Gina mengurung di dalam kamarnya sampai Julie berpamitan pulang. Setelah suara wanita itu tidak terdengar lagi, barulah Gina keluar dari kamar dan menemui ayahnya.
“Daddy,” panggil Gina.
“Ada apa, Gina? Kenapa kamu tadi tidak mau menemui Julie?” tanya Levon.
Gina menatap kedua mata ayahnya dengan tatapan mengintimidasi.
“Aku tidak menyukai wanita itu. Kenapa Daddy sangat dekat dengannya?” tanya Gina sinis.
“Julie adalah istri dari sahabatku, Reagan. Dia seorang janda yang sudah ditinggal mati suaminya. Mungkin kamu tidak terlalu mengenal Julie karena kamu dibesarkan oleh nenekmu,” jelas Levon.
Sejak kematian istrinya, Anna, Levon mengalami kecanduan minuman keras. Karena itu, Gina berada di bawah pengasuhan neneknya. Usai menjalani rehabilitasi, barulah Levon bisa bangkit kembali dan menata ulang kehidupannya.
“Lalu kenapa dia meminta Daddy mendampingi putrinya? Apa Daddy bersedia mengabulkan keinginan wanita itu?” tanya Gina.
“Iya. Daddy harus menjaga Julie dan Seanna. Sudah menjadi kewajiban Daddy untuk menemani Seanna di hari pernikahannya,” jelas Levon.
Gina yang mendengar hal itu semakin geram. Ayahnya tidak tahu sama sekali bahwa calon suami Seanna adalah pria yang sudah memanfaatkan tubuhnya. Namun, Gina tidak mungkin mengatakan hal itu sekarang kepada Levon.
“Daddy, aku mau pergi sebentar ke apotek,” pamit Gina.
“Apa kamu sedang sakit, Sweetheart?” tanya Levon langsung mengecek suhu tubuh putrinya.
“Tidak, Daddy, aku cuma mau membeli vitamin. Aku akan segera kembali.”
“Baiklah, hati-hati. Daddy harus menemui seseorang setelah ini.” Levon berniat ke rumah Lucas Carascado dan melunasi semua utang yang dimiliki Julie.
Gina mencium pipi Levon lantas masuk ke dalam mobilnya. Dia sudah bertekad untuk membeli test pack dan membuktikan sendiri apakah dia benar-benar hamil. Dengan begitu, dia akan memiliki bukti untuk meminta pertanggung jawaban Andrew.
‘Akan kubuktikan kepada semua orang bahwa aku hamil anaknya Andrew. Aku akan membuat pernikahan Seanna dan Andrew gagal,’ batin Gina mencengkeram setir mobilnya.
***
Dengan mengenakan rok dan blazer berwarna hitam, Angel mengunjungi kantor Tuan Fransisco. Di adalah pengacara kepercayaan Dylan semasa hidupnya.
“Selamat siang, Tuan Fransisco,” sapa Angel duduk di hadapan pengacara berwajah datar itu.
“Selamat siang, Nyonya White. Ada keperluan apa Anda mencari saya?” balas Fransisco dengan sopan.
“Tuan Fransisco, saya ingin bertanya tentang surat wasiat Dylan. Apakah dia telah menunjuk saya sebagai pewarisnya?” tanya Angel ingin tahu.
Pengacara tersebut berdehem kemudian membetulkan letak dasinya. Ia berusaha menjelaskan apa adanya supaya Angel tidak salah paham.
“Begini, Nyonya, Tuan Dylan tidak meninggalkan surat wasiat. Tetapi secara otomatis semua kekayaan Tuan Dylan akan jatuh di tangan Anda sebagai jandanya. Hanya Nyonya harus menunggu sampai surat kematian Tuan Dylan disahkan. Dan itu harus atas persetujuan walinya, Tuan Harold White,” jelas Fransisco.
Angel tersenyum getir. Pernyataan dari pengacara itu bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, ia lega karena harta milik Dylan akan jatuh di tangannya. Namun di sisi lain, Harold akan menjadi penghalang terbesarnya untuk menguasai harta Dylan.
“Terima kasih banyak, Tuan Fransisco. Tolong kabari saya jika surat kematian suami saya sudah disahkan,” ujar Angel sebelum beranjak pergi.
“Baik, Nyonya White.”
Keluar dari kantor pengacara tersebut, Angel kembali masuk ke dalam mobil. Tujuannya kini adalah membujuk Harold agar pria tua itu bersedia mengurus surat kematian Dylan.
“Tolong antar aku ke White Group,” pinta Angel kepada supirnya.
Angel tidak sabar untuk menguasai perusahaan sekaligus kekayaan Dylan yang melimpah ruah. Bila perlu dia akan menggantikan posisi Dylan sebagai CEO White Group.
Sesampainya di kantor White Group, Angel langsung menuju ke lantai sembilan untuk menemui Harold. Selama ini, Harold menjabat sebagai wakil CEO sekaligus penasehat Dylan.
“Siang, Paman, bagaimana kabarmu? “
“Aku baik,” jawab Harold singkat. Dia tahu Angel pasti memiliki maksud terselubung dengan datang menemuinya secara tiba-tiba.
“Paman, aku rasa sepeninggal Dylan, perusahaan ini kehilangan sosok pemimpin. Menurutku sebaiknya Paman segera mengadakan rapat dewan direksi untuk memilih CEO baru. Lebih cepat lebih baik."
Angel menyilangkan kedua kakinya sambil mencodongkan tubuh ke depan.
"Aku siap menggantikan Dylan untuk memimpin perusahaan ini. Aku janji akan membuat White Group lebih maju daripada sebelumnya,” ucap Angel penuh percaya diri.
Dia berusaha menunjukkan kemampuannya kepada Harold.
“Dengan dukungan penuh dari Paman, seluruh direksi dan karyawan White Group pasti akan menerimaku,“ bujuk Angel.
Harold langsung melengkungkan alisnya hingga menyerupai busur. Dia tidak menyangka Angel berani mencalonkan dirinya sendiri sebagai pengganti Dylan.
“Tidak bisa, Angel, kamu tidak layak menjadi CEO White Group,” bantah Harold dengan lantang.
Mendengar penolakan keras yang diucapkan Harold, Angel meradang.
“Kenapa aku tidak layak, Paman? Aku jandanya Dylan dan aku juga seorang lulusan arsitek,” tanya Angel tersinggung.
“Kamu tidak bisa menjadi CEO karena kamu tidak punya kapasitas untuk menduduki jabatan itu. Kemampuan dan pengalamanmu sangat jauh di bawah Dylan,” jelas Harold.
Dalam hati, Angel mengumpat Harold. Namun dia tahu bahwa Harold tidak bisa dilawan dengan kekerasan. Ia harus menemukan ide lain demi bisa menguasai perusahaan milik Dylan.
Tidak kehabisan akal, Angel mengusulkan nama lain yang mungkin akan membuat Harold setuju.
“Kalau begitu aku ingin Jake yang menggantikan posisi suamiku,” usul Angel.
Jake adalah sepupu Dylan dan juga keponakan kedua Harold. Ia yakin Harold akan menerima Jake sebagai CEO baru.
“Jake juga belum pantas menjadi CEO. Perusahaan sebesar White Group hanya bisa dipimpin oleh orang yang cerdas, bertanggung jawab dan pekerja keras seperti Dylan,” tukas Harold tak ingin dibantah.
Penolakan Harold membuat Angel semakin kesal. Percuma saja ia membujuk Harold karena pria tua ini sangat keras kepala.
“Baiklah, terserah Paman saja. Jangan menyesal jika perusahaan ini menjadi goyah karena tidak ada yang memimpin.”
Angel lantas keluar dari ruangan Harold tanpa berpamitan. Melihat Angel begitu bernafsu menjadi CEO, Harold semakin menaruh curiga. Firasatnya mengatakan bahwa ada yang tidak beres dengan kematian Dylan.
Harold ingin pergi ke Kansas untuk menyingkap misteri kecelakaan yang menimpa Dylan. Namun, niatnya masih tertunda karena ia belum menyelesaikan sengketa tanah yang terjadi di hotel Rosemary.
‘Setelah sengketa tanah itu selesai, aku akan ke Kansas untuk mencari jejak Dylan. Aku yakin firasatku tentang Dylan benar,' batin Harold.
Di Kansas, Seanna dan Andrew telah tiba di hotel tempat mereka akan berbulan madu.
“Apa kamu menyukainya, Anna? Kupikir hotel ini sesuai dengan keinginanmu,” ujar Andrew.
“Iya, hotelnya bagus,” jawab Seanna sambil tersenyum.
Entah mengapa Seanna tidak terlalu antusias melihat hotel mewah ini.
“Seanna, ayo kita masuk,” ajak Andrew.
“Selamat malam, Tuan dan Nyonya. Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya supervisor hotel menyambut mereka.
“Kami ingin memesan kamar special untuk bulan madu,” ujar Andrew dengan bangga.
“Baik, saya akan menunjukkan kamar mana saja yang bisa dipilih. Kebetulan sedang ada potongan harga khusus di bulan ini,” ujar supervisor tersebut.
Dia mengambil sebuah katalog dan memperlihatkan beberapa kamar dengan dekorasi romantis. Ada yang ranjangnya ditabur bunga mawar berbentuk hati. Ada pula yang selimutnya dibentuk menjadi sepasang angsa dan dikelilingi lilin-lilin kecil pada setiap sudut kamar.
“Semua ini adalah kamar VIP khusus untuk berbulan madu, Tuan.”
“Menurutmu, kamar mana yang cocok untuk kita, Sayang?” tanya Andrew kepada Seanna.
“Aku suka kamar dengan taburan bunga mawar,” jawab Seanna.
“Baiklah, Sayang, kita pesan kamar ini.”
Andrew tersenyum lebar. Dia sudah tidak sabar bermesraan dengan Seanna di malam pernikahannya nanti. Andrew akan menjadikan kamar hotel itu sebagai saksi bahwa ia telah memiliki Seanna seutuhnya.
***
Sepulang dari melakukan pemesanan kamar hotel, Seanna terus memikirkan keadaan Noah di rumah sakit. Dia begitu cemas karena tak ada orang yang menemani Noah. Meskipun memang ada dokter dan perawat, tetapi mereka tidak bisa melihat keadaan Noah selama 24 jam.
Andrew melirik ke arah Seanna yang melemparkan pandangan ke jendela sejak tadi.
“Baby, kenapa kamu melamun? Apa yang kamu pikirkan?” tanya Andrew.
“Tidak ada,” jawab Seanna.
“Benar, tidak ada? Jangan-jangan kamu merindukan si Noah bodoh itu?” tanya Andrew curiga.
“Tolong Andrew, jangan mulai lagi,” jawab Seanna sambil menghela napas.
Andrew memicingkan matanya sembari memberikan peringatan kepada Seanna.
“Kalau begitu kamu jangan pernah memikirkan pria lain. Nikmatilah waktu kebersamaan kita.”
“Aku sudah menuruti keinginanmu. Tolong berhenti cemburu kepada Noah.”
Setelah percakapan singkat itu, Seanna kembali bungkam sampai Andrew mengantarkannya pulang ke rumah.
“Terima kasih, Andrew,” ujar Seanna turun dari mobil.
“Tunggu, Baby, aku meminta salam perpisahan darimu.”
Andrew menunjuk bibir dan pipinya kepada Seanna. Walaupun enggan, Seanna mengecup singkat bibir dan pipi dari calon suaminya itu. Namun, Andrew justru membalas dengan ciuman yang lebih intens.
Seperti orang yang kesetanan, Andrew tidak mau berhenti sehingga Seanna mulai kehabisan napas. Ia pun melepaskan tautan bibir mereka.
“Anna, aku belum selesai,” protes Andrew.
“Maaf, Andrew, aku lelah. Aku ingin masuk ke dalam dan istirahat.”
“Baiklah, aku pulang, Sayang. Kamu harus cepat tidur malam ini supaya terlihat cantik di hari pernikahan kita.”
“Iya, kamu juga istirahatlah,” jawab Seanna.
Seanna menunggu sampai mobil Andrew keluar dari pekarangan rumahnya.
Ketika masuk ke dalam, ia melihat Julie sedang duduk bersantai di ruang tengah sambil menonton TV. Julie pun menoleh saat mendengar langkah kaki Seanna.
“Anna, bagaimana dengan persiapan pernikahanmu? Apa semua sudah selesai?”
“Sudah, Mom. Aku mengunjungi salon, toko kue, dan hotel.”
“Lalu kenapa wajahmu kelihatan sedih begitu? Apa ada yang tidak sesuai dengan keinginanmu?” tanya Julie mencemaskan putrinya.
“Persiapan pernikahan kami berjalan lancar, Mom. Aku mencemaskan Noah. Dia sendirian di rumah sakit.”
Julie nampak berpikir sebentar. Mengingat kondisi Noah yang baru selesai menjalani operasi, memang seharusnya pria tersebut ada yang menjaga.
“Mom, bolehkah aku menginap di rumah sakit untuk menemani Noah? Aku takut dia kesakitan atau tiba-tiba muntah.”
“Baiklah, kamu bisa menemani Noah di rumah sakit. Tetapi bagaimana kamu berangkat ke sekolah besok?” tanya Julie.
“Aku akan berangkat dari rumah sakit, Mom. Sekalian aku harus menanyakan biaya operasi dan perawatan Noah.”
Julie memegang bahu Seanna untuk memberikan rasa tenang kepada putrinya itu.
“Anna, kamu tidak perlu memikirkan tentang biaya rumah sakit. Levon sudah membayarnya,” ujar Julie.
“Paman Levon, sahabat Daddy?” tanya Seanna terkejut.
“Iya, aku menemuinya tadi untuk memintanya menjadi pendampingmu di hari pernikahan. Levon menanyakan kepadaku soal kehidupan kita, dan aku menceritakan yang sebenarnya. Levon berjanji melunasi utang kita kepada Lucas dan juga membayar biaya perawatan Noah,” jawab Julie.
“Mom, apa kita tidak merepotkan Paman Levon?”
“Tadinya aku juga berpikir begitu, tetapi dia bersikeras untuk menolong kita. Levon adalah orang yang sangat tulus, Anna.”
“Kalau begitu aku harus mengucapkan terima kasih padanya besok. Mom, aku akan mengemasi barang bawaanku dulu,” pamit Seanna lekas pergi ke kamarnya.
Seanna segera memasukkan bajunya dan membawa beberapa buku dongeng untuk Noah. Ia tahu bahwa Noah pasti bosan jika berdiam diri saja di rumah sakit.
“Mom, aku pergi,” pamit Seanna.
“Iya, Sayang, hati-hati,” ucap Julie mengantarkan Seanna ke depan pintu.
Usai memasukkan barang bawaannya, Seanna mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit. Karena di malam hari jalanan tidak terlalu ramai, Seanna bisa sampai di rumah sakit lebih cepat.
Sambil menjinjing tas bawaannya, Seanna pun membuka pintu kamar Noah. Namun, dia terkejut melihat Noah tidak ada di ranjangnya.
“Noah!” panggil Seanna.
Dengan panik, wanita itu mengedarkan pandang ke seluruh sudut kamar yang ditempati oleh Noah.
“Noah, kamu di mana?”