Dera(2)

1866 Kata
POV: Iqbal Hari sudah mulai gelap saat aku melangkahkan kaki, pulang ke rumah. Kontrakan yang kutinggali tidak begitu jauh jaraknya dari Radio tempat bekerja. Dengan berjalan kaki santai, bisa ditempuh sekitar lima menit saja. Sebenarnya rumah ini adalah milik si empunya Gema FM. Ada dua kamar yang dikhususkan untuk para pegawai yang tidak punya tempat tinggal. Karena sekarang hanya ada aku yang butuh tempat tinggal, alhasil hanya aku sendiri yang menempati. Leo tinggal di kos-kosan yang dekat dengan kampusnya, sedangkan kak Bunga tinggal bersama orangtuanya yang berad tidak jauh dari sini. Aku tak perlu pusing-pusing lagi membayar sewa, hanya bertanggungjawab menjaga kebersihan dan kerapiannya saja. Lalu, menyisihkan sedikit uang gaji untuk mengisi pulsa listrik. Ceklek. Lampu di langit-langit ruang depan kuhidupkan. Terlihat pemandangan yang biasa. Sebuah kasur santai terhampar di lantai dengan sebuah bantal tipis di pojokan. Aku lebih suka berbaring di sini dari pada di kamar. Lebih lapang, plus sirkulasi udara juga lebih lancar. Tidak ada agenda apa-apa malam ini. Hanya sedikit revisi Rundown buat acara mendatang. Aku berniat istirahat lebih cepat hari ini, agar esok pagi lebih segar. Pukul tujuh pagi aku harus sudah berada di poliklinik penyakit dalam RSUD untuk melakukan kontrol bulanan rutin. "Leo, jadi kan besok? Gantiin jam siaran Abang, ya. Soalnya mau ke RS dari pagi." Kukirimkan pesan lewat w******p ke Leo yang sharusnya sedang online. "Oke, sip, Bang," balasnya. *** Esoknya, sesuai rencana, pagi-pagi sekali aku sudah tiba di RSUD. Walau tidak sepagi saat jadwal cuci darah. Soalnya jadwal buka Poliklinik tidak sepagi itu. Mengantri di beberapa tempat yang aku sudah hapal, mengurus pendaftaran, lalu duduk di ruang tunggu. Beberapa saat kemudian, saat sedang asyik memainkan gawai, mataku menangkap seseorang yang sepertinya tidak asing. Walaupun wajahnya tertutupi masker, tapi melihat matanya saja dengan alis yang khas, aku sudah bisa mengenali orang tersebut. Ia melangkah pelan. Tangan kanannya membimbing seolah laki-laki tua yang berjalan tertatih-tatih. Apa mungkin itu ayahnya? Awalnya aku masih ragu. Namun, di suatu saat mata kami nyari bertemu, spontan aku langsung mengalihkan pandangan. Benar. Itu dia, batinku. *** Sebuah pemandangan tidak asing kembali terlihat di tempat ini. Seorang anak laki-laki berdiri di depan gundukan tanah merah yang masih basah. Di samping dua makam lainnya yang sudah dihias keramik biru muda. Anak laki-laki itu adalah aku, Iqbal kecil yang kembali berduka untuk kedua kalinya. Tidak ada hujan, tapi langit mendung sedari pagi mengiringi pemakaman nenek. Awan hitam di atas sana menghalangi cahaya mentari untuk sampai ke bumi. Udara lembab, cenderung dingin, menambah sendu suasana hati. Hari ini, dua tahun setelah kematian orangtuaku, aku duduk di kelas dua SMA, nenek juga berpulang. Begitu mendadak, bahkan tidak ada tanda-tanda sama sekali. Pagi-pagi, ia mengeluhkan sakit di bagian d**a kiri, lalu terjatuh di kamarnya, tidak berselang lama, nenek menghembuskan napas terakhirnya. Tidak sempat dibawa ke rumah sakit. Malam sebelumnya, kami bahkan masih sempat mengobrol sebelum tidur. Bercerita tentang masa depan. Ia memberikannya beberapa wejangan untukku, bagaimana harus bersikap dewasa di saat suatu saat nanti dihadapkan dengan masalah. "Dengan tidak adanya orangtua di samping kamu, seharusnya menjadikan kamu sosok yang lebih kuat, Iqbal. Kamu seharusnya jauh lebih mandiri, lebih cepat dewasa, dan lebih bijak dalam mengambil sikap dibandingkan dengan anak-anak lainnya seumuran denganmu," ucap nenek yang tengah duduk di sova, di sampingku yang sedang membaca buku pelajaran. "Iya, Nek." Aku mengangguk saja, walau tak paham ke mana arah perkataannya barusan. Nenek sering bersikap seperti itu. Menyampaikan kata-kata manis sambil mengusap-usap punggungku. Mungkin tujuannya untuk menghibur, atau pun menyemangatiku. Padahal sebenarnya aku sedang tidak perlu hiburan, sedang tidak bersedih hati. Bahkan sudah legowo dengan semua yang terjadi. "Iqbal". Nenek beringsut mendekat. Aku pun menoleh. "Iya, Nenek." "Kalau suatu saat nanti kamu ditimpa masalah, jangan sekali-sekali mengambil keputusan dalam kondisi hati diselimuti emosi ya. Jangan mengambil tindakan ketika sedang marah, ataupun ketika sedang terlampau sedih. Karena biasanya keputusan itu tidak benar. Hanya keputusan yang berdasarkan hati dan perasaan, bukan ikut campur otak dan pikiran." "Iya, Nek. Siap." Tidak pernah kusangka, wejangan-wejangan semalam adalah perkataan terakhirnya untukku. *** Suasana duka masih kentara di rumah ini. Anak-anak dan menantu-menantunya masih memasang wajah sedih, bahkan beberapa orang juga masih menangis sesekali. Para tetangga berdatangan, ikut berbelasungkawa, hingga hari ketujuh meninggalnya nenek. "Bal, kamu tinggal sama Bibi ya, tapi sekolahnya pindah, gak apa-apa?" Bibi Syilla, adik bungsu ayahku bertanya. "Gak mungkin kan kamu sendirian di sini, gak ada yang ngurusin keperluan sekolah, nanti keteteran." Aku berpikir sejenak. Bibi Syilla tinggal bersama suaminya di seberang pulau. Pindah sekolah adalah pilihan terakhir yang ingin kuambil. Tak berminat rasanya untuk memulai lagi kehidupan baru di tempat baru. Mencari teman-teman baru dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru adalah hal yang tidak mudah buatku saat ini. "Aduh, gimana ya, Bik. Bukannya Iqbal gak mau, tapi kejauhan kalau ikut Bibi," jawabku. Ayahku adalah anak sulung dari berempat bersaudara. Dua orang laki-laki, dua orang perempuan. Bisa dibilang ayahku adalah yang paling sukses dari mereka berempat. Ayah bahkan membiayai biaya pendidikan ketiga adiknya hingga ke Perguruan Tinggi. Rata-rata saat ini Paman dan Bibiku bekerja sebagai pegawai negeri, berkat ijazah S1 yang mereka miliki. "Ikut Paman aja, ya. Jadi kamu gak perlu pindah sekolah. Bahkan kalau dari rumah Paman, malah sekolah kamu jadi lebih dekat. Jalan kaki lima menit aja udah nyampe," tiba-tiba Paman Angga menyahut. Paman Angga adalah adik laki-laki yang tepat berada di bawah Ayahku. Umur mereka hanya terpaut tiga tahun saja. Ia adalah salah satu saudara ayahku yang bisa dibilang paling dekat hubungannya dengan kami, karena dulu ia sempat beberapa tahun tinggal dan bekerja dengan ayahku ketika belum mendapatkan pekerjaan tetap. Kini Pamanku itu bekerja sebagai kepala teknisi di sebuah perusahaan CCTV yang cukup terkenal di kota ini. Rumahnya memang tidak begitu jauh dari sekolahku. Ia membangun rumah di atas tanah mertuanya, kebetulan istrinya adalah orang sekampung. Aku bepikir sejenak sebelum mengiyakan tawarannya, karena sedikit banyak, aku juga mengetahui bagaimana watak istrinya. "Udah, gak usah kebanyak mikir, Bal. Bibi juga pasti senang kamu ikut tinggal bersama Paman." Laki-laki itu seolah paham apa yang ada dalam benakku. "Iya kan, Dik?" Ia menoleh pada istrinya. Melihat Bibi mengangguk dan tersenyum senang, aku pun akhirnya setuju untuk tinggal bersama Paman Angga. Setidaknya hingga menyelesaikan pendidikan SMA. *** "Sampai kapan sih anak itu bakal tinggal sama kita, Pa? Gak mungkin kita terus-terusan harus menanggung biaya hidup dia, kan. Mana makannya banyak banget lagi. Makanan kita yang harusnya cukup buat sehari, jadi gak cukup. Mama kan harus masak lagi buat makan malam. Nambah lagi biaya kita." Aku yang berniat melangkah ke dapur terhenti ketika tepat di depan pintu kamar Paman. Mendengar suara percakapan di dalam, membuat hatiku memanas seketika. Tempo hari pasangan suami istri ini menyampaikan rencana mereka kepadaku. Katanya mereka ingin membuka warung kecil-kecilan di depan rumah, menjual makanan sehari-hari dan juga beraneka jajanan, untuk menambah pemasukan. "Jadi pas pulang sekolah, kamu juga bisa bantu-bantu jagain kedai, Bal, sewaktu Bibi ada kerjaan di dapur, lagi nyuci, atau kerjaan rumah lainnya. Biar kamu ada kegiatan juga." Begitu kata Bibi kala itu. Namun, mereka belum memiliki cukup modal, sehingga berniat meminjam tabunganku untuk dijadikan modal. Nanti akan dibayar pelan-pelan. "Nanti setiap bulan keuntungan dari kedai tersebut kami sisihkan untuk mengangsur mengembalikan modal yang dipinjam dari tabunganmu, Bal. Bagaimana?" Aku bukannya tak mau meminjamkan. Hanya saja, dari awal aku sudah bertekad tidak akan mengeluarkan uang peninggalan orangtuaku tersebut dari tabungan. Uang tersebut hanya akan dipergunakan untuk biaya pendidikanku kelak saat masuk ke Perguruan Tinggi, atau memang ada kebutuhan yang benar-benar darurat. Aku takut, sekali dipakai, nantinya akan sering terpakai, alhasil lama kelamaan akan habis, tak bersisa. Sebisa mungkin aku mencoba menjelaskan pada Paman dan Bibi dengan bahasa yang paling baik agar mereka tidak tersinggung. Paman dapat mengerti keputusanku, tapi Bibi tidak. Sejak hari itu, perlakuannya berubah seratus delapan puluh derajat. Wanita itu memperlakukanku seperti benalu yang seharusnya tidak ada di keluarganya. Tidak hanya itu, ia juga menghasut anak-anaknya untuk ikut membenciku. Ya ampun. Bukannya aku pamrih, tapi tidakkah ia ingat, dulu awal-awal mereka berumah tangga, saat Paman belum punya pekerjaan tetap, beberapa tahun mereka berdua tinggal bersama orangtuaku. Bahkan ayah yang berusaha mencarikan Paman pekerjaan. Kalau bukan karena itu, mungkin mereka sudah sangat kesusahan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Wanita itu pun demikian, saat hamil anak pertamanya, ibuku sangat banyak membantu, baik dari segi moril maupun materil. Saat melahirkanku pun, orangtuaku lah yang paling repot dibuatnya. Aku ingat betul, kandungan Bibi tidak sehat sehingga sang bayi lahir prematur. Ibuku lah yang bolak-balik ke rumah sakit mengurusnya. Kalau dihitung-hitung, entah sudah berapa puluh juta uang orangtuaku yang terpakai untuk kepentingan mereka. Sekarang, bisa-bisanya mereka berbicara seperti itu. Baru juga tiga bulan aku tinggal di sini, setelah kepergian nenek. "Kamu jangan ngomong gitu. Mendiang ayah dan ibunya sudah sangat banyak berjasa sama kita. Sudah sepantasnya kita membalas." "Tapi yang berjasa itu kan ayah dan ibunya, Pa. Bukan dia." "Ya, sama saja. Karena mereka udah ga ada, berarti ke anaknya kita membalas jasa." "Tapi dia itu minjamin duit sedikit juga tidak mau. Padahal tidak semuanya kita pinjam, hanya sebagian saja." "Udahlah, aku capek berdebat terus sama kamu, Ma. Kamu jangan jadi orang yang gak tau balas budi gitu." Aku tertegun. Ya, di satu sisi aku senang, ternyata Paman masih ingat semua yang telah dilakukan orangtuaku. Namun, di sisi lain, aku juga khawatir. Jangan sampai gara-gara aku Paman dan Bibi jadi berselisih paham. Kan tidak enak juga, mereka sampai ribut hanya karena keberadaanku di sini. *** Udara siang ini panas sekali, keringat bercucuran di pelipis hingga leherku. Ditambah lagi dengan angkutan kota yang penuh penumpang, rasanya seperti direbus. Aku mengibaskan telapak tangan ke arah leher, walaupun sebenarnya sama sekali tidak membantu. Sesampainya di rumah, usai mengganti baju, aku langsung menuju dapur hendak makan siang. Namun, saat membuka tudung saji, yang terlihat hanya mangkok kosong dengan hanya sisa-sisa cabe di di dasarnya. Aku membuka kulkas, kalau saja ada minuman dingin untuk sejenak menunda lapar perut. Namun, nihil, tidak ada apa-apa, hanya beberapa ikat sayuran segar yang belum dimasak. Waduh, gak ada makanan?, batinku. Sebaiknya kubeli saja mie instan di warung depan, atau kalau ada telur ayam, bisa digoreng telur mata sapi. Setidaknya mengganjal perut yang sudah keroncongan, menagih jatahnya. Tiba-tiba Paman datang dari depan. Tak biasanya ia pulang siang-siang begini. "Baru pulang, Bal?" sapanya. "Iya, Paman." Aku kembali menutup tudung saji. "Loh gak jadi makan?" Aku menyengir saja tanpa menjawab. Paman melangkah mendekat. "Loh, Bibi gak masak ya?" Paman ikut kaget saat membuka tudung saji yang tidak ada apa-apa di bawahnya selain mangkok kosong. "Mama!?" Teriaknya. "Kok gak ada makanan!?" Bibi melangkah keluar kamar dengan wajah ditekuk. "Ada kok," jawabnya judes. "Disimpan di sini." Ia membuka pintu lemari di sudut dapur, lalu mengeluarkan mangkok berisi beberapa potong ayam goreng di sana. Paman melotot. "Kenapa kamu sembunyiin makanannya!?" Ia berkata dengan suara tinggi. "Kalau barusan aku gak pulang, terus si Iqbal gak mau makan gitu? Keterlaluan kamu, Ma!" "Papa kok marah-marah sih?" "Masih nanya lagi! Kamu tuh terlalu pelit. Gak bakal kaya juga karena ngumpetin makanan kayak gitu. Ya ampun!" "Mama tuh kayak gini karena ...." Aku melangkah mundur melihat mereka berdua mulai ribut, memilih kembali ke kamar. Ada rasa bersalah dalam hatiku. Seharusnya, kalau aku tidak menumpang tinggal di sini, sepasang suami istri itu tidak akan ribut seperti itu. Pasti mereka akan baik-baik saja, karena sumber masalah satu-satunya adalagi keberadaanku. Apa sebaiknya aku pergi saja dari sini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN