Arjuna Putih & Penyelamatan

1718 Kata
(Di luar belenggu api, beberapa menit lalu, Hutan Arsir Cidewa Hideung.) Axel yang menuruti perintah Srikandi untuk berlari, terus mengayuh kedua kaki melewati belantara hutan. Meski napas pemuda berkacamata tampak tersengal, ia terus menyusuri hutan tanpa menghiraukan bunyi ledakan dan teriakan dari pertempuran kawannya di belakang. ‘Salahku tak membawa parewangan dalam misi penting begini!’ Zrraaatt! Seutas benalu hijau panjang bergerak menyambar kaki kirinya. “Aduh!” Pemuda berjaket jean terjatuh mencium rerumputan hijau. ‘Apa ini!’ Ia bangun coba melepas benalu yang mengikat kakinya. Benalu tersebut berasal dari dalam tanah. Zrrraaatt! Lagi, benda yang sama muncul dari dalam tanah dan menjerat lehernya dari belakang. “Hughh!” Zrratt! Zrraat! Zraaat! Kaki kanan, dan kedua tangan Axel kini dijerat benalu hijau. ‘Siaal! Masih ada musuh lagi? Tapi mustahil ini perbuatan PM!’ pikirnya celingukan melihat sekitar. “Hai kutu buku!” Sesosok pria bertopeng tumenggung merah muncul dari balik batang pohon beringin. Busananya serupa dengan Dhaeng Galuh. “Bagaimana bisa bocah yang tak memiliki kemampuan bertarung berada di hutan seperti ini?” “S-siapa... Kalian... Sebenarnya!” Axel kesulitan bicara sebab jeratan erat benalu hijau terlalu mengekang leher. “Kau tak menjawab, malah bertanya balik ya, bocah?” Ia mendekati Axel. Cleep! Duri-duri tajam tumbuh cepat pada benalu-benalu hijau tersebut, menggores menembus kulit dan pakaian remaja berkacamata. Beruntung benalu yang mengikat lehernya tak menumbuhkan duri. “Haargh!” Ia coba berontak, hingga tampak urat di tangan dan kepala. “Wahh... ada luka tembak di badanmu, ya? Jadi kau juga diburu oleh rombongan PM? Atau jangan-jangan kau juga ada di pihak Arjuna Merah?” Ia menepuk pundak kanan Axel. “Huuugh!” Wajah Axel membiru seiring dengan ikatan benalu yang mengencang. “Ngomong-omong soal perempuan yang sedang dilawan oleh kawanku, siapa dia? Sepertinya kalian sudah saling kenal lama, ya?” Ia tersenyum dari balik topeng. Otot pada kedua tangan Axel tampak. Ia terus berontak mencoba melepaskan diri, tak peduli meski darah mulai mengucur dari bagian badan yang terjerat benalu penuh duri. “Huugh!” “Ahhh... Ngapuntene... (Maaf)” Sosok bertopeng merah tersebut, menjetikkan jari kanan, membuat benalu yang mengikat erat leher Axel mengendur. “Nahh sekarang jawab pertanyaanku tadi.” “Manusia yang merasa dirinya tinggi, niscaya akan jatuh dalam lubang kepedihan.” Suara Gus Armi memancing perhatian mereka berdua. Lelaki bertopeng merah cepat-cepat merogoh keris luk lima dari balik baju hitam sambil balik badan. “Raden Armi, Putra Kyai tersohor negeri ini?” “Apa yang sedang dilakukan suri tauladan Manunggal saat ini? Apakah janji-janji kesetiaan kalian sudah lenyap oleh ketamakan?” Gus Armi berdiri tegap dengan sorot mata tajam. Fwiiiiiiitt! Bunyi siulan dari sosok di belakang Axel membuat lelaki bertopeng merah balik kanan. Dijumpainya lelaki bertopeng Arjuna Putih yang selesai memotong lima utas benalu berduri dari tubuh Axel hanya dengan tangan kosong. Ia mencengkeram pundak remaja berkacamata, lanjut melemparnya tinggi ke langit. Sesosok kuda putih bersayap kupu-kupu melesat dari atas sana, menggigit kain punggung jaket Axel dan membawanya terbang menjauhi hutan.  “Hwaaaaaa!” Remaja itu hanya berteriak histeris saat tubuhnya dibawa dalam kecepatan tinggi. “Kang, Sampeyan tandang sik, aku meh ndongeng karo bolo lawas. (Kang, kau pergi duluan, aku mau berbincang sejenak dengan kawan lama.) ucap Gus Armi pada lelaki bertopeng putih. Sang Arjuna Putih mengangguk mengiyakan. Ia balik kanan, sebelum lanjut melangkah santai menjauhi mereka berdua. ‘Aku tak akan bisa mengalahkan orang ini seorang diri!’ pikir si Tumenggung Merah cemas. Ia jongkok, menancapkan keris pada tanah berumput. Braaallll! Akar raksasa menjulang tinggi dari bawah tanah yang Gus Armi pijaki. Lelaki berbusana serba hitam dengan gesit melompat menghindar. Ia merogoh saku baju, mengambil sebatang rokok dan korek gas hijau. “Ayok, pemanasan!” ucapnya mendarat lembut di atas rerumputan. *** (Beberapa menit kemudian, di dalam kurungan api.) Sang Arjuna Putih bersedekap memandang putra semata wayangnya. “Kau sudah besar, masih saja merepotkan banyak orang,” ucapnya lirih. “Hey, Cah bagus jaket biru, lepaskan dia. Biar dia berdiri sendiri!” serunya tegas. Athar mulai melepaskan tangan dari badan pemuda berkaos merah belang. ‘Eta teh... Arjuna Putih putra Mbah Pur? (Dia itu... Arjuna Putih putra Mbah Pur?)’ pikirnya memandang balik lelaki bercelana putih. Bralllll! Kurungan api hitam yang mengurung mereka hancur oleh sesuatu yang menghantam dari sisi luar, membuat Dhaeng Galuh mendongak ke langit, menatap beberapa orang yang terjun ke bawah. Baron Saga Geni, I Made Zaen, Raden Irawan, Srikandi, Teguh, Aldy, Adnan, Bongbong, Agni, dan Nusa, baru saja menghantam hancur belenggu api yang mengurung. Mereka mendarat mulus di dekat Sang Arjuna Putih. Athar semringah, ia bernapas lega. “Kalian hampir saja terlambat!” Zaen menoleh kecil. “Bawa Arjuna Merah pergi! Sekarang!” Ni’mal menyahut, “woy! Kau yang membuatku terdampar! Sekarang berani mengusirku lagi?” Lelaki bertopeng Arjuna Putih menoleh pada Puspa sejenak. Ia mengelus ubun-ubun gadis berambut hitam panjang. “Nduk, aku titip dia, ya?” “Ehh?” Cucu Ki Ageng Jagat tertegun. Swuuss! Belum Ni’mal sempat bergerak, Sang Arjuna Putih melesat cepat dan menendang dorong perut Ni’mal hingga terlontar ratusan meter. Puspa yang melihatnya, segera berteriak memanggil Ni’mal. Gadis berbusana hitam dengan selendang hijau tosca, meluncur mengejar Ni’mal yang terlempar. “Ni’mal!” Lelaki bertopeng Arjuna Putih mendekati Srikandi. “Kau juga, Srikandi. Bawa dia pada Sura Selatan. Ajak bocah jaket biru itu pergi. Sukmanya sudah banyak terluka.” Gadis berambut biru manggut, tanpa permisi memanggul badan Athar di pundak kanan. “Saya permisi dulu.” “H-hey! Aku bisa jalan sendiri! Hey!” Dhaeng Galuh menunjuk pada mereka dengan tangan kiri yang berlapis api hitam. “Heh! Beraninya kalian!” Semua anggota Tumenggung Merah berkumpul di dekat Dhaeng Galuh. Satu diantaranya menderita banyak luka sobek. Tak diragukan bila ia yang berhadapan dengan Gus Armi. “Kita gagal. Sebaiknya mundur!” ujar sosok yang terluka itu. “Putra Kyai Yahya juga ada di sini! Kita tak akan bisa menang melawan mereka semua!” “Omong kosong! Sembilan Tumenggung tidak akan mundur!” Dhaeng Galuh melangkah maju. “Meskipun lawan kalian membawa Pusaka Dewa Sepuh?” Gus Armi berdiri sebelas meter di belakang para Tumenggung Merah. Lelaki berblangkon hitam tersebut membawa sebilah keris sepanjang satu setengah meter. “M-mustahil!” Para pria bertopeng merah saling memandang satu sama lain. Hingga bayangan hitam tubuh mereka melebar, dan menenggelamkan semuanya. “Jangan lari-” Saat Raden Irawan hendak mengejar, Sang Arjuna Putih menahan bahunya dari belakang. Sosok itu menggeleng pelan ketika Raden Irawan menatapnya heran. Baron Saga Geni bernapas lega saat sembilan sosok itu hilang dari pandangan. Mereka memandang Gus Armi yang datang membawa keris sepanjang satu setengah meter. “Kenapa kita tak habisi mereka langsung saja?” Raden Irawan bertanya. “Jangan. Akan merepotkan kalau kita melawan mereka bersembilan dalam satu tempat,” jawab Gus Armi. Keris panjang di tangannya, berubah jadi keris kecil emas luk lima. “Lagi pula Keris Dewa Sepuh yang asli masih ada di Masjid Agung Sunyoto,” imbuhnya tersenyum. *** (Hutan perbatasan Cidewa Hideung-Sunyoto.)  “Sebenarnya, mereka tadi itu siapa?” Puspa yang duduk di sebelah tubuh Ni’mal, memandang Srikandi. Pohon cemara begitu lebat tumbuh di sekitar mereka. Gadis berambut biru menatap Ni’mal yang lagi-lagi tak sadarkan diri. “Mereka Tumenggung Merah. Aku dengar mereka adalah bawahan Cepot dalam upaya pembangkitan Vajra.” Puspa menggulirkan mata ke kanan, masih memikirkan apa motif orang-orang tadi. “Apakah... Ni’mal begitu penting dalam pembebasan Vajra?” “Anu... Itu...” Srikandi melirik ke kanan dan kiri. Ragu mengungkapkan. “Karena hanya Arjuna Merah yang berhak atas dua pusaka kunci pembebasan Vajra.” Athar muncul memanggul seekor rusa mati. Leher rusa tersebut sudah tersayat, meski darahnya masih sedikit menetes. Brrukk... Ia menjatuhkan rusa ke tanah. “Setelah beristirahat sebentar, sebaiknya kita segera ke tujuan. Kita tak boleh buang waktu lagi. Aku sudah terlalu lelah untuk bertarung,” ucap Athar dingin. Ia melirik Srikandi. Srikandi yang tersinggung, protes, “heeyy... Kan di antara kita cuma kau satu-satunya lelaki! Kau mengeluh karena kuminta cari makanan?” Puspa tak menghiraukan perdebatan Srikandi dan Athar. Ia sibuk memikirkan beberapa hal. ‘Jadi musuh Manunggal sekarang adalah pemerintah Kadipaten Senlin, Pandawa Merah, dan sembilan orang bertopeng tumenggung tadi?’ Ia memandang wajah lelah Ni’mal. ‘Tidak. Bukan Cuma itu saja. Rumor soal Malkika Hitam juga sepertinya benar. Belum lagi para Makhluk Hitam yang bisa mengamuk saat Purnama Merah tiba.’ Ia mengela napas. Hingga Ni’mal yang sedari tadi terpejam mulai bangkit mengerjapkan mata. Tangan kirinya menekan dahi yang terasa nyeri. “Ughh... Gusti...” “N-Ni’mal?” Puspa tersenyum lega. Sedang Srikandi dan Athar saling pandang masih berdebat, tak menyadari lelaki berkaos merah telah siuman. Saat pandangan matanya tak lagi buyar, ia menyapukan mata ke hutan lebat sekitar. “Kita di mana? Kemana musuh yang tadi menyerang kita? Dan....” Matanya terbuka lebar. “Arjuna Putih! Di mana dia?” Ia bangkit. Srikandi dan Athar berhenti berdebat. Mereka menatap heran Ni’mal. “Kau sudah bangung?” tanya mereka serempak. Ni’mal mencubit lirih kulit dahi di tengah kedua alis. “Apa yang terjadi?” tanyanya pada Puspa yang membantunya berdiri. Drap drap drap drap drap.... Laju tapak kaki seseorang yang memijak batang pohon cemara, memancing perhatian mereka berempat. Dijumpainya seorang lelaki tua berusia empat puluh tahunan tengah berlari menggendong gadis berkostum penari hijau. Lelaki berpenampilan bak dukun itu melaju ke arah mereka dengan melompat memijak batang pohon satu per satu. Athar dan Srikandi mengamati wajah gadis yang tengah dibawa oleh lelaki berblangkon. “Tunggu! Bukankah dia... Peserta Sayembara waktu itu?” Athar coba mengingat. Puspa dan Srikandi serempak mengambil posisi siaga. Gadis berambut biru memajukan tapak tangan kanan. “Dia gadis yang lolos di babak akhir Pagelaran Sayembara lalu, kan?” Puspa menggenggam erat selendang di tangan kanan. “Dewi Ratih!” sebutnya ingat pada gadis yang pernah satu tim dengan Agni. Ni’mal yang bermuka masam, lenyap dari dekat mereka. Lelaki berkaos merah dengan luka di perut, muncul tepat di samping lelaki yang hendak memijak batang pohon cemara. Blaaaak! Ia tanpa ragu mengayun kaki kanannya keras pada pinggul sang pria berbusana ala dukun. Membuatnya melepas-menjatuhkan Ratih dari bahu. “Uhuk!” Sang dukun yang tergeletak lekas-lekas bangkit, menatap Ni’mal yang sudah memanggul gadis berkebaya hijau. “Jabingan!”          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN