(Kadipaten Cidewa Hideung)
Terpaan angin pada ketinggian dua ratus meter di atas muka tanah, tak menyurutkan nyali mereka berdua. Tak seperti Ni'mal yang menatap lurus sembari memegang bulu sang burung raksasa, Puspa yang berpegang erat pada kaos merah Ni'mal justru memandang ke bawah di mana sebuah danau jernih berada.
'Jika Ayahku masih hidup... Lalu kenapa dia tak pernah menemuiku? Kakek juga tak pernah bicara mengenainya... Apa alasannya meninggalkanku dari kecil?'
Puk! Puk!
Gadis berambut hitam panjang menepuk punggung sang burung. "Teu kenging kanu rame, nya... Ulah dugi katingal-(Jauhi keramaian ya... Jangan sampai terlihat-)" Belum Puspa usai memberi perintah pada sang burung, Ni'mal memotong. "Terbang lurus ke depan! Cepat!" Matanya tajam menatap kepulan asap di lereng gunung yang berjarak delapan kilometer.
"Kyaaak!" Sang burung merespon, mempercepat laju terbang.
"Ada apa, Ni'mal?" Tak seperti Ni'mal yang mampu melihat jelas adanya kobaran api yang melalap rumah-rumah kayu pada lereng gunung, Puspa yang telinganya tergesek oleh embus angin kencang menyempitkan netra. "Kebakaran hutan?"
"Aku merasakan aura si Cepot di sana!" bisiknya lirih. Ia tak sadar bahwa cincin dari Ki Ageng Jagat, menyala hijau tosca.
***
(Kadipaten Cidewa Hideung, Desa terpencil di lereng gunung)
Warga desa telah meninggalkan tempat tersebut. Hanya tersisa dua pemuda yang sibuk melawan segerombol Makhluk Hitam ras Kanin. Athar kualahan menghindari ayunan cakar lima sosok manusia serigala kekar. Pemuda berjaket biru dengan luka gores pada punggung dan paha kiri, sesekali menangkis cakar lawan dengan kujang di tangan kanan. "Hoy Bocah Jin! Sudah belum!"
Trang!
Athar menoleh pada pemuda berkacamata berbalut jaket jeans biru, yang tengah merapal sesuatu bak mantra. Axel, pemuda yang tampil dengan makhluk gaib sebagai senjata di Sayembara lalu. Ia mencabut kujang kecil dari sarung, lanjut menancapkannya ke tanah di bawah. "Sudah!"
Jlep!
Sesaat setelah ia menusukkan keris, kepulan asap dari api di sekitar komplek perumahan kayu, bergerak menyatu ke hadapan lelaki berkacamata. Rombongan Kanin yang menyaksikan, berdengus dan serentak melompat mundur tuk mengatur jarak. Mereka kompak mengaum memandang langit.
Blaarrr!
Kepulan asap yang kian lama berwujud seperti tubuh manusia kekar, kini terbakar. Axel berdiri dengan wajah berhias senyum. "Banaspati! Beleum maranehna! (Banaspati! Panggang mereka!)" serunya mengacungkan tangan pada satu dari lima Kanin.
Cepot muncul bertengger di dahan pohon yang tak terbakar. Tangan kanan dan kirinya menjembreng kitab tua usang. "Siapa sangka kau bisa memanggil Banaspati tingkat menengah begini?"
Mata Athar terbuka lebar, menatap buku kuno pada tangan lawan. "Si eta engges manggihan! (Dia menemukannya!)" gerutunya kesal.
"Yah, baiklah sekalian saja aku uji kitab ini, ya?" Cepot membuka lembar demi lembar. Ia berhenti pada kertas yang menjelaskan tentang Banaspati. "O ruh angkoro murko Banaspati seko alam dunyo... Siro tebar ciloko marang manungso!"
Blaarrr!
Api dari sosok kekar sang Banaspati, makin berkobar. Sosok bertanduk banteng dengan mulut penuh taring, menatap Athar dan Axel bergantian. "Grrrrh..."
Tlep!
Cepot menutup kitab, lanjut bangkit dan mendongak ke langit pagi. "Yah... Berhubung tugasku juga sudah selesai..."
Dlap!
Cepot melompat turun, tenggelam ke dalam bayangnya sendiri. "Aku pamit dulu ya!" Ia melambaikan tangan seiring badannya yang tenggelam. "Wilujeng enjing sadayana..."
Wuss!
Athar yang kesal cepat-cepat melempar kujang kecil ke kepala sosok bertopeng merah. "Hargh!"
Tap!
Cepot dengan mudah menangkap menghentikan laju pusaka lawan hanya dengan dua jari. "Jaga diri kalian!" imbuhnya melambaikan tangan.
Blaarrr!
Sang Banaspati menyemburkan api ke sekitar. Tubuhnya kian lama membesar. "Grrraaaaagr!"
Swuss!
Athar yang berhasil mengelak dari semprotan api, langsung menghindari terjangan tiga Kanin. " Hadeuh geus disangka pasti tujuan manehna keur kitab eta! Belegug kieu aing ka piheulaan (Sudahku duga tujuannya hanya untuk kitab itu! Bodohnya aku terlambat!)"
Blakk!
Axel melompat memijakkan kaki di kepala Kanin terdekat untuk mendekati Athar yang berlutut kelelahan. "Kita tak akan bisa mengalahkan Banaspati itu di sini! Sebaiknya kita pergi!"
Pemuda berjaket biru melirik. "Apa kau tak bisa panggil makhluk gaib lain?"
"Aku datang kemari bukan untuk bertarung! Kan kau bilang hanya untuk mengantar-"
Blamm!
Sang Banaspati berhasil menembak Axel dengan bola api. Makhluk gaib bertanduk terkekeh melihat target yang terlontar dan terbakar.
"Cih! Tak berguna!" Pemuda berjaket biru berlari bungkuk mendekati Banaspati. Tangan kanannya erat menggenggam kujang hitam.
"Grrroaar!" Lima sosok Kanin di sana, melesat menerjang Athar dari berbagai penjuru.
Dlap!
'Lamun mah leungeun aing teu kieu! Ku aing beakeun kabehanana! (Kalau saja tenagaku pulih seperti sebelumnya! Aku babat habis mereka!)' Ia tak menghiraukan para Kanin, memilih melompat ke arah sang Banaspati setinggi tiga meter. "Mati siaa!" Ia menghunuskan kujang di tangan pada wajah sasaran. Belum sempat Athar menyentuh target, sesuatu yang begitu cepat melesat turun dari langit.
Blammm!
"Hugh!" Athar terpental ke arah sebaliknya, disusul para manusia serigala hitam yang terlontar setelah sesuatu yang begitu kuat nan cepat, mendarat di tanah, menciptakan cekungan bak kawah kecil. Debu mengepul lebat di sekitar cekungan.
Brakk!
Athar yang terempas segera memulihkan keseimbangan, memandang lurus dengan lengan kanan menutup sebagian wajah. 'Apa yang terjadi? Nuansa energi ini...'
Lhuuwb!
"Grraaagh!" Api yang menyala dari tubuh Banaspati, terisap masuk ke dalam cincin seseorang berkaos merah. Ni'mal.
"Kau..." Athar langsung siaga dalam kuda-kuda. 'Eta si Arjuna Merah!'
Puspa menghampiri Athar dari belakang, seraya bertanya, "kau... Peserta Sayembara itu, kan?"
Suara seorang gadis, membuatnya balik kanan. Athar terkejut manakala menoleh ke belakang. Bukan karena Puspa, tapi karena lima ekor Kanin tadi, telah diikat dengan selendang pada sebatang pohon besar.
***
Remaja berkacamata menelungkupkan wajah di bulu punggung burung raksasa yang mereka naiki. Tak seperti Athar yang merebahkan badan berbalut selendang keramat milik Cucu Ki Ageng Jagat, Ni'mal duduk bersila menjadi sandaran Puspa yang tertidur duduk. Kecepatan terbang sang burung tak begitu cepat. Membuat suara mereka tak terlalu terganggu angin.
"Mau kau menyelamatkanku berkali-kali pun, aku masih belum sepenuhnya memaafkanmu sebagai Arjuna Merah," ujarnya memejamkan mata.
'Terserah kau saja, Nak!' Ni'mal hanya menanggap dengan berdengus. "Ngomong-omong soal kitab tadi... Apakah itu juga yang dicari oleh Raden Armi?"
"Sesaat sebelum Cepot datang bersama belasan Kanin, aku dan dia sempat berbincang dengan Kepala Desa."
'Belasan? Jadi mereka berdua sudah sempat mengalahkan mereka, ya?' Ni'mal mengernyitkan kening. "Lalu apa kata Kepala desa?"
"Kitab-kitab kuno Manunggal, sebagian yang asli masih berada di tempat awal semua dituliskan."
"Maksudnya?" Ni'mal menoleh kecil ke arah Athar.
"Kitab-kitab itu hanya salinan dari prasasti candi-candi kuno Manunggal. Candi yang keberadaannya belum banyak diketahui sekalipun oleh pihak Keraton Pancer."
Mendengar jawaban Athar, Ni'mal teringat pada Candi di sebuah gunung yang dijaga sesosok naga kayu, serta candi yang ia temui di kawasan hutan Arsir perbatasan Tarang. "Apa kau tahu ada berapa candi?"
"Aku tak tahu pastinya." Athar membuka mata, memgambil posisi duduk perlahan. "Tapi, Candi Pameungpeuk yang akan kita datangi ini, konon merupakan satu dari beberapa gerbang yang akan mengantarkan kita pada candi-candi tersebut."
"Gerbang?" Ia menggulirkan mata ke kanan dan kiri. "Maksudmu... Gerbang gaib air, kah?"
"Gerbang gaib air sendiri, adalah gerbang alternatif yang dibuat oleh leluhur Raja Manunggal pertama."
'Jadi, aku hanya perlu menyalin isi prasasti yang ada pada tiap-tiap candi untuk menemukan ramalan sakral tentang masa depan Manunggal, ya?' Ni'mal mengela napas.
"Ngomong-omong di mana Kujang yang dulu kau pakai disimpan?"
Deg!
"Kujang?" Ni'mal menggulirkan mata ke kanan dan kiri.
"Senjata yang kau gunakan saat menghadapi ratusan SM seorang diri. Apa kau juga lupa?"
Tes...
Cairan merah yang seketika mengalir dari hidung Ni'mal, tertiup angin malam. Setitik darahnya, menetes membasahi lengan Athar yang merebahkan badan di belakang.
"Candi Pameungpuk, akan mengantarkanmu pada salah satu Sura. Tidak seperti kebanyakan Sura lain yang enggan menyerang manusia... Sura yang aku maksud ini, tak segan menguji siapapun yang menemuinya."
'Sura? Legenda Sura Naga? Mungkinkah maksud Sura Harimau itu, agar aku menemui Sura Naga ini?'
Grrrrr....
Di antara deru angin malam yang menerpa, hanya Ni'mal yang samar mendengar geraman sesuatu. Sontak ia menyapu pandang ke sekitar. 'Kanin? Bukan!'
"Kau kenapa?" tanya Athar melihat gelagat pemuda berkaos belang merah yang berubah.
"Kau tak mendeng-"
'Akhirnya... Setelah sekian lama kau datang juga, wahai Arjuna Merah!'
Set!
Ni'mal cepat bangkit di atas punggung burung raksasa, membangunkan Puspa yang terlelap-tak sengaja. "Perlihatkan dirimu!"
"Ni'mal..." Puspa mengucek mata kanan. Athar turut bangkit. "Kau bicara pada siapa?"
Ni'mal memejamkan mata. 'Apa hanya aku yang mendengarnya?'
'Biar dia membawamu padaku seorang diri... Kemarilah, hai Arjuna Merah!'
Grrraaaaargh!
Sesosok naga panjang kehitaman bertanduk rusa, melayang meliuk bak ular di langit malam. Sosok itu melesat menukik ke arah burung yang mereka tumpangi.
Tak seperti Ni'mal yang diam berdiri sebab belum melihat sosok bertaring tajam, Puspa dan Athar yang menyaksikan, segera mengeratkan pegangan tangan pada bulu burung. "Menghindar!" seru Puspa cepat.
Deg!
Barulah saat menoleh ke belakang, Ni'mal memperhatikan sosok naga hitam bertanduk rusa sepanjang dua puluh meter tengah melesat. 'Naga!'
"Grraaaagh!" Makhluk tersebut membuka mulut, semakin cepat melayang. Melihat pemuda berkaos merah belang justru bersiaga dalam kuda-kuda, Puspa berteriak, "Ni'mal! Pegangan!"
Memandang lawan dengan mata elang, Ni'mal menarik napas cepat lewat lubang hidung, lanjut melesat ke arah naga terbang tersebut.
Graapp!
'Mustahil! Dia makin cepat!' Ni'mal yang melesat ke mulut sang Naga, kini berakhir di dalam mulutnya. Ia tak mendengar jerit histeris Puspa dan Athar.