(Gunung Nyai, Kadipaten Sunyoto.)
“Hwaaaaaaargh!” Siluman pohon hitam yang ada di hadapan mereka, menciut berubah wujud. Kini tampak manusia dengan wajah serupa topeng Buto, berlidah akar menjulur. Dua taring di atas panjang melengkung ke depan, lima buah jemari tajam pada masing-masing tangannya berasal dari kayu seperti anggota badan lain. Sulur-sulur benalu bak akar bergerak liar laksana tentakel gurita dari punggung sosok tersebut. “Hahahahaha!” Kulit akarnya kian mengeras dan menghitam.
Wajah Puspa dan yang lain panik. Hanya gadis berambut biru yang mengamati hutan sekitar layu seketika, seiring perubahan bentuk lawan. ‘Celaka!’
Athar takjub memandang hutan lebat yang kini tinggal hamparan batang pohon tak berdaun. “Makhluk itu menyerap energi kehidupan hutan? Ajian naon ieu!”
Puspa menarik napas dalam, mendekatkan diri pada Srikandi. “Apa kau pernah bertemu dengannya sebelum ini?” tanyanya tak mengalihkan netra dari lawan.
“Sama sekali belum.” Srikandi menggeleng.
“Wahai utusan Sura penguasa laut!” Ia menunjuk Srikandi dengan telunjuk jari. “Tanpa air, kau tak bisa apa-apa, ya?” Tapak tangan kanannya berubah pelan jadi perisai mirip cangkang kura-kura selebar tiga meter. “Dahulu kala... Malkika Hitam yang agung telah berwasiat bila kelak akan datang pendekar berkesaktian tinggi untuk mengumpulkan sesuatu yang kami jaga! Jika benar, maka kalian pasti manusia pilihan takdir untuk mencegah tenggelamnya Manunggal, kan?”
Athar melotot, mengacungkan kujang di tangan kanan. “Woy! Kayu bakar! Apa yang kau tahu soal Bocah Takdir!”
“Jaga mulutmu! b***k leutik! (Bocah cilik!)” Sosok berwajah Buto mengentakkan kaki kanan kuat-kuat, membuat tanah di bawah Athar mencuat menyumpal mulut.
Blep!
“Cuih! Bwah! Beh!” Pemuda berkaos hitam meludah membuang bongkahan tanah di mulut. “Kurang aj-”
Srikandi meraih tuk menahan pundak Athar. “Jangan gegabah!”
Puspa menggulirkan mata ke kanan dan kiri. “Dia bisa mengendalikan unsur air dan tanah sekaligus?” gumamnya menerka.
“Dengar wahai bocah-bocah kencur! Masa depan Manunggal, tiada mampu kalian rubah! Kami, makhluk yang sejak awal berada di sini, yang berhak menentukan masa depan negeri ini!” Ia merubah tangan kirinya jadi akar berujung runcing. “Kamilah makhluk yang seharusnya kalian sembah! Sebab kami, adalah alam itu sendiri!”
Drrrrrrrrr...
Muka bumi di sekitar mulai bergetar. Disusul dengan tanah-tanah liat yang menonjol keluar, menggeliat menyatu menjadi bentuk manusia tanpa wajah. Jumlah makhluk yang mendadak muncul, berkisar tiga ratusan. Keseluruhan memiliki ujung tangan yang runcing.
Athar berbisik tanpa mengalihkan pandangan dari kawanan manusia lembap. “Kandi, mereka berair! Kau bisa gunakan itu untuk menyerang balik mereka, kan?”
“Tidak... Tidak aku tak bisa...” sahutnya.
“Naha teu bisa! (Kenapa tak bisa!)” Mimik pemuda tersebut kesal.
Alin si gadis berkerudung menyahut, “karena kandungan air pada makhluk-makhluk ini, dirasuki energi gaibnya.”
Swuuung!
Athar melempar kujang di tangan cepat ke wajah satu dari ratusan manusia tanah liat hidup. Tetapi wajah sasaran mendadak berlubang lebih dulu, membuat pusaka Athar menembus melewatinya. “Jabingan!”
“Sepertinya, mereka hanya bisa dilawan dengan unsur api,” Puspa menajamkan mata. ‘Agni... Rahaf... Kalian di mana?’
Pemuda berkaos hitam buang napas. “Ya terus kumaha ieu? (Lalu bagaimana ini?)” keluhnya memandang para lawan yang kian mendekat. Langkah kaki manusia tanah liat begitu lambat.
***
(Beberapa kilometer dari hutan mati penuh manusia tanah liat.)
Spllaaat! Splaat! Splaat! Splaat! Splaat!
Ni’mal bersusah payah mengelak dari cambukan ekor ular putih raksasa. Tanah yang lembap serta tubuhnya yang berkeringat, mulai terasa menghambat. Belum lagi sabetan siluman ular yang begitu cepat. Luka pada pahanya yang sempat tergigit, begitu menyengat.
“Hahahah! Sampai kapan kau akan menghindar, bocah!”
Netra pemuda bercelana hitam, mengamati pergerakan pangkal ekor lawan. Tiap ia memberanikan diri tuk mendekat, serangan lawan nyaris menggores badan. ‘Apa yang harus aku lakukan?’ pikirnya menahan nyeri seraya mundur mengatur jarak.
“Hai, Bocah tengik! Mana aura amarahmu tadi? Hanya gertakan saja, Ha!”
Slluub!
Sang siluman ular putih menusuk tanah lempung di bawah, ujung ekornya muncul mencuat keluar dari tanah yang Ni’mal pijak dalam kecepatan tinggi. Alhasil, pemuda berambut lebat tersabet, terlempar menabrak pohon berdaun lebat terdekat.
“Hugh!” Baru ia mengerjapkan mata menahan nyeri di punggung, matanya terbelalak meihat sang lawan membuka mulut lebar-lebar seraya melesat cepat menyambar. Ni’mal yang menggapai keris di tanah lembap, terpeleset. Sadar ia gagal melompat, ia memilih berguling di tanah basah.
Srraaakk!
Tangannya reflek mengayunkan keris ke tubuh sang siluman ular putih. Tanpa menoleh, Ni’mal sadar bila kepala lawan tengah meliuk hendak mematuk. Ia kuat-kuat mengentakkan tapak kiri tuk melompat naik ke punggung reptil raksasa. “Haah!”
Tlaaap!
“Makan ini!” Ni’mal mendarat menancapkan ujung tajam keris pada sang siluman melata.
Jlup!
“Hwaaaarkkk!” Ia meraung, menyabetkan ekor pada lelaki di punggung besarnya.
Blaaag!
Melihat sabetannya berhasil, sang siluman lanjut menusuk tanah lempung di bawah dengan ekornya yang panjang. “Manusia kotor!”
“Kau yang buatku kotor! Dasar-”
Blaag!
Ni’mal yang perhatiannya teralih, tak waspada. Ia terlempar ke awang-awang oleh sabetan ekor lawan. “Jaaaaan-”
Lhuuuwb!
Sang ular raksasa, berhasil menelan tubuh Ni’mal bulat-bulat, masuk ke kerongkongan.
***
(Beberapa jam yang lalu, Taman Keraton Kadipaten Pancer.)
Gus Armi berdiri di hadapan Teguh dan Taufik-lelaki yang melawan Ni’mal di dekat candi wilayah Arsir sebab kesalahpahaman. “Genthonk, susul dua gadis itu bersama Baron dan Zaen. Tangkap PM yang menghalangi kalian, bawa kemari kalau perlu.”
Teguh menunduk, manggut. “Nggih, Gus...”
Sosok berblangkon hitam ganti menatap pemuda tampan berambut ikal. “Thole, koen susul Putune Mbah Pur ning Gunung Nyai. Pokoke golet nganti ketemu! (Nak, kau cari cucu Mbah Pur di Gunung Nyai. Pokoknya cari sampai ketemu!)”
“Sendiko, Raden...” Ia menunduk, mengangguk.
“Tapi ingat.” Gus Armi menepuk pundak Taufik. “Jika kau bertemu Ki Cakarbumi, jangan tunggu lama untuk mengeluarkan semua yang kau bisa, mengerti?”
Teguh yang mendengar nama tersebut, lirih menoleh pada Taufik. ‘Cuuk... Cerita kae berati temenan? (Siaal... Legenda itu benar nyata?)’
***
Athar, Puspa, Alin, dan Srikandi, sibuk mengelak serangan manusia tanah liat tak berwajah. Di antara mereka, hanya serangan Puspa yang sedikit berdampak. Busana mereka ternoda oleh lumpur. Di balik pakaian para pendekar, beberapa luka memar oleh hantaman lawan bersemayam.
Usai menampar manusia tanah liat, Srikandi melompat ke samping lelaki berkujang. “Athar! Buat lingkaran mantra seperti biasa!”
“Setiap aku membuat garis di tanah, garisnya langsung hilang karena tanahnya kembali rapat!” sahutnya usai menendang dorong lawan yang mendekat.
“Awas!” Alin berteriak manakala sosok manusia serupa lumpur, muncul dari bawah kaki Athar dan Srikandi. Kedua kaki mereka digenggam erat.
Lima lawan dari sisi berlawanan, melempar masing-masing satu sosok monster tanah liat ke arah gadis berambut biru dan pria berkaos hitam. Kedua sosok tersebut berubah jadi gumpalan tanah besar di udara.
Puspa yang berada jauh dari mereka, melihat sambil mengelak dari belasan lawan. “Menyingkir!”
“Nggeeeeerrrrr raaa miinggirrrr taabraaak!” Ni’mal yang sekuat tenaga mencagak taring ular putih raksasa di ambang mulut, sekuat tenaga melempar-mengempaskan siluman ular putih. Meski kaos hitamnya sebagian hancur sebab cairan asam siluman ular, kulitnya sama sekali tak terluka oleh bisa.
Swuung! Blaaaak!
Badan ular yang besar menyapu ratusan monster lamban yang mengepung Athar dan Srikandi. Meski keduanya turut terhantam dan terlontar masuk ke dalam hutan tak berdaun.
“Dasar bodoh!” seru Athar seraya terlempar.
“Kau...” Sang manusia bertubuh pohon menatap Ni’mal. “Apa hubunganmu dengan para Sura!”
“Hai siluman tua peot! Apa hubunganmu dengan Malkika Hitam?” tanyanya balik mengacungkan telunjuk kiri.
“Jaga mulutmu!” Ketika sosok berkepala topeng buto mengentakkan kaki ke tanah dan membuat bongkahan batu menyembul keluar dari bumi yang Ni’mal pijak, lelaki bermata cokelat seketika lenyap.
“Jaga sikapmu!” Ia muncul di belakang lawan, meluruskan kaki kanan pada tengkuk sasaran.
Dlaaak!
“Huugh!” Ia terlempar dengan tengkuk batang pohon yang retak. ‘Sekilas aku merasakan adanya-‘
Dlaaak!
Lagi, Ni’mal muncul tepat di hadapan lawan meluncurkan tinju upper-cut kuat-kuat. Bogemnya meremukkan leher kayu depan. “Berapa banyak manusia yang telah kau siksa!” Pemuda berkaos rusak melompat mencegat, ia memutar badan di udara menghantamkan tumit tepat ke dahi lawan.
Blaaam!
Sang monster mendarat keras di tanah lembap, menciptakan cekungan lebar. Empasan udara besar mendorong paksa Puspa dan Alin yang memperhatikan pertarungan dari jarak dua puluh meter.
Ni’mal berdiri bungkuk. Ia coba menenangkan napas yang terengah. ‘Duh Gusti! Kenapa baru begini saja badanku berasa gemetar tak mampu bergerak lagi?’
“Asal kau tahu, hai anak muda! Aku sudah hidup dan melawan ribuan pendekar sakti...” Sang siluman pohon kembali bangkit dengan sulur benalu di punggung. Ia menjetikkan jari kayunya ketika manusia-manusia tanah liat hendak menyergap Ni’mal, membuat semua berhenti melangkah. “Namaku... Ki Cakarbumi!”