih nyaman "aku datang untuk membicarakan tentang pamanmu" "Aku tidak memiliki paman sepertinya" tegas Noah. Hans langsung menghela napas, sepertinya memang benar, sampai kiamat datang, dan mereka berdua masih hidup, mereka tidak akan pernah berdamai "sayangnya, fakta bahwa dia anakku tidak bisa berubah dan fakta bahwa kau cucuku juga tidak berubah" Kali ini Noah yang menghela napas kasar "jadi, apalagi yang pria bodoh itu lakukan?" "Perusahannya di Spanyol bangkrut. Dia ingin agar aku membantunya untuk meminta kau memberikan modal." "Lihat. Sudah aku bilang jika si bodoh itu diberi perkebunan atau peternakan saja. Suruh dia menjaga kuda atau domba. Itu paling cocok untuknya daripada terus menghancurkan aset yang kau berikan" kesal Noah. Hans hanya menggeleng lemah, sudah bukan hal baru seperti ini terjadi. "Dia pamanmu, sedikit saja beri rasa hormat" "Tidak. Dia saja tidak menghormati ayahku. Kenapa aku harus menghormatinya? Sampah" "Noah" "Kakek. Mau sampai kapan kakek seperti ini? Semua yang kakek bangun, dia yang akan menghancurkannya. Sudah saatnya kakek hidup dengan tenang dan menikmati apa yang kakek miliki. Bukan malah sibuk mengurus anak yang tidak beda jauh dengan sampah. Mungkin jika ayahku masih hidup, dia akan melakukan hal yang sama denganku." Jelas Noah. Dia sudah sangat kesal karena kelakuan sang paman yang hanya membuat pusing Hans. Hanya Hans yang dia miliki sebagai keluarga dan Noah tidak ingin terjadi hal buruk kepada Hans. "Kakek hanya ingin dia berubah, makanya kakek memberi dia kesempatan" "Kesempatan yang terus membuat kakek rugi? Berapa kesempatan yang kakek berikan kepadanya? Apa dia bertanggung jawab? Nol! Tidak sama sekali. Biar dia hidup mengurus domba atau kuda. Setidaknya, mereka bisa menjadi teman akrab" Hans menghela napas "akan kakek putuskan" "Segera. Kalau dia melakukan hal buruk, aku yang akan mengurusnya." Hans tersenyum. Ada rasa bangga dalam dirinya setiap melihat Noah. Cucu kebanggaannya. "Jadi, siapa wanita spesial tadi?" Hans berbicara topik lain. Noah berdecak "aku sudah mengenalkannya tadi. Apa kakek lupa?" Hans menggeleng "tidak lupa. Hanya ingin tahu, kenapa dia sangat spesial" "Tidak ada yang spesial" Noah mengelak. Hans tertawa "tidak spesial tapi mengizinkan dia menginjak lantai dua. Luar biasa" Noah mendelik, kebiasaan kakeknya yang selalu menggodanya sudah sekali hilang. "Sepertinya akan lebih baik jika kakek pulang" Tawa Hans semakin kencang "dasar bocah. Suka sekali marah" "Berhenti mengatakan aku bocah, aku tiga puluh tahun. Ingat! Tiga puluh tahun" "Dan aku tujuh puluh enam tahun, kau tetap bocah untukku" "Cepat pergi. Aku semakin kesal melihatmu ada disini. Jangan sering-sering datang" Hans langsung melempar bantal sofa ke wajah Noah "cucu kurang ajar" Noah hanya mengangkat bahunya. Lalu bangun dan melangkah pergi menuju lantai dua. "Hey! Aku masih belum selesai bicara!" Kesal Hans. Dengan tubuh yang membelakangi Hans, Noah hanya melambaikan tangan. Membuag Hans langsung mengeluarkan sumpah serapahnya. Cucu, sialann. Sialnya, dia sayang pada cucu itu. *** Berada di lantai dua, Noah memilih untuk masuk ke kamar Caitlin terlebih dahulu. "Sedang apa?" Tanya Noah saat masuk ke kamar Caitlin. "Tidak ada. Aku bosan" adu Caitlin yang hanya duduk bersandar ke kepala tempat tidur. "Nanti malam kita belanja, kau perlu baju ganti. Selain itu, kau juga harus mulai lebih mengenal duniamu yang baru" jelas Noah. Caitlin mengangguk. "Baiklah" Noah kemudian menyalakan televisi. Mengetik sesuatu di remot hingga memunculkan video yang dia butuhkan. "Pertama, kau harus belajar tentang manner" jelas Noah lalu memutar video. "Tonton ini hingga selesai. Kalu bisa memilih yang lain dengan cara menekan yang ini- seperti ini" Noah memberitahu Caitlin. "Mengerti?" "Iya, aku mengerti" "Bagus. Aku harus mengurus beberapa pekerjaan dulu" Noah mengusap kepala Caitlin lalu keluar kamar. Pergi ke ruang kerjanya yang juga ada di lantai dua. Dia langsung memanggil Haiden untuk datang dan tidak butuh waktu lama, Haiden muncul di hadapan Noah. "Bagaimana pembangunan hotel? Apa ada kendala besar?" Tanya Noah. "Tidak ada tuan. Saya sudah cek semua laporan dan sudah saya kirim kepada tuan. Hanya saja, sedikit masalah terjadi di perkebunan anggur" "Ada apa?" "Di tempat penyimpanan pupuk, ada beberapa bahan bakar. Sepertinya ada yang berencana membakar perkebunan" lapor Haiden. "Sudah kau selidiki?" "Sedang. Cctv disana sedang di periksa" "Bagus. Sepertinya orang yang sama dengan yang membakar gedung. Kali ini, bawa dia. Jangan dihabisi." "Baik tuan" "Lalu bagaimana dengan pesawat yang di pesan" "Saya minta di percepat dan akan datang tiga hari lagi" "Bagus. Ada hal penting lain?" "Sejauh ini, hanya itu." Noah mengangguk. "Oh ya, carikan guru untuk Caitlin. Guru yang bisa mengajarkan semuanya. Baca, tulis, hitung hingga tatakrama" "Baik, akan saya carikan" "Besok harus sudah ada dan Caitlin mulai kelasnya" "Baik, tuan. Segera saya lakukan" Noah mengangguk. Lalu Haiden undur diri. Segera Noah membuka beberapa map yang ada di mejanya, dia mulai memeriksa pekerjaannya yang selalu menumpuk. Tidak pernah menyusut. Tiga jam lebih Noah berkutat dengan segala pekerjaannya, hingga pintu ruang kerjanya diketuk dan terbuka. Muncul Caitlin dengan wajah cemberut. "Aku bosan!" Adu Caitlin lalu melangkah kearah meja Noah. "Ayo kita pergi" Noah bangun sambil menutup map nya. Memutari meja, hingga berdiri dihadapan Caitlin. "Naik mobil?" Tanya Caitlin dengan mata yang berbinar. Noah tersenyum "iya. Sepertinya kau suka sekali dengan mobil" Caitlin mengangguk "mereka keren" "Baiklah, ayo kita pergi" Noah menarik pelan tangan Caitlin keluar rungan. Mengambil kunci mobilnya yang di gantung lalu turun ke lantai satu. "Aku akan pergi dengan Cait" ucap Noah saat melewati Haiden. Haiden mengangguk, lalu memberitahu pihak keamanan untuk mengikuti Noah. Ancaman selalu mengelilingi Noah, jadi kemanapun, kapanpun, Noah harus terus dijaga. Noah membukakan pintu untuk Caitlin. Caitlin masuk kedalam monil lalu Noah menutupnya. Berjalan ke sisi lain mobil, Noah membuka pintu lalu masuk. Setelah keduanya ada di dalam, Noah langsung memakaikan seatbelt. "Seperti ini, ingat cara memasangnya" ucap Noah setelah selesai memakaikan seatbelt. Caitlin mengangguk "memangnya untuk apa?" Tanya Caitlin. "Melindungimu" jawab Noah. Menyalakan mesin, tangan Noah bersiap di kemudi. Mobil mulai bergerak, diikuti dua mobil di belakangnya. *** "Mau itu!! Ituuuu. Yang besar!" Tunjuk Caitlin. Sudah hampir dua jam Noah mengikuti Caitlin di toko boneka. Saat sampai di mall, mereka melewati toko boneka dan Caitlin langsung masuk kedalamnya. Memilih segala boneka berbentuk binatang yang Caitlin bilang mirip teman-temannya. "Aku mau yang besar!!" Protes Caitlin saat pegawai toko memberikan boneka beruang berukuran sedang" "Ambilkan yang paling besar" suruh Noah. Mungkin sudah lebih dari sepuluh boneka yang mereka pilih,lebih, pokoknya banyak, mulai dari jerapah hingga kura-kura. "Woaaaahhh. Makanan!" Teriak Caitlin penuh semangat. Noah ikut menoleh, melihat pada objek yang dilihat Caitlin. Sebuah boneka rusa. Sedangkan pegawai toko hanya menatap bingung. "Aku mau itu! Yang banyaaaakkk!" Caitlin merentangkan tangannya. Kepalanya membayangkan buruannya berada di kamar dan cukup banyak. Pasti luar biasa. "Keluarkan semua stoknya. Saya beli" suruh Noah. Pegawai tersebut mengangguk. Lalu meminta bantuan rekan kerjanya untuk memproses permintaan pelanggan kaya mereka. "Sudah dulu. Ayo kita cari pakaianmu" Noah menggenggam tangan Caitlin lalu menariknya keluar toko. Caitlin protes, tapi Noah mengabaikan, jika tidak di tarik paksa, mungkin mereka akan menginap di toko boneka itu. "Aku belum selesai" kesal Caitlin saat mereka sudah masuk kedalam toko pakaian dengan brand terkenal. "Sudah terlalu lama kita disana. Sekarang, pilih pakaian, kau harus ganti dan tidak mungkin menggunakan pakaian ini untuk selamanya" "Tidak mau. Aku tidak mau memilih" Caitlin melipat kedua tangan di d**a. Bibirnya cemberut, dia marah. Noah menghela napas, lalu memberi kode kepada pegawai agar menghampirinya "semua koleksi terbaru, mulai dari yang simple untuk sehari-hari sampai gaun pesta." Ucap Noah. Pegawai tersebut mengangguk, lalu pergi untuk menyiapkan permintaan Noah yang sosoknya bukan seseorang yang asing lagi. "Ayo" Noah kembali membawa Cailin ke toko lain, meskipun Caitlin masih cemberut. "Semua yang terbaru, tas dan sepatu" ucap Noah kepada pegawai. "Maaf, kami cek dulu nomor kakinya" ucap pegawai itu dengan sopan. "Duduk" Noah menekan tubuh Caitlin agar duduk dan pegawai memeriksa kakinya. Hingga semuanya selesai. Semua barang yang Noah pikir akan dibutuhkan Caitlin sudah dia beli semua. "Aku kesal" ucap Caitlin saat mereka sudah berada di parkiran. "Karena boneka? Nanti aku beri lebih banyak lagi" "Benar? Kau tidak berbohong?" "Iya, jadi sekarang, ayo kita pulang" Caitlin mengangguk. Hingga saat mereka tiba di dekat mobil, Caitlin langsung memeluk Noah dan mendorong tubuh mereka hingga jatuh ke sela-sela mobil yang terparkir. Berselang dua detik, suara tembakan terdengar. "s**t!" Maki Noah. "Kau tidak apa-apa?" Lanjutnya melihat Caitlin yang ada di atas tubuhnya. "Oke" jawab Caitlin. Noah menurunkan tubuh Caitlin. Posisi mereka kini berjongkok. "Dimana posisi mereka?" Tanya Noah kepada para pengawalnya lewat alat komunikasi yang menempel di telinganya. "Sedang kami cari, dia bersembunyi dengan cukup baik" Keadaan sunyi. Caitlin memejamkan matanya, telinga kanannya berkedut. Sikap waspadanya meningkat. "Sebelah sana, barisan mobil ini" ucap Caitlin lalu menunjuk mobil yang menutupi tubuh mereka. Noah langsung memberitahu kepada para pengawalnya. Mereka langsung bergerak dalam sepi, lalu tidak lama terdengar bunyi tembakan. "Target sudah kami lumpuhkan" kalimat itu terdengar di telinga Noah. "Baguslah" sahut Caitlin. Noah langsung menatap Caitlin "kau mendengarnya?" Caitlin mengangguk lalu bangun. "Aku dengar" Noah cukup terkejut. Selain gerak cepat, Caitlin ternyata memiliki pendengaran yang luar biasa. "Ayo kita pulang" pinta Caitlin kemudian. Noah mengangguk. Menekan kunci, lalu membuka pintu mobil. Sepertinya, dia harus segera belajar tentang hewan cheetah. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN