Ni’mal melangkah bersama Dhaeng Surya, keduanya berada paling depan di antara rombongan. Srikandi berbincang bersama Athar dan Agni. Puspa, berjalan dan digandeng oleh Rahaf. Aldy dan Taufik tengah berjalan paling belakang dalam barisan. Sementara Azizah, berjalan mengamati pepohonan besar sekitar hutan.
“Dulu, Kakekmu juga sering dipanggil oleh Kraton Utama demi membahas hal-hal penting yang para petinggi Manunggal hendak terapkan,” Dhaeng Surya membuka obrolan sambil berjalan di samping kiri Ni’mal. “Apa Mbah Pur tak pernah bercerita soal ini padamu?”
“Tidak sama sekali,” balasnya menunduk menatap rumput lebat yang dipijak.
“Kakekmu adalah anggota Satria Utama Manunggal yang berjaga di wilayah Sunyoto.”
“S-sungguh?” Mendengar ucapan lelaki berbadan gempal berkulit cerah, Ni’mal lirih menoleh. Melambatkan langkah. ‘Kakek juga menyembunyikan hal ini dariku?’ pikirnya menyempitkan mata. “Sejak kapan Kakek jadi anggota SUM?"
“Sejak dirimu berusia lima tahunan,” ungkapnya.
‘Lima tahun?’ Lelaki berbusana putih, mencoba menggali memori di kepala.
Dhaeng Surya berdengus. “Apa kau tak bertanya, bagaimana mungkin Kakek adalah orang yang begitu sibuk padahal dia senantiasa berada di rumah bersamamu?”
“Ya. Bukankah itu mustahil jika Kakek sering bersamaku padahal harus mengerjakan banyak hal seperti itu?”
“Meraga sukma, adalah sebuah ilmu yang bisa dikuasai tiap manusia tanpa terkecuali. Dan seseorang yang mampu melakukannya secara sempurna, niscaya ia bisa melakukan berbagai keajaiban atas izin-Nya. Salah satunya, menggandakan raga jadi dua.”
“Mmmmm...” Ni’mal hanya berdengung bingung, kembali memandang jalan hutan.
“Aku sendiri baru diangkat jadi anggota SUM, beberapa tahun lalu setelah peristiwa nahas di perkemahan PM wilayah Tarang.”
Deg!
Ni’mal menoleh cepat. “Apa Anda tahu banyak soal insiden itu, Dhaeng?”
“Makhluk Hitam di sana lepas kendali dan membantai delapan puluh persen kandidat PM beserta para petinggi yang berjaga di sana. Entah apa sebabnya, tapi hingga kini para penyidik dari pihak SM maupun PM sendiri belum menemukan titik terang.”
‘Apa Dhaeng Surya tahu kalau aku salah satu anggota PM yang selamat? Perlukah aku tanyakan? Tapi...’
“Nah... Kita sampai.” Di ujung tebing nan terjal, sang Satria Manunggal Utama menatap jurang. “Neng Puspa, bisa panggil burung itu, kan?” tanyanya menoleh ke belakang.
“Iya, Dhaeng.” Puspa mempercepat langkah, menggenggam erat jemari Rahaf.
“Terbanglah terus ke arah selatan melewati bentangan Rowo Ayu. Setelah itu kalian akan sampai di Candi Santika Dewi.” jelasnya.
“Kalau begitu, terima kasih banyak, Dhaeng.” Ni’mal menarik napas dalam.
“Pergilah,” sahutnya. “Apapun yang terjadi, temui Sang Sura Selatan lebih dulu,” imbuhnya menepuk pundak Ni’mal. “Dan kalian,” Dhaeng Galuh menyapu pandang pada rekan-rekan. “Bantulah Cucu Mbah Pur. Aku akan menunggu kalian sekembalinya dari sana.”
“D-Dhaeng...” Pemuda berkaos putih dengan jambul di kepala, mengatupkan bibir.
“Ya, Ni’mal?” balasnya menatap netra cokelat penerus Padepokan Macan Bumi.
“Apa...” Ni’mal memelankan suara mengetahui teman-temannya melangkah mendekat. “Tidak sebaiknya aku sendiri yang menyelesaikan ini semua orang diri?”
Puk!
Dhaeng Galuh menepuk ubun-ubun Ni’mal. “Sekuat apapun dirimu, manusia tetap manusia. Makhluk yang tercipta untuk saling bekerja sama. Lagi pula, bukan Arjuna namanya jika seorang diri tanpa wanita. Ahahahah!”
Athar yang mendengar, mencibirkan bibir. ‘Aing teh lalaki, Mamang! (Gue cowok!)’ batinnya kesal.
***
(Tepian sungai Desa Sironggeng, Kadipaten Sunyoto.)
Adnan tengah khidmat menyaksikan video soal berita kehebohan di kota lain Kadipaten Sunyoto seraya menyandarkan badan pada batu besar. Tajuk peledakan bom di sebuah Pura serta protes atas fitnah yang menimpa sebagian masyarakat, membuat keningnya berkerut. “Apa ini? Pengeboman yang dilakukan di sebuah Pura?”
Ia fokus menyimak gadget, tak sadar bila Lastri yang masih mengenakan busana penari adat jawa, datang menghampiri. “Nan?” sebut si gadis berbaju merah, lirih.
“Apa mungkin ini perbuatan orang-orang bertopeng merah, ya? Tapi jika benar, kenapa mereka pakai alat peledak?” gumamnya lirih.
Lastri berhenti di dekat remaja berambut putih berbusana hitam. “Adnan?”
“Eh?” Ia menoleh. “L-Lastri? Kenapa? Ada apa?” tanyanya tersenyum. 'Tumben dia mencariku.'
“Anu, ini... Ada yang minta antar ke Candi Santika Dewi lewat jalur air,” jelasnya menoleh ke belakang, di mana seorang pria jangkung berbalut kemeja putih rapi lengan panjang berdiri.
“Berita soal kekacauan di Kota Kidulan, ya? Sejak tadi tajuk itu banyak muncul di mana-mana,” tanggap si lelaki tersenyum, menunjukkan lesung pipi.
Menekan tombol kunci layar, Adnan bangkit dari batu besar. “Jalur air? Kenapa tidak lewat jalur darat saja? Kan... Tinggal seberangi sungai ini saja?” ujarnya menatap lelaki berambut jabrik.
Sosok berambut hitam tersebut, mensejajarkan diri di dekat Lastri. “Aku sudah lama tak kembali ke Sunyoto. Jadi aku ingin sedikit lihat-lihat laut lepasnya. Apa kisanak bersedia?”
“Hmm... Baik. Tapi hanya di tepian saja, ya? Aku tak mau membawamu terlalu jauh dari bibir pantai.” Adnan manggut, menghampiri klien. “Tuan, perntau, ya?”
“Sudah beberapa tahun. Padahal, aku sudah ingin kembali beberapa bulan lalu.” Ia diam sejenak, teringat pada seseorang yang ia kenal. Tampak kepedihan pada sorot matanya.
“Ya sudah, Mas, Nan. Saya duluan, ya?” Lastri pamit undur diri.
“Eh, oh... Baik, Mbak cantik. Kapan-kapan ketemu lagi, ya? Terima kasih banyak sudah mengantar saya,” sahutnya tersenyum. Ia lanjut merogoh saku baju, mengambil lima lembar kertas argo keemasan. “Ngomong-omong apa segini cukup, Kisanak?”
“Woah! Sangat cukup!” tanggap si remaja berambut putih.
***
Ni’mal, Puspa, Raden Irawan, Athar, Aldy, Azizah, dan Taufik berada di punggung burung raksasa. Mereka menikmati angin pagi bersama sinar mentari kala itu. Sementara Agni si gadis pengendali api, asyik terbang menggendong Rahaf di punggung. Senyum sebagian dari mereka merekah seiring hutan yang dipenuhi kabut tebal, berganti jadi hutan menawan. Belum lagi, hamparan luas rawa-rawa di bawah mereka, menambah indah panorama.
Raden Irawan yang berada di belakang Ni’mal, buka mulut, “ngomong-omong, di mana Ratih? Kalian tadi bilang, bertarung dengan abdi Malkika Hitam yang menculik kekasihnya, kan?”
Azizah menyahut ragu, “eee.. Itu, anu. Si.. Siapa itu, gadis berkerud-”
Srikandi menyela, “Alin si gadis keturunan Makhluk Hitam yang merawatnya di sana sementara. Lagi pula mereka masih terluka.
“Ah iya itu, Alin,” tukas Azizah.
Sang Putra Mahkota mengerutkan kening. “Keturunan Makhluk Hitam? Maksudmu... Gadis yang bersamanya, bukan manusia sepenuhnya?”
Gadis berambut biru manggut. “Meski samar, tapi kami semua merasakan aura yang sama. Antara ular putih yang kami lawan, dengan dirinya.”
Berbeda dengan muda-mudi yang berbicara serius di atas burung raksasa, Agni si gadis berjubah hitam merah justru terbang bak ulang-alik membuat gadis berkacamata yang ia gendong histeris menjerit berkali-kali.
Lelaki berkumis tipis menggulirkan mata ke kanan, tak memedulikan Rahaf yang berteriak ketakutan dibawa Agni terbang. ‘Sebenarnya ada berapa banyak golongan manusia setengah Makhluk Hitam ini?’
“Raden,” Ni’mal yang berpegang pada bulu burung raksasa, memanggil.
Irawan sejenak mendengung sebelum menyahut, “jangan bilang kau ingin tanya di mana lelaki bertopeng putih tadi sekarang.”
“Apa dia itu Jaka Bagus?” Ni’mal melirik tajam.
Enggan menatap wajah Ni’mal, Raden Irawan melihat ke samping bawah. “Dia hanya berpesan agar kau menemui Putri Nilam Sari lebih dulu. Lalu dia yang akan menemuimu secara langsung.”
Wajah Ni’mal serius. “Apa lagi yang orang itu katakan?”
“Dia bil-”
Melihat sesuatu datang dengan kecepatan tinggi, Agni yang sedari tadi cengengesan, seketika berteriak panik, “semuanya! Awas!”
Swuusssss!
Sebuah bola api merah besar dengan cepat berubah bentuk menyerupa naga panjang, menerjang cepat dari belakang. Peringatan Agni sontak membuat segenap petarung menoleh ke belakang.
Agni melayang mundur menghadap pada naga api, membuka kedua tapak tangan dan menembakan bola-bola panas.
Blaarrr!
Manakala sang naga api hancur, serpihannya berpencar dan melesat mengarah pada para pendekar.
“Semuanya lompat!” Ni’mal berteriak, sigap menggandeng tangan Puspa dan Raden Irawan. Sementara Puspa, sigap memegangi lengan gadis berambut biru.
***
(Beberapa menit kemudian, Hutan Kadipaten Sunyoto.)
Srikandi yang membuka mata, menemui dirinya berada di belantara hutan seorang diri. Busana putihnya terkoyak, mungkin karena pepohonan yang ia tabrak sebelum mendarat di tanah berselimut rumput. “Ni’mal!” Ia celingukan. “Puspa! Athar!” panggilnya berdiri tertatih menahan nyeri.
Swussss!
Sesuatu yang amat cepat melesat dari rimbun semak belukar. Kelebatan tersebut agaknnya berwarna putih.
Sadar ada musuh yang mendekat, Srikandi meliukkan tangan kanan, menarik keluar air dari pohon kemudian membentuknya jadi senjataa bak trisula beku.
Taang!
Sesosok lelaki berbusana putih panjang, dengan rambut hitam jabrik, menyeringai menatap Srikandi dari jarak dekat. Kedua tangan lelaki tersebut, erat memegang tangkai pedang mirip samurai. “Kau tangkas juga, Nona!” Menyeringai, ia mengayun pedang dari sisi yang berlawanan bermaksud memenggal tubuh gadis berambut biru.
Daang!
Kali ini Srikandi terempas sebab daya dorong kuat lawan. Ia nyingir memperhatikan wajah asing yang tak ia kenal. “Saha maneh! (Siapa kau!)” serunya kesal.
“Hee? Kau mungkin tak mengenaliku. Tapi apa kau lupa pada ini?” Wajahnya muram, menunjukkan pusaka yang digenggam.
Srikandi menyipitkan mata, memandang baik-baik sepasang pedang panjang di tangan lawan. “I-itu... Pedang si kurang ajar itu! Tidak mungkin!”
“Sudah seharusnya kau ingat pada orang yang kau penggal!” ucapnya jengkel. “Namaku Danu!” Menodongkan senjataa pada gadis yang berdiri bungkuk belasan meter darinya, lelaki jangkung menatap tajam. “Orang yang akan membalaskan kematian Aditya!”