Gaun Pengantin

2471 Kata
Di saat yang bersamaan, Andrew telah tiba di depan kamar rawat Noah. Ketika membuka pintu, dia sangat terkejut melihat Noah menyentuh tangan Seanna. Sontak rahangnya menegang. Dengan langkah cepat, Andrew bergegas meluapkan amarahnya kepada Noah. “Noah, jauhkan tanganmu dari Seanna!” “Andrew?!” Seanna terkesiap melihat calon suaminya itu sudah ada di kamar Noah. Dengan kasar, Andrew menghempaskan tangan Noah yang masih lemah dari Seanna. “Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh calon istriku!” sentak Andrew. Tangan Noah langsung terkulai di atas ranjang. Seanna yang melihat tindakan kasar Andrew segera memberikan teguran. “Andrew, jangan bicara dan berbuat kasar pada Noah. Dia baru saja sadar usai menjalani operasi. Tubuhnya masih lemah dan belum pulih sepenuhnya.” Andrew mengepalkan kedua tangan. Api kebenciannya semakin berkobar, karena Seanna malah memarahinya demi membela Noah. “Diam Seanna! Jangan membela Noah di depanku. Kamu harus menghormatiku sebagai calon suamimu,” sentak Andrew pada Seanna. Baru kali ini Seanna mendengar Andrew membentaknya dengan kasar. Padahal, dia sekadar memberikan peringatan supaya Andrew tidak semakin memperparah keadaan Noah. “Aku hanya mengingatkanmu supaya tidak melukai orang yang sedang sakit, tetapi kamu malah membentakku. Aku tidak menyangka kamu sepicik ini, Andrew,” balas Seanna merasa kecewa. “Kamu mengatakan aku picik? Aku melihat pria kurang ajar ini menyentuh tanganmu dan kamu membiarkannya saja. Lalu aku harus diam melihat kalian berselingkuh, begitu?” tanya Andrew dengan mata nyalang. “Noah menyentuh tanganku untuk mengucapkan terima kasih. Tidak ada hubungan apa-apa di antara kami. Tega-teganya kamu menuduhku berselingkuh,” ujar Seanna. Hatinya sakit mendengar tuduhan sepihak dari Andrew. “Buktinya kamu lebih mementingkan pria ini daripada persiapan pernikahan kita. Apa kamu sadar bahwa pernikahan kita tinggal menghitung hari? Aku mengajakmu menyebarkan undangan, tetapi kamu memilih menemani Noah di rumah sakit,” sentak Andrew menyalahkan Seanna. Mata Seanna mulai dipenuhi cairan bening. Rasanya sulit dipercaya bahwa pria yang ada di hadapannya ini adalah Andrew. “Aku tidak bermaksud mengabaikan persiapan pernikahan kita, Andrew. Apa kamu tahu kalau Noah telah menolongku? Saat kamu tidak ada di sisiku, Noah telah mempertaruhkan nyawanya untuk membela aku dan Mommy. Dia bahkan bertarung dengan anak buah Tuan Lucas sampai terluka,” ujar Seanna dengan suara parau. “Baru segitu saja kamu sudah membanggakan Noah. Aku bisa berbuat lebih baik darinya berkali-kali lipat. Lagipula wajar jika Noah membantu kalian karena dia menumpang hidup di rumahmu,” balas Andrew tidak terima. Noah yang terus menatap pertengkaran itu merasa iba kepada Seanna. Karena membela dirinya, Seanna terus disudutkan oleh Andrew. Ingin sekali Noah memukul Andrew supaya berhenti membentak Seanna. Namun, ia sadar bahwa saat ini dirinya tengah terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Noah hanya bisa diam menyaksikan Seanna diperlakukan tidak adil oleh kekasihnya. Sungguh pria egois dan kasar seperti Andrew tidak pantas menikahi wanita sebaik Seanna. “Dengar, Anna, jika pernikahan kita sampai gagal, itu semua karena salahmu,” tambah Andrew. Melihat Seanna tak henti-hentinya disalahkan, Noah akhirnya angkat bicara. Ia nekat menyela perdebatan antara Seanna dan Andrew. “Anna, kamu pulang saja dengan Andrew. Kepalaku sudah tidak pusing lagi. Tidak masalah jika aku sendirian di rumah sakit ini,” ujar Noah. Noah memutuskan untuk merelakan Seanna pergi bersama Andrew. Dia tidak ingin hati Seanna terus tersakiti. “Bagaimana jika terjadi apa-apa denganmu, Noah?” tanya Seanna cemas. “Tidak akan ada hal buruk yang menimpaku. Lagipula ada dokter dan perawat yang akan menjaga aku di sini. Aku tidak akan sendirian, Anna. Kamu bisa pergi dengan Andrew,” jawab Noah meyakinkan Seanna. Ucapan Noah yang bijaksana membuat Seanna tercengang. Tutur bahasanya begitu indah bahkan terkesan lebih dewasa dari Andrew. Seanna semakin yakin bila Noah telah berubah. “Kau jangan sok dewasa!” bentak Andrew kepada Noah. Andrew merasa geram melihat tingkah Noah yang bersikap bijaksana di depan Seanna. Ia yakin pria amnesia ini sedang berusaha menarik perhatian calon istrinya dengan berbagai macam cara. Namun, Andrew segera memanfaatkan peluang emas ini untuk membawa Seanna pergi. “Anna, Noah mengatakan bahwa dia akan baik-baik saja bersama perawat dan dokter. Sekarang, ayo kita pulang,” ajak Andrew menarik tangan Seanna. Dengan sangat berat hati, Seanna pun setuju dengan Andrew. Dia terpaksa meninggalkan Noah sendirian untuk pergi mengurus persiapan pernikahannya. “Anna, setelah ini aku tidak akan membiarkanmu kembali dekat dengan Noah. Aku tahu selama ini dia berpura-pura bodoh supaya kamu bersimpati kepadanya. Kamu tidak boleh terhanyut oleh permainannya karena kamu akan menjadi istriku,” pinta Andrew sambil mengemudikan mobil. Seanna hanya diam saja. Tenaganya sudah habis untuk melanjutkan pertengkaran dengan Andrew. Kini yang ia cemaskan hanyalah kondisi kesehatan Noah. Melihat sikap dingin Seanna, Andrew merasa jengkel setengah mati. Namun, ia berusaha meredamnya sedapat mungkin sampai urusan mereka selesai. Mobil Andrew pun membawa Seanna pergi ke salon dan butik, tempat mereka akan memilih gaun pengantin. “Turunlah dulu, Anna. Kamu bisa memilih gaun pengantin kesukaanmu,” ucap Andrew melembutkan suaranya. Tanpa bicara, Seanna turun dari mobil. Ia melangkah ke salon megah berpintu kaca itu. Pemilik salon itu adalah Christie, perias dan perancang gaun pengantin yang juga berteman dengan Julie. Kedatangan Seanna langsung disambut hangat oleh Christie dan asistennya. “Selamat datang, Seanna. Kamu semakin cantik saja,” puji Christie. “Terima kasih, Nyonya.” “Halo, Andrew, senang bertemu denganmu lagi,” sapa Christie melihat Andrew menyusul di belakang Seanna. “Nyonya tolong bantu Anna memilih gaun yang paling bagus untuknya. Berapapun harganya tidak masalah untukku. Aku juga akan memilih tuxedo,” ucap Andrew menyombongkan diri. “Tentu saja, Andrew. Nancy, bantu Tuan Andrew memilih tuxedo,” perintah Christie kepada asistennya. Kemudian ia berbalik menggandeng tangan Seanna. “Seanna, ayo ikut aku. Aku punya koleksi gaun pengantin terbaru.” Seanna mengikuti Christie ke ruangan luas yang berisi gaun pengantin dari berbagai warna dan model. Christie menunjukkan gaun itu satu per satu. Namun, anehnya tidak ada yang menarik perhatian Seanna. “Kamu mau yang mana, Seanna? Yang terbuka begini atau yang tertutup di bagian punggung?” tanya Christie. Saat melihat gaun serba putih Seanna malah teringat dengan dongeng Snow White yang pernah dibacakannya untuk Noah. Entah mengapa dia merasa model gaun yang dipakai Snow White sangat cocok untuk hari pernikahannya. “Nyonya Christie, apa Anda punya gaun model klasik seperti gaun para putri dalam cerita dongeng?” tanya Seanna. Ia tidak peduli bila Christie menertawakan permintaannya yang terkesan konyol dan kekanak-kanakan. Tak disangka Christie justru menyambut keinginan Seanna dengan antusias. “Tentu saja ada, tunggu sebentar,” ujar Christie. Wanita itu masuk ke sebuah ruangan, kemudian muncul kembali dengan membawa gaun putih. Gaun itu panjang dengan model mengembang di bawah seperti kelopak bunga. Lengan gaun tersebut mekar dan dihiasi dengan renda putih. “Bagaimana dengan yang ini? Kamu mau coba, Anna?” tanya Christie. “Cantik sekali gaunnya, Nyonya,” puji Seanna terpukau. “Kalau begitu kita ke ruang fitting sekarang.” Christie menggiring Seanna ke dalam ruang fitting. Dengan bantuan para asisten Christie, Seanna berhasil mengenakan gaun yang indah itu. Ukurannya terlihat sangat pas di tubuh Seanna. “Wah, cocok sekali untukmu,” puji Christie terpesona. Seanna pun berputar sejenak untuk mengamati penampilannya di depan cermin. Di saat bersamaan, tirai yang menutupi ruang fitting tersibak dari luar. Seanna pun terkesiap tatkala melihat pantulan sosok seorang pria dari cermin. “Noah,” lirih Seanna. “Kamu benar-benar cantik, Seanna,” puji pria itu. Mendengar suara Andrew, Seanna baru tersadar bahwa pria yang memandangnya dari balik cermin bukanlah Noah. Seanna segera menepis pikirannya sendiri. Pada saat seperti ini semestinya ia berkonsentrasi kepada Andrew sebagai calon suaminya. Namun justru bayangan Noah yang selalu muncul di benaknya. Mungkinkah sosok Noah yang polos berhasil mencuri sebagian hatinya? Jika benar begitu, artinya apa yang dituduhkan Andrew telah menjadi kenyataan. Mungkinkah dia telah menduakan Andrew di dalam pikirannya. Tidak, dia tidak boleh mengingat pria mana pun selain Andrew. “Gaun ini sangat cocok untukmu, Sayang. Aku setuju jika kamu mengenakannya di hari pernikahan kita,” kata Andrew dengan tatapan kagum. Christie yang melihat kemunculan Andrew secara mendadak langsung menegur pria itu. “Andrew, alihkan pandanganmu sekarang dari Seanna. Tidak baik bagi seorang pengantin pria melihat calon istrinya mengenakan gaun pengantin sebelum hari pernikahan,” tegur Christie. Andrew malah terkekeh geli mendengar teguran dari mulut Christie. Ia menganggap Christie layaknya nenek tua yang sangat percaya pada takhayul. “Apa yang kamu katakan itu hanyalah takhayul yang tidak terbukti kebenarannya. Mana mungkin aku bisa mengalihkan pandanganku dari kecantikan Seanna,” bantah Andrew. Andrew pun berjalan mendekati Seanna. Dia hendak bertanya mengenai tuxedo yang akan dia kenakan, apakah cocok atau tidak. “Sayang, apakah tuxedo ini bagus untukku?” tanya Andrew seraya menunjukkan tuxedo hitam yang melekat di tubuhnya. “Bagus,” jawab Seanna singkat. Mendapat persetujuan dari Seanna, Andrew pun mantap untuk menjatuhkan pilihannya pada tuxedo tersebut. “Nyonya Christie, kalau begitu saya ambil gaun dan tuxedo ini. Saya akan membayarnya lunas sekarang,” kata Andrew. “Oke, Andrew. Asistenku akan membantumu melakukan pembayaran.” Dengan membusungkan d**a, Andrew berjalan menuju kasir. Ia ingin Seanna tahu bahwa ia adalah pria yang memiliki banyak uang. Tidak bisa dibandingkan dengan Noah yang bodoh dan tidak memiliki apa-apa. Setelah menyelesaikan urusan busana pernikahan, Andrew mengajak Seanna ke toko kue untuk memilih kue tart pernikahan mereka. Terakhir Andrew memilih hotel yang akan dipakai untuk menghabiskan bulan madu mereka. Di rumah, Julie sedang berkutat dengan setumpuk undangan pernikahan yang ditinggalkan Andrew. Para tamu yang diundang adalah tetangga, saudara, dan rekan kerja Seanna dan Andrew, termasuk juga para orang tua murid di sekolah Seanna. Untuk menyingkat waktu, Julie memutuskan mengirimkan sebagian undangan lewat pos. Sedangkan untuk tetangga sekitar rumah akan dia antarkan sendiri dengan berjalan kaki. Ketika sedang memilah undangan tersebut, Julie teringat bahwa Seanna tidak memiliki wali pengganti ayahnya. Padahal pengantin wanita harus diantarkan oleh ayah kandungnya untuk menemui pengantin pria. Ya, dia harus mencarikan seseorang yang tepat untuk menghantarkan Seanna ke altar. Sosok yang muncul di pikiran Julie adalah Levon. Pria paruh baya itu adalah sahabat baik Reagan, suaminya. Mereka telah berteman sejak kecil dan selalu saling mendukung. Bahkan Levon yang menjadi pendamping Reagan di hari pernikahannya dengan Julie. ‘Bagaimana kabar Levon. Sebaiknya aku berkunjung ke rumahnya dan meminta Levon menjadi wali Seanna,’ celetuk Julie. Dengan mengendarai mobil tuanya, Julie menuju ke rumah Levon yang berjarak lumayan jauh. Cukup lama ia tidak bertemu Levon setelah kematian Reagan. Julie tidak enak hati mengganggu Levon, karena pria itu disibukkan dengan usaha kafe dan toko kue miliknya. Sesampainya di rumah Levon, Julie langsung mengetuk pintu rumah pria tersebut. “Julie, tumben kamu datang mengunjungiku,” ujar Levon senang. Ia segera mempersilakan istri mendiang sahabatnya itu masuk. “Levon, aku ingin memberikan undangan pernikahan Seanna kepadamu.” Ujung alis Levon terangkat. Ia merasa terkejut sekaligus bahagia dengan berita pernikahan Seanna. “Seanna akan menikah?” tanya Levon. “Iya, aku juga ingin memintamu untuk menjadi pengganti ayah bagi Seanna di hari pernikahannya. Apa kamu bersedia, Levon?” tanya Julie penuh harap. Levon mengangguk senang dan langsung menyetujuinya. “Tentu saja aku bersedia. Aku akan menggantikan peran Reagan untuk membimbing Seanna ke altar,” ujar Levon. “Terima kasih banyak, Levon,” ujar Julie. “Tidak usah berterima kasih padaku. Ini sudah menjadi kewajibanku untuk mengurus Seanna seperti putriku sendiri.” Levon memperhatikan wajah Julie yang nampak kusut dan lelah. “Bagaimana dengan kondisi kehidupanmu sekarang, Julie?” tanya Levon. Julie menunduk sedih. Ia merasa Levon adalah orang yang tepat untuk berbagi cerita. “Aku sedang mengalami musibah, Levon. Sebenarnya ini akibat kesalahanku sendiri. Selama Reagan dirawat di rumah sakit, aku berhutang pada rentenir untuk membiayai pengobatannya. Rentenir itu bernama Tuan Lucas. Aku tidak bisa membayar lalu mencoba bermain judi. Nyatanya aku kalah dan utangku pada Tuan Lucas semakin banyak. Kemarin dia datang untuk menyita rumahku karena aku tidak sanggup melunasi pinjamanku,” terang Julie apa adanya. Levon sangat terkejut mendengar penuturan Julie. Ia tidak menyangka Julie akan terjerat oleh seorang rentenir berbahaya. “Astaga, Julie, kenapa kamu tidak meminta bantuanku saja dan malah meminjam uang kepada Lucas.” “Aku tidak ingin merepotkanmu, Levon.” “Aku tidak pernah merasa direpotkan. Lalu bagaimana denganmu dan Seanna? Apakah kalian terluka?” tanya Levon cemas. Julie pun menceritakan semua yang terjadi dengannya, termasuk Noah, pria amnesia yang dirawat Seanna. Noah yang telah berjasa mencegah perbuatan kejam Lucas dan anak buahnya. “Aku khawatir Lucas akan kembali untuk mengambil rumahku. Dan lagi aku dan Seanna masih harus menanggung biaya operasi dan perawatan Noah,” jelas Julie sedih. Melihat ekspresi wajah Julie yang begitu tertekan, Levon merasa iba. “Tenang saja, Julie. Aku akan membebaskanmu dari semua kesulitan keuanganmu. Aku akan menemui Lucas besok dan melunasi utangmu. Sedangkan biaya rumah sakit Noah, aku akan mentransfernya hari ini,” ujar Levon. Pria paruh baya itu berusaha untuk menghibur Julie agar tidak bersedih. “Aku juga berniat untuk menjual tanahku di Detroit dan akan menyerahkan hasil penjualannya kepadamu. Kamu bisa memakainya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tambah Levon dengan tulus. “Tidak, jangan seperti itu, Levon. Aku tidak mau menyusahkanmu,” tolak Julie. “Kamu jangan merasa berhutang budi padaku, Julie. Setelah Reagan meninggal, kamu dan Seanna adalah bagian dari tanggung jawabku,” bujuk Levon. “Biarkan aku membalas budi baik Reagan. Aku masih ingat bagaimana dia telah menolongku saat aku berada di ambang kebangkrutan. Dia juga yang telah membebaskan aku dari kecanduan alkohol dan menghibur hatiku yang hancur karena kepergian Kelly.” Bulir bening membasahi pipi Julie. Dia sangat terharu dengan niat baik Levon. “Suamiku begitu beruntung memiliki sahabat sebaik dirimu. Terima kasih banyak Levon,” ujar Julie menangis haru. Saat mereka sedang berbincang, seorang wanita muda membuka pintu. Dia memandang Julie dengan tatapan tidak suka. “Julie, perkenalkan ini Gina putriku. Dia baru saja pulang dari Boston. Selama ini dia bekerja sebagai staf di kantor pengacara di Boston,” ujar Levon. “Wah, Gina bekerja di kota yang sama dengan calon menantuku. Halo, Gina, aku Julie. Senang bisa melihatmu, kamu sangat cantik,” puji Julie tersenyum. Gina membalas dengan senyuman tipis. Melihat sebuah undangan di meja, tangannya pun meraih undangan tersebut. “Undangan siapa ini, Dad?” tanya Gina. “Undangan pernikahan, Seanna, anak Julie dan Reagan. Aku akan menjadi pendamping Seanna di hari pernikahannya,” jawab Levon. “Seanna?” ulang Gina. Tangannya mendadak gemetar. Dengan perasaan campur aduk, Gina membaca nama yang tertera di undangan tersebut. Hatinya remuk redam ketika mendapati nama Andrew sebagai calon mempelai pria. Tidak tahan dengan kenyataan pahit ini, Gina beranjak dan meninggalkan ayahnya bersama Julie. Gina mengurung dirinya di dalam kamar lalu menangis tersedu-sedu. “Sial!” teriak Gina histeris. Untuk melampiaskan rasa frustasinya, Gina mengobrak-abrik semua barang-barang di dalam kamarnya. “Andrew berengsek! Dia benar-benar membuangku!” umpat Gina mengacak rambutnya. Gina menjatuhkan dirinya di kasur sambil berurai air mata. Dalam kondisi patah hati, ia melihat kalender untuk memastikan tanggal pernikahan Andrew dan Seanna. Namun tanggal yang tertera justru mengingatkan Gina akan sesuatu. ‘Aku belum datang bulan sampai sekarang. Apa mungkin aku hamil anak Andrew?’ batin Gina sembari menggigit bibirnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN