Pencarian

1435 Kata
(Padepokan Gajah Putih, Kadipaten Cidewa Hideung) Ni’mal usai menghabiskan segelas s**u putih. Ia tersenyum sejenak melihat Puspa yang datang dengan sweater putih panjang, bercelana dan dalaman kain hitam. Selendang hijau batik yang biasa ia gunakan, menutup sebagian lekuk tubuh bagian atas. Rambut hitam panjang gadis bermata jeli tampak lebat, sedikit tertiup angin. Gerbang kayu Padepokan telah terbuka lebar. Sang dersik meniup wajah Ni’mal yang memerah-dengan jantung yang berdebar. 'Ini hanya imajinasiku, atau... Dia memang semakin manis?' Melebarkan sepasang mata beriring senyum, Puspa melirik ke arah busana yang ia kenakan. “A-apa ada yang salah?” “E-eh... Tidak.” Pemuda berkaos merah strip abu-abu, bangkit menaruh segelas s**u yang baru saja ia tenggak habis. “Mmmm... Ngomong-omong apakah Gus Armi memberitahukan tujuan kita ke Pameungpeuk?” tanyanya menatap gelas yang Ni'mal taruh di meja pinggir ruangan. “Tidak.” Ni’mal melirik ke kanan bawah. 'Sepertinya beliau juga tak menceritakan pertemuanku dengan Sura pada Puspa,' pikirnya. Mengangguk sekali, Puspa tersenyum. “Baiklah, jika setelahnya tak ada tugas, mungkin kita bisa menjemput Agni dan Rahaf di Kadipaten Sunyoto.” Ni’mal senyaptl tak bergerak sejenak. Entah karena firasat kejadian buruk atau hawa keberadaan seseorang yang ia kenal, mendekat. Hingga... Braalll! Sebuah robot kebiruan, menjebol menghancurkan atap Padepokan dan mendarat keras di lantai. Lantai kayu Padepokan pun hancur. Meski tak membuat terluka, tetapi beberapa kepingan kayu menggores tubuh Puspa dan Ni’mal secara bersamaan. Belum lagi, sebuah susulan sinar laser yang tersorot ke arah ruang latihan Padepokan. Blassst! *** (Pulau Iwak, Kadipaten Sunyoto.) Srikandi si gadis berambut biru, duduk di atas sebuah batu karang raksasa. Sudah satu jam lamanya ia menikmati embus angin laut dan sapaan burung-burung camar. Telinganya yang menangkap berkurangnya deru terpaan ombak, membuka matanya lirih. Ia menundukkan pandangan, saat pusaran air tercipta di depannya. Dari pusaran air laut tersebut, muncul sesosok perempuan berbusana putri kuning keemasan. Di dekat kakinya, seekor kucing biru menapak di atas air laut. Perempuan berwajah elok tersebut, terangkat naik oleh air yang mulai membumbung tinggi, hingga setara dengan batu karang besar yang gadis bersweater putih duduki. "Cah Ayu..." Sang Sura dari selatan, menyapa dengan suaranya yang lembut. Srikandi menunduk, menyahut lembut, "Kulo, Ratu..." "Jangan larut dalam kesedihan, Cah Ayu. Banyak hal besar yang harus kau lakukan. Kini, kau masuk dalam alur besar takdir penentuan nasib Manunggal," ucap sosok perempuan berwajah anggun. Srikandi yang paham bila Sura di hadapannya mengerti kalutnya batin, mengangguk lirih. "Nggih, Ibu Ratu..." "Cah Ayu, tolong sampaikan pada Gus Armi agar Raja Manunggal segera menyerahkan Pusaka Keris Dewa Sepuh pada pemenang Sayembara. Sebelum Purnama Merah tiba, akan lebih baik jika dia sudah memegang keduanya." "Sendiko dawuh, Ibu Ratu..." "Tapi sebelum itu, pergilah ke gerbang Sura Barat bersemayam. Lalu sampaikan pada Gus Armi, untuk meminta mereka mencegah bangkitnya Malkika Hitam." Sosok kucing biru di dekatnya, melompat dan mendarat di samping Srikandi. "Meeong!" "Kalian pergilah. Aku akan menunggu." Masih menunduk, gadis berambut biru mengangguk lirih. "Sendiko dawuh, Ratu..." *** (Padepokan Gajah Putih, Kadipaten Cidewa Hideung.) Puspa tersenyum. “Baiklah... Jika setelahnya tak ada tugas, mungkin kita bisa menjemput Agni dan Rahaf di Sunyoto.” Dlap! Melesat cepat tanpa aba-aba, Ni’mal meraih tangan lembut gadis bersweater putih. Sejurus kemudian, Cucu Mbah Pur memijak keras lantai kayu masih sambil erat mendekap Puspa. Ia meloncat mundur. Brall! Sigap melepas dekap tangan Ni’mal, Puspa mengayunkan selendang batik guna menepis serpihan kayu yang menerjang ke arah mereka. Precognition yang Ni'mal alami tadi, jadi kenyataan. Netra cokelat sang penerus Padepokan Macan Bumi, fokus pada wajah yang duduk menyetir di dalam mesin tempur biru “Santo!” “Wah wah wah...” Dari dalam robot, pria berambut merah itu bicara lewat pengeras suara. “Dengan kecepatan maksimal mencapai lima ratus kilometer per jam, kau bisa menghindar ya?” “Puspa, di mana orang-orang?” Ni’mal mengambil siaga dalam kuda-kuda. “Bibi dan beberapa pekerja di kediaman. Pendekar lain sedang pergi bersama Kakek dan Gus Armi.” Mata Puspa, turut sebal memandang lawan. “Amankan orang-orang agar segera turun dari Padepokan sekarang! Aku mendengar suara beberapa drone yang mengarah kemari!” Meski sempat ragu, Puspa memutuskan mengikuti perintah lelaki berkaos merah belang. “Baik!” “Sekarang!” seru Ni’mal melompat ke arah ruas kayu tiang penyangga atap. Puspa berlari ke arah pintu menuju kediaman. Sedangkan Santo, mengarahkan sebuah semprotan laser dari senapan yang terpasang pada d**a tengah robotnya. Blassst! Pemuda beralis lebat, melompat ke dinding Padepokan satu ke dinding sisi lain gedung. Bak monyet, ia lincah mengelak dari belasan roket yang berkala ditembakkan Santo. 'Aku tak tahu bagaimana memiliki naluri untuk menghindar seperti ini...' Ni’mal, meliuk di udara saat tiga longsong roket meluncur dari jemari robot yang terbuka. 'Tapi yang jelas, aku hanya perlu memukulnya saja!' pikirnya usai mengelak dari tiga roket dan mendarat di lantai. Dlap! Ni’mal menekan kakinya ke lantai kuat-kuat, melejit cepat ke arah mesin tempur bersenjata canggih. Pria berambut merah, menyeringai dari balik kaca pada d**a robot. “Kena kau, d***u!” Jetpack pada punggung belakang kendaraan menyala, membuat sang robot melesat cepat ke arah Ni’mal yang tengah melaju ke arahnya. Tangan kanan si robot yang tadi menjadi peluncur roket, kini menjelma jadi benda tajam serupa pedang. Swing! Ni’mal memiringkan badan, berhasil mengelak dari ayunan senjata tajam lawan. 'Nyaris!' Melihat target yang mengelak dari serangan, Santo mengayun bogem tangan kiri robot. “Matilah menyusul Purwadi!” Deg! Waktu seolah berhenti. Pria berkaos belang bermata cokelat, hilang fokus mendengar nama sang kakek. Blaang! Ni’mal terempas oleh tinju lawan yang mendarat telak di badan. Braalll! Baru tiga detik dinding beton Padepokan runtuh, Ni’mal yang kini bermata merah, meluncur cepat dengan seringai ganas bak serigala. “Jangan sebut nama Kakekku seenak congormu!” Santo kembali menembakkan laser merah dari moncong senapan dari d**a robot yang ia naiki. Blassst! Ni’mal reflek menggeser sedikit arah laju kaki, membuat sorot laser menghancurkan dinding Padepokan. Ia lanjut mempercepat kayuhan kaki. Tap! Pemuda berkaos merah menerjang, mengarahkan tinju kanan tepat di kaca pada badan robot. Brall! Santo terlempar keluar dari tubuh mesin tempur. Pemuda berambut merah itu, membuka mata di awang-awang sembari terempas kuat. 'k*****t! Di mana dia!' pikirnya tak melihat lawan. Ia tak sadar bila Ni’mal mendadak sudah menghadang di sisi lain dinding ruangan. Dengan sepasang pupil yang masih merah, Ni’mal memutar badan, mendaratkan tendangan putar pada lawan. Blaak! Lengan kanan Santo jadi sasaran. Pemuda berambut merah seketika terbentur keras ke lantai. Sementara tangan kanan yang bercampur logam, putus. “Arrrgh!” Santo menggeliat kesakitan memegangi lengan kanan robotnya yang hancur. Grep! Ni’mal meraih leher Santo dengan tangan kiri. Ia mengangkat tubuh lawan, sembari menarik paksa lengan robot kiri milik Santo. Braall! “Haaaaargh!” jerit kesakitan pemuda berambut jabrik tak menyiutkan kebengisan Ni’mal. Pemuda beralis lebat bermata merah, lanjut membanting Santo ke lantai. Sejurus kemudian membenturkan lututnya pada lutut Santo yang terkapar. Braak! Jeritan lain dari pemuda setengah robot, kembali menggema di aula padepokan. Lutut logamnya remuk. “Hentikan dasar d***u!” Seett! Mengangkat tubuh Santo yang sesekali memercikkan listrik merah dan kuning, Ni’mal yang berwajah dingin menatap batu kristal pada d**a tengah Santo. Tinju kanannya sudah erat mengepal. “Seharusnya aku musnahkan saja kau tanpa sisa di Sayembara lalu!” serunya jengkel bermaksud mengakhiri nyawa manusia setengah mesin. Tep! Puspa dari belakang menggapai lirih lengan kanan Ni’mal dari belakang. Kedua netra Ni'mal yang memerah, seketika kembali pulih. Ia sedikit menoleh ke kanan belakang. “Semua orang sudah aman. Aku melihat ada ratusan Drone yang mendekat dari langit. Sebaiknya simpan tenagamu untuk pergi ke sana, ya?” Brakk! Melepas cengkeraman dari leher Santo, Ni’mal mengangguk. Ia meraih pundak Puspa dengan tangan kanan, lanjut mengutus tangan kiri tuk mengangkat kedua paha gadis berkaos hitam tersebut. “He-hey... A-aku bisa jalan sendiri!” serunya dengan wajah memerah. Ni’mal tak acuh. Ia berlari menuju gerbang Padepokan seraya menggendong pergi gadis bermata jeli. Meninggalkan Santo yang tak mampu berkutik seorang diri. Tlap! Sekeluarnya dari Padepokan Gajah Putih, Puspa yang masih dalam gendongan Ni’mal, bersuara, “Ni’mal... Lompatlah...” Masih terus berlari menuju tepi jurang, ia melirik ke bawah, sedikit berdengung, “hm?” “Kubilang lompatlah...” Tap! Pemuda berkaos belang, melompat membawa Puspa dalam gendongan. Gadis berbusana panjang, bersiul keras seiring dengan pegangan yang ia ketatkan di tubuh Ni’mal. "Kyeeeek!" Seekor burung Blue Robin raksasa, melayang terbang dari langit. Burung itu menukik menghampiri Puspa dan Ni’mal yang terjun menuju jurang. Ia berputar, membiarkan punggung jadi pendaratan mereka berdua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN