Ular Putih Dan Pohon Legenda

1849 Kata
(Di dalam perut gua, Gunung Nyai.) Tempat lembap yang merupakan tengah gua lebar berbentuk lingkaran, pada bagian tengah ditumbuhi sebuah pohon besar kering tak berdaun. Batangnya hitam, dengan ujung-ujung dahan yang runcing. Sebagian akar tuanya menjulang timbul tenggelam oleh tanah gua yang hitam. Anehnya, tiada lumut maupun hal yang mengindikasikan pohon besar tua itu basah seperti lingkungan sekitar. Pada langit-langit gua terdapat satu lubang yang menampilkan taburan bintang. Dari sana juga sinar purnama memberikan sedikit penerangan. Meski di beberapa dinding gua terdapat obor, keseluruhan padam. Hingga... Lhuwb! Obor-obor di sekitar dinding yang melingkar, menyala mendadak. Tampaklah jelas adanya lima terowongan untuk menuju ke sana.  Dan dari lima lubang gelap yang tersebar di beberapa sisi dinding, bunyi benda besar yang diarak, menggema. Sampai sepasang mata biru menyala, muncul mendekat. Sesosok ular putih raksasa yang sempat menyerang Ni’mal, merayap mendekati pohon besar tanpa daun. Ia menjulur-julurkan lidah, sebelum mencoba memuntahkan sesuatu dari dalam perut. Sembari berusaha memuntahkan, badan dan ekornya menjerat batang pohon besar. Blekk... Ratih si gadis berbusana hijau, dimuntahkan sang siluman ular putih. Gadis berselendang itu tak sadarkan diri, hanya tergeletak berlumurkan cairan bak lendir bening. Selain wajahnya yang pucat, suhu tubuhnya turun drastis. Sosok siluman ular putih raksasa, merayap ke balik pohon kering. Setelah beberapa saat, ia memunculkan dirinya dengan wujud wanita cantik berbusana dayang putih. Tanpa alas kaki, ia melangkah menghampiri Ratih yang terpejam di tanah lembap. Lirih ia duduk di sebelah gadis bersanggul, kemudian cepat menjambak tanpa belas kasihan. Ceet! Ia menghadapkan muka Ratih pada pohon kering. “Wahai abdi Malkika Hitam yang setia... Seperti pintamu, aku bawakan tumbal dengan kesaktian.” ‘Apa yang bisa dia lakukan?’ suara tanpa rupa menggema pada ruang gua. “Kemampuan untuk memulihkan luka dalam waktu singkat. Itu yang kau mau, bukan?” tanyanya masih erat menjambak sanggul Ratih. ‘Alin... Di mana gadis itu?’ Suara tanpa kembali menggelegar. Srraatt! Sebuah akar hitam mencuat keluar dari tanah, menjerat perut sang wanita berbusana putih. “Hugh!” Ia sontak melepas rambut gadis berbusana hijau, membiarkannya jatuh membentur tanah. “T-tapi... Bocah itu sama sekali tak berguna! K-kenapa kau begitu menginginkannya!’ Batang pohon hitam raksasa sedikit bergetar, sebelum sebuah tonjolan yang menyerupa muka manusia, jelas tampak. Wajah bak kepala patung kayu di batang bagian atas pohon. “Kalau benar dia hanya gadis biasa, lantas kenapa ular hijau itu begitu setia melindunginya! Katakan padaku Nagin!” Krryeeet... “Aghhh...” Jeratan akar pada tubuh perempuan berhidung mancung kian kencang. Usahanya berontak pun percuma. Ratih yang mendengar teriakan perempuan, sayup mengerjapkan mata. Tubuhnya begitu lemas tuk digerakkan. Jangankan berdiri, menggerakkan ujung jari pun tak bertenaga. Blaak! Sosok siluman pohon hitam, memengayun melemparkan tubuh Nagin e arah dinding gua. Kini akar besar lain mencuat keluar dari tanah dan mengikat badan Ratih. “Gadis ini sendiri, belum cukup untuk membangkitkanku dari kutukan si monyet terkutuk itu!” Ia mengangkat, mendekatkan Ratih padanya dengan akar yang berfungsi laksana tangan. Mengusap pinggulnya yang terluka oleh manusia pohon, ia buka mulut, “a-aku berjanji, akan membawakan gadis itu padamu, Tuan.” Baru sang manusia pohon membuka mulutnya lebar, teriakan seorang gadis memancing perhatian mereka, “tak usah repot mencariku!” Alin si gadis bercadar, menampakkan diri. “Malam ini juga, kalian akan lenyap!” “Heh! Gadis bodoh! Jaga ucapanmu!” Kedua kaki perempuan bernama Nagin, menyatu menjadi ekor ular bersisik putih. “Akan aku tarik lidahmu keluar dari mulut!” Ia melesat dengan badan bawah ular. Kuku pada kedua tangannya memanjang, memadat berwarna putih. Daak! Saat jaraknya dengan gadis berkerudung tinggal tiga meter, sebuah perisai gaib padat menghalau Nagin tuk menyerang target. ‘Apa ini! Bocah ini tak mungkin membuatnya!’ Wajahnya geram. “Lepaskan gadis itu, maka akan aku lepas pagar gaibnya!” teriak Athar yang baru muncul dari salah satu lubang gua. Ia berjalan mendekati Alin. “Herrrgh! Siapa kau!” teriaknya menatap tajam Athar. “Sudah berapa lama kalian berdiam di sini? Dan berapa lama kalian memburu manusia untuk dijadikan tumbal?” Srikandi si gadis berambut biru, muncul dari sisi lain lubang gua. Di tangan kirinya, sebuah trisula es panjang erat digenggam. “Sssshh....” Nagin si wanita separuh ular balik badan menoleh pada Srikandi. ‘Gadis ini... Aura wanita laut kidul!’ Puspa dengan selendang hijau membalut tangan kanan, muncul dari kegelapan. “Apakah kau ini legenda yang pernah diceritakan? Satu dari belasan panglima Malkika Hitam yang dikutuk oleh Ksatria Manunggal?” “Apa... Di antara kalian ada yang berkaitan dengan...” Ni’mal berjalan pelan di belakang Puspa. Tangan kanannya erat memegang keris sepanjang satu meter. “Arjuna Merah?” lanjutnya mengacungkan pusaka pada siluman pohon hitam. Deg! Sang siluman pohon dan siluman ular, serentak terkejut merasakan aura Ni’mal.   *** (Taman belakang Keraton Utama Pancer.) Gus Armi yang tengah menikmati secangkir kopi lempung dan sebatang lisong, menoleh pada Bongbong, Rahaf, dan Agni yang mendekat. “Ada apa kok pada gelisah begitu?” tanyanya setelah ketiganya berada satu meter dari pondok bambu yang ia duduki. Tangan kanannya mengangkat cangkir berisi kopi warna cokelat. Bongbong lebih dulu buka mulut, “Kadipaten Senlin sedang diserang lagi, Raden.” “Apa Prabu Paku Utomo sudah tahu?” Sosok berbusana hitam tersebut berhenti mendekatkan cangkir pada mulut. Ia melirik pada gadis berkerudung cokelat. “Siapa yang menyerang dan diserang?” “P-Prabu Paku Utomo meminta Raden Armi memberi kami mandat.” Bongbong manggut sekali. “Yang saya dengar, komplek kediaman Sebastian yang diserang oleh sebuah robot tempur PM, Raden,” jelasnya lagi. “Sudah berani, ya...” Gus Armi menggulirkan mata ke kanan dan kiri sebelum lanjut menyeruput kopi. Ia berdengus sejenak. “Sepertinya terlambat,” gumamnya lirih. “Rahaf dan Agni, segera ke sana sekarang juga. Ajak serta bocah yang ahli dalam bidang mesin itu.” “M-maksudnya, Kak Wahyu, Raden?” Agni bertanya. “Ya, minta dia jaga jarak jika terjadi pertarungan. Dan Bongbong, sampaikan pada setiap pos PM di sana, bila ada robot merah yang melintas, tangkap! Atau mereka yang berdiam akan ditangkap oleh Keraton Utama Manunggal,” perintahnya menaruh kembali secangkir kopi. “Sendiko dawuh, Raden.” *** (Di dalam gua lembap, Gunung Nyai.) Puspa menjeratkan selendang hijau tosca di tangan kanan pada akar hitam besar yang membelenggu Ratih. Gadis berambut panjang tersebut menarik akar sekuat tenaga. “Ni’mal! Sekarang!” Ni’mal memijak tanah kuat-kuat, lanjut mengibaskan keris di tangan ke arah akar di depan. “Hyaaaah!” Srrraaaak! Sang siluman pohon hitam terperanjat, tak menyangka ada manusia di era ini yang mampu memutus akarnya dalam satu kali ayunan. ‘Padahal aura merahnya masih terbelenggu oleh sesuatu pada perutnya! Bagaimana mungkin bocah ini bisa!’ Greep! Ni’mal yang menangkap lengan Ratih, cepat-cepat melempar tubuh gadis tersebut ke arah Athar yang sudah bersiap. “Tangkap!” “Shhhhsss! Tak akan aku biarkan!” Sang manusia berbadan bawah ular melesat bermaksud menghalangi. Tetapi lagi-lagi, perisai gaib tak kasat mata membentur menghalaunya maju. Dak! Dak! Dak! Dak! “Arrkh!” Ia terus mengayunkan cakar pada perisai gaib di hadapannya. Athar tersenyum simpul menangkap badan gadis berbusana hijau. “Usaha bagus, Nenek tua! Tapi rajahku tak bisa dihancurkan semudah itu, Juminten!” ‘Rajah?’ Sang wanita bercakar putih mengamati sekitar, mencari-cari sumber rajah yang Athar maksud. Makhluk berbadan pohon hitam kering mengubah ranting di badan, berwujud serupa tangan panjang besar bercakar. “Bodoh! Punggungmu!” Nagin meraba bagian punggung. Didapatinya sebilah kujang kecil yang menancap. “Bocah kurang ajar!” “Ehh, keceplosan...” Athar nyingir, menurunkan Ratih ke tanah di samping Alin. “Hwaaargh!” Kedua tangan Nagin berubah jadi kepala ular putih bertaring runcing. Ketika sang siluman ular putih melesat maju k arah Athar, gadis berambut biru dengan trisula es di tangan, melompat menghalangi. “Akan aku bawa kau pada Ibu Ratu untuk diadili!” serunya menancapkan ujung tajam pusaka pada tanah lembap di bawah. Jlaap! Jrazz!! Dari tanah yang ditusuk Srikandi, bongkahan es tajam mencuat keluar dari tanah, yang seketika itu membekukan manusia ular dalam sekejap. “Ni’mal, sekarang!” Srikandi erat memegang tangkai trisula es manakala raga siluman ular bergetar, mencoba lolos dari bongkahan es. Pyaarrr! Es batu besar yang sempat membelenggu siluman ular, hancur jadi beberapa kepingan setelah Ni’mal menghantamkan keris padanya. Tubuh makhluk separuh ular termutilasi dalam keadaan beku. Alin tercengang menyaksikan hancurnya tubuh sosok yang lama menebar teror pada warga desa sekitar. ‘Orang-orang ini... Siapa mereka sebenarnya? Bagaimana mungkin siluman seperti dia bisa kalah dalam sekejap saja?’ batinnya. ‘Apa mungkin mereka SM yang menyamar?’ Ni’mal melangkah mundur, mensejajarkan diri pada Puspa, Athar, Srikandi, dan Alin yang berdiri. Napasnya terengah-engah. ‘Kenapa baru sebentar... Tapi tubuhku sudah lemas begini?’ pikirnya mengadu deret gigi atas dan bawah. Dlaag! Dlaag! Dlaag! Sang siluman pohon bertepuk tangan beriring tawa. “Kalian, adalah pendekar muda pertama yang berhasil menghiburku.” Athar mengacungkan kujang pada wajah siluman  pohon. “Heh! Pohon jengkol goreng! Cincing sia! (Heh! Pohon jengkol jelek, diam kau!)” “Kalau saja Malkika Hitam ada di sini, beliau pasti akan terhibur melihat kesaktian kalian...” Ratih yang lirih mulai berdiri, sayup menatap lawan. “D-di mana Mas Bambang!” Mendengar ucapan Ratih, semua kawannya menoleh menaikkan alis. Penasaran. “Bambang siapa?” Puspa bertanya pada Alin. “Dia, itu...” Gadis bercadar menunduk, tak mampu menjawab. “Ahhh... Iya... Lelaki yang Nagin persembahkan padaku beberapa waktu lalu, ya?” Tubuh raksasa sang pohon hitam, lirih tenggelam ke dalam tanah. Jrusss! Jruss! Jruss! Tiga akar berujung runcing menusuk kepingan jasad wanita ular yang tersisa. Tubuh wanita tersebut, mengering dalam sekejap, bagai dihisap. Ni’mal yang mengamati, terbelalak saat matanya menangkap sekeping batu merah bercahaya yang ikut terserap masuk ke dalam akar besar. ‘Itu! Bahaya!’ “Ni’mal!” Mereka berempat kecuali Alin, berteriak memanggil Ni’mal yang melesat cepat menghampiri akar besar tajam tersebut. Srraaakk! Sebuah akar hitam lain, melesat cepat dari dalam tanah, berhasil menggores paha kanan pemuda berkaos hitam. Setelah menggores, akar tersebut lanjut berayun, menyabet Ni’mal keras kembali ke arah tebing gua. Blaaaag! Puspa cepat menyambar tubuh Ni’mal. “Kau tak apa?” Srikandi menoleh kecil pada Ni’mal, netra gadis itu tetap fokus pada lawan yang kini mulai tenggelam ke dalam tanah. “A-apa? Apa yang kau lihat?” “Nahh, dan sekarang... Sebelum aku buat kalian jadi tumbal, akan aku pertemukan dengan kacung baruku!” Sang siluman pohon tak lagi tampak bersama akar-akarnya. Drrrrrreeeegggg...... Tanah gua bergetar sejenak, seiring dengan sebuah bunga hitam raksasa kuncup yang timbul dari tanah. Athar langsung menoleh ke sekitar, ia cepat-cepat berlari melingkari ruangan dengan kujang yang diarak pada muka tanah. Srikandi yang melihat respon Athar, paham bila bunga raksasa tersebut adalah lawan selanjutnya. “Semua, siaga!” Ni’mal turun perlahan dari dekapan Puspa. ‘Aura batu merah barusan... Ada pada bunga itu?’ Bunga hitam yang kuncup, terbuka pelan. Dalam bunga besar itu, tampak warna merah darah. Dari sana pula, sesosok pria berkulitkan kayu, muncul. Hanya wajah pria itu yang masih sama seperti manusia. Melihat sosok di hadapannya, air mata Ratih mengucur. “M-Mas Bambang?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN