Tumbal Kebangkitan

1642 Kata
(Hutan sekitar Gunung Nyai, Kadipaten Sunyoto.) “Apa urusanmu hai Kisanak! Apa hakmu menyerangku!” Sang dukun berdiri tegap, melotot memandang Ni’mal. Ni’mal balas melotot. “Lalu apa urusanmu bawa temanku ini?” Deg! Raga sang dukun gemetar setelah dibentak lawan. ‘Siapa orang ini? Apa dia SM kelas atas?’ Ia menolehkan mata pada Puspa dan kawan-kawan. ‘Mereka bertiga juga sepertinya kuat...’ Ni’mal yang menaruh Ratih pelan ke atas tanah, menatap tajam lelaki berbusana serba hitam. “Woy Bapak tua! Katakan apa alasanmu membawa temanku ini?” ‘Halah! Peduli setan!’ Ia cepat mencabut keris dari balik busana hitam, sejurus kemudian melemparnya pada Ni’mal.  Tangan kirinya meraih keris kecil tumpul dari saku celana panjang, menancapkannya pada tanah di bawah. “Hai dedemit hutan! Bantu aku!” Clep! Tanpa bergeser, pemuda berambut lebat hanya memiringkan badan tuk menghindari lemparan keris tajam. Athar yang paham dengan ajian yang sang dukun lakukan, berteriak pada Ni’mal, “awas! Minggir!” Srraak! Ni’mal yang belum sempat bergerak, punggungnya tergores oleh cakar sesosok kuntilanak hitam. “Kyihihihihih!” Sosok berwujud transparan menjilat cakar tajam yang baru ia gunakan. Belasan sosok kuntilanak merah dan putih kini muncul dari segala penjuru, beterbangan di sekitar hutan. Grreep! Sepasang tangan berkulit biru pucat muncul dari bawah tanah, erat menggenggam pergelangan kaki Ni’mal. Cucu Mbah Pur tersebut reflek melompat tinggi menarik paksa sosok yang mencengkeramnya. Melihat adanya perempuan mayat hidup, Ni’mal mengayun sepasang kaki kuat, menyingkirkan sosok yang erat mencengkeram. “Dasar setaan!” “Srikandi, buat es besar dan hantam tanah di sekitar si dukun!” seru pemuda berjaket biru menatap Srikandi. “Puspa, cepat tarik gadis yang-” Belum Athar selesai berkomando, seekor ular putih raksasa membuka mulut hendak melahap Ni’mal dan Ratih. Clapp! Ni’mal yang sempat melompat tinggi tuk menghindar, justru tergigit oleh taring depan panjang sang ular putih raksasa, pada bagian paha.  Makhluk melata tersebut menyeret membawa Ni’mal paksa. Sedangkan Ratih tertelan lebih dulu oleh makhluk tersebut. Para kuntilanak pun tertawa melihatnya. Lelaki bermata cokelat meringis menahan perih. “Aku bukan santapanmu!” serunya menghantamkan kedua tangan yang mengepal pada taring ular yang menusuknya. Blaaag! Sang ular lanjut pergi, mendesis merasakan nyeri. Meski tak berhasil membawa Ni’mal, ia berhasil menelan Ratih. Ni’mal yang hendak mengejar, ditahan pundaknya oleh Athar. “Biarkan!” Menoleh ke belakang, ia mendapati sang dukun telah beku dalam bongkahan es besar. Rombongan demit yang tadi sempat mengganggu, sudah terbelenggu oleh selendang Puspa. Semuanya terikat tak mampu melepaskan diri. Drap drap drap drap drap.... Baru menarik napas lega, keempat orang itu dibuat kembali tegang manakala seorang gadis bercadar dengan busana hitam panjang, datang. *** (Kadipaten Senlin, kediaman Richard.) Lelaki berbusana biru ala bangsawan kompeni Belanda, duduk santai di ruang kerja. Ia menelepon seseorang. “Santo... Santo... Santo... Bagaimana kabarmu, Nak?” ‘Aku baru saja akan mengabarimu kalau malam ini, akan aku antar semua kepala kerabat dekatmu.’ “Ahahahah... Kerabat, ya?” Richard bersandar pada kursi empuk biru. “Kau tahu, Nak... Jika kau ingin membalas kesalmu padaku dengan berbuat begitu, maka semua percuma.” ‘Aku tak pernah main-main jika mengancam! Aku tak peduli meskipun kau Raja Manunggal itu sendiri!’ “Aku adalah lelaki sejati. Lelaki yang siap mengorbankan apapun demi tercapainya ambisi. Seandainya kau penggal seluruh keturunanku di hadapanku sekalipun, aku hanya akan tertawa.” ‘Kau!’ “Sebaliknya... Kau bilang kau akan melawanku sekalipun misal aku adalah Raja Manunggal. Lalu bagaimana dengan nasib adik kecilmu? Apa kau mau jadi buronan dan bekeliaran seperti gelandangan, kemudian mengajak adik manismu itu mengemis di pinggir jalan? Dan siapa yang akan membantu paman tercintamu keluar dari penjara, Nak? Katakan... Siapa?” ‘Kau b*****h tua licik!’ “Hahahah...” Richard merogoh saku, mengambil dan membakar sebatang rokokk. “Pamanmu, menitipkanmu padaku. Dia bilang, aku harus menjaga kalian berdua karena kalianlah keluarganya yang tersisa.” ‘Katakan apa maumu!’ “Pelankan suaramu, anak muda. Aku hanya ingin mengajakmu untuk membebaskan Paman tersayangmu saja.” Santo tak merespon selama lima detik. ‘Apa rencanamu?’ “Pertama, bawa paksa Sebastian padaku. Hancurkan rumahnya, tapi jangan sentuh penghuninya.” ‘Lalu?’ Suara bicara sambungan telepon lirih. “Hancurkan pos PM di perbatasan antara Tarang dan Cidewa Hideung,” jelasnya usai mengisap selongsong tembakau. “Apa kau sanggup?” ‘Aku tak bisa memegang kata-katamu!’ “Temuilah seseorang di laboratorium bekas Kota Raya. Dia yang akan memberimu semua yang kau butuhkan untuk menyelesaikan tugas ini.”   *** (Desa Wonoboyo, Kadipaten Sunyoto.) Siang itu, Ni’mal duduk di ruang tamu rumah kayu sederhana, tengah dibalut pahanya dengan selendang hijau tosca oleh Puspa. Busananya berganti kaos hitam polos lengan panjang.  ‘Apa kaitan gadis bercadar itu dengan ular dan dukun yang membawa gadis tabib itu?’ Ia melirik Puspa yang selesai membalut luka sobek nan lebar di paha. “Puspa...” “Iya?” Gadis berbibir tipis menyahut lembut. “Ngomong-omong apa Raden Armi tak menyampaikan sesuatu lagi? Saat aku pingsan, barangkali?” “Mmmm... Tidak.” Ia menyandarkan punggung pada kursi kayu panjang. “Terus, orang itu... Orang yang menyerangku... Dia Arjuna Putih, kan?” Puspa menggulirkan netra sebelum mengangguk. “Iya.” Ni’mal berdengus kesal, turut bersandar ke belakang. ‘Aku hanya perlu menanyakan keberadaannya pada Gus Armi setelah bertemu dengan Putri Nilam Sari.’ “Hey, jagoan...” Athar datang dengan kaos dan celana hitam panjang. “Apalagi yang kita tunggu di sini?” “Maksudmu?” Ni’mal mengangkat alis kanan. Athar duduk pada kursi kayu di dekat Ni’mal. “Kau tak berniat membalaskan dendam gadis peserta sayembara tadi, kan?” Ia menatap meja. “Kalau kau mengira si gadis tabib sudah tewas, kau keliru.” Dahi pemuda berkaos hitam mengerut, melirik Ni’mal. “Maksudmu dia masih hidup dala perut si ular?” “Ular suruhan dukun tadi membawanya untuk ditumbalkan malam nanti,” jelasnya yakin. Puspa merenungkan sahutan Ni’mal. ‘Benar. Ni’mal sudah pasti lepas kendali lagi jika ada orang yang dibunuh di hadapannya lagi.’ “Heheh, dari mana kau tahu?” Gadis bercadar memasuki ruang tamu bersama gadis berambut biru. “Dia benar.” Gadis berkerudung hitam duduk di sebelah Puspa. “Sebelumnya, terima kasih banyak karena kalian telah melumpuhkan dukun itu. Orang itu adalah buronan SM wilayah Sunyoto.” “Siapa kau? Dan apa hubunganmu dengan...” Ni’mal yang lupa namanya, coba mengingat. “Ratih,” tambah Puspa. “Namaku, Alin. Dan dukun tua tadi, adalah orang yang menculik kawan Ratih.” “Lalu, ular putih besar tadi itu, makhluk apa?” Ni’mal bertanya saat ingat bila aura makhluk tadi begitu mirip dengan beberapa monster yang ia bunuh. “Dia... Siluman dari Gunung Nyai. Makhluk yang disembah oleh dukun tua tadi agar memberinya keabadian.” Puspa giliran bertanya, “dan Ratih adalah salah satu tumbalnya?” “Benar.” Alin mengangguk. Athar yang heran,  bertanya, “tapi bukankah dukun itu sudah tertangkap? Mustahil kalau ular tadi akan melakukan ritual sendiri, kan?” Srikandi menyahut, “dia akan tetap menjalankan ritual, dengan atau tanpa dukun tadi.” Wajah Ni’mal dan Puspa tegang. “Karena tumbal tadi, akan dipersembahkan pada... Pengikut Malkika Hitam.” Ni’mal, Puspa, dan Athar terbelalak mendengar pernyataan Alin. *** (Komplek perumahan petinggi PM, Kadipaten Senlin.) Di kamar mewah berdinding beton, Sebastian si pria berkulit gelap tengah mendampingi putri kecilnya yang menginjak enam tahun. Ia mengelus lembut dahi gadis berpiyama merah jambu, sebelum menyatukan tapak tangan dan kiri seraya memandang salib di dinding kamar. “Ya Tuhan yang memberi keselamatan, lindungilah keluarga kami disaat terjaga maupun terlelap. Amin.” Selesai berdoa, ia tersenyum memandangi sang malaikat kecil satu-satunya, telah terlelap berselimutkan kain wol tebal. Lelaki cepak yang telah mengenakan kaos hijau polos bertulis PM di punggung, berdiri lega. “Bang... Abang pulang?” Wanita berdaster motif bunga dengan kulit kuning langsat, menyapa usai membuka pintu kamar. “Iya. Aku dapat telepon dari Tumenggung untuk kembali ke kediaman setelah tugas hari ini.” Ia berjalan menghampiri istri, mengecup keningnya sejenak. “Tadi, ada seseorang yang menelepon, dia bilang kalau Abang sudah kembali, harus segera mengabarinya.” “Siapa?” Raut Sebastian cemas. “Dia hanya bilang dari Keraton Utama,” ucapnya setelah sang suami melepas pelukan. ‘Keraton Utama Pancer?’ Sebastian keluar kamar, menuju telepon kabel di ruang tamu. Tok Tok Tok... Baru ia hendak menekan nomor telepon, seseorang mengetuk pintu depan rumah. Istrinya sontak melangkah ke arah pintu. “Biar aku buka,” ujarnya menoleh pada lelaki berkulit gelap. Sebastian dihinggapi rasa curiga. Sembari memencet nomor telepon, ia melirik ke kanan dan kiri. Sadar akan adanya bahaya, ia menjatuhkan gagang telepon kabel, sejurus kemudian berlari cepat ke arah sang istri. “Merunduk!” serunya menerjang wanita berdaster motif bunga. Blaazzz! Blamm! Sorot sinar merah nan panas menyorot menghancurkan bagian depan dinding rumah. Beruntung Sebastian lebih dulu menerjang wanitanya, menghindarkan mereka dari ledakan besar barusan. ‘Ugh! p*********n! Tapi siapa!’ Ia mengangkat sang istri di tengah kepulan asap. “Sayang, cepat lari dan bawa anak kita lewat pintu belakang!” Dari kepulan asap lebat, sesosok pria berambut merah jabrik, dengan kemeja hitam lengan panjang, memegangi pergelangan tangan kanan. Tapak tangan kanannya berasap. “Uh.. Maaf. Untung saja kalian berhasil menghindar.” “Santo! Kau!” Sang komandan PM murka. “Tumenggung Richard memintaku membawamu.” Santo melangkah mendekati Sebastian. Istri sang petinggi PM tampak ketakutan. “Sayang, cepat lari!” bisiknya lirih sedikit menoleh ke belakang. Santo kembali mengarahkan tapak tangan kanannya ke langit-langit rumah. Dari tapak tangan yang berlubang bak senapan meriam, proyektil merah panas melesat menghancurkan beton langit-langit. Blammm! “Bawa juga anak dan istrimu. Cepat, sebelum aku berubah pikiran untuk membunuh keluargamu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN