Pengejaran Prajurit Manunggal

2233 Kata
'Manusia, selalu memiliki kecenderungan untuk mencapai apa yang diinginkan. Terlepas dari cara yang mereka gunakan, baik-buruk, salah-benar.' Suara Raden Armi jelas Ni’mal dengar. Meski yang ada di sekelilingnya hanya kegelapan. Tubuhnya sendiri pun tak terlihat. 'Lantas jika kau sendiri adalah wayang... Bisakah kau mengeluh dan memaksa Sang Maha Dalang untuk mengabulkan setiap permintaanmu? Bisakah kau memaksa-Nya untuk selalu membiarkanmu melakukan kekeliruan yang berdampak buruk bagi dirimu sendiri?'   'Jawabnya, tidak, Nak. Kau tak berhak melakukannya. Tetapi sebuah usaha, adalah kunci dari apa yang kau perlukan. Berusaha, berdoa, bersyukur.'   “Meskipun hidupku penuh dengan derita?”   'Hahaha... Bukankah Sang Tokoh Utama selalu mendapatkan nestapa hingga akhirnya sang jiwa siap sedia sebagai manusia Pilihan-Nya? Bukankah... Arjuna dan para Pandawa selalu menderita sebelum akhirnya mereka hidup bahagia dengan memimpin Astinapura? Dan bukankah... Junjungan besar kita, senantiasa bergembira perihal dunia?' 'Lantas siapa kita yang melangkah terseok dan meminta semua berjalan sesuai kemauan kita? Bangunlah, Nak! Jalanmu sudah terbuka! Ada banyak hal yang menanti di luar sana!'   ***   (Hutan Kadipaten Tarang)   Kanom, makhluk berwujud manusia kera putih tersebut merasa puas menghajar Ni’mal hingga terkapar. “Setelah aku remuk ragamu, akan aku lahap jiwamu, hai manusia!” Ia mengacungkan tangan kanannya tinggi, menghalangi sinar rembulan yang menyinari wajah Ni’mal.   Srring!   Kuku hitam pada tangan kanannya memanjang dan menajam. Ketika Sang Kanom hendak menembuskan cakar tajam ke kepala, Ni’mal yang masih terpejam mengembuskan napas pelan lewat hidung. Tubuh pemuda itu kembali terasa ringan. Meski luka yang ia dera begitu terasa menyiksa.   Jlab!   Sekejap mata Ni'mal telah berada jauh di belakang lawan. Tepatnya di sebelah tombak kayu yang tertancap di tanah. Sang Kanom, mencabut cakarnya dari tanah. Baru ia hendak balik kanan, tombak kayu berujung trisula telah menancap-bersarang di punggung menembus sampai d**a.   'Hanya setelah terbangun, badanku terasa begitu ringan...' Ni’mal mengayuh kedua kakinya cepat menuju lawan. 'Keberuntungan? Entahlah!'   “Graaaagh!” Sang Kanom memutar badan, menyambut Ni’mal dengan terkaman.   Wuss!   Ni’mal meliuk memutar tubuh di udara. Ia erat memegang tombak kayu yang bersarang di badan lawan, kemudian membanting makhluk tersebut keras ke tanah.   Blaaang!   “Kau tak akan mampu mem-”   Jlak!   Pemuda berjaket hitam merah, cepat-cepat menusuk leher sang manusia kera hingga kepalanya terlepas dari badan. Usai mendaratkan serangan fatal, Ni’mal berlutut sempoyongan. Sejenak ia perhatikan jasad sang Kanom. Terjadi gejolak batin, sesuatu yang mengganjal, yang kemudian menggerakkan tangannya untuk mengepal ditaruh di pinggul kanan. Netranya, kembali memerah sebagian. “Hyahhh!” Blaak!  Ia mendaratkan sebuah tinju jarak jauh ke perut monster. Perut target sontak berlubang. Dari dalam perut, sesuatu yang kecil bersinar merah, mencuat keluar. Sebuah kepingan batu kristal bak akik, tampak indah dipandang.   'Ini... Aura benda ini begitu mirip dengan dua makhluk di gua... Mungkinkah yang ada pada mereka... berasal dari batu seperti ini?' Ni’mal, menyentuh benda tersebut. Wajah orang-orang yang tak ia kenal, terbesit di kepala. 'Ini... Mirip seperti batu yang aku lihat setelah mengalahkan wanita setan di Gunung Katresnan, kan?'   Nguuuung...   Telinganya berdengung, seiring perutnya yang memompa darah keluar melalui luka. Tubuhnya gemetar tak karuan, hingga selongsong peluru melesat-bersemayam di pahanya.   Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!   “Haargh!” Ia meringis merasakan nyeri. Sebastian, dari balik rimbun semak-semak segera melesat dan menyusulkan berondongan tembakan. Dua puluh orang di samping dan belakangnya, turut menghujani Ni’mal dengan tembakan.  Dlap!  Ni’mal memijak kuat tanah, hendak menuju pepohonan yang lebih rapat. Nahas, daya lompatnya drastis berkurang. Alhasil, ia hanya melompat lima meter dan terjerembap ke tanah. Meski selamat dari serbuan peluru yang masih saja bergemuruh, tetapi pahanya tersengat nyeri.   Clep! Clep! Clep! Clep!   Empat dari ratusan peluru, berhasil mengenai paha kanan dan kiri. Satu peluru lain, berhasil mengenai perut Ni’mal, yang mana kain jaketnya sudah berlubang oleh tusukan Sang Sura harimau. “Aaargh!” Ia terus menahan sakit. Pemuda penuh luka mulai merayap di antara rumput hijau yang lembap. 'Kawanan PM itu!'   “Tinju Dewi Angin!” Suara Puspa menggelegar.  Wusss!  Setelah empasan kuat dari sesuatu yang bergerak begitu cepat, para PM termasuk Sebastian, terlempar ke berbagai penjuru. "Huugh!"  Puspa Arumi, berdiri membelakangi Ni’mal dari jarak puluhan meter. Di samping pemuda itu, Azizah berkata seraya mendekat, “kau tak apa?”   ***   (Perpustakaan Kraton Utama, Kadipaten Pancer)   "Pusaka peninggalan leluhur Manunggalan... Apa kalian berhasil menemukan petunjuk tentang itu?" Raden Irawan bertanya pada Bongbong dan Wahyu. Keduanya tengah sibuk membaca beberapa tumpuk buku tebal tua secara bergantian.   "Belum, Den." Bongbong menggeleng. Matanya sibuk membaca baris demi baris tulisan.   Membuka lembaran akhir dari buku tebal di depannya, Wahyu mengela napas. "Sudah. Sepertinya memang tak ada lagi di sini," lapornya menatap lelaki berkumis yang berdiri.   "Apa kalian mencari keberadaan Kujang Ludira?" Gadis berambut biru dengan sweater putih, datang membawa seekor kucing berbulu biru di pundak kanan.   Mengerti Srikandi datang, mereka memperhatikan gadis berambut biru tersebut. "Apa Ni'mal masih belum ditemukan?" tanyanya lagi mendekati Raden Irawan.   "Masih belum." Wahyu menutup buku yang selesai ia baca. "Apa kau tahu tentang Kujang Ludira?"  "Kujang Ludira adalah pusaka bertekanan kuat yang pernah dipakai oleh Arjuna Merah menjelang tragedi Pancer waktu itu. Aku yakin Baron Saga Geni pernah merasakan tekanan pusaka itu..."   Raden Irawan membuka lebar kedua mata. 'Benar!'   "Ada beberapa hal yang harusku bicarakan denganmu, Raden..." Srikandi menoleh sejenak pada Bongbong dan Wahyu. "Tapi hanya kau dan Raden Armi yang boleh mendengarnya."   ***  (Hutan Tarang.)  Azizah terdiam menyaksikan Ni'mal yang terpana pada Puspa. Gadis berselendang hijau tosca, membalik badan membalas pandang Ni’mal dari kejauhan. Turut menatap Puspa yang mulai berjalan pelan ke arah mereka, Azizah mengatupkan kedua bibir. Lalu lirih melirik Ni’mal.   Pemuda berjaket hitam yang baru sadar keberadaan Azizah, bergegas mundur dengan kedua tangan menopang tanah. “Ka-kau!”   “Dia menyusulku untuk mencarimu.” Gadis berambut panjang dengan kain batik hijau tosca, sudah berada beberapa meter darinya. Cucu Ki Ageng Jagat tersebut berlutut mendekati Ni’mal. Ia memperhatikan luka di paha Ni'mal. “Maaf... Aku lagi-lagi terlambat datang...”   Meraba lirih lengan Puspa, Ni’mal mendatarkan garis alis. “Aku yang minta maaf. Kau... Kini terlibat dalam hidupku yang kacau...” gumamnya lirih. “Kenapa kau nekat pergi sendiri?” Ni'mal memejamkan sepasang mata, menarik napas. “Aku...” Wajah Mbah Pur, terbesit. “Aku harus menyelesaikan sesuatu terlebih dulu, sendirian,” jawabnya. 'Karena entah mengapa, kurasa ini keharusanku.' Ia menoleh ke wajah Azizah yang canggung. 'Gadis ini dan warga desa itu saja, bisa celaka... Apalagi, kamu...' batinnya.  “Puspa... Aku buronan Manunggal. Untuk sekarang, mohon sampaikan pada Raden Armi bila aku mampu untuk menyelesaikan ini seorang diri. Jika nanti aku butuh bantuan kalian, aku yakin... Alloh yang akan mengirim kalian padaku.”   Mendengar balasan Ni’mal, Puspa makin mendekatinya. Air mata terbendung nyaris menetes membasahi jaket hitam sang pria berambut lebat. “Meski aku tak mengalami apa yang kau rasakan, tapi aku paham...”   Blaamm!   Bunyi ledakan membuat Ni’mal, Puspa, dan Azizah menoleh. Tak lama, Aldy sang Satria Manunggal terlempar ke arah mereka.   Blaakk!   Pemuda dengan seragam hitam SM, seketika tergeletak menahan nyeri. Ada bekas luka tembak pada perut dan punggung. “Hey! Ce-cepat larilah! Mereka...”   Puspa menajamkan tatapan ke arah api yang berkobar di hamparan pohon pisang. “Kak Zizah... Boleh tolong bawa Ni’mal dan SM ini menjauh dari sini?”   “Ke-kenapa? Me-mereka PM, kan? Ayo kita hadapi bersama!” ujarnya berdiri.   Puspa menggeleng sembari mengikatkan selendang hijau ke tangan kanan dan kiri, lanjut membentangkan kain sakti yang ia miliki. “Aku tak mau kau lepas kendali di sini. Biar aku saja yang tahan mereka.”   Cwuzz! Cwuzz!  Dua buah roket berdiameter tiga setengah meter dan panjang tujuh meter, melesat berurutan ke arah mereka.   Tap!   Puspa melompat menaiki roket tersebut. Ia sigap menyabetkan selendang hingga membalut benda peledak itu, lalu melemparnya ke arah roket yang di belakang.   Blaaaarrr!   Ni’mal menutup kedua mata dengan lengan kanan. Ledakan barusan memicu kobaran api di hutan. 'Mereka gigih sekali mengejarku!'  “Kak Azizah, aku mohon! Jika tak bergegas, mereka akan melihat kita semua di sini!”   “Ti-tidak!” Ni’mal gagal bangkit sebab luka yang ia dera pada paha. “Kau juga harus pergi!”   Mendekati Ni’mal, Puspa menatap dalam pemuda tersebut. Ia lirih berkata, “kau yang bilang, kan? Kau butuh waktu untuk menyelesaikan urusanmu... Aku, akan menunggumu!”   Bleg!   Ni’mal yang hilang fokus sebab kedua pancar mata Puspa tengah menahan air mata, tak mengantisipasi serangan dari Aldy dan Azizah. Mereka, serentak memukul tengkuk belakang Ni’mal secara bersamaan.  ***   (Hutan Tarang)   Tiga-empat peluru yang bersarang di tubuh Aldy, berhasil Azizah keluarkan. Gadis berambut panjang tersebut kini ganti menatap Ni’mal yang terbaring lemah. Sebelum mengambil peluru yang bersarang di tubuh Aldy, ia telah lebih dulu menolong Ni’mal.   “Apa kau sudah lama mengenalnya?” tanya Aldy memegangi perut.   “Dia ditemukan Ayahku di dekat sawah. Ni’mal, seperti koma dalam waktu lama. Dan ketika sadar... Rombongan PM itu datang untuk menangkapnya.”   “A-apakah Ayahmu menemukannya pada saat atau beberapa waktu setelah tragedi Sayembara terjadi?”  Azizah berpikir sejenak. “Maksudmu... Pagelaran Akhir Sayembara Manunggal?”   Pemuda dengan busana hitam itu, mengangguk. "Iya tentu!"   “Jika dilihat dari tanggal... Sepertinya dua atau tiga hari... Tapi entahlah... Kami tak bisa melihat Pagelaran Sayembara.”   Aldy mengerutkan dahi di atas alisnya yang lebat. “Tak melihat? Bagaimana bisa?”   “Aturan di desa Kemojo, tak memperbolehkan warga untuk mendapatkan informasi dari luar. Leluhur Desa, khawatir akan perkembangan budaya Senlin yang kini mulai merajalela.”   Aldy mendengung. “Begitu ya...” Matanya menatap Ni’mal. 'Sepertinya... Zaen tanpa sadar memindahkan Ni’mal ke pelosok Tarang. Tapi hebatnya... Anak ini masih bisa bertarung. Padahal, Kakeknya sendiri yang telah banyak melukai sukmanya.'   Azizah bertanya balik, “apa kau tahu tentang orang ini? Kenapa dia dikejar oleh para PM?”   “Kau menolongnya tanpa tahu mengapa ia diburu?” Aldy kaget.   “Datuk yang memintaku mengantarnya ke Pohon Pasak. Beliau hanya berpesan untuk membantunya tanpa memberi alasan jelas.”   'Bagus jika kau tak tahu.' Menghela napas, Aldy tersenyum. “Terjadi kesalah pahaman. Dan Ni’mal yang jadi korban tuduhan. Sebab itu, baiknya kita tunggu hingga ia tersadar, dan menjelaskan semuanya.”  “Masyaalloh... Jika begitu... Apakah dia benar-benar dicari pihak Manunggal? Kalau begitu... Bukankah harusnya... Kau membantu para PM di sana untuk menangkapnya?”   Aldy tersenyum simpul. “Tak perlu cemas. Terlalu rumit jika aku jelaskan. Intinya, aku ada di pihak anak ini.”   “Ka-kalau begitu... Apakah kau membelot?”   Menarik napas lalu mendengung, Aldy geleng-geleng. “Aku akan beritahukan seperlunya saja. Untuk sekarang, beristirahatlah.”   Masih dengan mata terpejam, Ni’mal yang secara diam-diam menyimak perbincangan mereka, kini bicara, “aku lelah harus menjelaskan semua itu. Aku juga tak bermaksud meminta bantuan kalian.”   Aldy menelan ludah. 'Anak ini... Secara medis seharusnya dia... Mendekati koma! Dia di hajar habis-habisan oleh Kanom! Terluka oleh peluru peredam tenaga dalam! Dan menerima begitu banyak serangan fatal pada sukma! Semengerikan inikah Arjuna Merah?'   Ni’mal yang nyingir mencoba bangkit, dibantu Azizah tuk duduk. “Aku sendiri tak mau melibatkan kalian dalam bahaya. Jadi pergilah.” Ia meraba luka bekas tembakan di paha.   Aldy menanggap dingin, “meskipun kau Arjuna Merah, tapi kau akan kesulitan menemukan tujuanmu jika mencari seorang diri.”   Ni’mal menoleh cepat. “Apa maksudmu! Apa yang kau tahu tentang Arjuna Merah?”   “Entah apa yang terjadi padamu... Sehingga kau melupakan tentang jati dirimu yang mengerikan itu.”  Grepp!   Ni’mal cepat meraih kerah seragam SM. “Katakan apa maksudmu!”   Pria mancung itu menatap tenang pemuda bermata cokelat. “Seorang manusia yang menguasai Ajian terlarang dari Padepokan Wayang Pancer. Bagi siapa pun yang menguasainya, konon mampu memiliki kekuatan setara Malkika. Namun sayangnya, Ajian yang kau kuasai itu, justru akan menelan jiwamu sendiri.”   Ni’mal melirik ke kanan dan kiri. 'Menelan jiwa?'   “Ajian Sukma Dhasamuka. Sebuah Ajian terlarang yang telah diramalkan oleh Penghuni pertama Negeri Manunggal, akan menjadi sebab dari bala bencana yang menimpa.” Sang SM melepas cengkeraman Ni’mal kasar. “Dan kini, sosok yang digemborkan itu ada tepat di depanku.”   'Ajian Sukma Dhasamuka? Ta-tapi... Sejak kapan aku mempelajari hal terkutuk itu?' Ia termangu.  Aldy tersenyum masam. “Dari perkiraanku, ingatanmu tentang sosok Arjuna Merah, hilang... Setelah pengkhianatanmu pada para pengikut Vajra.”   Ia mendongak menatap Aldy. Sekilas teringat pada Athar, remaja yang menyerangnya di malam sebelum Sayembara.   “Kujang Ludira... Pusaka itu adalah senjata yang telah kau gunakan untuk membantai ratusan atau mungkin ribuan personil SM.”   Kedua tangan Ni’mal seketika bergetar. Ketika ia menunduk memperhatikan kedua tapak tangannya, terekam samar ingatannya saat tubuhnya berlumur darah merah. Darah, dari lautan manusia yang ia habisi.   Ngiiiing!   Telinganya, kembali berdengung hebat. Ia menutup kedua mata erat-erat. Seiring waktu berlalu, bisikan-bisikan di masa lalu, mengganggu.   'Bunuh dia!'   'Jangan biarkan dia menyentuh area kraton utama!'   'Ni’mal! Tega sekali kau melakukan ini semua!'   'Tidak!'   'Tolong, bunuh saja aku! Jangan adikku!'   'Berhenti kau pembunuh!'   'Dasar makhluk terkutuk!'   'Hai anak muda! Setelah kau kuasai negeri ini dengan kekuatanmu, lantas apa lagi tujuanmu? Mengatur hidup mereka dengan keji? Membantai semua yang kau temui? Atau merusak semua kehidupan yang kau jumpai?'   'Jawab aku, anak muda!'   'Haaargh!'   "Uugh!" Ni’mal, bertekuk lutut, lalu bersujud menahan sakit yang menusuk kepala. Ia memuntahkan darah. Meski Azizah mencoba menenangkan, tetapi ia hanya mendengar bisikan-bisikan suara yang terputar ulang di kepala.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN