Dera

1415 Kata
POV: Iqbal Anak tangga menuju kelasku tidak seberapa tingginya, tapi langkahku terasa amat berat, napas pun ikut ngos-ngosan saat mendakinya. Jarak antara gerbang SMA menuju kelasku sebenarnya tidak begitu jauh, tapi rasanya jadi berkilo-kilo meter. Pandangan mata juga terasa berkunang-kunang. Sebenarnya apa yang sedang terjadi padaku? Tenagaku menurun begitu drastis akhir-akhir ini. "Bal, kamu kenapa? Pucat banget." Salah seorang teman yang berpapasan, bertanya. "Iya nih, kurang enak badan," jawabku sekenanya, melanjutkan langkah. Bukan satu dua orang yang menyadari perubahan kondisiku. Teman-teman sekelas, rata-rata sudah bertanya. Aku pun tidak mengerti tentang apa yang sedang kualami. Kepalaku selalu berdenyut-denyut, sakit sekali, terutama ketika sedang belajar dan berpikir keras. Kuku tangan dan kakiku terlihat semakin pucat, dan yang paling membuatku kaget pagi ini, tiba-tiba rambutku rontok. Bruk! Kulempar tas ke atas meja, lalu duduk dengan napas terengah. Beberapa pasang mata memandang heran ke arahku, kuabaikan. Bel tanda jam pelajaran dimulai, berbunyi. Bu Anna, guru mata pelajaran Matematika, memasuki kelas. Namun, baru beberapa menit ia mengajar, pandangan matanya juga mulai tertuju padaku. "Iqbal? Kamu sakit?" Ia melangkah mendekat, meraba keningku. "Kamu pucat sekali, kayak gemetaran gitu juga." "Ah, iya, Bu," jawabku lemas. "Agak pusing nih." "Kamu ke UKS saja ya, istirahat." Wanita itu membantuku berdiri. "Bisa sendiri? Apa perlu ditemani?" Aku memaksakan berdiri, tapi pandangan mataku semakin nanar. Kunang-kunang terlihat semakin banyak. Tiba-tiba semuanya berubah menjadi gelap. Aku jatuh, tak sadarkan diri. "Eh, tolong-tolong! Bantu!" Sayup-sayup masih tertangkap oleh teringaku beberapa orang teman berteriak. Ya Tuhan, apa lagi ini? *** Aku terbangun di sebuah ruangan serba putih. Terbaring di atas tempat tidur beralaskan sprei berwarna biru muda. Tidak banyak perabotan di sini, hanya sebuah meja di samping tempat tidur, mungkin salah satu meja belajar dari kelas yang dibawa kemari, dan sebuah lemari kaca penuh obat-obatan serta kotak-kotak P3K di pojokan. Ini adalah ruang UKS. "Kakak kenapa? Baik-baik aja kan?" Suara wanita yang ternyata sudah berdiri di sebelahku terdengar, membuatku sadar akan keberadaannya. Wajah hitam manis itu terlihat cemas. Ahhh. Aku mencoba duduk sambil memegang kepala yang terasa pusing. Bau yang begitu kuat tercium dari leher dan dadaku yang terbalur minyak kayu putih. "Tiduran aja, Kak, kalau masih pusing kepalanya." "Gak apa-apa, Tiara. Aku baik-baik aja. Mungkin cuma kelelahan." "Tapi Kakak pucat banget. Ini diminum dulu teh manis hangatnya." Aku mengangguk. Teh manis hangat adalah obat andalan di UKS. Sepertinya segala macam penyakit, inilah obatnya. Ada yang pingsan ketika upacara, ada yang kelelahan karena olahraga, sampai-sampai ada yang kesurupan makhluk halus pun diberi teh manis hangat. Ajaibnya, it works. Mujarab. Namun, berbeda dengan kasusku. Sudah dua-tiga teguk kuminum air dari cangkir keramik itu, tapi rasa pusing di kepalaku tak kunjung hilang. Termasuk rasa berat di pundak yang semakin menjadi-jadi. "Kamu kenapa gak ke kelas? Nanti ketinggalan pelajaran." Aku melihat ke jam dinding, khawatir gadis itu masih ada di sini. "Aku gak apa-apa kok, sendirian di sini. Lagian udah agak baikan. Kamu ke kelas aja, biar gak ketinggalan materi pelajaran." "Gak apa-apa, Kak. Gak tega ninggalin Kak Iqbal sendirian." Tiara adalah teman dekatku. Seorang adik kelas yang manis. Kami berkenalan sekitar satu setengah tahun yang lalu. Tepatnya ketika penerimaan anggota Pramuka baru. Pertengahan semester pertama, saat ia masih duduk di bangku kelas satu. Aku yang telah menjadi salah satu anggota senior, ikut menjadi salah satu panitia penerimaan anggota baru kala itu. Ketika itu lah, secara tidak sengaja aku melihatnya. Seorang gadis manis berkulit eksotis. Rambut keritingnya yang sebagian diikat, lalu sebagian lainnya dibiarkan menutupi sedikit wajahnya, seolah menambah kesan manis wajahnya. Senyum lebarnya yang memperlihatkan barisan gigi-gigi putih juga sukar untuk dibilang dari ingatan. Satu hal yang paling membuatku terpana kala itu adalah mata coklatnya yang begitu indah, dihiasi bulu mata lentik dengan alis bak lengkung busur panah. Ketika memandang ke arah dua bola mata itu, seolah-olah kita ikut tenggelam ke dalam keindahannya. Begitu menghipnotis. Aku jatuh cinta pada matanya saat pandangan pertama. Aku terus mencari tau semua tentangnya hingga sebulan kemudian. Akhirnya mendapatkan informasi kalau Tiara adalah seorang gadis berprestasi. Dari sana aku semakin yakin untuk mendekatinya. Bukan apa-apa, hanya saja, dulu ibu pernah bilang, kamu boleh berteman dengan siapa saja, tapi sebaiknya orang-orang pintar hanya mau berteman dekat dengan orang yang pintar juga. Bukan karena pilih-pilih, tapi biasanya orang-orang dengan IQ tinggi hanya bisa se-frequensi dengan yang ber-IQ setara dengannya. Biasanya begitu, walaupun tidak selalu. Menyadari bahwa kini gadis manis itu sedang berada di sampingku dengan tatapan sedih, aku begitu terenyuh. Syukurlah, masih ada orang yang begitu peduli padaku. Sampai-sampai merelakan jam pelajaran yang tentunya sangat penting untuk anak teladan seperti dia. "Terima kasih, Tiara." Kala itu, aku belum tau kalau hubungan manis ini akan berakhir dengan cara yang paling pahit. *** "Gimana, Bal? Masih pusing?" Suara wanita yang tidak asing terdengar di depan pintu UKS. Ia adalah wali kelasku, bu Nina. Aku mengangguk. "Masih, Bu." "Kita ke Puskesmas, ya. Kayaknya kamu perlu diperiksa deh, biar ketahuan sakit apa. Jangan-jangan kena tipes." Wanita itu duduk di dekat kakiku. "Ibu perhatikan akhir-akhir ini kamu memang agak aneh. Lebih banyak diam, kayak orang lagi nahan sakit. Emangnya apa yang kamu rasakan, Bal?" Aku mengangkat muka, bu Nina menatapku lekat-lekat. "Kepala sering sakit, Bu. Gak tau juga kenapa," jawabku. "Ibu antar ke Puskesmas, mau?" Aku menoleh ke arah Tiara, ia mengangguk. "I-iya, Boleh, Bu." Bu Nina menjawil kakiku. "Dasar. Udah sakit pun masih harus minta izin sama Yayang Bebebnya, ya." Tiara menyeringai, lalu menunduk malu. Aku pun demikian. *** Aku dipaksa makan oleh bu Nina sebelum pergi, begitu mengetahui aku memang belum makan nasi dari pagi. Mungkin itu juga yang menjadi salah satu penyebab kepala semakin pusing. Benar saja, beberapa menit setelah makan, badanku jadi lebih bertenaga. Padahal hanya beberapa suap saja yang sanggup kutelan. Semua makanan rasanya pahit di lidah, aku jadi tak berselera. "Udah berapa lama kamu sering sakit kepala begitu, Bal?" tanya bu Nina saat kami di perjalanan menuju Puskesmas menggunakan mobilnya. Aku berpikir sejenak. "Dari dulu udah sering sakit kepala sih, Bu, tapi yang sering banget terasanya, ya sekitar satu-dua bulan belakangan." "Sakitnya di bagian mana?" "Lebih ke arah belakang sini, Bu." Aku meraba pundak. "Kayak berat gitu. Terus berdenyut-denyut sampaikan ke ubun-ubun." "Hmm. Mungkin tekanan darah tinggi, ya? Tapi kamu masih muda banget, masa udah kena hipertensi." "Gak tau juga, Bu." "Makanya sekarang kita periksa ya, biar ketahuan." "Terus ada keluhan lain gak?" Aku diam sejenak. "Hmm. Ada sih, Bu. Akhir-akhir ini jadi gampang lelah, jalan dikit aja udah berasa kehabisan tenaga. Terus sering terasa sesak napas juga." Bu Nina mengangguk-angguk. "Terus, rambut juga rontok parah, Bu. Baru tau tadi pagi pas nyisir rambut." "Mungkin itu efek dari sering sakit kepala, Bal. Nanti sama dokternya langsung bilang aja semua keluhan yang terasa ya." Sebagai seorang anak yang tak lagi memiliki ayah dan ibu, aku trenyuh dibuatnya. Perlakuan bu Nina yang seolah-olah membuatku menjadi anaknya sendiri membuat hatiku tersentuh. "Iya, Bu." Aku menjawab sambil menahan mata yang mulai panas. Cengeng! Batinku. *** Di Puskesmas aku langsung menyampaikan semua keluhan yang terasa kepada dokter yang bertugas. "Tekanan darahnya tinggi sekali, Bu Nina." Sepertinya dokter itu kenal dengan bu Nina yang sedari tadi setia menemani di sampingku. "Berapa, Dok?" "Ini di atas 180. Untuk anak berusia delapan belas tahun ini tinggi sekali. Jauh di atas normal." Akhirnya ia menyuruh untuk ke laboratorium untuk melakukan cek darah dan urin. Seorang wanita berpakaian putih mengambil sampel darah dengan cara menusuk ujung jariku dengan jarum. Kemudian ia memberikan sebuah botol kecil untuk kubawa ke kamar mandi mengambil sampel buang air kecil. Setelah hasilnya keluar, aku kembali menemui dokter untuk menyerahkan hasil tersebut. "Gimana, Dok?" Bu Nina bertanya. "Sesuai dugaan saya, Hemoglobinnya rendah sekali. Pantas saja adik ini terlihat sangat pucat. Diagnosis sementara Anemia plus Hypertensi, Bu. Kemudian, yang membuat saya khawatir adalah hasil tes urinnya. Banyak protein yang lolos. Bisa jadi ini mengarah ke gangguan ginjal." "Jadi harus bagaimana, Dok? Apa bisa diatasi dengan minum obat saja?" "Saya kasih rujukan ya. Ini harus diperiksa lebih lanjut ke laboratorium yang peralatannya lebih lengkap. Besok periksa ke RSUD ya. Deg. Jantungku berdegup mendengarnya. Apa aku separah itu? Kukira ini hanya demam biasa. Mengapa harus dibawa ke Rumah Sakit yang lebih besar. "Baik, Dok. Terima kasih." Bu Nina menerima selembar kertas dari tangan dokter tersebut. Kemudian, wanita itu memandang ke arahku. "Tenang aja, Bal. Jangan terlalu dipikirkan. Pasti baik-baik aja, kok." Ia berusaha tersenyum menghiburku. Aku tau maksud sikap itu. Ia bertingkah demikian agar aku tidak memikirkan keadaan ini. Terlalu banyak pikiran akan membuat tekanan darah menjadi semakin tinggi. "Jangan ngelamun gitu," tegur bu Nina. "Besok Ibu anterin ke RSUD, ya." Aku mengangguk. "Terima kasih, Bu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN