Legenda hidup Manunggal

1878 Kata
(Kadipaten Cidewa Hideung) Dhaeng Galuh menembakkan belasan bola api pada gadis berbalut selendang hijau batik. “Majulah!” Swung! Swung! Swung! Swung! Swung! Swung! Swung! Swung! Swung! Swung! Swung! Swung! ‘Dengan selendang ini, aku tak perlu mencemaskan apinya.’ Puspa melesat cepat, menepis beberapa bola api yang menerjang hanya dengan kibasan tangan berbalut selendang. ‘Tapi kecepatan dan kekuatan pukul orang ini, tak bisa diremehkan!’ Dlap! Puspa melejit ke langit, lantas berputar-putar memijakkan kaki ke udara padat di bawah kaki. Ia lanjut menukik cepat bak elang. “Hyahh!” Lelaki bertopeng merah, menyampingkan kedua tangan ke samping. Api pada tangan makin besar berkobar. “Coba ini!” Swung! Blaarrr! Athar dari kejauhan hanya berlutut menutupi mata dengan lengan kanan. ‘Hanya soal waktu. Jika Puspa tak bisa bertahan sampai aku selesai, habislah sudah.’ Bibirnya terus bergerak merapal mantra, sedang tangan kanannya memusatkan segenap tenaga pada kujang yang ia pegang. Swusss! Dari asap yang timbul oleh benturan bola api pada tubuh Puspa, gadis itu masih terus mengayuh sepasang kaki. Ketika jaraknya dekat, ia mengangkat mengayun kaki kanan pada Tumenggung Merah yang terbelalak dari balik topeng. Blak! Sang Tumenggung berhasil menepis serangan Puspa dengan tangan kanan, lanjut menunduk manakala gadis berambut panjang menyusulkan ayunan kaki kiri. ‘Jurus Ki Ageng Jagat!’ Swuss! Tak berhenti, Puspa yang kedua tangannya menempel tanah, berputar-putar laksana gasing. Kakinya terus menyerang menghantam lawan bagai tornado. Dak dak dak dak dak dak dak dak! Dhaeng Galuh yang menangkis delapan tendangan Puspa, turut berputar searah putaran kaki lawan. Tangan kirinya menggapai mata kaki Puspa. Greep! Wung! Sejurus kemudian melempar gadis tersebut ke arah Athar. “Apa selendangmu juga bisa menahan serangan seperti...” Dhaeng Galuh menggenggam pergelangan tangan kanan. Ia menciptakan bola api hitam. “Ini!” Blaaaazz! *** (Di luar kurungan api, beberapa menit yang lalu.) Srikandi melakukan gerakkan serupa tarian. Setiap kali tangannya membuka diayun ke atas, seketika itu pula air dari pohon terdekat menyembul keluar dalam wujud trisula. Swus! Sosok Tumenggung Merah menangkis serangan Srikandi dengan tangannya yang mengeras dan menghitam layaknya besi. “Air tak akan menghancurkan baja!” serunya. Swus! Srikandi tak mengacuhkan ucapan lawan. Ia tanpa henti melontarkan trisula air. Tombak-tombak air yang menghantam lawan, kemudian hancur berkeping jadi cipratan kecil, lirih membumbung naik ke langit siang. “Hyahh!” Gadis berambut biru mengentakkan kaki kanan kuat-kuat ke tanah. Ratusan jarum es, menyembul keluar dari rumput di sekitar kaki lawan. Srrubbb srrubb srruuuub srrubbb! Sosok berblangkon hitam menyilangkan sepasang tangan ke depan wajah. Sekujur badannya mulai menghitam, mengeras bagai baja. Alhasil jarum-jarum es tersebut hanya mengoyak busananya, tidak dengan kulit kerasnya. “Sudahku bilang, percuma saja!” serunya melesat ke arah gadis berambut biru. Srikandi menoleh kecil pada remaja berkacamata. “Keluar dari hutan dan cari bantuan!” pintanya sebelum melesat ke arah lawan. Telapak tangan kanan Srikandi membuka, menyerap air di sekitar berkumpul dan memadat menjadi trisula es. “Cepat!” Daaaang! Angin bertiup kencang ketika pusakanya menghantam tangan besi sasaran. “Sudahku bilang percuma!” Ia menyusulkan tendangan pada wajah Srikandi. Sang gadis berbusana putih melompat ke belakang seraya mengelak dari sapuan kaki lawan. Ia menggunakan kaki lawan sebagai pijakan untuk melompat ke atas. “Hyahhh!” Ia melempar trisula ke arah lelaki bertopeng merah. Pusaka es tersebut bersinar kebiruan. Swwuuuung! “Hmmm....” Sosok berbusana hitam, melompat ke atas dan bertengger pada dahan pohon besar. Jluzzz! Sedetik setelah trisula es tersebut menancap di tanah berumput, kabut lebat berhawa dingin yang begitu menusuk, menyeruak membekukan semua yang ada di sekitar. Termasuk rumput dan pohon yang digunakan lawan tuk bertengger. Beruntungnya, Axel sudah tak tampak di sana. Srikandi mendarat lembut di atas hamparan rumput beku. “Duh Nyai Ayu Putri Nilam Sari...” Ia memejamkan mata. Tangan kanannya terbuka diangkat menghadap langit, sedang tangan kirinya menghadap bumi. “Kawulo nyuwun panjenengan dados wasillahing Gusti Maha Agung sakniki...” ‘Gadis ini!’ Paham dengan mantra yang tengah Srikandi rapal, sosok berblangkon hitam cepat-cepat meluncur menyambar. “Haaargh!” Srikandi tetap tenang dengan mata terpejam. “Duh Nyai Ayu Putri Nilam Sari....” Ia lirih berucap seraya menggeser badan, mengelak dari terjangan lawan. “Kawulo nyuwun panjenengan dados wasillahing Gusti Maha Agung sakniki...” Bluluk... bluluk... Bulatan besar air yang sedari tadi Srikandi kumpulkan di atas langit diam-diam, kian lama membesar. Belum lagi kabut yang menebal dari hawa dingin es sekitar, membuat lelaki bertopeng merah kelabakan. ‘Gadis ini, utusan Sura Selatan? Mustahil!’ pikirnya melompat menjauhi Srikandi. “Duh Nyai Ayu Putri Nilam Sari...” Srikandi membuka mata, melotot pada lawan. “Kawulo nyuwun panjenengan dados wasillahing Gusti Maha Agung!” Prrraaallll! Segenap es yang ada pada radius puluhan meter, hancur dan melayang menyatu dengan air besar yang ada di langit. Sesosok naga air bermata biru menyala, terbentuk seketika. “Grrrryaaagh!” “Hai Naga Banyu! Padamkan api di sana!” serunya menunjuk kurungan api besar yang berada jauh di belakang. ‘Gadis ini hanya berniat mengambil Arjuna Merah? Apa artinya para Sura juga mengincar Arjuna Merah?’ Ia menusukkan jari ke tanah beku di bawah. Sedetik kemudian, ia menarik sebuah tongkat hitam besi dari dalam tanah. “Tak akan aku biarkan!” Srikandi kembali waspada dalam kuda-kuda. Ia menghindari ayunan tongkat hitam lawan, lanjut menoleh ke kanan di mana naga airnya meluncur menabrak kurungan api jingga. Blaaaaaaarrrr! Asap mengepul hebat di sisi luar kurungan api. Wajah gadis berambut biru yang sempat lega, kembali tegang saat kurungan api tersebut memancarkan hawa yang makin panas. Belum lagi dengan warna kobaran apinya yang menggelap jadi hitam. *** (Beberapa detik sebelum naga air Srikandi menghantam kurungan.) Bola api hitam melayang dalam kecepatan delapan puluh kilometer per jam. “Minggir!” Athar cepat-cepat menancapkan kujang ke tanah, lanjut menangkap punggung Puspa seraya menarik badan Ni’mal menyingkir dari garis lurus luncuran bola api hitam. Dlap! Blaarrrr! Bola api hitam tersebut, membakar kurungan api yang melingkari mereka. Warna api yang semula jingga, berubah hitam legam. Keringat Athar dan Puspa pun kian bercucuran manakala hawa di dalam sana kian panas. ‘Hampir saja!’ Athar kembali menurukan tubuh Ni’mal, lanjut memutar badan beberapa kali. “Serang dia dengan semua yang kau bisa!” Athar mengambil kuda-kuda masih erat memegang Puspa. “Dia akan terus terdiam untuk sementara!” serunya melempar gadis berambut panjang pada Dhaeng Galuh. Swuss! Saat meluncur di udara, Puspa menarik selendang dari tubuhnya. Sejurus kemudian menyabetkan senjataa pada lawan. Splaat! “Heh! Akan per-” Sang lelaki bertopeng tumenggung tak bisa menggerakan badan. ‘Sukmaku, terpaku?’ Ia melirik Athar dari balik topeng. ‘Bocah itu? Pengguna Rajah Pembeku Sukma?’ Blaakk! “Bwahh!” Lelaki bertopeng tumenggung tersabet di kepala sampai-sampai badannya terputar. “Tarian Dewi Angin!” Selendang hijau tosca itu membalut tangan kanan kiri Puspa, ujungnya tertiup-tiup angin. Splat! Splat! Splat! Splat! Splat! Splat! Puspa tanpa henti mengibaskan kedua tangan dan kaki bergantian. Gerakannya yang indah nan lentur, begitu cepat dan keras menghantam sekujur badan lawan. Sesekali selendangnya meluncur menjerat leher lawan, lanjut menarik-membenturkan wajah musuh pada lutut kanan. Dlaak! Baru sebentar lawannya terempas, Puspa memutar badan melesatkan selendang hijau tosca tersebut untuk membalut kaki lawan. Spllaaat! Mana kala tubuh lelaki bertopeng merah terjerat kuat, ia menarik selendang cepat sembari menyiapkan bogem kanan. “Haaaah!” Blaag! Berhasil membuat retak topeng sasaran, Puspa menopang badannya dengan kedua tangan, sepasang kakinya ia luruskan ke perut lawan, membuat sasaran terempas jauh ke langit. Blaaak! “Ughh!” Sang Tumenggung Merah meringis kesakitan dari balik topeng. ‘Siapa yang mengajarinya jurus hilang itu? Bukankah Ageng Jagat sendiri tak menguasainya?’ pikirnya heran. Ia tak sadar bila Puspa sudah menantinya di atas sembari berputar-putar siap mengayunkan kaki kanan. Blammm!! “Haaah!” Puspa menghantamkan tendangan telak ke kepala lawan. Arah ayunannya dari atas ke bawah. Swuuung! Braall! Dhaeng Galuh mendarat keras di tanah kering. Dampak benturannya menciptakan kubangan bak kawah kecil di tanah. “Errghh...” Posisinya tertelungkup, sesekali terbatuk. Athar yang melihat Puspa mendarat di tanah, tersenyum lega. “Kalau saja Sayembara kemarin kau mau menerima tawaranku, mungkin di akhir juga aku yang kerepotan melawanmu,” gumamnya lirih. Kujang yang tertancap di depan Athar, mendadak jatuh ke bawah. Menandakan bila mantra pengekangnya usai. Napas Puspa tersengal. Ia melangkah lirih mendekati Tumenggung Merah. “Seperti janjimu... Bawa teman-temanmu pergi. Jangan tunjukan diri kalian lagi!” “Uhuk...Uhuk!” Lelaki yang sempat terbatuk itu, mulai terkekeh lirih. “Heheheh!” “Apanya yang lucu?” Puspa berhenti melangkah. Keningnya mengerut. “Kau kira, kita sudah selesai?” Dhaeng Galuh medongakkan kepala, lirih berlutut. “Asal kau tahu, gadis manis...” Tubuh Dhaeng Galuh, terlalap api hitam legam. “Aku baru saja mulai pemanasan.” Ia tegap berdiri, membunyikan tulang yang pegal dan kaku oleh serangan Puspa tadi. “So fun kah menerka aku sudah kalah?” ‘Dia... Masih bisa bertahan?’ Puspa cepat melompat menjauhi lawan, waspada dalam kuda-kuda. Lhuuuuuuwwbb! Api hitam menyala pada tangan kiri Dhaeng Galuh. Api hitam itu memadat, memanjang mewujud jadi pedang tajam hitam. “Apa aku harus membunuhmu agar kau menyerah?” Wajah Puspa cemas. Tekanan besar energi sukma serta hawa panas dari pedang lawan, membuat nyalinya ciut. ‘Aku tak boleh mundur!’ “Hahahah!” Dhaeng Galuh melemparkan bola api hitam pada Puspa. Swuung! Baru Puspa usai menepis lemparan api lawan, lelaki bertopeng merah sudah ada di hadapannya dengan kuda-kuda menyerang. “Katakan pada kawanmu untuk membekukan lagi sukmaku!” serunya meluruskan kaki ke perut gadis bercelana hitam panjang. Blaaaak! Puspa dibuatnya terempas jauh ke arah Athar dan Ni’mal berada. “Ughhh!” Tap! Pemuda berjaket biru kembali menangkap punggung Puspa dari belakang. “Arggghh! Berapa banyak nyawa orang itu!” Dlap! Dalam sekejap Dhaeng Galuh berada lima meter dari Puspa. Ia mengangkat tinggi pedang di tangan kanan. “Hey, hey, hey... Kalian berdua ini peserta Sayembara kemarin, kan? Ayo hibur orang tua ini!” Ketika api hitam pada pedang lawan berkobar membesar, Athar cepat-cepat mengangkat tubuh Ni’mal. Baru ia akan menarik Puspa untuk menyingkir, sosok bertopeng merah sudah lebih dulu mengayunkan pedang terbakarnya ke arah mereka. Blaaarrr! Puspa dan Athar yang terlalu lelah bergerak, hanya mampu memejamkan mata. Mereka mengerjapkan mata saat tak merasakan dampak serangan. “Apa yang-” Athar terbelalak melihat lelaki berbaju putih lengan panjang, menahan pedang api lawan hanya dengan jemari tangan kanan. ‘Saha eta? (Siapa dia?)’ Lelaki berbusana dan bertopeng Arjuna Putih, bertanya lirih, “kalian berdua baik-baik saja?” “Allohuma la illa ha ila anta subhanaka inni kuntum minadzollimin...” Ni’mal mengigau dalam dekapan Athar. “Dia sadar?” Athar menatap wajah Ni’mal. Puspa turut menolehkan kepala ke belakang. “Ni’mal?” “Siapa kau berani-beraninya mengganggu pertarunganku!” Dhaeng Galuh yang kesal pedangnya masih saja dipegang hanya dengan tangan kanan, bersuara. Lelaki berambut lebat, menatap balik lawan. Ia mendorong kuat pedang lawan yang ia tahan. Dlaaak! “Hughh!” Dhaeng Galuh terlempar puluhan meter. ‘Siapa dia!’ Ia menancapkan pedang berapi hitam untuk menahan daya lemparan. Srrrraaaaakkk..... Ia berhasil berhenti. ‘Topeng itu... Jangan-jangan!’ Tak menghiraukan lawan yang tepental, Sang Arjuna Putih membalik badan menatap Ni’mal yang dipapah Athar. “Kau sudah siuman, Nak?”   Ni’mal merem-melek, pandangannya buyar sebentar. Netra cokelatnya terbelalak manakala melihat sosok bertopeng Arjuna Putih di sebelah kanan Puspa. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN