Mendengar teriakan Seanna, Noah keluar dari dalam toilet dengan memegang tiang selang infusnya. “Anna, kenapa kamu berteriak?” tanya Noah. “Syukurlah kamu tidak apa-apa, Noah. Aku sangat cemas,” ujar Seanna langsung memeluk tubuh pria yang masih lemah itu. Untuk beberapa detik, Noah membiarkan Seanna memeluknya. Tak dapat dipungkiri bahwa Noah begitu bahagia karena Seanna sangat peduli kepadanya. “Aku hanya ke toilet sebentar, Anna. Perutku mendadak mulas,” ujar Noah. Seanna pun menangkup wajah Noah dan bertanya kepada pria bermata biru itu dengan suara yang lembut. “Kenapa kamu tidak meminta tolong perawat untuk membantumu ke kamar mandi?” Noah menggeleng pelan, “Aku tidak merasa pusing lagi. Selama aku bisa, aku ingin melakukan apa pun sendiri tanpa menyusahkan orang lain.” “Kamu

