Ni’mal yang terkulai lemah tak sadarkan diri, erat didekap gadis berambut hitam panjang. Mata Puspa dan Athar tertuju pada Tumenggung Merah terdekat. Sosok yang Puspa yakini merupakan musuh yang Ni’mal lawan di Kota Fanrong, Kadipaten Senlin.
“Baik... Karena aku berjiwa ksatria, bagaimana kalau kita buat kesepakatan saja?” tanya si topeng merah terdekat seraya bersedekap.
“Apa?” Athar masih erat memegang kujang.
“Kalian berdua boleh melawanku secara bersamaan. Tapi jika kalian kalah, maka kalian harus serahkan Arjuna Merah pada kami. Adil bukan?”
Sosok berblangkon hitam lain protes, “hai Galuh! Belum merasa cukup kau permalukan nama Tumenggung Merah pada kekalahanmu di Senlin?”
Blaaarrr!!!
Api yang begitu besar menyulut dan berbentuk bak lingkaran, mengitari Puspa dan Athar yang membawa Ni’mal. Saat Athar hendak melompat menerjang api yang mengurung, Puspa cepat menahan lengan kanan pemuda berjaket biru. “Jangan! Tunggu dulu!”
“Kau pikir kita bisa menang melawannya? Bukankah Ni’mal dan Srikandi sempat kuwalahan menghadapinya di jembatan meski kalian datang? Sebaiknya kita berpencar sebelum dia mulai menyerang!” Athar berujar tanpa menoleh.
“Kita tak punya pilihan lain. Kita bawa Ni’mal pergi saat ada kesempatan.” Gadis berbulu mata lentik menurunkan Ni’mal pelan. Ia sigap dalam kuda-kuda, memandang lurus ke depan.
Dhaeng Galuh melangkah lirih mendekati kobaran api yang kini bergerak makin lebar. “Kalian duduk dan nikmati saja pertunjukannya. Biar aku yang selesaikan ini,” ucapnya menoleh kecil pada Tumenggung Merah di sekitar pepohonan.
Ketika api dari rekan mereka melesat menyambar, delapan sosok Tumenggung Merah melompat mundur mengatur jarak. “Apa kita tak langsung ambil paksa saja? Kenapa kita harus mengikuti permainannya?” usul salah satu Tumenggung.
“Biarkan saja. Lagi pula aku ingin melihat seberapa hebat Cucu Ki Ageng Jagat,” sahut sosok berblangkon lain. “Dan bocah berkujang itu... Dia juga peserta Sayembara lalu. Siapa tahu dia cocok jadi pengganti salah satu dari kita yang gugur nanti,” imbuhnya lirih.
Blaaarrr!
Api yang kian melebar, berhenti pada jarak lima ratus meter persegi melingkari Puspa, Athar, dan Ni’mal. Pepohonan serta semak belukar, lenyap oleh api yang panasnya tiga kali lipat dari suhu lava. Tanah di sekitar sana pun mulai menghitam kering kerontang.
“Nahh... Sekarang, mari kita mulai.” Dhaeng Galuh menyeringai dari balik topeng.
***
(Alam mimpi.)
Hanya hitam legam yang Ni’mal saksikan. Separuh badannya terendam air asin, hingga pinggang. Sudah berjam-jam ia rasa berjalan menyusuri perut Makhluk Hitam yang entah dari jenis apa. Tetapi tiada titik terang di dalam sana. ‘Kemana? Apa aku hanya berputar-putar di dalam sini saja?’ Suasana di dalam sana hening, hanya bunyi napas dan air yang terdengar saat ia bergerak. Belum lagi semenjak masuk ke dalam perut monster tersebut, tenaga dalamnya drastis terserap habis. “Duh Gusti... Kemana ini?”
Ia terdiam sejenak merasakan dinginnya air laut, hingga cincin akik di tangan kanan mulai menyala perlahan. ‘Ahhh! Menyala! Kenapa tak daari tadi saja!’
Lima detik setelah benda tersebut bersinar temaram, telinganya mendengar bunyi samar seseorang tengah merapal sesuatu. “Siapa itu!” serunya spontan membalik badan. Bermodalkan cahaya remang dari cincin, Ni’mal melangkah mencari sumber suara.
وَ ذَا النُّوۡنِ اِذْ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنۡ لَّنۡ نَّـقۡدِرَ عَلَيۡهِ فَنَادٰى فِى الظُّلُمٰتِ اَنۡ لَّاۤ اِلٰهَ اِلَّاۤاَنۡتَ سُبۡحٰنَكَ ۖ اِنِّىۡ كُنۡتُ مِنَ الظّٰلِمِيۡنَ
Pemuda bermata hazzel-nut terhenyak manakala suara familiar tersebut tengah menyuarakan petikan ayat dari kitab yang ia imani. “Cahaya itu... Dan suara itu...” Ia tak berpaling dari sosok berbusana serba putih dengan sorban di kepala. Sosok bijak bercahaya yang ia jumpai pada mimpi lalu.
Ki Panca yang busananya menyala terang hingga mulai menyingkap kegelapan di perut makhluk tersebut, berdiri usai duduk bersila mengambang di atas permukaan air. “Apa di negerimu ini, tak ada Alquran, Nak?”
“A-anu... Ada... Tapi bagaimana bisa engkau di tempat ini?”
“Apa kau tahu petikan ayat yang barusan saya baca, Cah Bagus?” Ia bertanya balik, tanpa menjawab tanya Ni’mal.
“Mmmm.... Tidak.”
“Dahulu, Nabi Yunus terperangkap dalam perut ikan. Kemudian Alloh mengeluarkannya, setelah ia meminta ampunan.”
Ia diam mencerna ucapan sosok yang mulai melangkah di atas air, menghampirinya. ‘Tekanan energi sukma orang ini... Kenapa selalu membuatku ingin menangis haru?’ Ni’mal membendung air mata.
***
(Hutan Kadipaten Cidewa Hideung.)
“Hwaaaargh!” Axel yang tertembak tepat di bahu kiri, segera balik badan lanjut berlari.
Dor dor dor dor dor dor!
Susulan hujan peluru pun menerjang Axel. Remaja berjaket jeans biru pudar terus melangkah cepat meski tiga buah timah panas menggores paha kanan dan kirinya. “Ugh!”
Sebastian yang tak menyangka bila bawahannya bertindak diluar perintah, balik kanan dan mengacungkan senapan ke atas. “Hentikan tembakan!” serunya memberi tembakan peringatan.
Dor dor dor dor dor dor!
Melihat belasan PM terdiam, lelaki berkulit gelap berambut cepak, menyapukan mata pada ujung laras senapan mereka. “Siapa yang bertindak sebelum aku beri perintah!”
Setelah lima detik tak mendengar sahutan, Sebastian kembali memberi tembakan peringatan.
Dor dor dor dor dor!
“Siapa yang mengawali tembakan!” Ia melotot.
“Maaf, komandan. Tapi kami takut kita lengah dan justru diserang balik seperti saat di Desa Kemojo,” ungkap seorang PM bertubuh tinggi. Wajahnya terbungkus helm khas PM.
Sebastian mengela napas. Ia menoleh ke arah hutan yang jadi jalur Axel pergi. “Selain pembangkang satu ini, kejar bocah tadi! Lumpuhkan bocah kacamata itu! Tapi jangan sampai tewas! Dia sedang tak membawa parewangan! Cepat!”
“Siap, Ndan!” Semua PM terkecuali sosok prajurit bertubuh tinggi, segera melaksanakan perintah.
Ketika semua bawahan telah berada jauh, Sebastian menodongkan senapan ke kepala sang pembangkang. “Hanya boleh ada satu komandan dalam satu regu. Jika kau ingin ambil tindakan sendiri, maka jadilah komandan!”
Dor!
Brukk...
Mayat PM berhelm, ambruk ke tanah. Perutnya diinjak sang komandan. “Aku bukan lelaki baik hati yang gemar bertindak tanpa berpikir lebih dulu. Harusnya kau pahami itu.”
***
Swuss!
“Hyahhh!” Puspa menghantamkan tinju kanannya yang terbalut selendang hijau pada perut lelaki berbusana serba hitam.
Blag!
“Hmmph!” Sang Tuemnggung Merah terdorong tujuh langkah, memandang sinis Puspa dari balik topeng merah.
“Hyaaah!” Athar yang sudah menantinya dari belakang, melesat mengayunkan kujang di tangan kanan.
Dlak!
Dhaeng Galuh meliuk menyampingkan badan. Ia lebih dulu menyusulkan kaki kiri tuk menendang tangan kanan Athar. Serangannya berhasil membuang pusaka pemuda berjaket biru. “Kena kau!” serunya mengacungkan tapak tangan kiri ke wajah lawan. Dari sana, sebuah bola api terbentuk dan melesat ke arah Athar.
Blaarr!
Beruntung, Puspa sigap menyabetkan selendang hijaunya dan berhasil menepiskan tembakan api lawan.
Dlap!
Saat kaki kirinya menyentuh tanah, Dhaeng Galuh memijak tanah kuat-kuat tuk melesat kembali ke arah Athar. “Heh!”
Puspa mengayuh kedua kaki cepat, berteriak, “Athar! Awas!”
Pemuda berjaket biru menyilangkan sepasang tangan di depan wajah manakala Dhaeng Galuh melayangkan tinju kanan.
Dlak!
Athar yang berhasil menahan tinju lawan, lengah dan gagal menepis susulan tapak kiri musuh. "Hukh!"
Tap!
Lelaki bertopeng merah menempelkan tangan kirinya di perut Athar selama satu sepersekian detik. Ia menembakkan bola api besar pada perut sasaran, hingga membuat dirinya dan lawan, terpental oleh daya dorong.
Blaaarrr!
Puspa yang melihat perut Athar terbakar, cepat-cepat mengayunkan selendang padanya.
Splaatt!
Ia menarik setelah selendang hijaunya membalut sekaligus memadamkan api tersebut. “Kau tak apa?” tanyanya lirih menahan punggung pemuda tersebut.
Napasnya tersengal. “Bisa kau alihkan perhatian orang itu, sementara?”
Puspa yang menerka bila Athar punya rencana, menagngguk lirih. “Percayakan padaku,” jawabnya membalutkan selendang hijau tosca tuk menutup sekujur badan bak memakai perban.
“Apiku padam, ya?” Lelaki berblangkon hitam dengan topeng merah, menggosok-gosokan kedua tapak tangan hingga berlapis api bagai terbakar. “Selendangmu itu... Dari mana, Cah Ayu? Aku seperti tak asing dengan motif dan tekanan auranya.”
Mendengar tanya lawan, Puspa menajamkan tatapan. ‘Benar dia tahu? Kalau begitu... Dia salah satu orang yang Gus Armi kenal!’
Athar mulai merapal mantra. Ia menepi dan duduk bersila di dekat tubuh Ni’mal berada. Pandangannya tak beralih dari lawan.
“Ada orang tua bertanya malah tak dijawab? So fun, kah begitu?” Dhaeng Galuh, setengah jongkok, tangan kirinya menyerupa cakar harimau.
Puspa berdiri tegap. Rambut panjangnya terangkat, terurai oleh angin yang mulai meniup-niup di sekitar badan.
“Kau tipe perempuan yang harus didekati lebih dulu, ya?” ledeknya sebelum melesat mengarahkan dua kepalan tangan yang terbakar.
“Tinju Dewi Angin!” Puspa berteriak, lanjut melesat menyambut lelaki bertinju api.
Blammmmm!
Tinju kanan keduanya bertemu. Tak seperti Puspa yang berkedip setelah pukulan mereka beradu, Dhaeng Galuh lanjut menyusulkan tangan kirinya yang menyerupa tapak harimau.
Blakk!
Puspa terempas ke atas oleh serangan lelaki berblangkon hitam. “Aahhh!”
Dlap!
“Hyahahahahah!” Ia menyusul Puspa ke udara, sejurus kemudian melancarkan tinju kanan kiri berapi secara bertubi-tubi.
Blak blak blak blak blak blak blak blak blak!
Gadis berhidung mancung, menutupi bagian atas badan dengan kedua tangan yang terbalut selendang, sedang kaki kirinya ia tekuk ke depan guna menahan serangan yang tertuju pada badan bagian bawah.
“Sampai kapan kau akan bertahan Cah Ayu!” Dhaeng Galuh menyatukan tapak kanan dan kiri, membentuk bogeman lanjut mengayunnya dari atas ke bawah.
Blaag!
Walau gadis berambut panjang berhasil menangkis, tubuhnya terlontar cepat ke tanah dari ketinggian dua puluh meter. “Ugh!”
Blammm!
Sang Tumenggung Merah mendarat menyusulkan kaki kanan dan menginjak perut si gadis malang.
Dari kejauhan, Athar hanya bisa menahan diri seraya merapalkan mantra-memfokuskan segenap tenaga pada kujang yang ia pegang.
***
Pandangan Axel mulai berkunang-kunang. Ia bersembunyi di balik batang pohon lapuk yang ambruk-entah oleh apa. Remaja berkacamata terkesima melihat nyala api lebar yang berada tak jauh darinya. “Puspa dan Athar, kah? Apa mereka juga bertemu dengan PM?”
Ia sesekali nyingir menahan perih sebab luka tembak gerombolan PM tadi. ‘Ahhh! Bukan waktunya mengkhawatirkan mereka dulu, kan! Aku sendiri sedang sekarat begini!’ pikirnya.
Tap!
Axel menelan ludah ketika bunyi sesuatu yang mendarat di batang kayu belakangnya, terdengar. “A-ampun, Bang! Sa-saya masih perjaka! Sa-saya belum mau mati!”
“Heh! Eta si b***k gumasep! Sadar! (Heh! Bocah sok ganteng! Sadar!”)
Mendengar suara Srikandi, membuat Axel berani menoleh. “Eeeh... Si Teteh ubur-ubur?”
Srikandi tersenyum kecut sejenak. “Apa kau lihat Ni’mal dan Puspa di sekitar sini? Dan...” Ia memandang lurus ke arah api yang berkobar liar, membentuk setengah lingkar bola. “Apa itu?” Ia mengerutkan kening.
“Sepertinya mereka dan Athar ada di sana.”
“Athar? Lamun... Geni eta teh... (Athar? Tapi... Api itu...)” Srikandi merogoh saku tuk mengambil ponsel. Ia menelepon seseorang. “Raden, Ni’mal sepertinya terlibat pertarungan lagi dengan lelaki bertopeng Tumenggung Merah,” lapornya usai menganalisa.
‘Di mana koordinatmu?’
“Wilayah Hutan Arsir dekat Candi Pameungpeuk.”
‘Tahan posisi. Jangan bergerak sebelum ka-‘
Dyaarr!
Sebelum Srikandi dan Axel berkedip, sesosok pria bertopeng Tumenggung Merah lain, baru saja melemparkan tombak besi pada ponsel gadis berambut biru hingga hancur. Beruntung tangannya hanya sedikit tergores.
Lelaki berbusana serba hitam bertopeng Tumenggung Merah, melangkah menghampiri Srikandi dan Axel. “Jangan kira kalian bisa mengganggu mereka.”