Dendam (Bag. 2)

1828 Kata
(Beberapa bulan lalu, Laut Labuan Ratu, Kadipaten Sunyoto.) “Haaaaaaaah!” Srikandi yang berbalut busana putih panjang penuh luka gores, menjerit mengangkat kedua tangan ke atas. Tubuh bawah gadis berambut biru, terendam air laut. Sebuah kapal kayu besar jadi fokus netra gadis berbibir tipis. Air laut yang semula tenang, seketika bergejolak menggoyahkan kapal kayu yang melaju. Burung-burung camar yang beterbangan di atas, mulai menjauh satu persatu seolah tahu adanya bahaya tiba. Gemuruh angin bercampur dengan deru ombak liar, membuat panik segenap awak kapal. Orang-orang bersenjataakan pistol panah berkerumun membidik gadis berambut biru yang ada di lautan. “Tembak!” Pssiw psiiuw psiuuw psiuww psiuww psiuww! Air laut yang ada di depan Srikandi membumbung naik, menghalau serbuan anak panah. “Kalian salah bila mengajakku ribut di wilayahku sendiri!” Srikandi melotot seiring air laut yang mengangkat tinggi tubuh rampingnya. “Hyaahh!” Srikandi menepuk-menyatukan dua telapak tangan. Blaapp! Gelombang air laut meninggi dari sisi berlawanan, lantas menghimpit kapal kayu hingga hancur jadi kepingan kecil dalam sekejap mata. Orang-orang di sana berjatuhan, mengambang di lautan yang tak tenang. Semuanya panik. “Tenggelamlah bersama ketamakan kalian!” Gadis berambut biru jengkel. Ia mencengkeramkan tapak tangannya erat, membuat air laut dalam radius seratus meter persegi membeku seketika. Brrzzzzzzz Jerit histeris para perompak kian kencang manakala separuh badan mereka membeku. Kabut lebat dari hamparan es yang Srikandi ciptakan menyeruak menyelimuti udara. Sebagian perompak yang masih memegang senapan panah, bersiap melontarkan tembakan pada sosok gadis berbusana putih panjang. Gadis bercelana putih panjang, menjentikkan jari kanan. “Bulbul! Santap mereka!” “Grrroaaaagh!” Sesosok singa biru berekor duyung, melesat menghancurkan sebagian lantai es lautan. Makhluk berambut biru lebat dengan sirip ikan tajam pada punggung, melejit cepat menyambar perompak yang tersisa. Baru Srikandi bernapas lega usai mendengar jerit terakhir sosok perompak, matanya mengerjap manakala bunyi baling-baling helikopter menggema di langit. Ia cepat mendongakkan kepala ke atas. “Kau!” Dijumpainya sosok lelaki kekar bercelana merah panjang, berdiri di ambang pintu helikopter hitam seraya mendekap seorang gadis berkerudung cokelat. Badan atas si lelaki beralis tajam, hanya dibalut kaos singlet hitam. “Kau bisa membunuh orang-orang itu tanpa keraguan sedikitpun! Lalu siapa sebenarnya yang psikopat?” tanyanya keras sebab bunyi baling-baling mesin terbang yang mengganggu. “Ngomong naon maneh! Aing teu dangu! (Kau bicara apa! Aku tak dengar!)” sahutnya seraya mengubah air terdekat jadi trisula es. Gadis berambut biru, mengacungkan senjataa di tangan pada lawan. “Lepaskan Sinta!” Lelaki bercelana merah, menyeringai melirik gadis muda bercelana jeans yang ia dekap. Ia berteriak, “kalau tidak!” Geram, Srikandi melontarkan pusaka di tangan kanan ke arah lawan. “Haaaahh!” “Bodoh!” Senyum lelaki tersebut makin lebar. Ia memajukan badan gadis berbusana cokelat sebagai tameng trisula es yang melayang. Srikandi yang berada di permukaan es, terbelalak. Ia cepat-cepat mengacungkan tapak kanan ke arah trisula es yang terlanjur melesat. “Haargh!” Sosok singa biru yang baru mencabik beberapa manusia, melangkah mendekati Srikandi dengan darah mangsa yang menetes dari mulut. Byurr! Srikandi berhasil merubah es padat tajam yang ia lempar, kembali jadi air. Alhasil, sahabatnya yang disandera hanya basah oleh air tersebut. Meski begitu, sang gadis malang tetap tak sadarkan diri. “Kau perempuan ya! Turun ke sini dan hadapi aku kalau kau laki-laki!” Menoleh ke arah pilot helikopter, lelaki berbusana hitam memerintah, “jalan! Cari gurun gersang terdekat yang dia siapkan!” Ia masuk kembali ke dalam helikopter, membawa masuk gadis putih pendek sebagai tawanan. “Aditya!” Srikandi menjerit, meluncur melompat masuk ke dalam air. Gadis berbusana putih menyelam secepat torpedo, membuntuti benda terbang di langit siang.  *** (Hutan Kadipaten Sunyoto, beberapa menit sebelum Srikandi bertemu lawan.) Puspa yang erat menggandeng Raden Irawan dan Srikandi, didekap erat oleh Ni’mal. Mata mereka fokus pada sumber arah lemparan api yang tadi berwujud naga. Deru angin ketinggian puluhan meter menggesek telinga empat pendekar di sana. Puspa menyipitkan netra. “Apa Tumenggung Merah lagi?” Ni’mal menyahut, “bukan. Aku yakin itu tadi api si Nakula.” Raden Irawan menoleh ke bawah, ia tegang melihat bayangan hitam di tanah yang melebar-membesar, kemudian mencuat keluar jadi wujud naga hitam. “Semua! Siaga!” serunya melepas genggaman Puspa, lanjut merogoh badik di punggung. Srikandi turut melepas tangan dari Puspa, membuka kedua tapak tangan dan menyampingkannya. “Naga unsur bayangan?” Swuzzz! “Graaaagh!” Sosok naga hitam bayangan berdiameter tiga puluh meter, membuka mulut seraya melesat ke langit hedak menyambar empat pemuda. Gadis berambut biru melirik Ni’mal yang tengah memeluk Puspa dari belakang. ‘Dia mengincar Ni’mal?’ pikirnya. “Groaaaagh!” Dari mulut lebar sang naga tanpa sisik, empat sosok kepala lain muncul melejit membuka mulut penuh taring hitam. Lhuwb! Lhuwb! Lhuwb!Lhuwb! Keempatnya bergerak begitu cepat, menelan mereka ke dalam tubuh kegelapan. *** (Beberapa bulan lalu, gurun gersang dekat Labuhan Dewi, Kadipaten Sunyoto.) Gadis berambut biru terdiam dalam kuda-kuda. Sedang sosok singa biru bersirip tajam, turut bersiaga. Mata keduanya tertuju pada lelaki kekar yang turun dari helikopter hitam dua puluh meter di depannya. “Lepaskan Sinta!” Menggeletakkan tubuh gadis pendek berkulit cerah, Aditya menginjak punggung seraya menodongkan pistol ke kepala sandera. “Apa yang akan kau lakukan jika aku membunuhnya?” “Aku akan memenggalmu!” serunya mengayun kedua tangan tuk menarik air. “Hahahah! Gurun ini gersang. Kau mau pakai apa?” ledeknya menyeringai. “Grraaaaagh!” Sang singa biru buka mulut seraya mengangkat ekor ikan ke atas, dari tenggorokan makhluk berwarna biru, air deras menyembur kuat ke arah helikopter hitam.   ‘Makhluk itu!’ Aditya sontak melompat ke samping, menghindari semburan air. Brrzzzz! Helikopter yang baru memutar baling-baling tuk membumbung tinggi, lebih dulu beku sekejap oleh semburan air sang singa biru. Beruntung, semprotan air pembeku tersebut tak mengenai Sinta yang tergeletak tak sadarkan diri di tanah. “Bulbul! Lagi!” seru Srikandi melesat ke arah lawan. “Grrraagh!” Makhluk berkaki empat kembali mengulang gerakan sama. Ia menyemburkan air deras ke arah lawan. Aditya berguling ke arah belakang helikopter beku. ‘Makhluk itu!’ Srikandi merubah haluan, berlari kencang sebelum memijak tanah kuat tuk melompati bongkahan es besar. Saat di udara, ia mengayun tangan kanan ke belakang, membuat sebagian es yang membelenggu helikopter mencair. Air dingin tersebut ia gunakan tuk mendorong lirih tubuh gadis berkerudung cokelat mundur. Sementara tangan kirinya ia angkat naik, membuat mesin beku di depan menggelinding mendorong Aditya ke arah tebing terdekat. Blaaam! Melihat helikopter menghimpit tubuh lawan pada dinding tebing, sang gadis berambut biru mendarat pelan di tanah kering. Ia balik kanan, memeriksa keadaan sahabatnya yang terkulai di dekat singa setengah ikan. ‘Sinta... Hampura...’ Sang singa biru yang sempat menjilati wajah gadis bercelana jeans, segera menoleh cepat ke arah Srikandi. “Grraaaargh!” Blaaaammm! Bangkai helikopter yang beku, hancur jadi kepingan dan menyebar ke tanah gersang. Kabut es tebal dengan cepat tertiup angin padang gurun, membuat Srikandi kembali melihat sosok lawan yang kini berdiri dengan dua buah pedang panjang di tangan kanan kiri. Napas lelaki berkaos hitam tersengal. “Jika aku tak bisa memilikimu, maka tak ada yang boleh mencintaimu!” Dlaap! Aditya, melesat mengarahkan sepasang pedang panjang pada gadis berambut biru. *** (Hutan Arsir Pulau Iwak, Kadipaten Sunyoto.) Ni’mal mengerjapkan mata setelah sesuatu yang empuk berbulu, mengelus hidungnya. Dijumpainya seekor kelinci abu-abu bertanduk satu bak unicorn. Sontak, pemuda berkaos putih mengambil posisi duduk, menggosok mata perlahan. ‘Kelinci ini...’ Melihat kelinci bertanduk satu membalik badan, Ni’mal menyapu pandang ke sekitar. ‘Hutan ini, hutan di Pulau Iwak, kan?’ Ia samar ingat bila nuansa gaib serta aroma bunga yang entah jenis apa, mampu ia cium dari dirinya berada. ‘Tapi jika benar, bagaimana bisa aku ada di sini?’ pikirnya bangkit. Ia terbelalak mengingat beberapa rekan yang tak ada di sana. “Puspa dan yang lain!” Baru ia hendak melangkah, kelinci bertanduk satu bersuara seraya menatap Ni’mal. Mengerutkan kening, pemuda berkaos putih memandang heran si kelinci. ‘Apa dia bicara padaku?’ ‘Tentu saja boodoh! Pada siapa lagi? Pohon? Rumput? Kalau mereka bisa bicara aku takut makan tumbuhan!’ Binatang mungil nan eksotis, berbicara lewat telepati. “Heh? Lah? Kau, bicara padaku?” Ni’mal termangu, menempel telunjuk pada dadaanya. ‘Beliau sudah menunggumu! Tunggu apa lagi?’ “T-tunggu! Siapa kau! D-dan... Siapa yang menungguku?” Trauma menghadapi jebakan sang ular, membuat Ni’mal waspada. Si kelinci abu-abu mengelus wajah. ‘Padahal waktu itu juga kau melihatku. Kau masih muda tapi sudah pikun, ya?’ Binatang tersebut mengendus-endus udara. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri. ‘Hey! Ngomong-omong di mana Kandi? Kau tak datang bersamanya?’ Ni’mal mengangkat alis kanan. “Apa? Kendil? Kerdil? Satu-satunya yang kerdil di sini kan dirimu?” Dluk... “Aduh Gusti!” Sebuah durian besar jatuh menimpa kepala pemuda berambut lebat. “M-memang ada pohon durian?” Ni’mal celingak-celinguk mencari pohon dari buah yang menimpa. ‘Kau ini memang bodoh, bloon, atau bagaimana?’ Sang kelinci mungil menggeram kesal. *** (Hutan Arsir Kadipaten Sunyoto, masa kini.) Tang! Tang! Daang! Srikandi terus menepis serangan senjataa lawan dengan trisula es yang ia pegang dengan kedua tangan. “Apa hubunganmu dengan Aditya!” Daaaang! Lelaki jangkung berpedang kembar berhasil membuat Srikandi terpental oleh ayunan ganda pedang panjangnya. “Wanita sepertimu tak perlu tahu!” serunya melesat menghunuskan pedang di tangan kanan. Tang! Srikandi melompat ke depan sambil menangkis ayunan pedang, ia membelakangi lawan. “Apa kau juga berkaitan dengan pengusaha Senlin yang menggusur desa di pesisir Labuhan Dewi?” Swusss! Mengerti bila lawan di belakang kembali maju menghunuskan pusaka, sang gadis berambut biru melompat tinggi lanjut melontarkan trisula beku ke tanah di bawah. “Haah!” Jrazzzzz! Sepasang kaki pria bercelana merah beku seketika manakala bongkahan es merambat merayap cepat di tanah menuju tubuh kekarnya. Mendongak ke langit, sontak wajahnya panik ketika Srikandi terjun menukik mengarahkan trisula es ke kepala. Jlubb! Pusaka tajam gadis berambut biru berhasil menusuk menembus punggung lelaki berkemeja putih hingga ke tanah. “Huukh!” Srikandi bernapas lega. Pusaka bekunya mencair cepat. “Apa kau suka mempermainkan perempuan seperti ini?” tanyanya melirik ke arah pohon terdekat. Sedetik kemudian, raga lelaki yang Srikandi tikam berubah jadi lumpur, jatuh ke tanah. Sosok pria berkemeja putih, menampakkan “Namaku Danu. Ingat itu sebelum pergi ke alam baka.” “Kau pikir, kau bisa mengalahkanku seorang diri? Jangankan satu tiruan, seratus tiruan sepertimu pun aku sanggup!” Srikandi mengempaskan tangan kanan ke arah pohon, membuat air dari lumpur yang tadi sempat menyerupai wujud Danu, melesat jadi serpihan es tajam. Lelaki berkemeja putih sedikit memiringkan badan, berhasil menghindar. “Aahahah!” Danu menjentikkan jari kanan. “Aku tak bisa mengalahkanmu seorang diri? Bagaimana kalau ini?” Splaaat! Sebuah pedang panjang nan lentur bak cambuk, melesat dari belakang Srikandi. Sigap sang gadis berbusana putih melompat meliukkan badan di udara. Matanya terpana pada kemunculan lelaki berbusana hitam dengan kerah kulit bulu rubah. “Rambut putihnya? Dia?” Adnan, remaja berpedang panjang berdiri tegap menantang Srikandi seraya mengacungkan pusaka. Sorot mata pemuda berambut putih kosong.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN