Bawa Aku Pulang!

1310 Kata
Seanna tertegun karena pria asing itu menyebutnya sebagai “Angel”. Mungkinkah sebutan ini ditujukan padanya karena ia dianggap sebagai malaikat penolong oleh pria ini? Ah, pasti itulah alasannya. "Namaku Seanna, siapa namamu, Tuan?" tanya Seanna dengan suara lembut. Ia merasa kasihan melihat kondisi pria ini yang terlihat rapuh dan ketakutan. "Aku...tidak ingat. Angel, kamu Angelku," gumam pria itu tidak mau melepaskan tangan Seanna. "Aku bukan Angel, namaku Seanna, Tuan." Lama pria itu menatap Seanna tanpa berkedip. Namun, mendadak ia memegangi kepalanya sambil mengerang kesakitan. "Aarrggh, sakit sekali," pekiknya. Karena panik melihat kondisi pria itu, Seanna segera memanggil dokter dan perawat yang berjaga di ruang IGD. Ketika mereka sampai, pria asing itu kembali tidak sadarkan diri. Dokter pun segera mengarahkan stetoskop yang tergantung di lehernya ke d**a pria itu. "Dokter, tadi dia bangun dan bicara sebentar kepada saya. Katanya dia tidak ingat namanya lalu tiba-tiba mengeluh kepalanya sakit." "Saya akan memeriksa kondisinya dulu. Silakan Nona tunggu di luar sebentar," kata dokter itu sebelum melakukan pengecekan secara menyeluruh. “Baik, Dokter,” jawab Seanna lantas berjalan pergi. Dengan perasaan yang gelisah, Seanna menanti hasil pemeriksaan dokter. Meski lelaki itu bukanlah keluarga atau kenalannya, ia berharap supaya lelaki itu dalam keadaan baik-baik saja. Penantian Seanna yang terasa panjang baru berakhir saat perawat datang untuk memanggilnya. "Nona, silakan masuk. Dokter Alex ingin bicara dengan Anda." "Baik, Suster." Seanna langsung masuk ke dalam ruangan dengan jantung yang berdebar-debar. Dia berharap tidak akan menerima kabar buruk mengenai pria itu. "Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Seanna. "Apa Nona saudara, istri, atau teman pasien?" "Bukan, Dok. Saya beserta murid saya yang menemukan Tuan ini di kawasan hutan Nature Park." Dokter itu menghembuskan napas panjang sebelum memberikan penjelasan secara detail. "Nona, kemungkinan pasien ini mengalami amnesia. Ada luka memar di bagian belakang kepalanya. Saya belum tahu apa dia juga mengalami gegar otak, karena dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut." Ucapan dokter itu ibarat petir yang menyambar Seanna di siang hari. Dia tidak menyangka pria yang baru saja ditolongnya ini mengalami amnesia. Lalu bagaimana caranya dia bisa menghubungi keluarga lelaki ini? "Untuk memastikan apakah pasien mengalami amnesia atau tidak, sebaiknya anda membawanya ke rumah sakit yang lebih besar di kota. Peralatan di sana lebih memadai," lanjut sang dokter memberikan saran. "Baik, Dokter, saya akan mempertimbangkannya nanti,” jawab Seanna. Usai dokter itu pergi, Seanna menunggu di pinggir brankar pasien. Ia berharap pria ini lekas sadar agar ia bisa menanyakan identitasnya. Namun bila terbukti lelaki ini hilang ingatan, mau tak mau ia harus merawatnya. Mana mungkin ia tega meninggalkan lelaki yang tak berdaya ini seorang diri di rumah sakit. ‘Apa yang harus aku lakukan? Jika aku memindahkannya ke rumah sakit yang lebih besar, pasti biayanya akan sangat mahal. Mungkin aku tidak sanggup membayarnya,’ pikir Seanna memijat pelipisnya. Seanna menopang dagunya seraya berpikir jalan terbaik apa yang harus dia pilih. Ketikatenggelam dalam lamunan, Seanna merasakan vibrasi yang berulang dari ponselnya. Layar ponselnya berkelap-kelip menampilkan nama Julie, sang ibu. Seanna langsung menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut. Dia yakin sang ibu pasti sangat cemas karena ia tidak kunjung pulang ke rumah. "Halo, Mom." “Di mana kamu sekarang, Anna? Kenapa belum pulang? Bukankah seharusnya perjalanan wisatamu sudah selesai?" cecar Julie dengan suara khasnya yang melengking. "Aku sedang berada di rumah sakit, Mom." "Siapa yang sakit? Kamu atau muridmu?" tanya Julie terdengar panik. "Tenang, Mom, aku dan murid-muridku tidak ada yang sakit. Tadi saat perjalanan wisata, muridku menemukan pria asing yang pingsan di dekat hutan. Sepertinya dia mengalami kecelakaan, jadi aku membawanya ke rumah sakit.” "Anna, kenapa kamu harus bersusah payah menolong orang asing? Seharusnya kamu telepon saja keluarga pria itu supaya mereka yang mengurusnya. Sekarang kamu harus segera pulang karena Andrew menunggumu." "Andrew pulang ke Kansas?" tanya Seanna tidak percaya. Pasalnya, sang kekasih selama setahun terakhir bekerja di kantor pengacara ternama di kota Boston. "Iya, Andrew ingin memberimu kejutan, tetapi kamu malah sibuk mengurusi orang asing," omel Julie. Ia memang sangat mendukung hubungan Seanna dan Andrew, bahkan bila perlu ia ingin Seanna cepat-cepat menjadi istri Andrew. "Cepat pulang! Jangan membuat Andrew menunggumu terlalu lama, Anna." Belum sempat Seanna memberikan respon, Julie sudah memutuskan sambungan teleponnya. Seanna hapal benar bagaimana sifat keras sang ibu. Jika sudah begini, artinya Julie tidak ingin dibantah. ‘Bagaimana ini? Pria ini belum sadar, dan aku tidak mungkin meninggalkannya begitu saja. Namun, jika aku tidak segera pulang, Andrew akan kecewa. Apalagi kami sudah lama tidak bertemu,’ gumam Seanna bimbang. Dia terus menggoyangkan kakinya dengan gelisah. Ketika Seanna sedang dilanda kebingungan, pria asing itu membuka matanya perlahan. Ia menggerakkan bibirnya seraya memanggil nama seseorang. "Angel…Angel...," desisnya lirih. Pria itu mengerjapkan bulu matanya yang panjang, lalu menatap wajah Seanna lekat-lekat. Dengan susah payah, dia menggerakkan telapak tangannya yang tidak terpasang selang infus untuk meraih Seanna. "Angel, dimana ini? Aku takut," tuturnya dengan mata berkaca-kaca. Seanna sedikit terkejut karena lelaki ini mirip seorang anak kecil yang tengah dilanda ketakutan. "Tuan ada di rumah sakit karena mengalami kecelakaan. Boleh saya tahu siapa nama Tuan? Atau mungkin Tuan ingat salah satu nama orang tua, saudara atau teman?" tanya Seanna. Pria itu tidak menjawab. Dia malah menggelengkan kepala seraya menggenggam erat tangan Seanna. Bibirnya yang tipis juga nampak semakin pucat. "Angel, bawa aku pulang ke rumah. Aku tidak mau tinggal di sini," rengek pria itu. "Tuan masih sakit. Tuan harus dirawat di rumah sakit sampai sembuh," bujuk Seanna. Pria itu menggoyangkan lengan Seanna. Netra indahnya kini sudah tergenang oleh air mata. "Kumohon bawa aku, Angel. Kalau tidak aku akan menangis sepanjang hari," pintanya dengan wajah memelas. Detik selanjutnya, pria itu mulai menangis tersedu-sedu sehingga membuat Seanna kelabakan. Ia tidak mengerti mengapa pria ini bertingkah layaknya anak kecil yang cengeng. "Ayo, Angel, keluarkan aku dari sini," desak pria itu. Seanna bertambah bingung. Di satu sisi, ia tidak tega menolak permohonan dari pria ini. Namun di sisi lain, mustahil jika dia membawa pria ini pulang. Julie pasti tidak akan setuju. Terlebih lagi di rumahnya sedang ada Andrew. Besar kemungkinan Andrew akan salah paham bila ia membawa pria lain untuk tinggal bersamanya. Seanna kembali menatap pria tanpa identitas yang masih menangis itu. Hampir di sekujur tubuhnya terdapat perban luka. Dan lagi sinar matanya terlihat begitu polos, seperti anak laki-laki yang membutuhkan perlindungan meski fisiknya adalah pria dewasa. "Bawa aku pulang, Angel, hiks, hiks," ulang pria itu berderai air mata. Seanna pun berusaha membujuknya agar kembali tenang. "Hapus air matamu, Tuan. Aku akan memanggil dokter." Seanna melepas perlahan tangan pria tampan itu lalu beranjak untuk memanggil perawat. Tak berselang lama dokter dan perawat kembali datang. Dokter mengarahkan senternya ke mata pria itu lalu mengajukan beberapa pertanyaan. "Tuan, apa Anda ingat siapa nama Anda?" "Tidak," jawabnya singkat. "Apakah Anda ingat kejadian apa yang menimpa Anda sehingga Anda terluka?" "Tidak ingat," responnya spontan. "Alamat rumah, tempat kerja atau nomer ponsel. Apa Anda mengingat sesuatu tentang itu?" "Aku masih anak-anak, aku belum bekerja, Dok. Aku sekolah," jawab lelaki itu mencebikkan bibir. Seanna terkesiap mendengar jawaban pria itu, yang menganggap dirinya masih kecil. "Dok, kenapa dia merengek dan bertingkah seperti anak kecil?" tanya Seanna memastikan. Dokter itu mematikan senter yang dia pakai, lalu menoleh kepada Seanna. "Kemungkinan pasien ini mengalami amnesia sebagian atau disebut juga kemunduran memori. Ingatannya hanya sampai pada batas usia tertentu, sehingga dia menyangka dirinya masih anak-anak." "Dia benar-benar amnesia, Dok?" ulang Seanna. "Betul, Nona, kita harus memperlakukannya sebagai anak kecil sampai dia sembuh. Pasien amnesia tidak boleh mendapat tekanan. Kalau dia stress, bisa jadi ingatannya tidak akan kembali. Kita harus mengikuti kemauannya dulu sembari melakukan terapi." "Terima kasih atas penjelasannya, Dok. Saya mengerti sekarang,” ujar Seanna semakin bingung. Setelah dokter pergi, pria itu terus-terusan merengek minta belas kasihan kepada Seanna. Air mata pria itu membuat hati Seanna luluh. Dia merasa tidak tega untuk meninggalkannya dalam kondisi hilang ingatan. "Tenanglah, aku akan membawamu pulang bersamaku," ucap Seanna lembut. Nanti dia akan meminta pengertian dari Julie dan Andrew agar pria ini diizinkan tinggal di rumahnya untuk sementara waktu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN