(Gunung Nyai, Kadipaten Sunyoto)
Swuuuung!
Azizah yang melihat petir kekuningan tersebut meluncur mengarah pada Ni’mal, segera memijakkan kaki pada leher sang ular cokelat. Gadis itu lanjut meluncur mendatangi kilatan kuning tersebut. ‘Jika dibiarkan mereka juga akan kena!’ batinnya yakin seraya mengayunkan pedang tuk menepis petir kuning. “Hyaaaaaaah!”
Blaaaaaammmm!
Athar dan Srikandi menutup mata sebab kilatan silau dari benturan. Akar yang menjerat mereka sirna oleh cahaya terang jingga antara benturan petir dan pedang milik Azizah. ‘Siapa orang itu? Dan dari mana petir ini?’
"Gadis itu!" Ni'mal yang masih dikekang cengkeraman lawan, berdecak kesal. 'Dari mana dia datang dan... Ahh!'
“Uuugh!” Azizah terpental, jatuh ke tanah lembap usai menghalau petir tadi.
‘Apa dia datang menyusul bersama...’ Ni’mal mendongak ke arah tebing terdekat. Dijumpainya lelaki berbusana SM yang berlari menuruni tebing terjal. ‘Aldy?’
“Greaaaaaaorgh!” Sang ular berkaki mendekat hendak menginjak tubuh Azizah.
“Sekarang kesempatan kita! Bebaskan Kak Ni’mal dan Kak Puspa!” Alin memejamkan mata, lanjut melesat cepat ke arah Azizah. ‘Biar aku yang selamatkan dia!’
“Dasar serangga pengganggu!” Sang siluman pohon mengubah kedua tangannya jadi tajam, lanjut menusuk tanah lembap di bawah.
Jraaaat!
Azizah, Alin, Aldy, Athar, dan Srikandi, kembali terjerat oleh akar dari tanah. Mereka diam di tempat tak mampu bergerak. “Ughh!”
Dikala kaki sang ular raksasa hendak menggencet tubuh Azizah, sesuatu yang melayang terbakar meluncur begitu cepat dari langit malam. “Enggang Api! Sayap Nirwana!” Suara Agni menggelegar.
Blaaaarr!
Gadis berjubah hitam yang berselimut api kemerahan, menabrak menembus jantung sang ular besar. Ia menciptakan lubang pada badan lawan. Sisa tanah lempung yang menyelubungi reptil besar, terbakar.
“Graaaagh!”
Agni yang masih melayang di udara, menutup mata. Mengisap udara lewat lubang hidung, memfokuskan segenap tenaga pada kedua tangan. Di sana, api yang membakar tubuh sang ular dan dirinya, terhisap menyatu membentuk sebuah piringan api bersinar. “Enggang Api! Chakram Krishna!”
Panik, Ki Cakarbumi menenggelamkan tubuhnya ke dalam tanah. “Pengendali unsur api!” Ia hilang, ditelan bumi.
Blammmmm!
Cakram tersebut membakar target hingga berubah jadi abu, tetapi tidak dengan Ni’mal dan Puspa. Kedua orang yang kini jatuh ke tanah, tak merasakan hawa panas dari api Agni.
***
(Wilayah Arsir, Kadipaten Sunyoto.)
Ni’mal terpana memandang rumah-rumah kayu yang menyatu dengan pepohonan besar. Tiap-tiap pintu rumah beratap joglo tersebut, terdapat sebuah jembatan yang menghubungkannya dengan rumah pohon lain. Lelaki yang kini mengenakan busana kaos dan celana hitam silat Padepokan Macan Bumi, berada lima puluh meter di atas tanah. Meski melihat panorama dari balik jendela rumah, hawa dingin tetap terasa.
Taufik si pria tampan berambut ikal, melangkah dari belakang Ni’mal. “Ini pos penjagaan SM wilayah Arsir Sunyoto. Kau baru pertama kali kemari, ya?”
“Kau orang yang membawa Puspa di candi perbatasan Arsir Tarang-Cidewa Hideung, kan?” tanyanya tanpa menoleh.
“Aku dan melihat Cucu Ki Ageng Jagat tak sadarkan diri setelah ia mengalahkan rombongan PM. Jadi ya, aku membawanya.”
Lelaki bermata cokelat berdengus, memandang indahnya kabut di sekitar hutan. “Maaf. Aku kira kalian anggota PM.”
Turut menyangga sepasang tangan pada jendela, lelaki berbusana jingga tersenyum. “Tak apa. Benar kata Gus Armi. Kau yang sekarang mudah marah dan bertindak gegabah.”
“Apa Puspa dan yang lain masih tidur?” tanyanya menoleh.
“Jangan buru-buru. Raden Irawan dan beberapa anggota SM sedang ke sini. Lagi pula, kau terkena racun dari candi Sura Barat, kan? Apa kau yakin tubuhmu baik-baik saja?”
‘Apa mungkin yang dia maksud... Anak panah perangkap dari dinding candi itu?’ Ia melirik, merenung. “Tidak. Aku tak apa,” ujarnya balik kanan, menatap ruang kecil berpenerangan lampu jingga. “Aku harus segera pergi ke suatu tempat.”
Dari tangga kayu ujung ruangan, Srikandi yang berbusana sweater putih datang. “Si Bodoh. Kan sudah aku bilang kalau beliau Ibu Ratu memintaku menemanimu.” Di belakang gadis berambut biru, seorang pria berkemeja putih panjang dengan badan gempal, datang.
‘Srikandi? Ah, benar. Sura dari selatan juga bilang kalau Srikandi adalah kunciku untuk menemui beliau,’ pikirnya menatap gadis berbusana putih.
Taufik yang melihat kedatangan sosok tersebut, lekas-lekas menunduk. “Sugeng Enjing, Dhaeng,” sambutnya memberi hormat pada lelaki bertubuh lebar berambut cepak.
"Oh, jadi ini yang memipin para pendekar muda mengalahkan siluman ular itu?" Lelaki berusia lima puluh lima tahun, tersenyum. “Ni’mal Cucu Mbah Purwadi, ya?”
“A-Anda...” Pemuda beralis lebat mengernyitkan dahi.
“Aku Surya, Satria Utama Manunggal yang bertugas menjaga wilayah Sunyoto. Senang melihatmu secara langsung, Ni’mal.” Ia berhenti di hadapan penerus tunggal Padepokan Macan Bumi. “Duduk dan bersantailah sebentar. Aku ingin membicarakan beberapa hal lebih dulu.”
Taufik menegapkan badan, menawarkan, “Kopi lempung atau kopi hitam, Dhaeng?”
“Buatkan jahe hangat untuk tamu cantik kita ini, dan dua kopi hitam untuk kami,” pintanya duduk bersila di atas karpet merah.
***
(Kediaman Tumenggung Richard, Kadipaten Senlin.)
Tumenggung Richard dengan jas biru panjang, tengah menikmati secawan sari anggur beralkohol. Tangan kanannya menjepit sebatang lisong. Ia tersenyum merebahkan punggung pada sofa empuk di belakang. Matanya menikmati berita dari televisi. Tampak pula buah-buahan segar serta makanan ringan berteman sebotol besar sari anggur dan sebungkus tembakau.
Pada layar, tampak bekas puing perumahan elit kawasan griya SM. Seorang reporter wanita dan seorang kameramen. “Saksi mata melaporkan adanya petarung berkemampuan api yang menghancurkan kawasan ini semalam. Pihak SM yang jadi saksi mata berkata bila pelakunya mengenakan jubah hitam bercorak api kemerahan. Berikut rekaman dari drone pengintai sebelum hancur oleh serangan sang pelaku.”
Manakala Richard tersenyum lebar menyaksikan rekaman ulang dari drone di televisi, Sebastian dengan kaos dan celana hijau, datang menghampiri. “Sebenarnya apa rencana Anda, Tuan Tumenggung?”
“Duduklah, kawanku,” sahutnya memandang balik lelaki berkulit gelap. “Oh, ya. Istri dan Anakmu sudah sampai di kediamanku yang lain. Aku juga sudah menjelaskan pada mereka kalau kau aman bersamaku.”
Raut Sebastian, muram. “Aku bertanya sebagai warga Manunggal. Apa Anda sungguh-sungguh berniat melengserkan Prabu Paku Utomo?”
“Sudah bertahun-tahun aku mengangkatmu sebagai komandan petinggi SM. Kau mendapat hidup layak bersama keluarga yang kau cinta. Kau juga punya jabatan terpandang di mata masyarakat Manunggal. Apakah itu tidak cukup bila aku meminta imbalan secara pribadi kepadamu, kawanku?” Pria berambut penuh uban, mengangkat secawan wine ketika Sebastian duduk di sofa.
“Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada Tuan, jika permintaan Anda harus mengorbankan masyarakat tak berdosa, maka dengan lapang d**a saya siap dicopot dari jabatan yang Tuan Tumenggung berikan.”
“Kau bicara soal dosa?” Ia berdengus. “Kau sudah terlanjur basah berdosa karena mengikuti perintah Yo, kawanku.” Ia menaruh cangkir bekas wine yang habis ia tenggak. “Kau sudah masuk dalam lingkaran sejarah baru Manunggal. Dan jika kau keluar, artinya kau dan seluruh keluargamu harus... Beristirahat dengan tenang. Selamanya...”
Memasang wajah tenang, Sebastian menyembunyikan kepalan erat tinju kirinya yang tertutup kaki.
***
(Rumah Pohon, POS SM Wilayah Arsir.)
Kicau burung hutan mewarnai perbincangan Ni’mal dan salah satu petinggi negari Manunggal. Di antara mereka berempat, hanya Dhaeng Surya yang menikmati sebatang rokok.
“Satria Utama Manunggal, adalah badan negara yang hanya beranggotakan lima orang. Tugas kami adalah mengamati kondisi masyarakat dari berbagai sudut pandang. Mulai ekonomi, keagamaan, dan keseharian masyarakat lain. Selain aku, ada empat orang lain yang tersebar di masing-masing Kadipaten.”
Taufik menunduk, menatap kopi lempung miliknya. ‘Beliau membeberkan rahasia sebesar ini pada Ni’mal? Apa karena Ni’mal adalah Arjuna Merah? Atau karena dia berkaitan erat dengan empat Sura?’
Dhaeng Surya berdehem. “Aku memberitahumu, karena kau adalah murid Gus Armi.”
“A-Anda...” Ni’mal agak terkejut. ‘Ah, tentu saja. Siapa petinggi Manunggal yang tak kenal beliau,’ pikirnya.
“Hey, jangan salah. Biar begitu, Gus Armi mampu membersihkan kawasan Arsir besar berisi Makhluk Hitam spesies pemburu seorang diri. Dan sampai sekarang, hanya dia manusia yang tahu persis di mana letak Kujang Ludira berada.”
Deg!
Ni’mal menganga. “Gus Armi... Tahu? Lalu, apa Anda juga tahu?”
“Entah kapan setelah kau sebagai Arjuna Merah menjatuhkannya, pusaka itu diambil dan disimpan langsung oleh Putri Nilam Sari. Bahkan, abdi setia beliau yang sekarang ikut duduk di sini, tidak tahu pasti di mana benda keramat itu disimpan. Benar begitu, Nona Srikandi?”
Srikandi manggut. “B-benar, Dhaeng.”
“Biarku perjelas padamu, Ni’mal.” Ia mengisap habis rokok di tangan kanan, lanjut menyeruput kopi hitam dari cangkir. “Purnama Merah, bisa saja tertunda. Tapi bisa juga muncul lebih cepat. Semua tergantung dari kondisi masyarakat Manunggal. Sebab fenomena ini, sejatinya karma bagi penduduk negeri. Jika darah dan nyawa manusia tak berdosa terus bergelimpangan, maka ia akan datang lebih cepat.”
“Lalu... Apa tujuan Sembilan Tumenggung bertopeng merah dan para Pandawa Merah itu?” tanya si gadis berambut biru.
Ni’mal memberanikan diri bertanya, “lalu apa kaitannya Kujang Ludira dan Purnama Merah ini, Dhaeng?”
“Semua pendekar sakti dari ujung Tarang hingga Sunyoto, sedang mencari-cari keberadaan Kujang Ludira, tak terkecuali para oknum pejabat negeri. Sebab, diramalkan bila pada Purnama Merah yang ketujuh, Makhluk Hitam yang konon merupakan inkarnasi Malkika Hitam, hanya akan tunduk oleh dua Pusaka kuno peninggalan leluhur Manunggal, Keris Dewa Sepuh dan Kujang Ludira.”
***
(Kota Kidulan, Kadipaten Sunyoto.)
Lelaki berkacamata dan bertuksedo hitam, tersenyum memperhatikan sebuah pura. Rambut hitam legamnya disisir rapi, aroma tubuhnya wangi, sedang matanya mengamati sebuah tempat peribadatan umat hindu di seberang jalan raya. Tangan kanannya memegangi ponsel genggam hitam. Ia tengah menelepon seseorang. “Sudah. Sudah aku pasang. Lalu kapan boleh aku tekan?”
‘Bergeraklah perlahan. Saat rombongan berbaju putih datang, lekas-lekas kau tekan,’ sahut suara dari ujung telepon.
“Hey...” Lelaki jangkung beralis tipis membuka pintu mobil sedan di belakang. Ia santai menaiki kendaraan. “Kenapa Tumenggung Richard tak melakukan hal ini dari dulu?”
‘Jangan banyak bicara dan cepat lakukan saja!’
“Baik, baik. Dimengerti, Tuan Muda.” Menyalakan mesin mobil, lelaki tersebut mematikan panggilan. Setelah empat rodanya berputar, lelaki tersebut merogoh sebuah remot hitam dengan sebuah tombol merah. Ia mengembangkan senyum manakala rombongan truk bermuatan lelaki berbusana putih panjang melintas pelan dari sisi jalan arah yang berlawanan. “Ini dia para tumbal Kapriku...”
Tut...
Ia menekan tombol pada remot. Dari benda tersebut, sebuah suara menyahut, “tekan tiga kali untuk meledakkan sekarang. Tekan satu kali lagi untuk meledakkan dalam lima menit.”
“Kalau bisa sekarang, kenapa nanti?” gumamnya menekan tombol tersebut seraya menambah kecepatan laju sedan.
Blammm!!!
Bangunan Pura yang kini berada tiga puluh meter darinya, meledak hebat.