POV: Iqbal
Pagi sudah beranjak, siang pun menjelang, bahkan matahari di atas sana sudah mulai condong ke barat. Aku sudah memperkirakan waktu kontrol hari ini akan memakan lebih dari setengah hari.
Aku berpapasan dengan Leo yang baru usai siaran, begitu tiba di Radio.
"Eh, bang Iqbal. Sudah selesai kontrolnya?"
"Udah nih. Udah beres siaran ya?" Aku melihat jam dinding, memang sudah habis jadwal ajang yang ia bawa.
"Udah, Bang. Ini udah mau pulang. Abang siaran siang kah?"
"Engaak. Jadwalnya kak Bunga. Ini mau ketemu dia. Belum datang ya?"
"Belum tuh, Bang, mungkin sebentar lagi. Tapi lagu pembuka udah aku set kok, jadi udah aman."
Aku mengangguk sambil melihat lagi print-an rundown yang sudah selesai kurevisi semalam.
"Buat acara Minggu besok ya, Bang?"
"Iya, nih. Udah beres juga. Semoga udah cocok semua. Capek revisi terus. Haha."
"Udah berasa kayak skripsi aja, Bang. Revisi-revisi segala."
Beberapa saat kemudian, Bunga pun datang. Kami sempat berdiskusi sejenak, lalu kabar baiknya rundown sudah komplit. Lunas sudah tugasku. Akhirnya bisa pulang ke rumah dan beristirahat dengan tenang malam ini.
Di perjalanan pulang, kejadian di Rumah Sakit saat kontrol tadi kembali muncul di ingatan.
Pertemuan tanpa di sengaja dengan gadis itu di poliklinik, tiba-tiba saja membuat pikiranku tak bisa lepas darinya. Jarang sekali kutemukan anak perempuan, terutama yang masih gadis sepertinya, begitu perhatian dan telaten merawat ayahnya yang sedang sakit.
Apalagi stroke. Di mana biasanya pasien stroke itu, apalagi stroke berat, akan kesulitan untuk melakukan berbagai macam aktivitas. Bahkan untuk mandi, makan, mengganti pakaian bahkan buang air pun akan sulit dikerjakan sendiri. Jadi harus ada yang membantu.
Aku paham betul akan hal ini, karena pernah beberapa kali mengikuti seminar dengan Dokter Spesialis tentang penyakit tersebut.
Aku salut dengan pengabdiannya pada orangtua. Anak-anak berbakti sepertinya sulit di temukan di zaman sekarang ini.
Di rumah sakit tadi, beberapa kali terbersit di benakku untuk menanyakan namanya. Namun, lagi-lagi tidak menemukan alasan yang patut untuk bertanya.
Aku malu jika tiba-tiba saja bertanya tanpa alasan. Ya ampun, padahal cuma sekadar nama. Mengapa jadi seribet ini?
Tak mengapa. Untuk saat ini biar kupanggil saja ia Mbak Ojol.
***
Kurang lebih satu jam perjalanan ditempuh menggunakan mobil yang dikendalikan bu Nina menuju RSUD di kota. Itu pun karena jalanan di pagi hari belum terlalu ramai kendaraan berlalu lalang. Jika kami berangkat lebih siang, tentu akan lain cerita.
"Oke, kita udah sampai. Kamu tunggu di sini dulu aja ya. Biar ibu yang mengurus pendaftaran."
Aku mengangguk pelan, lalu bu Nina turun, diikuti oleh Paman.
Suasana di RSUD begitu jauh berbeda dengan di Puskesmas. Di sini sangat ramai. Kami harus mengantri dan menunggu lama demi bertemu dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam.
Ada beberapa antrian. Yang pertama mengantri di pendaftaran, lalu mengantri lagi di Laboratorium untuk pengambilan sampel darah, selanjutnya mengantri untuk bertatap muka dengan dokter spesialis, lalu mengantri lagi di apotek untuk mengambil obat.
"Sabar ya, sebentar lagi kita ketemu dokternya," bu Nina yang duduk di sampingku berkata. Sepertinya ia menangkap ekspresi bosan di wajahku.
Kali ini yang kami temui adalah seorang dokter muda. Usianya kutaksir belum sampai ke angka empat puluh, mungkin di angka tiga puluh akhir, tiga puluh enam atau tiga puluh tujuh. Perawakannya tinggi besar, dengan kacamata tebal di atas hidungnya.
Kemudian, yang paling mencolok adalah kepala plontosnya yang mengkilap tersorot cahaya lampu di atas sana.
"Ini pasiennya?" Ia menatap ke arah bu Nina dan Pamanku.
"Iya, Dok."
"Wah, masih muda sekali. Umur berapa, Dek?"
"Masuk delapan belas tahun, Dok," jawabku.
Pandangan matanya beralih ke kertas yang ada di atas meja. Hasil laboratorium cek darah lengkap, tekanan darah, dan lain sebagainya. Banyak kertas-kertas lain dengan tulisan yang tidak bisa k****a. Aku pun tak tahu apa itu.
"Perokok ya? Sering minum-minuman kaleng? Makan mie instant?"
Semua pertanyaan itu hanya kujawab dengan gelengan. "Saya gak pernah merokok, Dok. Minuman kaleng juga jarang banget. Mie instant iya sesekali, tapi gak sering."
Laki-laki berjas putih tersebut mengangguk-angguk. "Fungsi ginjalnya terganggu. Saya belum bisa pastikan fungsinya tersisa berapa persen, harus di USG dulu. Kalau melihat dari ureum creatinin darahnya, kemungkinan Gagal Ginjal Kronis." Tatapan dokter itu terlihat berat diiringi helaan napas.
"Kemungkinan harus menjalani proses Hemodialisis, atau cuci darah."
"Hah?" Wajah bu Nina yang paling terlihat kaget. Aku tidak begitu paham apa yang sedang dibicarakan sang Dokter. "Kenapa bisa cepat banget kenanya, Dok? Usianya kan masih delapan belas tahun."
"Sekarang memang banyak kasus-kasus baru tentang kerusakan ginjal di usia muda, Bu. Saya juga gak tahu pasti apa penyebabnya. Kalau berdasarkan diagnosis sementara, adik ini berawal dari hipertensi. Tekanan darah yang terlalu tinggi, lama-kelamaan akan berimbas pada ginjal. Karena salah satu fungsi ginjal adalah mengatur tekanan darah. Semakin tinggi tekanan darah seseorang, maka akan semakin berat kerja ginjalnya." Ia menjabarkan panjang lebar.
"Ya Tuhan." Bu Nina mengusap keningnya. "Lalu sekarang harus bagaimana, Dok?"
"Rawat inap, ya." Dokter itu memandang ke araku. "Dirawat dulu agar tekanan darahnya bisa terkontrol. Kemudian besok saya aturkan jadwal untuk USG ginjalnya ya."
Aku tertegun. Seumur hidup, belum pernah sekali pun aku dirawat inap di ruangan rumah sakit. Ini adalah kali pertama.
"Berarti harus dirawat, Dok?"
"Iya. Ini suratnya, langsung aja dibawa ke IGD." Ia menyerahkan selembar kertas. "Kelihatannya napas adik ini sesak sekali. Jangan dipaksain jalan ya, Bu. Mungkin ibu atau bapak bisa ke IGD dulu mengambil kursi roda."
"Baik, Dok." Paman bergegas meninggalkan ruangan untuk mencari kursi roda.
Saat kami melangkah keluar, seorang dokter wanita terlihat masuk ke ruangan tersebut.
"Dokter. Ruang HD masih ada slot kosong kan?"
"Iya, Dok. Ada pasien baru kah?" Dokter wanita yang baru masuk itu bertanya. Aku melihat sekilas wajahnya. Masih muda, bahkan lebih muda dari dokter laki-laki yang tadi. Gayanya elegan dengan rambut dicat pirang.
"Kemungkinan iya, tapi masih mau di USG besok. Semoga saja tidak kronik."
***
Tetes demi tetes cairan merah kental itu mengaliri selang infus menuju pembuluh darah vena di punggung tanganku. Ya, aku diharuskan transfusi darah sebanyak lima kantong, karena Hemoglobin darahku dibawah angka enam.
Aku masih bergidik ngeri saat pertama kalinya ditusuk jarum saat pemasangan infus kemarin. Apalagi saat tusukan pertama yang gagal menyisakan memar di tanganku, nyaliku semakin ciut saja. Untungnya perawat yang menusuk berparas cantik, setidaknya aku malu untuk menangis hanya gara-gara itu.
Gengsi lah menangis di depan perempuan.
Paman Angga sudah menelepon Paman dan Bibiku yang lain dan menceritakan keadaanku. Saat ini mereka tengah dalam perjalanan kemari.
Hasil USG menunjukkan kalau kedua ginjalku memang sudah agak mengecil, alias menciut. Menurutnya dokter yang memeriksa, fungsi ginjalku sudah di bawah tiga puluh persen. Aku benar-benar harus menjalankan proses cuci darah.
"Namun, tentu saja keputusan ada di tangan keluarga pasien." Begitu kata-kata terakhir sang dokter pagi tadi.
"Apa!? Cuci darah?" Bibi Syilla yang baru saja datang tercengang tidak percaya dengan hasil pemeriksaan dokter. "Yang benar aja. Gak, Bibi gak setuju kamu harus cuci darah, Iqbal. Bibi tau, orang-orang yang cuci darah itu umurnya tidak akan panjang. Paling cuma hitungan bulan, meninggal."
Aku diam saja, tak tahu juga apa yang harus diperbuat.
Empat hari kemudian, saat empat kantong darah sudah masuk ke dalam tubuhku, kondisi juga mulai membaik.
Sesak napas berkurang, tenaga juga terasa pulih, wajah dan jemariku mulai kembali terlihat merah. Tidak pucat seperti kemarin-kemarin.
Aku merasa sudah sehat seperti sedia kala.
"Bal. Kita pulang ya. Gak usah ikutin dokternya. Gak usah cuci darah. Bibi punya kenalan yang bisa ngobatin segala macam penyakit. Besok kamu akan Bibi bawa ke sana. Kamu pasti sembuh. Mau, ya?"
Aku yang tak paham, hanya bisa mengangguk setuju. Aku tak tahu apa-apa tentang penyakit ini, aku tak mengerikan bagaimana proses pengobatannya.
Yang kutahu, Bibi Syilla melakukan semua ini karena sayang padaku, karena ingin keponakannya sembuh. Ia ingin aku panjang umur. Katanya cuci darah itu hanya akan membuatku mati dalam waktu dekat.
Aku percaya padanya.
Sayangnya, beberapa bulan kemudian, aku sadar kalau itu adalah keputusan yang salah. Sangat salah.
***
Hari-hari berikutnya kujalani dengan meminum obat-obatan tradisional. Bibi Syilla memenuhi janjinya dengan membawaku ke seseorang yang terkenal sakti dan bisa mengobati berbagai macam penyakit.
Aku disuruh meminum ramuan-ramuan yang entah dari apa bahannya. Rasanya pahit sekali, membuatku mau muntah setiap kali meneguknya. Namun, demi kesembuhan penyakit ini tetap kutelan.
Aku juga melakukan terapi dua hari sekali. Kakiku direndam di air hangat yang ditaburi garam. Katanya semakin hitam warna air, itu artinya penyakit yang kuderita semakin berat. Dengan berendam di air tersebut, maka penyakit yang ada di tubuhku akan luntur. Aku pun percaya akan hal itu.
Dua minggu berlalu. Bukannya semakin membaik, kondisiku malah kembali seperti awal-awal dulu. Tenaga semakin berkurang, sesak napas kembali terasa, pun kuku-kuku tanganku terlihat pucat. Saat keluarga bertanya pada si orang sakti.
Ia berkata, "Memang begitu. Itu artinya obatnya mulai bekerja."
Aku dan keluargaku pun percaya.
Akhirnya beberapa hari kemudian, kondisiku semakin parah. Sesak napas semakin menjadi-jadi. Keringat sampai bercucuran di sekujur tubuhku. Tante Syilla dan Paman-Paman yang lain mulai panik.
Ujung-ujungnya mereka memutuskan untuk kembali membawaku ke rumah sakit. Namun, di perjalanan, aku kehilangannya kesadaran.
Aku jatuh koma. Berada dalam kondisi kritis.
Benar saja. Percaya pada orang sakti, adalah sebuah kesalahan.