Jangan Tinggalkan Aku, Noah!

2187 Kata
Belum sempat menghindar, batu tersebut tepat mengenai kepala Noah. Pandangan Noah seketika membuyar dan berkunang-kunang. Dalam hitungan detik, ia terhuyung lalu roboh ke tanah. Darah segar mulai mengucur dari luka di kepalanya. Noah merasakan dunia di sekelilingnya berputar layaknya spiral. Matanya berkunang-kunang hingga akhirnya dia tidak sadarkan diri. “Noah!” teriak Seanna histeris. Seanna berlari dan langsung memeluk tubuh Noah. Ia meletakkan Noah yang sudah pingsan di pangkuannya. “Noah, bangunlah. Jangan tinggalkan aku,” pinta Seanna sambil terisak. Julie yang melihat kejadian itu langsung mengambil balok kayu di dekat pintu. Ia mengacungkan balok itu ke depan seraya mengancam anak buah Lucas. “Pergi dari rumahku sekarang! Kalian pergi atau aku akan melaporkan kalian semua kepada polisi karena sudah mencelakai Noah. Kalian pasti akan mendekam di penjara!” ancam Julie. “Jangan laporkan kami kepada polisi. Ayo cepat pergi dari sini!” ajak salah satu pria itu. Dengan langkah terseok-seok, ketiga pria yang sudah babak belur itu meninggalkan rumah Seanna. Julie buru-buru mengambil barang-barangnya lalu memasukkannya lagi ke rumah. Sementara Seanna masih dalam keadaan panik. Dia menangis tersedu-sedu, Seanna memeluk tubuh Noah dan mengelap darah yang keluar dari dahi pria itu. Julie yang melihat kondisi Noah juga merasa bersalah. Noah tak henti-hentinya terluka padahal pria itu masih mengalami amnesia. “Seanna, kita harus membawa Noah ke rumah sakit. Nyawanya harus ditolong.” “Iya, Mom, aku tidak mau terjadi hal buruk pada Noah.” Julie dan Seanna bekerja sama mengangkat tubuh Noah ke dalam mobil. Selanjutnya, Seanna mengangkat kepala Noah dengan hati-hati untuk tidur di pangkuannya. Ia tidak peduli jika roknya kotor dan basah karena terkena darah pria itu. Julie mengemudikan mobil dengan perasaan cemas. Ia berusaha mencari jalan alternatif supaya mereka cepat sampai di rumah sakit. Sesekali ia juga melihat dari spion kondisi Noah yang tidak kunjung sadar. Seanna terus menggenggam tangan Noah. Di tengah menuju rumah sakit, ponsel Seanna berdering. Melihat nama Andrew di layar ponselnya, Seanna bergegas mengangkat panggilan itu. “Halo, Andrew,” jawab Seanna lesu. “Halo. Sayang, sore ini aku ingin mengajakmu pergi denganku untuk menyebarkan undangan pernikahan kita. Aku sedang dalam perjalanan ke rumahmu.” Seanna tersentak mendengar ajakan Andrew. Pria yang dicintainya itu tidak ada ketika sedang dibutuhkan. Namun, sekarang tiba-tiba dia muncul dan mengajaknya untuk menyebarkan undangan. “Sekarang?” tanya Seanna. “Iya, Sayang. Semua undangan sudah selesai dicetak dan kita harus membagikannya kepada para tetangga, teman, dan saudara kita,” ujar Andrew dengan sedikit penekanan. Seanna merasa bingung dengan situasi yang mengharuskannya untuk memilih. “Maafkan aku, Andrew, aku tidak bisa ikut denganmu. Aku harus pergi ke rumah sakit untuk menolong Noah. Nyawanya sedang dalam bahaya,” ujar Seanna berterus terang. Darah Andrew berdesir hebat saat mendengar penolakan dari Seanna. “Kamu menolak ajakanku dan memilih Noah? Apa lagi yang terjadi pada pria bodoh itu, hah?! Kerjanya hanya menyusahkan orang,” maki Andrew. “Bukan begitu, Andrew. Noah sudah menyelamatkan aku dan ibuku. Dia berkelahi dengan anak buah Tuan Lucas sampai kepalanya terkena batu. Sekarang dia pingsan dan kepalanya berdarah. Aku takut Noah tidak bisa bertahan,” jelas Seanna dengan mata berkaca-kaca. “Kamu selalu saja berlebihan terhadap Noah. Namun terhadap pernikahan kita kamu malah menyepelekannya, Anna.” “Andrew, Noah itu berjasa besar kepadaku. Kalau bukan dia, siapa lagi yang menolongku. Aku sudah minta bantuanmu tadi, tetapi kamu tidak menghiraukan masalahku,” ketus Seanna. Lama-lama ia merasa jengkel dengan keegoisan Andrew. “Seanna, sudah kubilang aku sedang sibuk dengan pekerjaan. Mana aku tahu kalau rentenir itu benar-benar datang ke rumahmu. Kamu juga tidak mengabariku lagi. Sekarang aku minta kamu pulang. Kita tidak bisa main-main lagi dengan persiapan pernikahan kita,” sentak Andrew. “Maafkan aku, Andrew. Aku tidak bisa ikut menyebarkan undangan denganmu hari ini. Aku sedang dalam perjalanan membawa Noah ke rumah sakit,” tolak Seanna untuk kedua kalinya. “Sekali lagi aku tanya, kamu pilih aku atau Noah?!” bentak Andrew dipenuhi rasa cemburu. Mendengarkan pertanyaan Andrew, hati Seanna berdenyut nyeri. Andrew tidak bisa memahami kepanikannya saat ini. Ia justru memperkeruh suasana dan membuat permasalahan yang kecil menjadi besar. “Aku tidak bisa meninggalkan Noah. Aku harus ke rumah sakit,” jawab Seanna tanpa keraguan. “Jadi kamu memilih Noah. Baiklah, jangan salahkan aku bila pernikahan kita yang akan terancam, Seanna!” Andrew langsung mematikan teleponnya secara sepihak. Seanna hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia mulai ragu apakah Andrew adalah pria yang tepat untuk menjadi suaminya, pendampingnya seumur hidup. “Ada apa, Anna?” tanya Julie melihat wajah putrinya yang resah. “Andrew tiba-tiba mengajakku menyebarkan undangan, Mom. Dia memaksa aku meninggalkan Noah. Padahal, tadi siang aku lebih dulu memberitahunya soal ancaman Tuan Lucas, tetapi dia tidak peduli. Sekarang dia menyalahkan aku karena mengutamakan keselamatan Noah,” jelas Seanna menghela napasnya. “Anna, mungkin Andrew hanya sedang sensitif. Calon pengantin memang terkadang begitu. Nanti kita jelaskan padanya pelan-pelan.” Sesampainya di rumah sakit, Noah langsung dilarikan ke bagian IGD. Dokter jaga dan beberapa perawat segera mengecek kondisi Noah. “Mom, aku berharap Noah segera sadar. Semoga kondisinya tidak kritis,” ujar Seanna penuh harap. Ia dan Julie menunggu hasil pemeriksaan Noah di luar ruangan. Dokter yang sudah selesai melakukan pemeriksaan kepada Noah bergegas keluar menemui Seanna. “Bagaimana kondisi Noah, Dok?” tanya Seanna panik. “Pasien harus segera menjalani operasi karena bagian belakang kepalanya ada luka sobek. Luka itu harus dijahit untuk menghentikan pendarahan,” jelas dokter tersebut. “Baik, saya setuju untuk dilakukan operasi,” jawab Seanna spontan. Ia tidak lagi memikirkan biaya operasi yang pastinya akan mahal. Bagi Seanna yang terpenting adalah keselamatan Noah. “Nona, operasi ini memiliki resiko yang tinggi mengingat catatan medis pasien yang baru saja mengalami kecelakaan. Apalagi dia menderita amnesia. Doakan saja yang terbaik bagi pasien,” lanjut dokter itu. “Iya, Dok, saya mengerti,” jawab Seanna sedih. Usai mendapat persetujuan operasi dari Seanna, Noah dibawa dengan ranjang beroda menuju ke ruang operasi. Seanna dan Julie mengikuti dari belakang. Mereka berdua setia menunggu berlangsungnya operasi dengan harap-harap cemas. Kurang lebih satu jam, Seanna terus memanjatkan doa. Melihat lampu ruangan operasi yang masih menyala, Seanna tahu bahwa Noah tengah berjuang antara hidup dan mati. ‘Tuhan, aku mohon selamatkan dia. Aku tidak ingin kehilangannya,’ batin Seanna pilu. Julie bisa melihat gurat kecemasan di raut wajah putrinya. Bukan hanya Seanna, tetapi dia sendiri pun ingin supaya Noah selamat. “Tenang saja, Anna, Noah pasti sembuh. Dia itu pria yang kuat. Penjahat saja bisa dia kalahkan apalagi luka seperti itu,” hibur Julie. *** Lama menunggu dalam ketidakpastian, lampu operasi akhirnya padam. Dokter pun keluar dari ruang operasi. “Dokter, bagaimana operasinya? Apa Noah selamat?’ tanya Seanna. “Operasinya berjalan lancar, Nona. Kita tinggal menunggu pasien sadar. Setelah itu kami akan melakukan observasi lagi,” ujar sang dokter. Seanna dan Julie pun menarik napas lega. Doa mereka untuk keselamatan Noah telah dikabulkan. “Apakah kami bisa menemui Noah sekarang?” tanya Seanna cemas “Bisa, Nona, pasien akan dipindahkan ke ruang transisi,” ujar dokter tersebut. Selepas dokter pergi, pintu ruang operasi terbuka. Dua orang perawat mendorong ranjang Noah untuk membawanya berpindah ruangan. Mata Noah masih terpejam rapat. Entah karena pengaruh obat bius atau karena ia memang belum sadar dari pingsan. Melihat Noah terbaring tak berdaya, Seanna menitikkan air mata. Ia mengikuti Noah sampai pria itu dimasukkan ke ruang transisi. Seanna duduk di kursi sambil menggenggam tangan Noah. Ia ingin Noah segera membuka mata lantas bermanja-manja kepada dirinya. Ia juga ingat bahwa Noah belum menagih dua hadiah darinya. “Seanna, lepaskan saja tangan Noah. Dia masih dalam pengaruh obat bius,” pinta Julie. Seanna mengangguk dan melepaskan tangan Noah. Ia tak bergeming sama sekali. Seanna bertekad akan menunggui Noah sampai dia sadar. Di sampingnya, Seanna melihat Julie yang terkantuk-kantuk. Ibunya yang sudah setengah baya itu pasti kelelahan menanggung semua peristiwa hari ini. “Lebih baik Mommy pulang ke rumah dan istirahat. Mommy kelihatan letih,” ucap Seanna. “Kamu tidak apa-apa sendirian menjaga Noah?” “Aku bisa sendiri, Mom. Nanti seandainya Andrew datang ke rumah, tolong jelaskan kepadanya mengenai kondisi Noah. Dia harus tahu alasannya kenapa aku menunggu Noah di rumah sakit. Andrew sudah salah paham kepadaku,” pinta Seanna. “Iya, Anna, aku akan menjelaskan bahwa kita berhutang budi kepada Noah. Kalau begitu aku pulang dulu. Jangan lupa makan dan istirahat, Anna. Aku tidak ingin kamu ikut sakit,” ujar Julie. “Kabari aku kalau Noah sudah sadar,” tambah Julie. *** ‘Noah, aku tidak akan membiarkanmu merampas Seanna. Aku tidak akan membiarkan siapapun memilikinya selain aku,’ geram Andrew mengeratkan giginya. Sepanjang jalan, Andrew terus merutuk. Ia marah kepada Seanna dan Noah secara bersamaan. Andrew pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia berencana akan menunggu kepulangan Seanna, lalu memaksanya ikut menyebarkan undangan. Andrew menghentikan mobilnya di pekarangan rumah Seanna. Rumah itu tampak sunyi seperti tak berpenghuni. Pastilah Seanna dan ibunya saat ini masih berada di rumah sakit. Andrew membuka pintu mobilnya dengan kasar. Ia tidak mengerti mengapa semua orang sangat mengistimewakan Noah. Padahal pria itu sangat bodoh dan tidak berguna. Noah sangat jauh levelnya bila dibandingkan dengan dirinya. Andrew mengedarkan matanya ke kanan dan kiri. Ia terpaksa duduk sendirian di depan teras sambil menunggu Seanna kembali. Ketika Andrew asyik memainkan ponselnya, mobil Seanna mendadak datang. Andrew mengira itu adalah Seanna, tetapi yang keluar dari mobil ternyata Julie. “Andrew, kamu menunggu Seanna?” sapa Julie. “Mom, kenapa Anna tidak pulang bersamamu?” tanya Andrew penuh selidik. “Seanna masih dirumah sakit menunggu Noah.” Paras Andrew menjadi merah padam. Seanna bahkan tidak pulang demi menjaga pria bernama Noah itu. “Seanna selalu saja mendewakan Noah,” gumam Andrew dengan nada tinggi. Melihat sorot kemarahan di mata Andrew, Julie segera memberikan penjelasan. “Andrew, kamu tidak perlu marah seperti ini. Alasan Seanna merawat Noah karena dia ingin balas budi. Noah telah menyelamatkan kami dari para bodygurad Lucas,” jelas Julie. “Aku tidak peduli, Mom. Aku merasa diabaikan Seanna gara-gara dia terlalu mengurusi pria asing itu. Seharusnya Seanna menjaga perasaanku. Tidak lama lagi kami akan menikah.” Kemarahan Andrew belum juga reda. Ia pergi ke mobilnya kemudian menyerahkan setumpuk undangan pernikahan kepada Julie. “Mom, urus semua undangan ini. Aku sudah tidak berminat untuk menyebarkannya. Tolong bantu aku!” perintah Andrew dengan nada marah. Julie kebingungan menerima setumpuk undangan tersebut. Baru kali ini dia melihat Andrew sangat marah kepada Seanna. “Aku akan pergi menyusul Seanna ke rumah sakit,” tegas Andrew. Julie yang mendengar keinginan Andrew langsung cemas. Dia khawatir akan terjadi pertengkaran hebat antara Andrew dan Seanna. Julie sungguh tidak mau rencana pernikahan putrinya berujung pada kegagalan. “Baiklah, Andrew, aku yang akan mengirimkan semua undangan ini. Namun, aku minta kamu jangan bertengkar dengan Seanna. Bicarakan semuanya dengan kepala dingin.” Andrew tak lagi menjawab. Ia bergegas masuk ke mobil dan melaju dengan kencang. Ia harus mencegah Seanna berduaan dengan Noah di rumah sakit. *** Seanna masih setia menunggu Noah. Ia memandangi wajah pria itu yang masih belum terbebas dari pengaruh obat bius.Jika dilihat dari dekat, wajah Noah sangat tampan. Ketika sedang mengamati Noah, jemari pria itu mendadak bergerak. Berikutnya kelopak matanya juga bergerak. Seanna pun beranjak untuk memanggil perawat. “Suster, jari tangan dan kelopak mata Noah sudah bergerak. Tolong periksa kondisinya,” pinta Seanna. “Baik, Nona, saya akan memeriksanya.” Perawat itu berjalan bersama Seanna menuju ruangan Noah. Saat mereka sampai, Noah sudah membuka matanya. Dengan kesadaran yang belum pulih sepenuhnya, ia menatap Seanna. “Anna,” panggil Noah. “Tuan, saya akan mengecek kondisi Anda,” ujar perawat. Perawat itu memeriksa bola mata Noah. Setelahnya ia melakukan pengecekan pada tekanan darah dan detak jantung Noah. Semuanya terpantau normal. “Bagaimana, Suster?” tanya Seanna cemas. “Kondisi pasien sudah membaik. Tidak ada reaksi alergi. Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang rawat.” “Terima kasih, Suster.” Perawat itu pergi dan tak lama kembali lagi dengan membawa rekannya. Mereka memindahkan Noah ke ranjang yang lain, kemudian membawanya ke ruang perawatan di lantai tiga. “Noah, bagaimana kondisimu sekarang?” tanya Seanna setelah mereka tinggal berdua saja. “Kepalaku sangat pusing. Aku ingin muntah, Anna,” keluh Noah. “Muntahkan saja, Noah, jangan ditahan.” Seanna segera mengambil baskom berukuran sedang yang tersedia di atas nakas. Ia mendekatkan baskom itu ke mulut Noah, lalu membiarkan Noah muntah. Sambil mengusap punggung Noah, Seanna membiarkan pria itu mengeluarkan sisa cairan obat bius dari tubuhnya. Melihat Noah sudah berhenti muntah, dengan telaten Seanna mengelap bibirnya dengan tissue. Kemudian ia membantu Noah berbaring di ranjang dengan hati-hati. “Terima kasih, Anna,” ucap Noah lirih. Entah mengapa Seanna merasa ada yang berbeda pada sinar mata Noah. Begitu pula dengan bahasa tubuh pria itu. Mungkinkah perubahan ini hanya sekadar perasaannya semata? “Anna, apa kamu menunggui aku sejak tadi?” tanya Noah. “Iya, aku juga mendoakanmu selama kamu dioperasi, Noah.” Noah menyunggingkan senyum di bibirnya yang pucat. Tiba-tiba saja ia menyentuh tangan Seanna dengan lembut. “Aku bahagia karena kamu peduli padaku,” ucapnya dengan tatapan redup. Pandangan Noah membuat hati Seanna bergetar. Lagi-lagi ia merasa Noah sangat berbeda dengan sebelumnya. Sorot mata dan tatapan syahdu ini bukanlah milik seorang anak laki-laki, melainkan milik seorang pria dewasa yang sedang jatuh cinta
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN