Atas izin dari dokter, Seanna membawa pria itu keluar dari rumah sakit. Beruntung pria itu tidak mengalami patah tulang yang serius, sehingga ia masih bisa berjalan sendiri meski Seanna harus menggandeng lengannya. Usai membayar biaya perawatan, Seanna menghentikan taksi yang lewat di depan rumah sakit dan meminta supir untuk segera mengantar mereka pulang.
"Sudah sampai, ayo turun," ajak Seanna.
Taksi itu berhenti tepat di halaman rumah Seanna. Bangunan bercat putih itu cukup sederhana, tetapi terlihat nyaman untuk ditinggali. Apalagi di halaman depan terdapat kebun kecil yang ditanami dengan bunga dan beberapa tanaman hias.
"Aku takut," jawab pria itu enggan keluar dari taksi. Ia mengedarkan pandang ke sekeliling rumah Seanna yang tampak asing baginya.
"Tidak apa-apa, ini rumahku. Kamu pasti aman di sini," kata Seanna menenangkan pria itu.
Dengan takut-takut, pria itu turun dengan berpegangan erat kepada Seanna. Pria itu terus bersembunyi di belakang Seanna hingga mereka berjalan mendekati pintu masuk.
Seanna menekan bel pintu dua kali dan tak lama pintu terbuka dari dalam. Seanna dikejutkan dengan kemunculan Andrew di ambang pintu. Pria itu langsung memeluknya dengan erat, seolah menumpahkan kerinduan yang begitu dalam.
"Baby, aku sangat merindukanmu," ucap Andrew seraya mengecup bibir plumpy milik Seanna. Daya tarik inilah yang selalu membuat Andrew tak bosan untuk menciumnya.
"Aku tidak tahan berpisah darimu terlalu lama. Sebulan yang lalu aku sudah ingin kembali, tetapi pekerjaanku di Boston tidak bisa ditinggal begitu saja,” keluh Andrew dengan wajah memelas.
Seanna tersenyum dan membalas pelukan Andrew. Rasanya begitu hangat berada dalam pelukan pria yang dicintainya ini.
"Andrew, kenapa sebelumnya kamu tidak memberitahuku kalau akan datang hari ini? Dan di mana Mommy?" tanya Seanna mencari keberadaan Julie.
"Bibi Julie sedang keluar. Aku sengaja tidak memberitahu kedatanganku untuk memberimu kejutan, Baby. Aku ingin tahu apa kamu merindukan aku sama seperti aku merindukanmu."
Senyuman di sudut bibir Andrew sirna seketika tatkala melihat sosok pria yang bersembunyi di belakang punggung Seanna.
"Anna, siapa dia? Kenapa laki-laki ini bisa ikut denganmu ke rumah?"
Ekspresi Andrew berubah kesal karena melihat calon istrinya membawa pria lain. Apalagi pria itu dengan kurang ajar merapat pada tubuh Seanna.
Seanna terlihat gugup. Dia bingung bagaimana caranya menjelaskan kepada Andrew agar pria itu tidak salah paham.
"Ehm begini, dia korban kecelakaan. Aku tidak sengaja menemukannya dalam keadaan pingsan sewaktu pulang dari perjalanan wisata ke Nature Park."
Andrew tidak mendengarkan jawaban Seanna. Ia justru lebih fokus menatap pria di belakang sang kekasih. Buru-buru ia menarik pria itu agar menjauh dari Seanna dan menatapnya dengan sinis.
Pria asing ini memiliki fitur wajah yang sangat sempurna. Rahang tegas, alis tebal, hidung mancung dan mata biru seperti gambaran para dewa Yunani. Dan yang paling membuat panas hati, postur tubuh pria ini lebih tegap dan tinggi daripada dirinya. Bisa dikatakan pria yang ditemukan Seanna memiliki ketampanan di atas rata-rata.
"Haruskah kamu membawanya pulang?" tanya Andrew dengan mata melotot. Dia khawatir bila Seanna akan berpaling darinya karena tersihir oleh kesempurnaan fisik pria ini.
"Dokter mengatakan kalau dia terkena amnesia. Dia tidak bisa mengingat apa pun, termasuk namanya sendiri, dan menangis terus seperti anak kecil. Karena kasihan, aku membawanya pulang, tetapi aku berjanji ini hanya untuk sementara, Sayang," jelas Seanna.
Andrew bersedekap sambil melayangkan tatapan tajam kepada pria itu.
"Mengapa tidak kamu bawa saja dia ke kantor polisi? Sudah pasti polisi akan membantunya bertemu dengan keluarganya. Atau jangan-jangan kalian pernah memiliki hubungan istimewa di belakangku?" tuduh Andrew. Hatinya terbakar oleh api cemburu yang kian membara.
Tuduhan sepihak yang dilayangkan Andrew, membuat Seanna tersinggung. Dia tidak menyangka bila Andrew akan meragukan kesetiaannya.
"Andrew, aku tidak memiliki hubungan apa pun dengannya. Aku mengajaknya pulang semata-mata karena rasa kemanusiaan, tidak lebih dari itu," jawab Seanna membela diri.
Mendengar perdebatan yang berlangsung antara Seanna dan Andrew, pria amnesia itu nampak semakin ketakutan.
"Maaf, Sayang, aku hanya tidak suka kamu dekat dengan pria lain selain aku. Lebih baik kita membawanya ke kantor polisi sekarang."
Andrew menarik paksa pria itu ke dalam mobil tua milik Seanna yang terparkir di halaman. Seanna pun terpaksa menuruti kemauan Andrew, karena tak ingin merusak pertemuan romantis mereka. Dia membiarkan Andrew mengemudikan mobil, sedangkan dia sendiri duduk di samping kekasihnya itu.
Di kursi penumpang bagian tengah, sang pria amnesia duduk sendirian. Dia terus bergerak gelisah sambil sesekali menatap ke arah jendela mobil.
Andrew melajukan mobil Seanna menuju ke kantor polisi. Namun baru sampai di pertengahan jalan, pria itu tiba-tiba menangis dengan suara nyaring. Seanna dan Andrew spontan menengok ke belakang.
"Hey, kenapa kau menangis?" sentak Andrew. Ia jengah melihat pria dewasa yang cengeng layaknya anak kecil berusia lima tahun.
"Aku tidak mau bertemu polisi, aku ingin tinggal saja di rumah Angel," rengeknya.
"Sayang, kamu lihat sendiri bagaimana kondisinya. Batalkan saja niat kita ke kantor polisi. Percayalah, dia tidak akan berbuat macam-macam karena dia merasa masih anak-anak," bujuk Seanna meyakinkan Andrew.
Seanna kemudian menoleh seraya mengulurkan selembar tissue kepada lelaki itu.
"Berhentilah menangis, kamu boleh tinggal di rumahku."
Mendengar perkataan Seanna, pria itu langsung berhenti menangis, sebaliknya paras Andrew malah segelap langit mendung. Dengan gampangnya Seanna memberi kebebasan pada pria asing untuk tinggal di rumahnya.
"Kenapa kamu semudah ini membiarkan orang asing masuk ke rumahmu?" protes Andrew tidak suka dengan keputusan Seanna.
"Karena aku tidak mungkin membiarkannya berkeliaran di jalan. Jangan cemas, Sayang, aku tidak akan membuatmu kecewa," tutur Seanna tersenyum. Dia berusaha keras meminta kepercayaan dari Andrew.
"Baiklah, ayo kita kembali pulang," jawab Andrew terpaksa mengalah. Sambil memegang setir kemudi, Andrew menimbang kembali keputusannya. Apakah baik jika pria asing ini tinggal seatap dengan Seanna? Bagaimana jika dia nanti menggoda Seanna agar jatuh ke pelukannya?
***
"Aku lapar, aku ingin makan. Aku sangat lapar," rengek pria itu setibanya mereka di rumah.
Andrew menggertakkan giginya karena geram. Pria ini sungguh tidak tahu diri. Sudah menumpang hidup, masih saja berani meminta makanan secara gratis.
"Iya, aku akan memasak makanan untukmu."
"Sayang, biarkan saja. Kalau kamu menuruti permintaannya, dia akan besar kepala dan berbuat seenaknya,” tegur Andrew kepada Seanna.
"Aku memang akan memasak untuk makan malam kita semua, Sayang. Tunggu di sini, aku akan segera kembali," ucap Seanna mengecup singkat pipi Andrew.
Ketika Seanna berjalan ke dapur, pria amnesia itu tiba-tiba mengikutinya dari belakang. Sepertinya ia tidak mau berpisah semenit pun dari Seanna.
“Kenapa kamu ke sini? Tunggu saja di depan bersama Andrew,” ucap Seanna terkejut.
“A-aku takut, Anna. Bagaimana kalau Andrew menanyakan namaku? Aku sama sekali tidak ingat,” keluh pria itu sembari mencebikkan bibirnya.
Seanna berpikir sebentar lantas menyebutkan sebuah nama yang tiba-tiba terlintas di benaknya.
“Bagaimana kalau aku memberimu nama “Noah”? Kalau tidak salah, aku pernah memiliki teman bermain yang bernama Noah. Hanya saja aku lupa bagaimana wajahnya,” kata Seanna.
Seutas senyuman terbit di bibir pria amnesia itu. Nampaknya dia sangat menyukai nama baru yang diberikan oleh Seanna.
“Baiklah, aku sudah punya nama. Namaku adalah Noah,” gumamnya sembari berbalik arah menuju ke ruang tamu.
Pria itu pun melangkah ke ruang tamu sambil mendendangkan sebuah lagu anak-anak. Begitu dia duduk di sofa, Andrew langsung melayangkan tatapan setajam belati. Kekasih Seanna tersebut merasa sangat geram dengan kehadiran pria lain di hadapannya.
"Hey, kau pasti punya nama, kan. Siapa namamu? Kalau kau tidak mengatakannya, aku akan memukulmu sampai babak belur!" bentak Andrew.
"Jangan! Namaku...Noah," jawab pria itu dengan segera. Ia merasa lega karena sudah meminta nama kepada Seanna.
Andrew mencodongkan tubuhnya ke depan seraya mencengkeram bahu pria itu.
"Dengar, Noah, kau jangan berbuat macam-macam dengan Seanna. Aku melarangmu untuk merengek dan manja kepada Seanna karena dia adalah wanitaku. Mengerti?" ancam Andrew.
"Dan juga aku akan mengawasimu! Aku yakin kau hanya berpura-pura amnesia," lanjut Andrew dengan telunjuk yang mengacung ke hidung Noah.
Andrew baru berhenti mengancam tatkala Seanna berjalan keluar dari dapur. Dia membawa sup jamur dan ayam panggang buatannya sebagai menu makan mereka. Seanna menghidangkan hasil masakannya dan duduk bergabung dengan kedua pria itu.
"Ayo, kita makan."
“Asyik, makan, aku sangat lapar," ujar Noah dengan gembira.
Melihat Noah yang kegirangan, Andrew merasa semakin kesal hingga dia tidak berselera untuk makan.
"Andrew, kamu juga harus makan," ujar Seanna mengalihkan pandangan kepada sang kekasih.
"Aku belum lapar. Anna, pria ini ternyata ingat siapa namanya. Dia mengatakan namanya Noah."
Seanna hanya mengulas senyum, karena nama tersebut dia yang memberikan. Namun, Seanna tidak mengatakannya kepada Andrew agar sang kekasih tidak salah paham.
"Anna, aku harus pulang sekarang. Ada pekerjaan penting yang harus aku selesaikan di rumah,” ujar Andrew tiba-tiba.
"Kamu tidak ingin makan dulu, Sayang?" tanya Seanna kecewa.
“Aku sedang terburu-buru, Sayang, tetapi aku janji besok kita akan makan malam bersama. Aku akan menjemputmu jam tujuh."
"Baiklah, aku akan menunggumu," jawab Seanna mengalah.
"Kamu harus berhati-hati dengan pria amnesia itu. Aku tidak mau dia mencuri-curi kesempatan untuk menyentuhmu."
Seanna hanya terkekeh melihat Andrew yang sangat posesif terhadap dirinya. Wanita muda itu yakin bila Andrew bersikap demikian lantaran memiliki rasa cinta yang besar.
"Noah itu sama seperti anak laki-laki yang berpikiran polos. Kamu tidak perlu cemas secara berlebihan, Andrew. Lagi pula di sini juga ada Mommy yang akan menjagaku,” ucap Seanna meyakinkan sang kekasih.
"Sampai jumpa besok, Baby," pamit Andrew kembali mencium bibir Seanna.
Seanna mengantar Andrew ke pintu, lalu masuk ke rumah untuk menemani Noah. Hanya selisih beberapa menit dari kepergian Andrew, Julie pun pulang ke rumahnya.
"Angel, aku ingin mandi lalu pergi tidur, aku sangat mengantuk," keluh Noah.
Julie yang baru masuk rumah langsung terkejut mendengar seseorang memanggil Seanna dengan sebutan Angel.
‘Astaga, bagaimana ini bisa terjadi? Siapa pria yang makan bersama Seanna itu? Jangan-jangan dia ada kaitannya dengan masa kecil putriku,’ gumam Julie dengan wajah pucat.