Pengkhianatan Cinta (Part 2)

1481 Kata
Di dalam kamar hotel yang dingin, tampak seorang pria sedang memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Ia terlihat puas setelah melakukan aktivitas panas dengan wanitanya. Bahkan mereka mengulangnya hingga tiga kali. Sementara sang wanita yang hanya berbalut selimut bergegas turun dari tempat tidur. Ia memeluk tubuh pria itu dari belakang seolah takut kehilangan. “Andrew, jangan tinggalkan aku. Aku masih ingin berlama-lama denganmu, Baby. Aku bisa memberimu kenikmatan lagi jika kamu mau,” ucap Gina dengan manja. Andrew melepaskan tangan Gina yang melingkar di pinggangnya dengan kasar. Ia menatap kekasih gelapnya itu dengan pandangan meremehkan. “Lepaskan aku! Sudah cukup kebersamaan kita hari ini,” sentak Andrew kepada Gina. “Sayang, biasanya kamu selalu meminta lebih kepadaku saat kita di Boston.” “Itu dulu, Gina. Sekarang aku sudah kembali ke Kansas dan akan menikahi Seanna. Dan hari ini adalah hari terakhir hubungan kita,” tegas Andrew. Bulir air mata jatuh di pipi Gina. Ia tidak terima bila Andrew membuangnya begitu saja setelah mereka kerap kali berhubungan badan. “Andrew, batalkan saja rencana pernikahanmu. Aku ingin kita bersama selamanya,” rengek Gina. Andrew mulai geram dengan tingkah menjengkelkan yang diperlihatkan Gina. “Gina, dari awal kita menjalin hubungan aku sudah berkata terus terang kepadamu. Hubungan kita hanya sebatas urusan ranjang, tidak lebih. Kita melakukan ini atas dasar suka sama suka. Aku butuh menyalurkan hasratku karena Seanna belum mau disentuh, sedangkan kamu adalah gadis yang kesepian. Namun setelah aku melamar Seanna, hubungan kita berakhir. Kamu harus menjauhiku karena aku akan menikah wanita baik-baik,” tegas Andrew. “Kamu tidak bisa memperlakukan aku seenaknya, Andrew. Aku ini bukan wanita bayaran,” isak Gina. “Terserah, aku harus pergi sekarang.” Andrew pun meninggalkan Gina yang menangis sesenggukan di dalam kamar hotel. Kebencian dan api dendam menyala di hati Gina. Ia sungguh tak terima atas penghinaan yang dilakukan Andrew kepadanya. 'Kau sungguh pria kurang ajar, Andrew. Aku tidak akan membiarkanmu mencampakkan aku seperti sampah. Tunggu saja pembalasanku,’ gumam Gina. *** Jam pelajaran telah usia. Semua anak-anak berhamburan keluar dari dalam kelas untuk pulang ke rumah mereka masing-masing. Noah menunggu Seanna di depan gerbang sekolah. “Anna!” panggil Noah dengan ceria. Ia melihat mobil Seanna mendekat ke arahnya. “Noah, naiklah,” ajak Seanna membuka jendela. Noah tersenyum senang. Dia bergegas masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Seanna. Sepanjang jalan, Seanna hanya menatap lurus ke depan. Pikirannya sedang berkelana mencemaskan rumahnya sekaligus Andrew yang hari ini bersikap aneh. “Anna, apa kamu masih sedih?” tanya Noah yang bingung. “Tidak, aku hanya sedang kesal dan kelelahan saja.” “Apa kamu mau bercerita kepadaku? Siapa yang membuatmu kesal? Kalau aku bertemu dengannya, aku pasti akan memukulnya,” celoteh Noah. “Terima kasih, Noah, tetapi aku melarangmu berkelahi. Anak-anak harus bersikap baik dan mau memaafkan orang lain.” “Kalau orang dewasa, bagaimana?” tanya Noah. “Sama saja. Kita harus memaafkan orang yang bersalah kepada kita. Mungkin awalnya kita marah tetapi kita tidak boleh menyimpan dendam terlalu lama. Mengerti?” “Iya, Anna,” jawab Noah manggut-manggut. Seanna terus memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Ketika sudah sampai di halaman rumah, Seanna terkejut setengah mati saat melihat Lucas dan anak buahnya sudah berada di dalam rumah. Apalagi mereka sedang mengangkut barang-barang dan perabotan ke atas truk. “Tolong hentikan semua ini!” teriak Seanna. Seanna buru-buru berlari ke rumahnya. Ia melihat Julie menangis tersedu-sedu sambil bersimpuh di lantai. Seanna langsung membangunkan Julie dan memeluknya. “Mom, tenanglah, aku ada disini,” ujar Seanna menguatkan hati Julie. Ketiga anak buah beserta Lucas menatap Seanna dengan sinis. Mereka terus saja mengeluarkan barang milik Julie dan Seanna. “Tuan Lucas, saya mohon, kasihani kami. Jangan usir kami dari rumah. Berikan saya sedikit waktu lagi untuk melunasi pinjaman ibu saya.” Seanna merendahkan harga dirinya dengan berlutut di hadapan rentenir itu. “Tidak bisa! Utang ibumu sudah berkali-kali lipat jika ditambahkan dengan bunganya. Aku harus menjual rumah ini,” sentak Lucas. “Tuan, ambil saja mobil dan sepeda saya,” pinta Seanna. “Cih, untuk apa aku mengambil mobil tua. Dijual saja tidak akan laku. Jangan merengek lagi kepadaku karena batas waktu yang kuberikan sudah habis.” Lucas berjalan melewati Seanna dan Julie lalu memberikan instruksi kepada para anak buahnya. “Angkut semua barang-barang mereka dan pastikan mereka meninggalkan rumah ini!” “Baik, Tuan,” jawab mereka menganggukkan kepala. Dengan wajah angkuhnya, Lucas pergi meninggalkan rumah Seanna. Selepas kepergian Lucas, ketiga anak buahnya melanjutkan tugas mereka. Tanpa basa-basi, mereka membawa barang-barang yang masih ada. “Jangan ambil ini, Tuan.” Julie berusaha merebut lukisan yang dibawa oleh salah satu anak buah Lucas. Lukisan itu sangat berharga karena merupakan hasil karya suaminya. “Lepaskan tanganmu, Nyonya. Atau aku tidak akan segan bertindak kasar!” ancam pria bertato itu. Karena Julie terus menahan lengannya, pria itu mendorong tubuh Julie hingga membentur ke dinding. Seanna tidak terima melihat ibunya diperlakukan secara kasar. Dia langsung maju ke depan untuk membela Julie. “Jangan berani berbuat kasar pada wanita. Jika kamu hendak mengambil lukisan ini, maka aku akan melaporkanmu ke polisi,” tantang Seanna. “Kau pikir aku takut dengan gertakanmu, Nona? Jawabannya tidak sama sekali. Minggir!” bentak pria itu. “Tidak akan!” balas Seanna. Tarik-menarik pun terjadi antara Seanna dan anak buah Lucas. Namun karena Seanna kalah tenaga, ia hampir saja kalah. Karena Seanna pantang menyerah, pria itu tersulut emosi. Ia melayangkan tangan untuk memukul Seanna. Beruntung di saat genting itu, Noah datang membantu Seanna. Dengan lengan kanannya, Noah menangkis tangan pria itu sebelum mengenai Seanna. Tindakan Noah membuat Seanna tercengang. Dia tidak percaya bahwa Noah mampu menahan serangan pria berotot itu dengan mudahnya. “Hebat, Noah,” puji Seanna yang masih terkejut. Noah semakin bersemangat karena mendapat pujian dari Seanna. Dengan gerakan tak terduga, Noah memelintir tangan pria itu sampai mengaduh kesakitan. Kemudian ia meninju pria itu berulang kali. “Siapa yang berani melawanku, kalian majulah penjahat! Aku akan menghadapi kalian semua. Aku ini pahlawan super,” tantang Noah. Kedua pria lainnya merasa tertantang oleh ledekan Noah. Mereka tidak akan membiarkan pria aneh ini menang melawan mereka. “Ayo kemari, lawan aku!” ujar Noah tak kenal rasa takut. Seanna menarik tangan Noah dan menahannya. Ia tidak mau Noah terluka lebih parah dari sebelumnya. “Noah, jangan berkelahi lagi. Mereka sangat berbahaya. Kamu tidak akan bisa menghadapi mereka sendirian. Kumohon jangan melakukan sesuatu yang akan merugikan dirimu sendiri,” ucap Seanna mengingatkan Noah. “Anna, tenanglah. Aku ini pintar mengalahkan penjahat. Aku akan melumpuhkan mereka,” ujarnya dengan percaya diri. “Hei bodoh, cepat hadapi kami! Jangan banyak bicara,” ejek salah seorang pria. “Kau sebenarnya lemah tetapi berpura-pura berani. Tingkahmu saja seperti anak kecil. Apa kamu mengalami gangguan mental?” tambah anak buah Lucas yang lain. Mendengar cemooh dari kedua pria itu, Noah pun memasang kuda-kuda lalu mengepalkan kedua tangannya. Julie yang menyaksikan hanya diam tercengang melihat keberanian Noah. “Noah, sudah, jangan dengarkan mereka,” ucap Seanna cemas. “Aku tidak akan membiarkanmu terluka. Serahkan semuannya padaku, Anna,” ujar Noah. Kedua pria itu langsung maju ke depan untuk menyerbu Noah. Seanna yang ketakutan hanya bisa menutup kedua matanya. “Aku tdak akan kalah. Akan aku buktikan kalau aku bisa menang melawan kalian semua,” seru Noah. Perkelahian pun dimulai. Kedua pria itu menyerang Noah secara bergantian. Namun dengan gesit, Noah bisa menepis serangan mereka. Noah selalu bisa menghindar. “Serang balik kalau kamu bisa,” tantang mereka. “Baik, jika aku menang kalian harus meninggalkan rumah Anna. Rasakan ini!” Dengan tiba-tiba Noah membuat tendangan berputar layaknya seorang jagoan bela diri. Kedua anak buah Lucas itu terkejut. Mereka langsung terjatuh karena mendapat tendangan keras dari Noah. Salah seorang pria terbangun lagi dan hendak melayangkan bogem mentah. Namun lagi-lagi Noah melancarkan tendangan mautnya tepat mengenai perut pria itu. “Buukkk!” Pria itu kesakitan dan terjerembap di lantai. Seanna dan Julie sampai melongo melihat kehebatan Noah. Ia sangat cocok menjadi atlet taekwondo atau karate profesional. “Hore, aku berhasil! Lihatlah, aku mengalahkan mereka, Anna,” pekik Noah kegirangan. Seanna masih seperti orang linglung. Ia baru sadar ketika Noah memeluknya dengan erat. “Noah, terima kasih,” tutur Seanna terbata. Julie pun tidak dapat menyembunyikan rasa senangnya. Ternyata pilihan Seanna untuk merawat Noah tidaklah keliru. Pria yang mirip anak kecil ini bisa menyelamatkan mereka dari kekejaman Lucas dan anak buahnya. Melihat semua bodyguard tersebut terkapar di lantai, Julie bergegas mengambil lukisan kesayangannya. Bagaimanapun ia harus menyimpan benda berharga ini. “Aunty, biarkan aku membantumu,” ujar Noah. Noah pun membantu Julie membawa lukisan tersebut ke dalam rumah. Namun salah satu pria itu mendadak bangun. Dengan ekspresi wajah penuh dendam, dia berjalan ke pekarangan untuk mengambil sebuah batu besar. Menggunakan sisa tenaganya, pria itu melemparkan batu tersebut ke kepala Noah. “Matilah kau!” seru pria itu seperti orang kesetanan. Seanna yang melihat gerakan pria itu berteriak kencang untuk memperingatkan Noah. “Awas, Noah!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN