(Beberapa bulan silam, peringatan hari jadi Kadipaten Sunyoto.)
Saat sang dalang menyampaikan pembuka, suara yang penuh kelembutan membuat para penonton hening, menyimak. Senyum dari hadirin yang mayoritas mengenakan busana adat Jawa, merekah. Ratih yang terfokus pada penampilan pangelaran wayang kulit, tak sadar bila Bambang asyik memperhatikannya sambil cengar-cengir.
Suara merdu dari sinden-sinden asli Kadipaten Sunyoto mengalunkan tembang, Ratih yang tenggelam menikmati suasana, tak sadar tangannya memegang tangan pemuda tampan di sebelahnya.
“Widih nyaman bener, ya?” canda Bambang melirik genit.
“Apa tha?” Gadis bersanggul, menoleh pada tangan kanan. Mukanya memerah tatkala sadar mereka saling berpegang tangan. “E-ealah... M-maaf aku khilaf,” ucap Ratih malu-malu, menarik pelan tangannya dari genggaman Bambang.
Bambang tersenyum menatap panggung. Ia tak membiarkan Ratih melepas genggamannya. “Andai saja tiap malam bisa begini, ya... Nirwana pun pasti kalah indah,” ujarnya tenang sambil memejamkan mata.
“E-eh...” Wajah Ratih makin merah. Malu bercampur ragu. Setelah menyapukan pandang ke sekitar dan tak ada yang mengamati genggaman tangan mereka, ia menarik napas dalam. Membalas erat genggaman Bambang. Gadis berbusana hijau tersenyum menunduk menikmati momen. ‘Iya, Mas. Kalau begini terus juga aku betah!’ batinya seraya menahan senyum.
Bambang mendekatkan kepalanya pada telinga Ratih. Ia berbisik, “jangan pergi dariku ya, Ratih...”
***
(Gua Gunung Nyai, Kadipaten Sunyoto.)
Ni’mal, Puspa, Alin, Srikandi, dan Athar bersiaga menatap lelaki berkulit kayu yang melangkah ke arah mereka. Gadis berkemben hijau justru lirih menghampiri, air mata mengalir membasahi pipi. “M-Mas Bambang?”
Belum sempat Ni’mal bergerak, Athar lebih dulu menarik lengan kiri Ratih seraya berteriak, “dia sudah bukan temanmu!”
“Tidak! Itu Mas Bambang!” Ratih mencoba lepas dari genggaman pemuda berkujang.
Ni’mal menoleh kecil ke kiri, di mana gadis berambut biru sudah siaga dengan trisula bekunya. “Di mana makhluk pohon tadi?”
“Hawa keberadaanya hilang. Di atas gua ini adalah hutan, aku yakin dia menunggu kita di atas sana,” jawabnya.
Puspa mengeratkan selendang pada genggaman tinju kanan. “Apa lelaki itu, sudah mati?”
Srikandi manggut. “Ya. Sepertinya dia sudah dicerna makhluk pohon tersebut selama berhari-hari. Aku yakin sukmanya juga terperangkap dalam tubuh asli makhluk tadi.”
Ni’mal mengeratkan kepalan tangan. “Jadi, yang ada di depan kita ini hanya cangkang saja, ya?” Ia berdiri tegap, menatap ke atas lubang di langit-langit gua yang sudah kembali terbuka. “Kalian, bawa Ratih keluar.” Ia melirik pada gadis berkerudung. “Alin, kau yang lebih lama berhadapan dengan siluman pohon tadi, jadi aku yakin kau bisa tahu di mana keberadaan makhluk itu.”
“Baik.” Ia mengangguk.
“Lalu, kau?” Srikandi mengerutkan kening menatap Ni’mal.
Pemuda berkaos hitam lengan panjang, mengambil ancang-ancang. Tangan kanannya erat menggenggam tangkai keris panjang. “Jika ada yang harus disalahkan karena pembunuhan, maka cukup aku orangnya!”
Dlap!
Ni’mal melesat cepat, melewati Ratih dan Athar. Ia terus meluncur, mengarahkan ujung tajam keris pada manusia tampan berkulit kayu. “Haaargh!”
Bagian kulit pada wajah Bambang, cepat dirambati akar yang menghitam. Kedua tangannya pun, berubah wujud menyerupai akar hijau berujung runcing. “Raaatiiihhh!” Ia berteriak mengayunkan senjaata pada Ni’mal.
“Tidaaaak!” Ratih coba berontak, tapi pegangan Athar terlalu kuat.
Thaaang!
Mata keris Ni’mal menghantam tangan akar lawan. “Jika kau masih di sana maka jangan melawan!” seru Ni’mal.
Puspa yang percaya pada Ni’mal, menepuk pundak kanan Srikandi. Saat gadis berambut biru menoleh, ia mengangguk. Isyarat untuk memulai mandat Ni’mal.
“Athar! Bawa Ratih!” Srikandi melesat memijak dinding gua kuat-kuat, lanjut meloncat keluar lewat lubang pada langit-langit.
Gadis berambut panjang hitam, mengulurkan selendangnya pelan pada Alin. “Ayo. Ni’mal bisa urus ini sendiri.” Ia menatap langit-langit seraya jongkok, sejurus kemudian memijak keras tanah tuk melambung tinggi.
Dlaam!
“Kyaaaaa!” Alin merem, erat memegangi selendang sembari terangkat ke atas menyusul Puspa.
Athar menarik paksa Ratih, lanjut melesat ke dinding dan memijak keras tuk menyusul yang lain. Ia tak peduli pada rontaan gadis yang ia dekap. “Heh! Buka matamu! Dia sudah bukan manusia!”
***
(Perumahan PM)
Agni yang baru saja terbang membawa gadis berkacamata, mendarat di belakang kerumunan PM yang tengah mengamati puing-puing rumah Sebastian. Agni berdengus kesal. “Duhh... Kita telat!”
Gadis berbusana putih menyapukan mata ke langit malam. “Gus Armi bilang tadi, kita suruh minta PM sekitar juga buat hadang robot PM merah, benar kan? Tapi tak ada jejak asap di langit. Sepertinya p*********n sudah lama.”
‘Benar juga.’ Gadis berjubah hitam merah, mendekati lelaki berseragam PM terdekat. “Om, Om?”
Lelaki berhelm hitam menoleh kecil. Tahu bila yang bertanya adalah gadis kecil, ia menoleh penuh. “Hey, bocah cilik, kenapa kau di sini? Di sini berbahaya! Cepat minggir!”
“Heh! Aku sudah delapan belas tahun plus-plus!” sahutnya nyolot.
“Sssstt! Agni!” Rahaf menarik pundak kawannya. “Anu, Om... Begini, itu... Kami dapat perintah buat bilang kalau PM setempat harus mencegah robot PM merah yang melintas.”
“Apa? Mandat dari siapa?”
“Raden Armi, lah!” Agni sewot.
“P-penasihat Raja?”
Agni nyolot, “heh! Tanya balik lagi kau! Kau lupa aku siapa? Kau tak lihat pertarunganku di Sayembara kemarin ya? Atau mau aku bakar kalian semua? Ha!”
“Hiiiiih! Agni! Diem!” Gadis berkacamata menggoyang-goyang bahu Agni dari samping kanan.
“T-tunggu... Kau...” Lelaki berseragam PM, membuka kaca helm otomatisnya. “Ahh... Maaf. Mohon tunggu sebentar.” Ia mendekatkan alat komunikasi yang berwujud jam tangan. “Markas 34. Markas 34, 517 monitor.”
‘Masuk, Pak Parno. Bagaimana perkembangan?’
“Gadis peserta Sayembara lalu, mengaku sebagai utusan Keraton Utama. Dia bilang, kita harus mencegah robot tempur merah yang melintas, ganti.”
‘Apa? Tapi markas pusat PM belum beri mandat, Pak. Lagi pula jika ada rob-haarkh!’
Bunyi benda tajam yang menggores benda keras, terdengar sebelum suara lelaki penjaga pos lenyap.
“Halo! Markas 34? Monitor, Markas 34! Halo? Ton, monitor Ton!”
‘Masuk, Pak. Bagaimana?’ Suara Santo, terdengar samar menyahut dari sambungan telepon.
“Siapa ini? Di mana Tono?”
‘Heh! Kau berani kurang ajar pada kerabat Kaliwon Yo? Apa hanya karena Beliau sedang dikurung jadi kau berani begini?’
Sejenak diam, ia berpikir. “Ah... Maaf, ini Tuan Santo?”
‘Kau bilang tadi gadis peserta Sayembara, ya?’
“I-iya benar, Tuan.”
‘Sebastian sudah aku amankan. Dia tadi bilang kalau pelaku p*********n diam-diam adalah gadis yang pernah ikut Sayembara. Jadi, aku perintahkan pada semua PM di sana, untuk tangkap gadis yang ikut Sayembara itu!’
Agni dan Rahaf yang mendengar lirih obrolan, mulai mundur perlahan.
Bzzzt bzzt bzzt...
Seluruh alat komunikasi puluhan PM di sana, bergetar, sebelum ultimatum Santo terdengar, ‘aku ulangi, semua PM di sekitar TKP p*********n kediaman Jendral Sebastian untuk menangkap perempuan yang pernah mengikuti Sayembara!’
Orang-orang berseragam PM celingukan saling memandang. Kepala mereka terhenti pada dua gadis yang pernah ditayangkan sebagai peserta Sayembara beberapa waktu lalu. “Diam di tempat!” seru beberapa orang PM seraya menodongkan senapan laras panjang pada mereka.
***
(Dalam Gua Gunung Nyai, Kadipaten Sunyoto.)
“Ratih...” Bambang yang berwujud manusia kulit akar, membenturkan tangan tajamnya pada keris yang Ni’mal ayunkan.
Taang!
Ni’mal yang sedang adu dorong senjata, menekan kuat tangan tajam lawan ke bawah, sejurus kemudian melompat kayang seraya cepat menebas leher musuh dari belakang. “Haah!”
Sllaaakk!
Ia berhasil memenggal kepala lawan. ‘Kenapa baru sebentar tapi badanku sudah terasa lemas?’ pikirnya seraya memasukan pusaka pada sarung senjata. Ia menatap ke atas bersiap melompat.
Makhluk berdaging tanaman, menumbuhkan kepalanya lagi. Wajahnya berada di belakang kepala. “Ratih...”
“Ehhalah Gusti?” Pemuda berkaos hitam lengan panjang kembali menghadap lawan. “Dia menumbuhkan kepala?” Ia menatap tajam.
“Ratih!” Makhluk berwajah manusia, melaju cepat mengayunkan tangan yang kini menyerupa cambuk.
Ni’mal melompat, di awang-awang ia memutar badan, melempar keris ke dahi lawan. “Jangan melawan!”
Clep!
Ia memperdalam keris yang tertancap pada kening musuh dengan tapak kaki kanan. “Haah!”
“Ratih!” Dari perutnya, sebuah akar hijau melesat membelit tubuh lelaki bercelana hitam.
“Hugh!” Perut Ni’mal ditekan keras. ‘Di mana kelemahan makhluk ini!’ Ia membentur-benturkan kedua siku pada akar yang menjerat.
“Ratih!” Bambang membuka mulut. Lidahnya berubah jadi akar panjang tajam yang meluncur cepat ke kepala lawan.
“Haaargh!” Ni’mal seketika lenyap dari jeratan. Tubuhnya kini berada tepat di belakang Bambang. “Diam dan mati!” teriaknya melotot menghantam keras kepala belakang lawan dengan kedua bogem tangan.
Praall!
Usai meremuk kepala, Ni’mal berguling menggapai keris yang tergeletak di tanah. Ia lanjut memotong perut lawan dalam tiga kali ayunan.
Srruubb!
Ketika sulur-sulur hijau keluar dari perut dan menggapai kembali badan bagian bawah, Ni’mal menyempitkan matanya yang sedikit memerah. Ia cepat mengutus tangan kanannya kuat-kuat ke arah jantung lawan.
Jruubb!
Saat Ni’mal mencabut tangannya dari badan manusia pohon, seketika itu pula sulur-sulur hijau berhenti bergerak. ‘Jadi benar, ya?’ Ia membuka telapak tangan. Tampak sekeping batu merah bersinar yang begitu mirip dengan batu yang terdapat pada makhluk-makhluk campuran Makhluk Hitam.
Memasukan batu pada saku celana, Ni’mal bersiap melompat ke atas lubang di langit-langit gua. ‘Tinggal makhluk itu saja!’
Dlap!
Ni’mal melompat kuat matanya tertuju pada gemintang di dekat awan-awan. Hingga...
Jluwbbb!
“Huurgh!” Ia nyingir menahan sakit pada paha. Manakala menoleh ke bawah, dijumpainya sosok ular putih yang begitu panjang. Pangkal ular tersebut berasal dari potongan badan atas Bambang.
“Heheheh! Kau kira kami keturunan makhluk agung akan tewas dengan sangat mudah, ya?” Ular putih panjang tersebut menyeret Ni’mal keluar gua lewat lubang di atas langit-langit, ketika hawa malam serta pepohonan ia jumpai, sang ular besar mengayun-melempar tubuh pria berkaos hitam ke arah tanah becek berjenis lempung.