(Candi tua, Hutan Wilayah Arsir Kadipaten Tarang-Cidewa Hideung)
"Pek! Topek! Aku tak asing dengan aura orang ini. Apa kau kenal?” tanya sosok PM bertubuh kurus. Tingginya berkisar seratus enam puluh cm, tak seperti kawannya yang lebih tinggi dua puluh cm. “Mbuh, Ndre... Aku gak ngerti. Tapi dia sepertinya sedang emosi,” ucapnya berdiri tegap memandang balik Ni’mal yang wajahnya tak tampak akibat gelap malam.
“Siapa dia? Kenapa ada orang yang sampai menjelajah wilayah Arsir?” tanya sang sosok kurus sembari duduk bersantai di dekat api unggun.
“Apa mungkin dia bawahan Cepot?” Pria berseragam PM yang tinggi itu sedikit menoleh ke belakang. “Dan dia mengincar Cucu Ki Ageng Jagat, kah?”
Mendengar analisa rekannya, pria bertubuh kurus turut bangkit. “Bisa jadi!” Ia mengambil kuda-kuda.
Ni'mal terus mendekat tanpa gentar. 'PM dengan tekanan tenaga dalam? Aku tak peduli!' Ia mengayuh kedua kakinya cepat. Tangan kanan dan kirinya mengepal erat bersiap menyerang.
“Pek! Pakai Pusakamu... Dia bukan orang bia-”
Blag!
Ni’mal yang sekejap mata sudah ada di belakang sasaran, mengayunkan tendangan ke arah pria bertubuh kurus. Meski tertangkis, ia membuat sasarannya terlempar jauh menabrak candi yang ada di tengah.
Brall!
Sisi kanan candi tersebut sedikit hancur. Reruntuhannya menindih pria yang Ni’mal tendang barusan. Melihat kawannya diserang, pria bertubuh besar itu menyusulkan tiga pukulan beruntun. Sayang, Ni’mal lincah mengelak, menangkap dan membanting pria berhelm tersebut ke lantai batu di bawah.
Braag!
Baru Ni’mal hendak melangkah mendekati Puspa, sebuah keris melayang cepat dari arah reruntuhan candi. Alhasil, ia melompat memutar di udara.
Dar!
Keris tersebut menghancurkan satu dari empat patung batu yang ada pada masing-masing sudut lapang pelataran candi.
Jluk!
Ni’mal yang diam tuk berpikir sejenak, tertohok oleh tombak dari pria di bawahnya. Sosok itu, sudah memegang sebilah tombak berujung keris dengan lima luk. Beruntung, ujung tajam pusaka tersebut tak mampu menembus jaket pemberian Ki Ageng Jagat. Membalik badan meraih tombak lawan, Ni’mal berteriak membanting musuh yang enggan melepas tangkai tombak. “Hyahh!”
Braag!
Lantai batuan yang jadi pendaratan, hancur berkeping-keping. Letupan angin akibat entakkan keras barusan, memadamkan api unggun di sana. Helm yang lelaki itu kenakan, remuk. Satu lawan Ni'mal, tak lagi bergerak.
“Topek!” melepas helm, pria berambut gondrong itu bangkit dari puing candi. Langkah kakinya yang cepat nan ringan, tak bersuara. Sosok gondrong kurus sigap melompat melayangkan tendangan dorong pada Ni'mal.
Wuz! Dak!
Menangkis menggunakan tombak yang dipegang, pemuda berjaket hitam terpental menabrak gapura masuk candi-hingga runtuh. Tubuhnya terkubur puing batuan candi.
Brall!
Baru lima detik beranjak, Ni’mal telah bangkit dan berdiri dari tindihan puing-puing. “Haah!”
“Al ‘Adhiyati dhobha!” seru sang pria gondrong. Ia melaju begitu cepat, sejurus kemudian mengutus tapak tangan kanan saat jaraknya dengan Ni’mal hanya berjarak tiga meter.
Mengerti ia akan kembali diserang, Ni’mal melompat memutar badan di udara. Tangan kanannya, bertumpu pada lengan kanan pria gondrong. Ia lanjut mengayun kaki kanan untuk menendang punggung.
Swuss!
Gesit, si pria gondrong berlengan kekar justru meliuk ke bawah, menghindari Ni’mal dan menyusulkan tendangan tepat di perut pemuda berambut lebat. “Tendangan Macan Wesi!”
Blag!
Ni’mal, terlempar ke sisi kiri candi, mendarat di sana keras. Tubuhnya yang lunglai, kembali terkubur puing-puing. 'Mantra Kakek... Di-dia orang Padepokan Macan Bumi?'
“Hai bawahan Vajra! Aku tahu kau masih hidup! Majulah!”
Braall!
Ni’mal dengan sisa tenaga memaksakan kaki berdiri dari tindihan puing batuan candi. Ia mencoba menenangkan napas yang kacau. Ia perlahan menaruh bogem kanan di pinggul kanan. Kedua kakinya, memijak kuat di atas reruntuhan. “Aku tak peduli kau dari Padepokan mana! Tak akan aku ampuni siapa saja yang menyakitinya!”
Pria bertubuh besar yang sedari tadi terkapar lemah, berteriak memperingatkan usai melepaskan helm yang remuk, “Andre! Minggir!”
“Hyaaaah!” Ni’mal menghantam bak senapan mesin. Ia meluncurkan tinju jarak jauh bertubi-tubi ke arah pria berambut gondrong. Kedua pupil matanya, mulai memerah seiring darah yang mengalir keluar dari mulut.
Andre sang pria gondrong memejamkan kedua mata dengan tubuh siaga. Tangan kanan-kirinya membuka, menekuk-nekuk menepis dorongan energi angin yang melesat ke arahnya. Meski kualahan, ia terus menepis tinju-tinju tak kasat mata.
Hingga secara mendadak, Ni’mal menghilang dan muncul tepat di belakang pria bertubuh besar. Ia, tak segan meluncurkan tendangan dorong dari belakang, membuatnya terlempar ke arah Andre.
Blaam!
Tap!
Ketika Andre berhasil menangkap rekannya yang terlempar sembari meringis kesakitan, Ni’mal sudah menyusulkan tinju jarak jauh. Sebab kedua kakinya yang terasa keram oleh dampak menepis serangan jarak jauh tadi, Andre melempar rekannya, membiarkan tubuh kurusnya jadi pendaratan tinju jarak jauh Ni'mal.
Blaaak!
Pria itu terempas jauh, hingga menabrak menembus dinding pembatas area candi.
Brall!
Selesai memukul, Ni’mal berlutut. Tubuhnya gemetar seraya muntah darah. Napasnya kacau tak beraturan. Keringat dingin pun, menetes dari dahi. Pria bertubuh besar, terseok melangkah mendekati Ni’mal dengan tombak di tangan. Ia, mengacungkannya ke wajah Ni’mal. “Siapa kau!” Pandangan matanya, buyar. Ni’mal, seketika ambruk tak sadarkan diri.
***
(Kadipaten Sunyoto.)
Rahaf memandang Agni yang mulai menguap. Kedua gadis itu, terbangun setelah semalaman pulas tidur beralaskan kain putih lebar. “Kata Teh Puspa, tak baik tidur setelah subuh.”
Gadis berkacamata, berdiri menatap jalan setapak yang terbentang beberapa meter darinya. “Kak Lastri sudah sampai, ya? Sepertinya... Kita harus kembali ke Cidewa Hideung. Aku yakin Teh Puspa juga sudah ada di sana.”
Agni mendengung meraba perut. “Lapar...” Bibir gadis berjubah hitam manyun, ia menoleh sekitar. Tak ada pisang satu tandan pun di perkebunan. “Kita berangkat setelah sarapan ya?”
“Hey! Bukankah kau sendiri yang bilang untuk tak berlama-lama di daerah ini?” Rahaf menoleh sebal.
“Selalu ada pengecualian di setiap ketetapan. Nah, kalau lapar itu pengecualian!” Agni bangkit, merapikan gelungan rambut di balik tudung jubah. “Bagaimana kalau... Kita ke kraton Sunyoto saja? Di sana ada Teguh, kan? Mustahil kalau dia tak menjamu kita!”
Mengangkat kedua bahu, Rahaf mengerutkan bibir. 'Kak Ni’mal... Sebenarnya ke mana tujuannya?' Rahaf melangkah menyusul Agni yang berjalan lebih dulu.
“Menurutmu... Apakah Kak Lastri itu... Gadis desa biasa, Haf?” Agni bertanya, memecah lamunan gadis berkacamata.
“Eh? Emmm... Mungkin... Tapi entahlah... Kenapa?”
“Gadis desa asal Sunyoto, tersesat di gua Kadipaten Tarang... Dia pun enggan bicara mengapa dan bagaimana ia bisa di sana. Nilima si gadis berbaju besi itu pun menjelaskan bila ia sudah menemukan Kak Lastri di dalam gua dalam kondisi tak sadarkan diri. Lalu apa yang membuatnya ada di sana?” Agni, melirik ke arah rimbun pohon di samping kanan.
Langkahnya santai. “Apa ya... Entah...”
“Dan lagi... Ada satu hal tentangnya yang menggangguku... Mungkin kebetulan, tapi... Ketika Makhluk Hitam di acara pernikahan datang, ia seperti mengejar Kak Lastri. Padahal, tabiat Makhluk Hitam sendiri akan lebih agresif pada manusia yang menyerangnya. Lalu, kenapa ia dulu justru mengacuhkan Kak Ni’mal dan Teh Puspa yang sudah lebih dulu menyerangnya?” Gadis berjubah hitam, melirik pepohonan di sebelah kiri.
“Mungkin... Karena Makhluk Hitam itu merupakan hasil percobaan genetik, jadi... Dia mengincar musuh secara acak, begitu?”
“Hmmm...” Agni mendengung. “Sabodo teuing lah! Aing lapar!” ucapnya lanjut berjalan.
***
Hutan pohon Jati Kadipaten Sunyoto, menghampar luas di hadapan mereka usai perkebunan pisang dilalui. Langit biru begitu cerah, beriring awan putih. Sinar surya, telah menyentuh wajah bumi. Embun kian lenyap dari rumput dan dedaunan. Merdu kicauan burung, sempat mengundang nafsu makan si gadis berjubah hitam. Ia, hanya tak mau membakar hutan sembarangan. Kekacauan yang pernah ia timbulkan, membuatnya jera. Terlebih, Gus Armi yang juga memantau gerak-geriknya.
“Haf... Apa kau ingat dengan remaja bermata empat di Sayembara lalu?” Agni, bertanya tanpa menoleh.
Melirik ke kiri, gadis berkacamata kini menyetarakan langkah pada Agni. “Pengendali makhluk halus itu, kan? Kenapa?”
“Apa... Kau tak merasakan hal serupa?” Agni sedikit menaikkan garis bibir kanan.
Rahaf yang sempat terdiam, kini celingukan. Langkahnya melamban seiring wajahnya yang cemas.
“Tenang saja. Sepertinya... Jenis hantu yang mereka gunakan untuk mengawasi kita, tak memiliki pendengaran yang baik. Jadi, bersikaplah biasa dan terus berjalan. Semenjak mengantarkan Kak Lastri ke gerbang masuk desa... Mereka membuntuti kita.”
'Hantu budeg?' Rahaf mencengkeram erat tangan kanan Agni.
“Apakah mereka... Bawahan Cepot?”
“Entah... Jika setelah melewati hutan, mereka masih saja membuntuti kita... Sepertinya harus ada yang kupanggang.”
***
(Padepokan Gajah Putih.)
Ni’mal duduk menghadap Gus Armi. Netra pemuda berkaos merah belang-horisontal itu, menatap tanah lembap yang berlapis rumput. Punggungnya menempel pada batang pohon beringin di belakang. Pohon beringin kembar yang biasa menemani Ki Ageng Jagat dikala malam sunyi.
“Apa kau tahu, mengapa Mbah Pur begitu dekat dengan Sura dari Utara ketimbang Sura dari selatan yang menjaga wilayah Kadipaten Sunyoto?”
Ni’mal mendongak, menggeleng pelan sesekali. "Mboten, Mas..."
“Sura... Adalah julukan umum masyarakat Manunggal untuk empat makhluk sakral yang bertugas menjaga empat Kadipaten Kadipaten Manunggal. Tapi sejatinya, mereka tak berasal dari Kadipaten yang mereka diami sekarang. Sebab, ke-empatnya... Berasal dari Kadipaten Pancer. Termasuk, Sang harimau bersayap.”
Ni’mal mendengung paham, lanjut menyimak.
“Mbah Pur begitu dekat dengannya... Sebab ia adalah sosok yang mengajarkan jurus Padepokan Macan Bumi.”
'Sura harimau itu... Adalah guru dari leluhurku?' pikir Ni’mal.
“Jika ia memerintahkanmu untuk pergi ke barat, mungkin yang dia maksud adalah... Candi terselubung di wilayah Pameungpeuk. Sebuah candi yang letaknya di sisi selatan Kadipaten Cidewa Hideung.”
Ni’mal melirik ke kanan dan kiri. “Mas... Apakah orang bernama Jaka Bagus, atau pun Arjuna Putih itu... Ada di sana?”
“Seseorang yang menemukan jawaban lewat perjalanan, berbeda jauh dengan seseorang yang mendapat jawaban sebelum ia pernah melakukan perjalanan.”
Menarik napas dalam, ia membuangnya lirih lewat kedua lubang hidung. “Baiklah... Mas. Jika begitu, saya izin berangkat malam ini juga.” “Sabar... Tunggulah dulu. Sukmamu masih mencoba pulih. Badanmu pun masih remuk begitu. Belum lagi, Srikandi beberapa hari lagi akan ke sini untuk menyampaikan sesuatu,” ucapnya santai. “Mungkin juga... Ada seseorang yang tengah merindukanmu,” imbuhnya melirik ke kanan, di mana seorang gadis berweater kuning, dengan celana hitam, datang mendekat. Cincin akik yang Ni’mal titipkan, tampak erat terpasang di jemari manis.
Puspa, gadis itu tak melihat Ni’mal yang berselimut gelap bayangan pohon. Sejenak, gadis berambut panjang itu menoleh ke kiri, di mana Ni’mal duduk terpaku. Belum sempat ia memperhatikan, Raden Armi segera bertanya, “Nok... Tiga hari lagi, datang ke Panto Pameungpeuk, ya?”
Sedikit lesu, Puspa mengangguk. “Baik, Gus...”
“Sudah, silakan ngobrol-ngobrol dulu...” Gus Armi, bangkit. Menoleh sebentar ke arah Ni’mal yang membeku di balik gelap bayangan pohon beringin.
“Saya ndak mau jadi nyamuk,” imbuhnya meledek. Saat melangkah di samping Puspa, Gus Armi sedikit mengacak-acak rambut lebat di ubun-ubun gadis tersebut. “Yang akur... Saling rindu tapi tak mau bicara. Dasar anak muda...”
Menghampiri bayangan pohon, langkah gadis bermata jeli tampak ragu. Jantungnya berdegup cepat, sekaligus gemetar kedua tangannya. “Eee... N-Ni’mal?”
Tanpa menjawab, Ni’mal keluar cepat dari gelap bayangan. Ia erat memeluk Puspa yang sedikit lebih pendek darinya. Dekapan pemuda berkaos belang begitu erat, tak ada lagi yang mampu keluar dari bibirnya. Air mata keduanya, terbendung. Puspa yang sempat terpaku oleh tindakan Ni’mal, mulai lembut membalas pelukan. Ia memejamkan sepasang netra, menumpukan wajah di d**a bidang pemuda beralis tebal.
Keduanya diam. Saling membendung air mata, enggan menitikkannya. Di saat pelukan Ni’mal melonggar, kini Puspa yang mengeratkan dekapan. “Tunggu...” bisiknya, “aku tak tahu... Harus bertanya dari mana,” imbuhnya lirih.
Lirih mengeratkan pelukan, Ni’mal lirih berkata, “kalau begitu, biarkan rindu kita yang bicara.”