Kepercayaan

1573 Kata
(Perumahan PM) Jingga dari kobaran api menyingkirkan kegelapan malam di tanah lapang bekas perumahan. Gerombolan manusia berseragam PM tergeletak tak sadarkan diri. Hanya Agni dan gadis berkacamata yang berdiri tegap di sana. “Kalian batu sih! Sudah aku bilang aku tak mau buat gara-gara!” Rahaf menghela napas lega, mengetahui mereka masih bernyawa. “Untung kau bisa mengendalikan apimu.” Agni mengusap-usap telapak tangan, memandang geram rombongan lelaki berseragam. “Kalau bukan Gus Armi yang minta aku tidak lepas kendali, sudah jadi abu gosong mereka!” Teguh, pria berbusana hitam silat muncul dari jalan beraspal. “Kalian berdua tidak membunuh warga sipil, kan?” “Kang Teguh?” Rahaf membenarkan kacamata. “Kak Wahyu di mana?” “Wahyu sedang mendata jumlah robot tempur PM terdekat. Aku juga sudah menduga kalau para PM ini bakal membelot berbalik menyerang kalian,” ujarnya menyentuh manusia berseragam SM yang tergeletak dengan kaki kanan berbalut sandal jepit. Gadis berjubah hitam merah menatap ke langit. “Sebelum mereka menyerang, ada seseorang yang menelepon mereka. Orang itu yang memberi perintah untuk menyerang kami.” Blarr! Api pada tangan kanan dan kiri Agni menyala, lanjut dilempar pada pesawat drone yang melayang di udara. Blamm! ‘Ealah cuk! Pesawat Drone? Apa mereka sengaja memancing kami kemari untuk membuat kami sebagai kambing hitam lagi? Padahal Yo sudah ditahan! Apa si jenggot Richard, ya?’ Teguh menyipitkan mata. “Sebaiknya kita kembali dan jemput Wahyu.” Rahaf bertanya, “tapi di mana Kak Ni’mal dan Teh Puspa?” “Mmm... Mereka sedang dalam perjalanan.” Agni mengerutkan kening. “Ke?” “Gus Armi memintaku membawa kalian kembali. Jadi tak usah berpikir menyusul Puspa dan Ni’mal, ya?” *** (Gunung Nyai, Kadipaten Sunyoto.) Ni’mal menghela napas lega manakala Puspa, Athar, Srikandi, dan Alin datang mendekat. “Apa semua baik-baik saja?” “Heh!” Pemuda berkaos hitam menepuk bahu lelaki bermata cokelat. “Kalau bukan kau, lalu siapa yang sedari tadi-” Kalimat Athar terpotong oleh luncuran ekor siluman ular putih. Beruntung, mereka serempak mengelak. Blaam! Netra Ni’mal menyapu sekitar. Selain empat kawannya, hanya ratusan manusia tanah liat yang ada. “Aku kira... Itu Ratih?” Srikandi mendekati lelaki berkaos hitam. “Mana mungkin Ratih mampu mengumpulkan energi alam sebesar itu,” jelasnya siaga menatap siluman ular yang melingkarkan badan ke sekitar Ki Cakarbumi. Alin buka mulut, “Kak Puspa memanggil burung raksasa untuk membawa Ratih pergi menuju desa lebih dulu.” Siluman ular putih besar melesat membuka mulut menerjang mereka. “Hormatlah sedikit pada lawan kalian!” Slluubb! Akar-akar kokoh hitam menjulang dari tanah, mengikat raga mereka serempak. Ki Cakarbumi tampak menenggelamkan separuh tangan kiri ke dalam tanah dari jauh. “Telan mereka semua!” Gadis berkerudung yang juga terbelenggu akar kuat, melirikkan mata ke kanan dan kiri manakala jarak sang ular kian dekat. ‘Tak boleh ragu lagi!’ Srriiing! Alin melesat mengayun cakar kanan yang memanjang dan memadat pada akar yang mengikat. Usai membebaskan diri, ia melesat memotong akar-akar yang membelenggu teman-temannya. “Haaah!” Srriiing! Gadis berambut biru langsung paham bila sang gadis berkerudung, memiliki kemampuan serupa sepertinya, manusia setengah Makhluk Hitam. ‘Aura ini...’ Ni’mal berteriak seraya melompat, melihat ular besar yang begitu dekat, “menyingkir!” Puspa yang sigap melesat, melempar-mengikat Srikandi dan Athar dalam satu kibasan selendang. “Mundur!” “Shhsssh!” Nagin si ular putih raksasa, mendesis kesal usai gagal menyerang. Kepalanya celingukan menatap target yang melompat berpencar memutarinya. Ki Cakarbumi mencabut tangan kirinya dari tanah, memandang kesal sang pelayan. “Dasar ular tak berguna!” Ratusan manusia tanah liat mulai bergerak. Pada wajah masing-masing mulai tercipta lubang serupa mulut dan mata. “Tolong...” Athar, Alin, Srikandi, Puspa, dan Ni’mal, kebingungan ketika para manusia tanah liat tak menghiraukan mereka. Semuanya berjalan mendekati siluman ular putih raksasa. “Mereka... Kenapa mereka tak menyerang kita?” Srikandi mengerucutkan pandang ke arah sang ular putih besar. “Mereka dikendalikan oleh siluman akar.” “Apa yang kalian lakukan!” seru Nagin ketika satu persatu manusia setengah lumpur mulai lompat memeluk tubuh besarnya. “Lawan kalian di sana, bodoh!” teriaknya lagi saat tiap jengkal sisik putihnya diselubungi lumpur tubuh pasukan tanah liat. Athar mengerutkan dahi. “Kenapa mereka malah menyerang si ular brengseek itu?” “Hey...” Ni’mal melangkah mendekati Alin. “Para manusia tanah liat itu... Apakah mereka mengalami hal sama seperti teman laki-laki Ratih di dalam gua tadi?” tanyanya bernada dingin. “Beberapa bulan terakhir, banyak orang hilang dilaporkan dari desa sekitar Gunung Nyai ini. Jika tebakanku benar... Mereka memang manusia-manusia yang Nagin persembahkan pada siluman pohon itu,” sahutnya menatap sang siluman berwajah topeng Buto. Ni’mal seketika lenyap dari pandangan, membuat Ki Cakarbumi terkejut dari jauh. ‘Kemana dia pergi?’ Tep! Dengan napas terengah-engah, Cucu Mbah Pur sudah menepuk pundak kanan sang siluman akar dari belakang. “Aku tak peduli berapa ribu tahun kau telah hidup. Tapi nyawa manusia bukanlah hal yang bisa kau buat jadi mainan!” serunya melayangkan kaki pada tengkuk leher lawan. Membuatnya melayang tinggi ke langit malam. Blaaakk! ‘Mustahil dia manusia!’ pikir Alin menyaksikan Ni’mal yang berhasil menendang jauh musuh. “Hyahh!” Ni’mal kembali lenyap dan menghadang lawan yang terlempar. Lelaki bermata kemerahan mulai mengayun kaki dari atas ke bawah, menghantamkannya pada kepala si siluman akar. Blaaam! Ki Cakarbumi membentur tanah dengan keras. Ia tak berkutik ketika Ni’mal terjun dari langit, menginjak punggung bertentakelnya keras. “Graaagh!” Alin tak bergeming memandang Ni’mal. ‘Kekuatannya... Keturunan Makhluk Hitam jenis apa dia?’ “Haaaargh!” Ni’mal menjambak sehelai benalu bak tentakel di punggung, menariknya keras hingga tercabut. “Haaargh!” Braall! Ia memegangi leher lawan dengan sepasang tangan, lanjut menariknya ke belakang. “Nyawa dibayar nyawa!” Swusss! Sosok ular putih raksasa yang kini berselimut tanah liat, menjerit menumbuhkan sepasang tangan dan kaki. Matanya berubah merah menyala. “Gryaaarh!” Melihat monster setengah tanah liat melaju cepat menghampiri lelaki bercelana hitam, Puspa berteriak, “Ni’mal! Awas!” Meski menoleh cepat, ia tak mampu menghindari terjangan lawan berbadan raksasa. “Ughh!” Tap! Tap! Tap! “Tinju Dewi Angin!” Puspa melesat cepat, mengepalkan tinju kanan bersiap menghantam punggung lawan. Ekor sang monster reptil tanah liat, memanjang dan melesat mengikat Puspa. “Ukhh!” “Sudahku bilang jangan gegabah!” Baru si gadis berambut biru hendak melangkah, akar-akar kuat mencuat dari tanah. Ia dan dua kawannya di belakang, kembali terbelenggu oleh akar berkekuatan gaib. Tang! Gadis berkerudung coba memotong akar dengan kuku kedua tangan, tetapi justru cakarnya yang patah. “Apa!” Ki Cakarbumi yang sudah menancapkan tangan kiri ke tanah, menoleh. “Jangan kira aku tak bisa menambah kekuatan akar-akarku!” “Aaaghh!” Ni’mal yang kini digenggam erat sang monster mirip naga tanah liat, tak mampu berkutik meski tak terima ketika Puspa dihimpit oleh ekor lawan. Darah menetes dari dua lubang hidung. ‘Kenapa tubuhku serasa dingin! Jiaaancuuk! Aku belum selesai!’ Ia mengerang mencoba lepas dari genggaman. ‘Hey, Ni’mal putune Mbah Pur! (Hey, Ni’mal Cucunya Mbah Pur!)’ Mendengar suara di kepala, Ni’mal terhenyak. “S-siapa?” ‘Kau dengar aku, kan?’ ‘Ya! Siapa kau? Suaramu tak asing!’ Ni’mal memejamkan sepasang mata yang kembali berwarna cokelat. Ia memfokuskan getaran tenaga sukma pada kepekaan batin. ‘Bagus. Aku akan lempar ini padamu, ya? Tapi kau arahkan pada siluman pohon di sana. Mengerti?’ Ia menganga. Paham bila yang mengajak bicara, adalah seseorang atau sesuatu yang semenjak tadi mengumpulkan energi alam yang juga mengintai mereka. ‘Tunggu!’ ‘Ada apa lagi? Kau kan bisa menyerap energi seranganku dengan cincin dari Ki Ageng Jagat, kan?’ ‘Aku paham rencanamu, tapi jika Puspa terluka karenamu entah sengaja atau tidak, maka kepalamu yang akan aku gantung di Keraton Utama Pancer!’ ‘Ahahah! Ancukk! Tenang saja. Aku akan membidikannya langsung padamu.’ ‘Baiklah kalau begitu! Lakukan!’ *** (Beberapa menit sebelumnya tak jauh dari medan pertempuran Ni’mal, Hutan Cidewa Hideung.) Blammm! Azizah dan Aldy menyaksikan pertempuran Ni’mal dari ujung tebing hutan. Jaraknya beberapa ratus meter dari mereka. Keduanya mengintip pertempuran dari balik pohon besar ujung jurang. Mata mereka terpukau pada sosok ular besar berkulit tanah yang kini menumbuhkan kaki dan tangan. “Aldy, kita tak bisa diam saja di sini!” ucapnya menggenggam erat pedang berkasara jawa di tangan kanan. Pemuda berseragam SM menghela napas. “Sabar! Aku takut jika kita terjun ke sana sekarang, kita malah jadi penghambat.” “Maksudmu?” Azizah menoleh kecil ke belakang. “Ni’mal sepertinya sedang mengumpulkan kekuatan,” jawabnya memperhatikan pemuda yang tenang dalam genggaman monster ular besar. “Kau tidak lihat!” Azizah geram. “Mereka sedang kesulitan!” serunya mengambil ancang-ancang. “Hey! Bebal! Kau pikir kau bisa megalahkan monster itu!” “Aku tidak!” Ia melirik pada pedang panjang di tangan. “Tapi warisan Kakekku, bisa!” Dlap! Azizah melesat, meluncur cepat dari tebing menyambar ke arah tangan ular berkaki empat. “Hyahhh!” Ia tanpa ragu menghunuskan pedang pada leher sasaran, hingga... Bzzzttt! Swuuuumm! Sebuah petir kekuningan melesat begitu cepat ke arah laju luncuran Azizah. ‘Apa itu!’ Athar, Puspa, Srikandi, dan Ni’mal, menatap kilatan petir kuning yang melesat ke arah sang ular raksasa berwarna cokelat. “Celaka!” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN