(Laboratorium Senlin.)
Pemuda berkulit putih dengan busana profesor, sibuk memperhatikan sel-sel dari darah Kanin yang ia campur dengan darah manusia, lewat mikroskop. 'Sial! Darahnya masih enggan menyatu!'
“Masih belum selesai, ya?” Yo datang dari samping, sedikit menoleh ke arah mikroskop.
“Seperti perkiraanku waktu itu. Aku butuh sampel darah lebih banyak darinya,” tanggapnya menghela napas, menatap balik Yo.
Menaikkan alis kanan, lelaki tua beruban bertanya, “para Kanin Alpha?”
“Darah dari orang yang kalian sebut sebagai, Arjuna Merah.” Jhonson melepas kacamata. “Aku membutuhkan lebih banyak sampel untuk uji coba. Dan lagi, sifat darah orang itu berubah-ubah.”
“Maksudmu?” Yo mengerutkan dahi.
“Sampel darah orang itu, yang tertinggal di cakar makhluk uji coba lalu, dengan sampel darah orang itu, yang tertinggal di serpihan arena Sayembara, jauh berbeda.”
“Apa perbedaannya? Bukankah masih satu objek?”
“Darah yang ada di cakar Makhluk Hitam eksperimen itu, serupa seperti darah manusia biasa. Tetapi, darah yang ada di pagelaran Arena Sayembara, darah yang tersisa di sana justru merusak sel-sel asing. Racun Kanin, hingga darah Kanin sendiri pun, tak berkutik melawan sel darahnya.”
Yo menajamkan sepasang mata sebelum akhirnya tersenyum simpul. “Menarik sekali.”
“Bukan sekedar regenerasi seperti kemampuan beberapa Ras Makhluk Hitam reptil, darahnya juga mampu menolak semua cairan kimiawi yang bersifat korosif.”
Sang Kaliwon terpintas pertarungan Ni’mal melawan Mbah Pur. Di saat Ni’mal dikuasai sisi Arjuna Merah. “Dengan kata lain, darahnya yang dikuasai oleh dewa Amarah, jauh berbeda dengan darahnya yang kita dapat ketika ia tak dikuasai amarah, benar?”
“Kabar baiknya lagi, jika ini benar... Maka ini bisa kita pakai sebagai bukti kuat teori evolusi, bahwa manusia terdahulu merupakan monyet, yang akhirnya berwujud jadi manusia.” Johnson, menaruh kedua saku di tangan.
Lelaki tua menganggukkan kepala. 'Benar! Sudah saatnya negeri ini menghapus semua kepercayaan tabu primitif!'
Pemuda berkacamata, dengan kaos biru dan celana jeans hitam, menghampiri mereka. Pada kaos biru di d**a kiri, tertulis Wahyu Widodo. “Omong kosong apa itu!”
Yo, menoleh pelan. “Kau?”
“Mau apa kau kemari, bocah?” Johnson menatap tajam.
“Aku minta Blueprint Project MS2 yang kalian sita.” Wahyu berdiam menjaga jarak. Rautnya datar.
Menaikkan alis kanan, Yo membalik badan. “Kau pemuda yang pernah merengek meminta imbalan, ya?” tanyanya mendekati Wahyu. Ia, merangkul sang pemuda berkacamata. “Bagaimana kabar, Nak? Sehat?”
Melepas tangan Yo, Wahyu memandang jengkel. “Aku tak punya banyak waktu untuk meladeni kalian para penyembah mesin! Sekarang berikan Blueprint milikku!”
“Lantas... Jika aku tak mau?” Sang Kaliwon tersenyum picik.
Bralll!
Pintu ruangan hancur, terbuka paksa dari luar. Bunyinya, membuat Johnson dan Yo menoleh serempak. Mereka, tercengang menatap sesosok pria yang tak asing. Raden Irawan, dengan kaos hitam berblangkon, berdiri dengan wajah dingin. “Yo, Johnson, atas nama Kraton Utama, Aku... Sang Putra Mahkota, menangkap kalian dengan dakwaan penyalahgunaan teknologi militer yang membahayakan warga Negeri Manunggal!”
Johnson gagu, “a-apa? Ta-tetapi... Apa-”
Yo menepuk pundak Johnson. Matanya memandang Wahyu. Ia berbisik lirih, “berani sekali kau, anak muda... Kau tak tahu sedang berurusan dengan siapa...” Raut santainya raib.
***
(Hutan Kadipaten Tarang)
Suara jangkrik dan burung hantu, sesekali diselingi auman serigala. Nuansa horor di hutan, tak menyiutkan nyali mereka bertiga. Ni’mal, Aldy, dan Azizah. Ketiga pendekar muda, melangkah pelan di atas rerumputan basah hutan yang gelap. Hingga mendadak, Ni’mal berhenti.
Netranya fokus pada kilau cahaya yang mulai tampak di sela dahan dan ranting. Kilau cahaya redup berwarna kuning dan biru, membuatnya melangkah mendekati salah satu pohon berdaun lebar-serupa daun talas tapi berbatang pohon jati. 'Makhluk apa ini?'
“Itu ulat damar. Mereka hanya ditemukan di kawasan arsir hutan yang mana tak ada Makhluk Hitam. Jadi aku rasa, kita aman jika ingin beristirahat di sini,” jelas Aldy mencari dedaunan kering untuk duduk bersandar di bawah pohon.
“Bukankah, ulat jenis itu... Menyerang manusia?” tanya Azizah turut mendekati Ni’mal, mengamati tiga ekor ulat yang menyala. Masing-masing memancarkan cahaya berbeda.
“Mungkin yang kau maksud, ulat kunang. Meski sejenis, tapi cahaya yang mereka pancarkan berwarna merah. Mereka ada di dekat sarang Makhluk Hitam spesies tertentu.”
Ni’mal melirik ke kanan dan kiri. “Kau... Tahu banyak ya, soal Makhluk Hitam?” usai bertanya, ia mengingat kembali obrolannya dengan seseorang bernama Aldy, sosok yang dulunya menjadi rekan PM.
'Dia...' Aldy mendengung sejenak. “Itu karena aku banyak membaca buku di perpustakaan kraton utama saja.”
“Aldy...” Ni’mal, memanggil seraya menyandarkan dirinya pada batang pohon. “Kenapa kau bersedia membantuku?”
Sang SM berambut lebat memejamkan mata. Sedikit tersenyum, ia menjawab, “tak usah curiga. Aku hanya mengawasi Arjuna Merah agar tak lepas kendali dan melukai manusia.”
'Sikapnya... Seperti Raden Irawan...' batin si pemuda berjaket hitam.
“Ni’mal, apa kau tahu di mana arah barat yang Sura Utara sampaikan padamu?”
Ni’mal menunduk. “Tidak.”
Lelki berbusana serba hitam mengernyitkan dahi. “Mana mungkin?”
“Aku hanya akan berjalan sesuai dengan apa yang kutemukan,” tanggapnya memejamkan mata.
“Mana bisa begitu, bodoh!”
Ni’mal menoleh dengan wajah datar. “Jika kau tak mau menemaniku, pergilah. Aku akan cari tahu sendiri mengenai Kujang Ludira dan lainnya.”
“Cih! Dasar keras kepala! Beda antara nekat dan bodoh itu tipis!”
“Aku memang bodoh. Itu sebabnya aku nekat.” Cucu Mbah Purwadi memilih merebahkan tubuh di rerumputan lembap.
Azizah memberanikan diri bertanya, “Ni’mal... A-apa... Kau tak mengkhawatirkan perempuan berselendang hijau tadi?”
Pemuda berambut lebat membuka kedua mata. “Aku percaya dia akan baik-baik saja. Dia cerdik dalam siasat bertarung.”
Turut merebahkan diri ke tanah, Aldy memejamkan mata. “Dia benar. Cucu Ki Ageng Jagat belum tentu kalah melawan kumpulan SM. Menghadapi satu batalion PM pun, dia mampu menghadapinya.”
***
(Kadipaten Cidewa Hideung)
Raden Irawan, menghadap Gus Armi. Kedua pria berblangkon itu, menikmati dua cangkir kopi. Padepokan Gajah Putih jadi tempat rapat di malam hari. Di ruang tamu penuh perabot bercorak sunda, Sang Putra Mahkota menceritakan tugasnya yang telah selesai.
“Kira-kira... Berapa lama pihak kraton mampu menahannya sesuai dengan Pasal Kerajaan yang telah di perbaharui?” tanya Gus Armi usai menyeruput kopi.
“Jika Yo mengakui perbuatannya, dia akan langsung dicopot dari jabatan sekaligus dijebloskan ke penjara. Dan, semua barang bukti, termasuk laboratorium rahasia itu, akan diperiksa oleh pihak kraton utama.”
“Meski proyek yang ia kerjakan ini berkaitan dengan Tumenggung Richard, ia tak akan mau membeberkannya. Jadi, terus awasi pihak Senlin. Khususnya, Indah Chakravati beserta mereka yang sempat hilang beberapa hari.”
Raden Irawan mengangguk sebelum bertanya, “dari mana panjenengan tahu lokasi rahasia Laboratorium Senlin itu, Gus?”
Gus Armi tersenyum kecil. “Hey, jangan kira aku hanya berdiam diri saja dan memberi kalian mandat! Aku pun bergerak secara diam-diam koen!” ucapnya cengengesan.
“Lalu... Gus... Bagaimana tanggapan Anda mengenai Ni’mal yang muncul di Kadipaten Tarang? Apa tidak berbahaya jika... Dia lepas kendali dan jadi Arjuna Merah lagi?”
“Tenang saja, Nak. Insyaalloh semua baik-baik saja.”
Raden Irawan, kembali bertanya, “lalu mengenai Pusaka Darah, apa perlu kami cari kepastian lokasinya?”
“Putri Nilam Sari sendiri sudah angkat bicara... Beliau bilang, biarkan si pemiliknya yang menemukannya secara langsung. Adapun kemarin Srikandi mendatangimu, untuk menyampaikan agar segera meminta Ni'mal menemui sang penguasa laut selatan itu, bukan?"
'Tapi gadis itu tak bicara terus terang begitu kemarin!' Raden Irawan terbelalak. 'Jadi benarkah Sura dari selatan... Apa sebenarnya kaitan Ni’mal dengan empat Sura ini?'
***
(Hutan Kadipaten Tarang)
Membuka mata setelah berpura-pura terlelap di hadapan kedua temannya, Ni’mal bangkit dan memilih berjalan meninggalkan mereka yang masih terlelap. 'Aku... Harus menyelesaikan ini sendiri.'
Bulan sabit yang terhalang awan malam, menjadi saksi bisu perginya Ni’mal. Hutan, benar-benar telah gelap. Pendar pada rerumputan yang pudar dari rembulan, tak mampu jadi penerangan yang cukup bagi Ni’mal. Sebab, semakin ia jauh melangkah, semakin sedikit ulat damar yang ia jumpai. Ni’mal sempat merogoh kedua saku guna menjadikan akiknya yang mungkin mampu bersinar, namun gambaran momen saat ia menitipkannya pada Puspa, terbesit. “Puspa... Jaga dirimu untuk sebentar saja,” bisiknya melangkah memasuki hutan, di mana para ulat bersinar, kini tak lagi ada.
***
Lama sudah Ni’mal melangkah. Luka pada kedua paha, tak lagi menghalanginya berjalan seorang diri. Meski perih tak mampu ia ungkiri. Hanya suara jangkrik dan kicau burung hantu, yang terus menemani. Pepohonan di sekitar, kini berganti. Hawa malam yang menyengat, tak membuatnya mundur mengurungkan niat. Tekadnya sudah bulat, melangkah seorang diri tanpa melibatkan orang-orang terdekat.
Menyandarkan telapak tangan pada sebuah pohon terdekat, ia menarik napas dalam. 'Jika harus melalui hutan ini dengan berjalan kaki... Sepertinya akan sulit dalam kondisi lelah, aku dikepung oleh gerombolan PM. Bagaimanapun mereka tak mau berhenti mengejarku...'
Ni’mal mulai mengatur napas. Ia, mengheningkan diri sembari fokus pada apa yang sepasang telinganya dengar. Bunyi-bunyian alam mulai jelas, silih berganti. Dari bunyi jangkrik yang kian jelas terdengar, desir angin malam yang lembut berembus meniup rumput dan pepohonan, bunyi samar burung hantu yang keberadaannya berkisar jauh darinya, hingga lirih percakapan seseorang.
Membuka lebar kedua netra di tengah gelap hutan, ia lanjut menyempitkan mata mengawasi sekitar. “Mungkinkah... Para PM?” Demi memastikan, pemuda itu kembali memejamkan kedua mata. Ia fokus pada indra pendengaran. Dari beberapa patah kata yang samar terdengar, hanya kalimat ‘Puspa' yang menarik perhatiannya.
'Puspa? Mustahil! Tak mungkin mereka menangkapnya!' pikirnya mengepalkan tinju kanan yang menempel pada batang pohon. 'Tak kubiarkan!'
Dlap!
Ni’mal mengayuh kaki sekuat tenaga. Ia terus melangkah lurus, melewati beberapa semak belukar yang rimbun. Tanpa sadar, laju kakinya yang kuat mengoyak dahan semak belukar yang sempat menghalangi-hendak membuatnya tersandung.
Tap tap tap tap tap tap!
Langkah yang ia dengar, bukan lagi bunyi gesek di antara rerumputan. Telapak kakinya kini merasakan tekstur keras dari dataran yang Ni'mal pijak.
Tep!
Ia berhenti melangkah saat di hadapannya, berdiri sebuah bangunan dari batuan, mirip seperti candi. Candi tua dengan pahatan kepala Buto di atas pintu. Sedangkan stupa candi yang setengah bola, berhias ukiran naga bermahkota melingkar. Pada pintu masuk candi yang tertutup, terukir patung manusia bertombak yang menghadapi ukiran para Kanin.
Ni’mal yang menyapukan pandang ke arah halaman berlantai batu, berhenti pada api unggun yang masih menyala. Ada dua pria berbaju Prajurit Manunggal, dan seorang perempuan berselendang hijau tosca. Puspa. “PM?”
Mengeratkan kepalan tinju kanan dan kiri, Ni’mal menyatukan deret gigi atas dan bawah. Ia, menajamkan pandangan pada dua sosok berhelm yang tak ia kenal. “Tak akan kubiarkan kau menyentuhnya!”