Panggung Sandiwara

1958 Kata
Blar blar blar!   Tang! Tang! Tang! Tang! Tang!  Tiap pusaka mereka berbenturan, uap dari tombak es Sadewa menyebar. Tusukan kedua tombaknya, mampu dihalau oleh Baron. Gerakan Baron lebih gesit darinya.   Nakula yang berniat membantu, segera meluncur dengan kedua tangan yang terbakar. “Pelebur Rakshas!”   Baron meluncurkan tendangan dorong ke perut Sadewa. Meski tendangannya ditangkis dengan dua tombak, tapi daya dorongnya membuat Sadewa terlempar puluhan meter hingga masuk ke hutan. Sang SM, membalik badan lanjut mengelak dari berondongan tinju Nakula. Pria berkulit  gelap itu hanya terus mundur hingga tampak celah dari Nakula.   Melihat kesempatan antar jarak pergantian pukulan, Baron mengayun lutut ke perut Nakula. "Kena kau!"  Blaang!  Pria bertopeng merah terlempar tiga meter ke atas. Ia lekas memutar badan di udara, lalu meluncurkan tendangan berapi ke kepala Baron. "Makan ini!" Blaak! Baron yang terpental jauh, mendadak tertusuk oleh sesuatu yang tak kasat mata. Benda tajam tak terlihat itu, menusuk perutnya. 'Walde terkutuk!'   Blarr!   Tubuh Baron memancarkan api, membakar dua sosok Walde yang transparan.   “kyaaaak!” Sesosok spesies Makhluk Hitam setengah belalang sembah menjerit sebelum hangus jadi abu.   Baron meraba perut yang berdarah seraya berdiri membungkuk. Ia mengatur napas pelan.   Nakula dan Sadewa berjajar, berdiri tegap. Bima, menyusul masih memegangi d**a. "Satu lawan tiga. Usahamu percuma, Baron!"  Prokk... Prokk... Prokk...   Tepuk tangan dari seseorang terdengar. Membuat Nakula, Sadewa, dan Bima, menoleh ke belakang. “Cukup anak-anak...” Cepot muncul dari gelap bayangan hutan. “Kalian terkepung. Tanpa Vajra, kita hanya buang tenaga... Jadi, mari mundur saat ini.”   Bima, Nakula, dan Sadewa, tenggelam ke dalam bayangan mereka masing-masing.   Baron dengan perut yang terluka, tak tinggal diam. Ia melejit cepat, mengacungkan mandau tajam di tangan kanan. "Berhenti jadi pecundang dan lawan aku!"  Cepot seketika meluncur menyambar Baron dengan keris di tangan kanan.   Daaarr!   Benturan keris dan mandau begitu dahsyat, membuat tiupan angin yang begitu kuat. Dedaunan dan semak belukar pun terempas dibuatnya. Kedua pendekar saling mendorongkan pusaka yang bersentuhan. Keris kecil luk tiga, dengan mandau besar nan tajam. Wajah mereka, hanya berjarak sepuluh sentimeter. “Baron Saga Geni, Jaga nyawamu baik-baik, ya? Sampaikan salam Vajra pada Raja tercintamu. Sebentar lagi, menjelang Purnama Merah, ia akan kembali untuk menggantikannya.”   'Orang ini... Terakhir kali aku bertemu dengannya, ia tak sekuat ini!'   Blep blep blep...   Sepasang kaki Baron perlahan terisap ke dalam bayangan yang ada di bawah. 'Apa ini!' Melihat gelagat wajah lengah Baron, Cepot lantas meluncurkan tinju dari atas ke bawah, membuat lawannya terlempar jauh. “Wilujeng Enjing!”   Wuss! Swuuung! Braakk braak brakk!   Tubuh Baron terlempar, menabrak beberapa pohon besar hingga ambruk. Setelah melayang puluhan meter, barulah tubuhnya ditangkap oleh sesosok pria lain. Raden Irawan menahan dirinya dengan kedua tangan. Pria beralis lebat itu tajam menatap Cepot yang perlahan tenggelam ke dalam bayangan. “Dia lagi...”   “Helah Wan! Telat koen! Tuman!”  Raden Irawan menghela napas lega. "Apa kau sudah tahu salah satu dari mereka berasal dari divisi mana?"  "Cari data semua mantan SM yang mampu menggunakan unsur es dan api. Aku yakin seperti pernah berhadapan dengan Nakula dan Sadewa."  ***   (Padepokan Gajah Putih, Kadipaten Cidewa Hideung)   Ni’mal duduk menyendiri di pinggir jurang. Pohon beringin, membuatnya terhindar dari terik mentari. 'Seberapa kuat aku mencoba mengingat tentang Arjuna Merah, maupun masa laluku saat menjadi PM... Aku tak menemukan apa-apa. Tapi ketika aku melihat sesuatu atau seseorang yang berkaitan dengan masa laluku... Sebagian gambaran itu terbesit.' Ni’mal menghirup udara pagi. Ia memejamkan mata, mendongak sembari bersandar pada batang pohon besar.  'Jika diingat... Sura itu berkata bila, ada lebih dari satu orang yang menyegel ingatanku saat jadi Arjuna Merah. Bila disimpulkan, orang yang menyegel ingatanku... Adalah bisa jadi ada di antara orang-orang yang membuatku mimisan ketika bertemu. Selain Gus Armi... lalu siapa lagi?'   Ni’mal menggulirkan mata ke kanan dan kiri. 'Puspa! Jelas aku mengingatnya, jika bukan karena dia yang sempat mengamuk saat sebelum aku mimisan karena memandangnya... Tapi, Raden Irawan pun pernah menyampaikan doa padaku agar tak mimisan saat bertemu... Kaliwon Yo! Itu Artinya... Kaliwon Yo juga berkaitan dengan masa laluku!'   Ni'mal kembali mengela napas. 'Arjuna Merah, pendekar sakti yang menumbangkan ratusan SM. Benarkah aku dulunya pion para petinggi korup Senlin? Jika diingat sesaat sebelum aku membawa jenazah Kakek... Yo menyiarkan pertarunganku di arena Sayembara. Seperti mencari celah untuk mengkambing hitamkanku sebagai buronan Manunggal.' Ni’mal mengela napas. 'Dan lagi... Sebagian SM justru menutupi keberadaanku. Termasuk Gus Armi dan orang-orang Padepokan Gajah Putih. Apa yang para petinggi korup cari dariku? Mungkinkah...'   Ia teringat kata-kata Kaliwon Yo. "Aku, hanya ingin mengenalmu saja. Siapa tahu, setelah Sayembara ini selesai, aku bisa memintamu membantuku dalam tugas-tugas SM dan PM Kadipaten Senlin."   Pemuda berkaos belang mengerjapkan mata, menekuk kedua lutut, menumpukan kepalanya pada kedua lutut. Ia terus berpikir keras. 'Jika aku tertangkap, sudah pasti bahwa aku akan dipenjarakan di penjara kriminal kelas atas. Letaknya di... Senlin!' pikirnya. 'Dengan kata lain... Mereka ingin memaksaku untuk bekerja pada mereka... Tapi jika benar begitu... Apa yang bisa mereka jadikan ancaman untuk memaksaku?'   “Ni’mal...” Suara lembut Puspa, memecah lamunan pemuda beralis lebat.  “I-iya?” Gadis yang kini mengenakan sweater kuning dengan celana hitam, duduk di sampingnya. “Sejak pagi... Kau terus melamun di sini... Kau belum sarapan, kan?”   “Ahh... Iya, kau duluan saja.” Ia duduk bersila.  “Rahaf baru saja memberi kabar... Mereka sudah mengantarkan Lastri ke Desa Sironggeng dengan selamat. Dan... Mereka bilang, Pandawa Merah mencegat mereka di perjalanan pulang.”   Raut Ni’mal tegang seketika. “Cepot?”   “Bima, Nakula, Sadewa. Cepot ikut muncul, tapi ia membawa mereka semua pergi saat Raden Irawan beserta bala bantuan lain tiba.”   “Apa, mereka terluka?”   Gadis berambut panjang menggeleng lirih, turut menyandarkan kepala pada batang pohon besar. “Baron terluka, tapi hanya pendarahan ringan.”   “Syukurlah.” Ia bernapas lega.  Setelah suasana hening beberapa saat, Puspa dan Ni’mal buka mulut bersamaan, “te-” Bermaksud agar Puspa bicara lebih dulu, Ni’mal cepat berkata, “iya kenapa?”   Gadis berambut hitam panjang, tersenyum sebelum berbicara, “tentang Lastri... Menurutmu apa yang membuatnya bisa berada di sana?”   “Apa Agni dan Rahaf tak menanyakan hal itu?”   “Gadis itu tak banyak bicara saat dikawal. Rahaf bilang, dia seperti menyembunyikan sesuatu,” jawabnya menghela napas.   “Dari pakaian yang ia kenakan waktu itu... Sepertinya ia tersesat, mungkin? Atau... Entah... Aku tak tahu.”   “Apa kau tak tahu banyak tentangnya? Dulu... Teguh bilang, dia adik kelas yang banyak ditaksir kawan seangkatanmu, kan?” Puspa melirik.   “I-iya begitu... Tapi, aku tak tahu banyak tentangnya.”   Cucu Ki Ageng Jagat terdiam, menatap biru langit. Kedua pemuda itu kembali terdiam beberapa saat.   Ni’mal curi-curi pandang pada gadis di sebelahnya, sebelum menunduk lesu menatap tanah. “Puspa... A-apakah kau... Tak takut padaku?”   Mengernyitkan dahi, Puspa menoleh. “Maksudmu?”   “Aku. Arjuna Merah. Pembunuh yang membuat kekacauan besar di Negeri Manunggal. Bahkan, aku... Membunuh Kakek dengan tanganku sendiri.” Pandangan mata Ni’mal kosong. Ia termenung mengingat saat di mana Mbah Pur telah terkapar menjelang ajal. Hingga, sesuatu yang lembut, menyentuh pipinya.   ***   Semua mata di ruang gedung, tertuju pada pria berkacamata dengan name tag Wahyu Widodo. “Mohon dengarkan semuanya! Selagi Kaliwon Yo berada di Kraton Utama Manunggal, saya yang mengawasi dan bertanggung jawab penuh atas proyek Kadipaten Senlin!”   Terjadi kasak-kusuk di antara ilmuan beralmamater putih. Hanya ketika Wahyu menggebrak meja, semua diam tak lagi bersuara. Pemuda dengan headphone hitam, menatap tajam balik belasan orang seisi ruangan. Tak pandang bulu pada mereka yang beruban.   Brak!   “Atas perintah langsung Prabu Paku Utomo ke empat, saya minta semua laporan terperinci tentang proyek pengembangan dalam bidang teknologi militer beserta laporan keuangan!”   “Mas! Anda bukan Tim Audit Kraton Utama! Anda tidak bisa sewenang-wenangnya!”   “Anda dengar itu, Raden Irawan?”   “Sangat gamblang, Yu. Terima kasih, dan silahkan lanjutkan tugasmu. SM elite sudah bersiaga di setiap lantai gedung selama kau bertugas.”   ***   (Padepokan Gajah Putih)   Ni’mal yang hanya mengenakan celana pendek hitam, melambatkan langkah kaki. Dilihatnya Gus Armi yang sedang berbicara lewat ponsel di tangan kanan. Berhenti mengusap rambut yang lembap setelah mandi, telinganya menyimak pembicaraan lelaki berbusana hitam.   “Berapa banyak orang yang melihatnya? Apa kalian sudah yakin bila itu adalah dia?” Nada bicara Gus Armi sedikit terkejut. Balasan dari pria yang Gus Armi telepon, tak begitu jelas. Hanya penekanan kata Malkika Hitam yang terdengar lirih oleh Ni’mal.  Pemuda itu pun, menajamkan kedua mata. 'Malkika Hitam?'   “Baik, saya dan bala bantuan segera ke sana,” ucapnya memutuskan telepon setelah mengucap salam.   “Mas... A-apa yang terjadi?” Ni’mal menghampiri.   Menoleh dengan senyum, sosok berhidung mancung menjawab, “kamu ajak Puspa ke Pameungpeuk, ya? Saya mau ke Tarang. Ada yang harus saya pastikan.”   Mengangguk ragu, Ni’mal menyahut, “Nggih, Mas...”   Melewati Ni’mal, tangan kanan Gus Armi mendarat lirih di perut six pact pemuda tersebut. “Biar Puspa yang jadi wasillah,” bisiknya lirih usai menghirup napas cepat lewat kedua lubang hidung seraya memutar telapak tangannya di perut Ni’mal.   Huk!   Ni’mal menahan entakan energi yang keras. Tak berbeda seperti hempasan kuat besi di perut. Dengan kedua mata yang lebar terbuka, mulutnya menganga. 'A-ada yang bergejolak di bekas... Luka tusuk Sura itu...'   Tap!   Gus Armi menempelkan jempol dan jari telunjuk pada mata Ni’mal yang spontan terpejam. Ia, menarik-menyatukan jempol dan telunjuk ke arah dahi. “Sudah seharusnya matamu menjadi furqon untuk menuntun. Meski tak semua yang kau lihat, seperti apa yang tersirat.”   Ngiiing....   Telinga Ni’mal berdenging, tubuhnya mematung tak mampu tergerak. Napas, dan dadanya lemas, ia hanya mengela napas.   Melepas pegangan, Gus Armi mengucap pesan sebelum beranjak, “yang membedakan antara binatang dan manusia, adalah nurani dan akal untuk menahan nafsu mencelakai. Manusialah yang menentukan, apakah dirinya binatang... Atau manusia yang sebenarnya.”   ***   (Taman keraton Sunyoto.)   Sebuah taman hijau lebat dihias asri pepohonan dan beragam bunga warna-warni. Dua orang pendekar berbusana hitam bersila berbincang di tengah taman, beralas rumput sebagai permadani. Raden Irawan, pria tampan berkumis itu menoleh sedikit ke belakang, di mana Baron Saga Geni tengah berdiri mengamati sekeping chip pada tangan kiri. “Tak peduli apakah para Walde tadi terpengaruh oleh alat ini, atau oleh kemampuan salah satu pandawa merah tadi. Tetap saja kita harus cari cara agar bisa membedakan mana Makhluk Hitam yang terpengaruh oleh keduanya. Karena dari segi perilaku, tak ada bedanya.”   “Aku justru lebih mengkhawatirkan jika... Chip komputer tersebut berada di kepala manusia.”   Deg!   Baron menyempitkan mata. “Maksudmu?”  Sang putra mahkota mengela napas. “Apa... Kau sudah bertemu dengan orang-orang penting yang hilang beberapa waktu lalu?”  Baron menggeleng. “Belum. Apakah ada dari mereka yang tertanam chip ini?”   Pemuda berkumis membalik badan. “Aku masih belum yakin. Itu sebabnya aku meminta Wahyu selaku pengembang teknologi untuk menyelidiki jalannya project rahasia para ilmuwan Senlin. Yang aku dengar, Indah Chakravati tak pernah hadir untuk rapat di keraton utama setelah ia kembali ke kediaman.”   Baron terdiam. Ia menunduk, berpikir sejenak. “Selain itu, apakah Ayahmu belum berniat memberikan pusaka sakral Manunggal pada Ni’mal?”   Srek!   Suara benda berjarak beberapa belas meter, menggesek lirih dedaunan, yang berada di semak antara pohon mangga taman Keraton. Sedikit melirik ke sumber suara lirih, Raden Irawan menjawab, “dengan situasi politik yang begini, penasihat sepuh kraton meminta untuk tak menyerahkan imbalan Sayembara terlebih dulu. Pagi tadi, aku sempat mendengar laporan bahwa Ni’mal menghancurkan dua buah desa di Tarang.”   “Bukankah.... Ni’mal sekarang ad-” Belum Baron menyelesaikan kalimat, Raden Irawan berkedip sekali. Memberi kode. Menghela napas, Baron melanjutkan, “di antah berantah? Jadi maksudmu... Dia ada di Tarang?”   “Kabarnya begitu. Sebaiknya kita cari kepastiannya dulu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN