Tiga Perkara Dan Ujian Sang Naga

1453 Kata
"Dan laksanakanlah salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah)."   'Kalimat itu...' Pemuda berkaos merah belang, mengerjapkan mata setelah mendengar suara familiar. 'Aku di mana? Mungkinkah...' Ia ingat bila dirinya sempat masuk ke dalam mulut sosok naga hitam raksasa. "Perut Naga?" Ia terbelalak dalam kegelapan.   "Nak... Apa kau mendengarku?" Lelaki berbusana serba putih bak orang timur tengah dengan sorban di kepala, berdiri tiga meter dari Ni'mal. Sinar dari busana dan kulit, memancar memberi penerangan sekitar.   Ni'mal yang menoleh ke belakang, menjumpai sosok yang wajahnya sekilas mirip seperti Gus Armi, ia mengernyitkan dahi. "Engkau..." Ia ingat betul pada sosok yang ia temui di hutan Tarang sebelum cincinnya kembali di tangan. 'Orang ini... Yang aku temui di sana waktu itu!'  "Sebagaimana yang terkandung pada potongan surat Hud tadi, ada tiga hal yang harus kau lakukan demi menebus kesalahan."   Mendengar ucapan sosok berhidung mancung, tangan Ni'mal bergetar hebat. Tubuhnya mendadak berat. 'Kenapa ini?' Ia memandang heran badannya. Hingga samar, teringat bahwa sepasang tangannya, telah digunakan sebagai pembunuh manusia, tak terkecuali sang Kakek.   "Entah kau pernah dengar ini atau belum, tapi kuncinya... Seseorang yang hendak mengemban tugas mulia, laksana sebuah piring. Dan noda pada piring, ibarat dosa yang telah kau perbuat. Tak peduli seberapa mulia tugasmu, atau seberapa lezat makanan yang hendak disajikan di atas piring itu, jika masih ada noda di sana, maka rasa lezatnya pun berkurang. Begitu pula dengan takaran mulia tugas yang kau emban."   Ni'mal menunduk, menatap permukaan hitam lembap yang tak seperti tanah. "Lalu apa tiga hal yang engkau maksud itu?"   "Sebagaimana pagi, simbol dari ikhtiar... Berusahalah menebus kesalahanmu dengan meminta ampunan. Niatkan semua yang kau perbuat, semata-mata demi mendapat ridho-Nya. Jadilah penolong bagi siapapun yang berhak ditolong."   Ni'mal menggenggam-buka tangan kanan dan kiri. Kepalanya masih tertunduk, menyimak dan penuh penyesalan.  "Sebagaimana petang, simbol keheningan... Jadilah sosok yang tenang sebelum mengambil tindakan." Sosok berhidung mancung bertubuh ramping, melangkah pelan mendekati Ni'mal. "Yah meskipun watak dasarmu memang gegabah dan serampangan," lanjutnya sebelum terkekeh.  Pemuda bermata cokelat mendongakkan kepala, memandang wajah berbinar lelaki mancung.   "Kemudian, jadilah peringatan bagi siapapun yang patut diperingatkan. Sebab seiring dunia yang semakin tua, kian banyak manusia yang lupa dan lalai pada peringatan semesta," ujarnya menepuk pundak kanan Ni'mal. "Apakah ada yang ingin kau tanyakan, Ni'mal?"   Dari ribuan pertanyaan yang terpintas di kepalanya, hanya satu yang mendadak ingin dilontarkan, "apakah keberadaan manusia yang terkasih itu... Ada di luar Manunggal?"   Tersenyum simpul, sosok tersebut mengangguk lirih sekali. "Aku, Panca. Dan darah sosok yang engkau maksud, mengalir dalam ragaku."   Sontak air mata mengalir dari kedua mata Ni'mal, tanpa ia tahu mengapa.   ***   (Antah berantah, Kadipaten Cidewa Hideung)   Di tengah lembah belantara yang rimbun, terdapat sebuah bangunan kuno pura bermotif naga. pada bagian depan Pura yang dihimpit tebing penuh tanaman rambat raksasa dan lumut, terhampar sebuah kolam jernih selebar seratus dua puluh dua meter persegi. Terang purnama memantul di permukaan air, menyinari pilar-pilar dari batu dengan relief serupa batik. Pilar-pilar yang berpangkal di dasar kolam, menjulang kokoh hingga setara dengan permukaan air kolam.   Whaaak!  Sosok naga hitam sepanjang dua puluh meter bertanduk rusa, memuntahkan lelaki berbusana merah belang dari mulut. Ia mendaratkannya di tepian kolam yang terbuat dari batuan alam yang mana berjajar sempurna.   "Huk! Uhuk! Hugh!" Cucu Mbah Purwadi merem-melek, meringis menahan panas di sekujur badan sebab lendir lengket bening membasahi pemuda bercelana hitam. 'Barusan mimpi, kah?'   Grrrrr...   Ni'mal yang sadar bila dirinya berada dekat dengan sang naga, segera melompat ke samping tebing batu penuh tanaman rambat besar nan rimbun. Sebentar ia mengamati sekitar. 'Di mana ini? Apakah ini juga candi Manunggal lain yang hilang?'   Dlap... Dlap...   Sosok naga bercakar tajam mulai mendekat pelan. Ia memamerkan deret taring tajam. Liur yang lengket, menetes pelan seiring mulutnya yang dibuka lebar.   'Sekarang... Ujian pertamamu, dimulai... Wahai Arjuna Merah!' Suara yang sempat ia dengar sebelum naga di depannya muncul, menggema di kepala.   'Itukah suara Sura dari Barat?' Ia mengambil kuda-kuda. 'Jika begitu... Naga ini bukanlah Sura yang aku cari!'   Sluubb! Sluubb! Sluuub! Sluubb!   Benalu-benalu sebesar pohon, mencuat dari tebing batuan di sekitar. Ratusan benalu itu, menyatu dan menjadi kubah menutupi langit-langit yang sebenarnya mungkin bisa jadi celah Ni'mal kabur.   Siing... Siiiing... Siiiing...   Belum usai Ni'mal terkejut memandangi benalu yang jadi penjara, kini netranya lebar terbuka sebab ratusan kunang-kunang yang beterbangan di sekitar kolam jernih. Mereka jadi sumber cahaya setelah temaram purnama tak lagi tampak. 'Aku harus menumbangkan Naga ini?' Ia mengeratkan deret gigi atas dengan gigi bawah. "Maju kau!"   ***  (Kadipaten Cidewa Hideung, Padepokan Gajah Putih)   Malam itu, Raden Armi terdiam di tengah Padepokan Gajah Putih. Matanya usai menyapu sekitar. Sisa-sisa dari bangkai robot yang Santo gunakan melawan Ni'mal masih berserakan di sana. Angin malam menyelinap lewat lubang dinding sebab semburan laser mesin tempur pagi tadi.  Tep!   Raden Irawan dan Srikandi, berhenti melangkah di belakang Gus Armi. Ia turut menyaksikan ruang latihan yang hancur oleh pertempuran Ni'mal. "Apa yang terjadi?" gumam si pria berkumis.   Gus Armi menolehkan kepala ke belakang. "Irawan dan Srikandi, pergilah ke Candi Pameungpeuk. Aku akan ke keraton utama untuk melaporkan kejadian ini." Sosok berbusana serba hitam, melangkah melewati gadis berambut biru dan pria berkumis tipis. "Orang Senlin sudah tak bisa diampuni atas kejadian ini," ucap Gus Armi lirih. "Oh, dan satu lagi." Netranya melirik Srikandi. "Apa ada yang ingin kau sampaikan, Nduk?""A-anu..." Gadis berambut biru melirik ke arah Raden Irawan. "Ndak apa-apa. Begitu-begitu dia Putra Mahkota. Katakanlah." "Ibu Ratu meminta Raden Armi agar memberitahu Prabu Paku Utomo, untuk menyerahkan Pusaka Manunggal pada Ni'mal sebelum Purnama Merah."  ***   Ni'mal yang napasnya tersengal, kembali melompat ketika naga hitam bertanduk rusa melayang cepat mengarahkan mulut penuh taringnya. "Grraaaargh!"   Blaaaam!  Sang naga hitam membenturkan tanduk rusanya pada dinding benalu raksasa. Pemuda berkaos merah, mendarat tepat di permukaan-pilar kolam. 'Gerakannya cepat! Aku tak membawa senjata!' Netranya melirik sekitar, mencoba mencari sesuatu yang mungkin berguna dalam pertarungan. 'Apa yang bisa aku pakai? Karena setiap aku menyentuhnya-'  Belum ia selesai berspekulasi, sosok naga hitam panjang langsung meluncur menghampiri. "Grraaagh!" Ni'mal melompat ke arah ujung pilar terdekat. 'Bagaimana ini!'   Whaaak!  Ekor panjang sang naga melesat ke arahnya saat terjangan kepala bertanduknya berhasil Ni'mal antisipasi.   Plakk! Blakk!  "Haargh!" Pemuda beralis lebat, terlempar ke dinding benalu yang mengurung mereka. Ia sempat menjerit sebab aliran listrik yang menjalar dari kulit bersisik sang naga hitam. 'Jika tak ada senjata, aku tak bisa menyerangnya! Belum lagi jika aku sampai berada di air!'  "Grrooaagh!" Sang Naga hitam panjang, meliukkan badan sebelum kembali menukik ke arah Ni'mal tuk memotong tubuh lawan.  'Meski kunang-kunang ini bisa menerangi sekitar, tapi ini masih terlalu sulit!' pikirnya bersiap menghindari terjangan sang naga.   Swusss!   'Haruskah aku nekat menghantam kepalanya? Tunggu! Jangan gegabah! Bodoh! Pikir yang benar! Apa yang harus aku lakukan sekarang!'   Dlap!  Ni'mal segera melompat saat jarak taring sang naga darinya berkisar tujuh hasta.   Graapp!  Ni'mal yang masih di awang-awang dan tak bisa lagi menghindar, kini dijerat oleh ekor sang naga hitam. "Hwaaargh!" Pemuda berkaos merah belang, berontak kesakitan mana kala tubuhnya dialiri listrik tegangan tinggi oleh sang naga. 'Sekujur badanku... Kesemutan!' Ia nyaris tak lagi mampu bergerak.  "Grrraaagh!" Sang Naga membuka mulutnya lebar, hendak melahap kepala manusia yang tengah ia jerat.   Tanpa Ni'mal sadar, cincin pemberian Ki Ageng Jagat bersinar kebiruan. Seiring terangnya cincin bersinar, kesemutan serta sakit oleh sengatan arus listrik, mereda, hingga akhirnya sirna. 'Eh? Benar! Cincin Ki Ageng Jagat!' Ni'mal kembali berontak. Meski tekanan ekor sang naga hitam begitu kuat, ia berhasil menarik keluar tangannya yang terjepit, lanjut mengacungkan tangan bercincinnya pada kepala sang naga. "Haaargh!"   Jedyaaar!   Sambaran petir kebiruan, melesat dari cincin yang Ni'mal kenakan, tepat mengenai kepala sang naga sampai-sampai sepasang tanduk rusanya hancur lebur. "Grruaaaagh!" Sang naga mengeram menatap langit-langit benalu besar. Tubuhnya jatuh ke dalam kolam, dan tenggelam menuju dasar.   Ni'mal yang tak lagi terbelenggu, tercebur ke sana. Beruntung ia berada di dekat pilar batuan yang tinggi menjulang. Tep!   Setelah berpegangan, ia melompat ke tepian kolam, lanjut mengarahkan tangan kanannya ke arah permukaan air. "Aku pastikan kau mati terpanggang!"   Jedyaaaar!   Lagi, ia menembakkan petir dari cincin akiknya yang menyala kebiruan. Ia terus mengalirkan listrik pada air, hingga telinganya mendengar geraman lemah sang naga, disusul dengan benalu-benalu yang mulai kembali ke tempat semula.   Sluubbb... Slubbb... Slubbbb...   Sinar purnama menerangi permukaan kolam setelah tanaman rambat raksasa di sana, kembali diam di dinding tepian kolam. "Huh... Huh... Huh..." Pemuda bercelana hitam, coba menenangkan diri meski napasnya tersengal. 'Sudah selesai, kah? Semudah ini saja?'   Pyarrrr....   Raga sang naga hitam di dasar kolam, terpecah, berubah jadi bintik-bintik cahaya hitam. Cahaya hitam yang tak lazim tersebut, melayang naik ke muka kolam, lanjut terbang lirih di atas air.   'Ujian pertamamu selesai, wahai Arjuna Merah! Sekarang kemarilah!'   Mendengar suara yang ia yakini berasal dari Sang Sura dari Barat, Ni'mal mulai berjalan menyusuri tepian kolam. Ia mengikuti perginya bintik-bintik sinar hitam yang terbang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN