Dera(3)

1332 Kata
POV: Iqbal Awan gelap menggumpal di atas sana. Satu-satu terlihat kilatan petir yang menyambar ke berbagai arah. Gemuruh pun mulai tertangkap indra pendengar. Tiga orang anak laki-laki berseragam Sekolah Dasar, putih-merah terlihat berjalan cepat. Salah satu dari mereka, yang berbadan paling kurus, itu adalah aku. Ya, Iqbal kecil yang telat pulang ke rumah karena ikut bermain dengan teman-teman lainnya sepulang sekolah tadi. "Besok-besok kalau pulang mainnya lama, aku mending ganti baju dulu deh. Ini kan masih mau dipake besok," gerutuku. Aku tak menyangka bermain layangan di tanah lapang akan selama ini. Sudah terbayang sosok ibuku yang sedang marah karena belum makan siang jam segini. "Apalagi kalau sampai kena hujan nih, bisa kena omel." "Rencananya kan emang cuma main sebentar, Bal. Ini gara-gara layangan si Aduy, pake putus segala." Laki-laki berbadan tambun yang berdiri di sebelahku menjawab sambil terus berusaha mengimbangi langkah kami. "Mana terbangnya ke arah sawah lagi, jadi susah ngejarnya." "Aaahh, udah mulai hujan," teriak kami berbarengan. Satu persatu mulai berlari ke arah rumah masing-masing. "Duluan yaa! Besok main lagi." Hujan turun deras sempurna. Aku teringat sebuah payung kecil yang selalu disiapkan ibu di dalam tas, untuk jaga-jaga kehujanan di jalan. Kukeluarkan payung kecil berwarna hijau muda itu dari tas, sembari melihat teman-teman lainnya yang mulai panik berlarian di bawah hujan. Tiba-tiba, mataku menangkap sosok gadis kecil yang sedang duduk tanah, di belakang sebuah rumah mewah, tak jauh dari tempatku berdiri. Ia tampak sedang menangis di depan sebuah gundukan tanah merah. Kuperhatikan lekat-lekat, gadis itu terlihat masih kecil, sekitar dua atau tiga tahun lebih muda dariku. Ke mana ayah dan ibunya? Mengapa anak itu dibiarkan hujan-hujanan sendirian? Aku membatin. Ragu-ragu, aku melangkah mendekat sembari melindungi kepala dengan tas yang kubawa, berencana menyerahkan payung di tanganku kepadanya. Sepertinya ia lebih membutuhkan. *** "Loh, kamu kenapa?" Wajah Paman dan Bibi terlihat panik melihatku pulang diantar bu Nina. Apalagi ini sudah sangat larut, jauh sekali jaraknya dari jam pulang sekolah. "Iqbal kenapa, Bu?" Bu Nina menjelaskan semuanya kepada Paman dan Bibi seusai membimbingku masuk ke dalam rumah, lalu terus ke kamar. Aku yang masih begitu lemas langsung saja berbaring di atas tempatnya tidur, bahkan tanpa melepaskan kaus kaki dan seragam sekolah. "Istirahat dulu ya, Iqbal. Paksain makan, biar ada tenaga dikit, yaa. Itu s**u yang ibu beliin tadi diminum. Besok pagi-pagi ibu jemput, kita ke kota untuk cek lebih lanjut di RSUD." "Terima kasih ya, Bu Nina. Maaf udah merepotkan." Wanita itu tersenyum, lalu beralih ke Paman dan Bibi. "Kalau bisa besok ada satu anggota keluarga yang ikut, ya, Pak, Bu. Buat jaga-jaga, kalau-kalau Iqbal harus di-opname. Kondisinya terlihat sangat lemah, takutnya harus dirawat inap. Saya kan gak bisa tinggal, jadi harus ada satu orang yang nungguin," ujarnya. "Oh, begitu, Bu. Baiklah, nanti kami usahakan." "Itu pun kalau di-opname, Pak. Mudah-mudahan sih, tidak. Semoga si Iqbal ini baik-baik aja, kasian dia masih muda." "Iya, Bu. Mudah-mudahan saja, tidak apa-apa." "Aamiin. Saya pamit dulu." "Iya, Bu. Terima kasih, sekali lagi." Bu Nina melangkah keluar rumah, lalu beranjak pergi. Bisa kudengar deru mesin mobilnya yang bergerak menjauh. Ah, entah dengan apa bisa kubalas jasa wanita itu kelak. Beberapa saat kemudian, telingaku menangkap suara bisik-bisik di luar kamar sepeninggalan bu Nina. "Kamu saja yang pergi, Dik. Besok temenin Iqbal ke Rumah Sakit, ya. Nanti kalau emang harus dirawat, kita bisa kabarin yang lain untuk gantian nungguin, sementara kamu dulu ya, yang pergi." Paman berkata pelan. "Ih, kok aku sih, Bang? Terus anak-anak gimana? Kamu aja deh. Aku gak mau ah, Bang. Lagi pula aku belum pernah ke bagian rawat inap, gak tau caranya. Malah bingung nanti yang ada di sana." Bibi menjawab ketus. "Anak-anak kan udah pada gede, Dik. Mereka gak bakal kenapa-kenapa ditinggal sebenar. Kan sama ibu gurunya juga, nanti dia pasti ngasih tau gimana caranya, apa yang harus di lakukan, ke mana ngurus segala macamnya." Paman tetap bersikeras memaksa istrinya. "Aku kan kerja, mana bisa libur. Kalau dipaksain ijin, nanti yang ada malah dipotong gaji. Kamu mau uang belanja dikurangi?" "Ihh, gak mau lah. Uang belanja kan udah pas-pasan, masak dikurangi lagi." "Makanyaa!" Aku diam saja mendengarkan sepasang suami istri itu berdebat di depan sana. Mungkin mereka mengira aku tak bisa mendengar suara obrolan tersebut dari sini. Dengan dinding kamar setipis ini, bahkan suara cicak yang sedang kawin di ruang tamu saja bisa terdengar jelas olehku. "Tapi kan, dia ini keponakan kamu, Bang. Kok malah aku sih yang repot? Udah lah di rumah aku yang report ngurusin kebutuhan dia, tambah lagi sekarang. Ah elaah." "Ck! Ya sudah, aku malas berdebat denganmu!" Aku memejamkan mata, lalu menutup telinga dengan bantal. Entahlah, siapapun yang akan menemaniku esok pagi, hanya bisa berharap prediksi dokter tadi salah. Aku baik-baik saja. Aku akan segera sembuh dan bisa kembali bersekolah dan belajar seperti sedia kala. Aku teringat beasiswa ke Perguruan Tinggi favorit yang tinggal selangkah lagi. Tes terakhir yang jadwalnya sebulan dari sekarang. Semoga saja sebelum hari itu, aku sudah sembuh dan bisa mengikuti tes sesuai rencana. Ya, semoga saja. *** Aku menggeliat, meregangkan otot-otot di seluruh badan yang terasa pegal. Tidurku jauh dari kata nyenyak semalam. Ada suara sedikit saja, aku langsung terjaga. Alhasil, paginya, alih-alih terasa segar, malah seperti baru saja selesai dijadikan samsak oleh para petinju. Sekujur badan terasa ngilu. Napasku juga terasa semakin berat, rasanya sudah menghirupnya oksigen dalam-dalam, tapi yang didapat sangat sedikit. Saat tidur, aku meletakkan tiga bantal yang ditumpuk sebagai alas kepala. Jika posisi kepala tinggi, rasa sesak itu sedikit berkurang, tapi ketika posisi kepala kembali rendah, aku akan langsung terjaga lagi karena napas kembali sesak. Hal ini juga lah yang membuat tidurku tidak nyenyak beberapa malam terakhir. "Gimana, Bal?" Pagi-pagi sekali, Bu Nina sudah muncul di depan rumah. Ia terlihat lebih santai dengan pakaian bebas, bukan baju guru berwarna cokelat yang kemarin dikenakannya. "Udah agak baikan?" "Udah agak bertenaga sih, Bu, tapi kepalanya tetap sakit. Berdenyut-denyut rasanya sampai ke ubun-ubun. Semalam juga susah tidur, bu, sesak napasnya," jawabku. "Lalu, ini juga, Bu." Aku mengusap kepala dengan telapak tangan, lalu menyisir rambut dengan jari-jarinya. "Rambutnya makin banyak yang rontok." Bu Nina menatap khawatir banyaknya rambut yang lepas dari kepalaku. Kemudian, ia membimbingku untuk baik ke atas mobil, duduk di bangku belakang. "Rileks aja dulu ya. Kalau agak kurang nyaman, selonjoran aja ke samping. Itu ada bantal di kursi belakang, Bal." Aku mengangguk. Akhirnya Paman menemaniku ke rumah sakit. Entah bagaimana caranya, mungkin ia izin di tempat kerja atau bagaimana. Yang jelas pagi ini, kepergian kami dilepas dengan ekspresi tidak senang Bibi, istrinya. Wanita itu berdiri di depan pintu dengan wajah ditekuk. Bahkan saat bu Nina menyapa pun, ia hanya tersenyum kecil selama sepersekian detik. Mobil melaju pelan di jalan raya. Udara pagi yang dingin masuk dari sela-sela kaca jendela yang sedikit terbuka, terasa membelai ujung-ujung rambut. Aku menatap sekitar, sepertinya jalan ini mengarah ke sekolahku. Aku ingin bertanya, tapi bu Nina lebih dahulu menjelaskan. "Teman-teman sekelas mau ketemu kamu dulu, Bal. Termasuk guru-guru, juga. Kita ke sekolah dulu, ya, sekalian pamitan." Wanita itu tersenyum ke arahku. "Baik, Bu." Aku begitu terharu melihat teman-teman sekelas yang berkumpul di depan gerbang. Sepertinya mereka sengaja datang lebih awal demi bertemu dengaku. "Bal, semoga cepat sembuh, ya." "Bal, kamu sakit apa sih? Cepat sembuh ya, kami bingung nanti mau nyontek PR sama siapa lagi?" kelakar salah satu temanku. "Iya, Bal. Jangan sakit-sakit. Biar kita bisa belajar kelompok lagi." Mataku memanas melihat pemandangan ini. Beberapa di antara mereka menyerahkannya bungkusan-bungkusan berisi buah-buahan. Beberapa orang guru juga menyerahkan amplop ke tanganku. "Semangat, Iqbal. Kamu pasti sembuh." "Terima kasih, Teman-teman. Terima kasih, Bapak dan Ibu guru." Aku memandang ke atas agar air mata tidak tumpah. Saat mobil hendak kembali melaju, tiba-tiba seseorang muncul dari kerumunan. "Kakak! Kakak!" Ia berteriak-teriak. Aku mengeluarkan kepala di jendela mobil. Itu adalah Tiara. Semua mata kini menuju ke arahnya. "Jangan pernah patah semangat ya, Kak. Aku yakin Kakak pasti bakal sembuh. Maaf, aku gak bisa ikut nemenin, aku tunggu Kakak di sini ya." Ia menyerahkan sebuah kantong plastik hitam, aku tak tahu apa isinya. "Aku akan doakan Kakak cepat sembuh." Ia tersenyum getir. "Terima kasih Tiara."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN