(6 jam yang lalu, malam di hutan kadipaten Tarang.)
Aldy dan Azizah berjalan menyusuri hutan setelah menyadari hilangnya Ni’mal. Sesekali tiap beberapa puluh meter, Lelaki berbusana hitam meraba kulit kasar pepohonan, melacak sisa aura pemuda yang menempel pada tanaman.
“Di sana!” Azizah menunjuk sebuah gerbang candi yang telah remuk. SM bercelana hitam, sigap melesat. Ia melaju cepat mendekati gapura candi yang telah rusak. 'Apa bocah itu terlibat pertarungan?' Aldy melirik ke arah tumpukan rapi kayu. 'Masih ada bekas bara yang baru. PM? Tapi di mana jasad mereka?' pikirnya setelah melihat dua buah helm Prajurit Manunggal yang remuk.
“Apa Ni’mal baik-baik saja?” Azizah menyusul dengan gelagat panik.
“Sebaiknya kau pulang ke Desa Kemojo. Aku akan mencarinya... Jika Sang Sura dari Utara memerintahnya pergi ke arah Barat, aku yakin itu adalah sebuah tempat yang kuterka sebelumnya.”
Gadis berbusana hijau, menggeleng enggan. “Tak! Aku sudah dimandatkan untuk mengawalnya!”
Ia membalikkan badan, lanjut melangkah. Ekspresinya dingin. "Dasar gadis keras kepala," gerutunya sebal.
“He-hey! Tunggu!” teriaknya menyusul.
Berhenti, Aldy sedikit menoleh. “Aku tak melarangmu ikut. Tetapi jika kau terancam bahaya, aku tak jamin bisa melindungimu.”
***
(Malam itu, Taman Padepokan Cidewa Hideung.)
'Dia cantik,' gumam Ni’mal setelah curi-curi pandang pada wajah Puspa yang diterangi sinar purnama. Ia tak menyadari bila gadis di sebelahnya pun, curi-curi pandang. 'Ke-kenapa... Wajahnya, memerah?'
Heningnya malam jadi saksi bisu dua pemuda tengah duduk bersandar pada pohon beringin lebat nan tinggi. Puspa, mendengung seolah ragu menyampaikan sesuatu. Melirik, Ni’mal yang tak sadar wajahnya merona, bertanya, “kenapa?”
“Boleh aku bersandar, sebentar?” Mengernyitkan dahi, pria berkaos itu bingung.
'Bersandar?' Wajah Ni'mal makin merona. “Silahkan...”
Tep...
Puspa menyandarkan kepalanya pada pundak kiri Ni’mal. Dengan jantung yang kembali berdekup kencang, Ni’mal mencium aroma harum rambut gadis mancung berbibir tipis. Tubuhnya lemas, bercampur rasa canggung. Ni’mal menunduk, menarik napas lirih. 'Nyaman... Aku tak tahu pasti, tapi ini mirip seperti, ketika kakek memelukku... Inikah rasanya hangat kasih sayang?'
Gadis bermat jeli menoleh, memberanikan diri bertanya. Ia mengangkat kepalanya dari pundak Ni’mal. “Ma-maaf... Kau tak nyaman, ya?”
Meraih kepala Puspa, ia kembali menempatkannya perlahan di pundak. “Tidak... Aku hanya merasa seperti... Pertama kali merasakan hal ini.”
'Ni’mal... Kembali bertemu denganmu, merupakan kebahagiaan bagiku...' Puspa sedikit mengerutkan kening.
“Gus Armi bilang... Kau sempat coba mencariku bersama Rahaf dan Agni, ya?” tanya si lelaki bernada datar.
“Jika aku terlelap, jangan bangunkan aku, ya?” Puspa memejamkan mata. Enggan menjawab pertanyaan Ni’mal. 'Kau tak perlu tahu bagaimana perjalanan yang kami tempuh. Kami paham jika kau sudah begitu banyak menanggung beban. Aku... Tak mau jadi bebanmu untuk yang kesekian kali, dan mulai sekarang... Aku akan menjadi peringan bebanmu, Ni’mal,' batinnya.
Menghela napas, pemuda berambut tebal tersenyum tipis. 'Terima kasih, Puspa.'
***
(Beberapa jam yang lalu, hutan Kadipaten Sunyoto.)
Blaar!
Agni dan Rahaf melompat mundur ketika bola api menyambar jalan di depannya.
Tap...
Baron Saga Geni, sang SM bertubuh gempal itu mendarat cepat di belakang Agni dan Rahaf. Melihat sosok yang pernah dihadapi, mereka menatapnya kaget. “Ba-Bang Baron?”
“Apa kalian tahu kalau kalian dibuntuti setelah mengantarkan gadis itu?” tanyanya datar.
Agni menjawab, “tentu tahu! Bukankah Gus Armi memintamu untuk berjaga di Kraton Utama Pancer?”
“Jika kalian tahu sedang diikuti, kenapa kalian diam saja saat makhluk itu menyerang kalian?” tanyanya menunjuk ke arah kobaran api.
Sesuatu yang terbakar, menggeliat di antara kobaran api. Rahaf terkejut, memandang sosok Walde-Makhluk Hitam ras manusia belalang sembah yang kini mulai tampak. “Serangga Lidi?”
Blar! Blar! Blar!
Baron lanjut melempar tiga bola api ke tiga penjuru. Sesuatu yang tak kasat mata, terbakar di udara, sebelum akhirnya meledak.
Blammm!
Agni tercengang. 'Ajian Api Naga? Di-dia tak sekuat ini saat melawan Kak Ni’mal waktu itu!'
“Lari!” pinta Baron lirih. “Gunakan perisai tak kasat matamu. Para Walde ini, benar-benar transparan seperti Ugel.” Sang SM elit membuka kedua telapak tangan, menyilangkannya di depan d**a.
“Hanya perlu pergi, kan?” Melirik ke kanan dan kiri, Agni merangkul Rahaf. “Aku tunggu di Kraton Sunyoto ya, Om!”
Wajah pakem Baron, mengernyit sebal seraya berdengus sekali. “Ancuuk... Dipanggil om-om...” gumamnya lirih.
Gadis berjubah hitam merah memeluk Rahaf erat dari belakang, lanjut memijak tanah keras-keras. Dari kedua telapak kaki, semburan api menyembur. Dorongannya kuat, membuat mereka melesat ke angkasa, meninggalkan Baron Saga Geni.
“Dari pada kau menyuruh para Makhluk Hitam untuk menyerangku, kenapa tak langsung saja kau turun tangan? Atau... Kau terlalu merendahkanku, hai Bima Merah?” tanyanya melirik ke arah ranting pohon jati di belakang. Jaraknya, lima belas meter.
Srukk...
Seorang pria berlengan kekar, berbalut singlet dan celana hitam, melompat keluar dari rimbun daun. Wajahnya tertutup topeng Bima berwarna merah. Sementara rambut cepak lelaki tersebut ditutup blangkon. “Wah Wah, padahal bocah-bocah itu saja tak bisa merasakan kehadiranku... Tapi kau langsung menerka keberadaanku ya, Baron Saga Geni?”
Sigap balik kanan masih dengan kuda-kuda, Baron menaikkan alis kanan. “Kau tak sadar bila akulah yang membuntutimu sejak kau berada di Desa Sironggeng?”
“Julukan SM elite Kraton yang mereka sematkan padamu, memang bukan bualan semata.”
“Aku dengar, kau dan Cepot mengajak tiga pandawa merah lain untuk menyerang Keraton Cidewa Hideung menjelang Sayembara lalu. Padahal, Sang Arjuna Merah sendiri sedang memperdebatkan tentang jati dirinya... Jadi siapa Arjuna Merah palsu yang kau ajak waktu itu?”
“Hmmmm... Kau tahu terlalu banyak, ya?” Bima Merah menjentikkan jari kanan.
Pada kedua tangan dan kaki Baron Saga Geni, api merah mulai menjalar-berkobar. Ia mengentakkan kaki kanan, lanjut memukul ke arah kiri, kemudian memutar badannya tuk melakukan tendangan putar.
Blag blag blag!
Satu ekor Walde terpukul dan terbakar, sedang dua Walde yang hendak menyerang dari belakang, terpental dengan tubuh berkobar. Usai mengatasi tiga Makhluk Hitam, Pria berbadan gempal melompat ke langit dengan telapak tangan terbakar. “Meski kalian menyembunyikan jati diri, tapi kami paham bila sebagian besar dari kalian hanyalah mantan anggota SM yang terbuang!” serunya melemparkan hujan api tanpa henti.
Swus swus swus swus swus swus swus!
Bima Melompat ke pohon di belakang, sejurus kemudian memijak kuat pohon tersebut hingga remuk, kemudian melejit menyambar Baron yang ada di langit. Kepalan erat tinju kirinya, diarahkan pada sang SM elite.
Blag!
Tinju pria bertopeng merah, telak menghantam perut Baron yang berlapis seragam hitam SM. Kain hitam tersebut, terkoyak, tetapi tidak dengan kulit sasaran. “Heh! Tubuh gempalmu begitu lamban!”
Berdengus kesal, Baron mencekik Bima dengan tangan kiri yang terbakar. Sementara tapak kanan yang juga terbakar, mencengkeram erat pergelangan kiri lawan. “Berpikirlah sebelum bertindak!” Pada kedua telapak kaki pria berseragam dayak hitam, api menyala bak jet, membuatnya mampu mencengkeram lawan sembari melayang di udara.
“Ka-kau!” Usaha Sang Pandawa Merah melepas cengkeraman lawan, gagal.
“Hyeeeeh!” Baron Saga Geni, berputar-putar bak tornado api, membuat lawan yang ia pegang, terpanggang terbakar perlahan. “Sayap Enggang Neraka!”
Blar!
Tubuh Baron Saga Geni kini berlapis api merah. Ia membanting tubuh Bima ke tanah.
Blaang!
Sebuah cekungan tanah bak kawah, tercipta oleh pendaratan Bima Merah. Timbul retakan kecil pada topengnya. Sementara rumput di sana mulai layu oleh hawa panas dari raga Baron yang tengah meluncur cepat ke tanah.
'Sialan! Kepalaku... Gara-gara putaran itu!'
“Jika kekerasan adalah bentuk terbaik dari kelembutan, maka terbakarlah dalam api nirwana!” Baron Saga Geni, menukik cepat ke bawah. Tinjunya yang berlapis api merah, menyala makin besar.
Swus!
Sebuah bola api besar dan sebongkah es besar, meluncur dari dua arah berbeda, menghampiri Baron yang meluncur.
Blaamm!
Kepulan uap lebat menutup udara pagi dalam radius puluhan meter. Dari dua arah berlawanan, muncul dua sosok pria bertopeng merah. Nakula dan Sadewa. Nakula, sepasang tangannya berlapis api, dan Sadewa dari lengan hingga tangan berlapis es solid. Mereka mengenakan busana hitam serupa.
Beberapa detik sebelum lontaran es dan api musuh, Baron menghindar dengan menciptakan api yang mendorongnya ke atas lewat kedua tapak tangan. Bak dorongan repulsor ironman. 'Pandawa Merah lain!'
“Baron Saga Geni, penerus Padepokan Enggang Api. Siapa sangka kita malah bertemu secepat ini,” ucap Sadewa melangkah mendekati Bima.
“Jika tak salah lihat, kau menghentikan dorongan api pada kaki lalu mengalihkan kundalini menuju kedua tapak tangan untuk menciptakan api yang mendorongmu ke atas. Sepertinya kau pengendali api yang handal, ya?” Nakula turut menghampiri Bima. Arah pandang sosok itu tak berpaling dari Baron.
Pria berkulit cokelat gelap bertanya pada sang lawan pengendali es. “Ternyata rumor kalau bawahan Vajra tengah memburu pewaris sah empat Padepokan memang benar, ya?”
“Sadewa! Jangan bicara pada lawanmu!” seru Nakula setelah membantu Bima berdiri.
“Lawan? Dia hanya mayat yang tertunda!” Lelaki bertopeng Sadewa Merah berlari cepat ke arah pria bertubuh gempal. Sepasang tangannya terbuka, membuat es yang membalut tangan menjadi kabut-kabut biru berhawa dingin, yang kemudian memadat menjadi dua bilah tombak es.
Baron mengacungkan tangan ke langit, bersiap dengan dua kaki tertekuk. “Watak dan elemenmu, tak selaras ya?”
Bima berteriak, “Sadewa! Belakangmu!” teriakan Bima membuat Nakula meluncur cepat dengan kedua tangan dan kaki menyemburkan api. Ia melayang cepat menyambar Baron.
Swuung! Sebuah mandau terbang berputar laksana bumerang. Pusaka khas dayak berlapis api, melaju cepat ke arah Sadewa dari langit.
Pria bertombak escepat memutar badan melempar tombak dari tangan kanan guna menghalau mandau yang melaju. Sedang sebilah tombak lain, ia bawa tuk menikam sang SM elit.
Mengacungkan tapak tangan kanan ke atas, Baron mengentak tanah kuat-kuat.
Dlaamm!
Hal itu membuat mandau yang sempat terpental oleh benturan tombak es, kembali berputar kuat. Api yang menyelimutinya semakin lebat, seiring cepatnya putaran. "Berani kau remehkan SM tingkat atas!"
Nakula dan Sadewa, serempak menghentikan laju. Mereka memilih melompat mundur dengan tatapan tajam ke arah Baron. 'Sepertinya akan butuh waktu lama untuk melumpuhkannya! Luka Bima karena gadis petir itu pun belum pulih! Merepotkan saja!'
Blarr!
Tubuh Baron kembali berkobar manakala tangan kanannya memegang mandau. “Enggang Api, adalah pewaris sah dari bela diri yang diajarkan oleh salah satu Sura. Apimu, bukan tandinganku!”
“Banyak bicara kau gendut!” Sadewa melaju dengan kedua tombak es di tangan kanan dan kiri.
“Ancook! Cangkeman!” Baron, memijak keras tanah hingga retak. Ia meluncur mengayunkan mandau di tangan kanan.